Sabtu, 11 Februari 2017

Pada Akhirnya Akhirat Adalah Tempat Kembali.

Pada Akhirnya Akhirat Adalah Tempat Kembali.
(Sebuah Renungan)

Sahabat..
Apapun yang kau lakukan didunia ini meski sebesar zarah(atom), semua akan dibalas oleh sang pencipta.
Ia menciptakan qolbu(hati) untuk mu agar memahami tanda-tandaNYA.

Sahabat..
Jika hatimu bergetar karena cinta,
Tidakkah hatimu lebih bergetar saat kitab suciNYA dihinakan,
Jika kau tak merasakan getaran itu, sementara ribuan ummat lainnya bergetar hebat, bertanyalah pada nurani mu, apanya yang salah?
Bukankah kita tau, hanya hati yang penuh zikir yang sanggup peka terhadap tanda-tanda dari NYA.
Jika hatimu tak jua bisa merasakan getaran itu, tanyakan pada dirimu kembali, jangan-jangan itu pertanda bahwa sel-sel hatimu mulai mati.

Sahabat..
Jika engkau lebih peduli kejayaan dunia, Jika engkau lebih peduli kemakmuran dunia,
dari pada keberkahan hidup entah sebagai pribadi atau sebagai bangsa,
Ketahuilah, dunia hanya sementara,
Dan kesementaraan kita dunia bukan hanya untuk kesejahteraan dunia saja, tapi untuk semata-mata beribadah kepadanya, menyembah kepadanya dan bertauhid kepadanya.
Seperti perjanjian kita pada Allah saat masih di alam ruh, yang kelak janji itu akan ditanyakan kembali pada saatnya nanti.

Sahabat...
Kelak Allahpun akan mengumpulkan kita dalam satu golongan bukan atas nama suku bangsa, bukan pula atas nama negara, tapi atas nama ummat yang diridhoi, atas nama ummat islam, ummat yang akan dibanggakan oleh sang Nabi, terhadap ummat-ummat nabi lain, sejak Nabi Adam as hingga Isa alaihi salam.
Datangnya kita kedunia ini, adalah bukan tanpa tugas sia-sia, tetapi dalam rangka membuat sang rasul bangga, meramaikan dunia dengan risalahNya dan menegakkan kalimatNYA.
Jika menyingkirkan duri dijalan saja engkau bisa mendapatkan pahala, apalagi membantu menegakkan kalimahnya. Membantu meramaikan jumlah pengikut kalimat tauhid bersama para pemimpin yang diberkahi, bukan para pemimpin yang dimurkai karena menyekutukanNYA.

Sahabat...
Negeri mu bukanlah milik mu, Ia adalah milik penguasa alam semesta. Tugasmu hanya sebagai khalifah, sebagai pengelola yang kelak akan dimintai tanggung jawabnya. Kejayaan negeri bukan hanya soal fisik, tapi juga keberkahan, dan ampunan dari Allah SWT, sebagaimana isyarat tentang sebuah negeri yang baldhatun toyyibatun wa robbun gofuur. Sebuah Negeri idaman yang bukan semata-mata berjaya secara fisik saja, Tetapi juga  mendapat keridhoan dari Tuhan, baik keridhoan untuk rakyat atau untuk pemimpinnya.
Kita tak mau negeri ini seperti negeri babilonia, makmur dan berjaya secara materi tetapi mendapat murka dari Allah SWT, seperti juga negeri kaum Tsamud dan Kaum 'Ad.

Sahabat..
Jika kita diperintahkan untuk adil terhadap manusia, maka berbuat adil pula kepada Tuhanmu, sebelum Tuhanmu mengadili kita dihari pengadilan kelak.
Jika engkau disuruh mematuhi perintah dan menjauhi larangan, maka patuhi dan jauhilah, meski hati mu menolak dan lidahmu membantah, karena godaan dunia yang tidak seberapa.

Sahabat..
Dunia ini hanyalah perjalanan, bukan tujuan.
Dan setiap detil perjalanan itu dicatat serinci-rincinya untuk dimintai pertanggung jawaban.
Apapun langkahmu hari ini, apapun pilihanmu hari ini, mempengaruhi hari-harimu kelak di hari akhir.

Sekuat apapun kita berpendirian, sekuat apapun kita bertahan..
Ketahuilah pada akhirnya akhiratlah tempat kembali selama-lamanya.

-o0o-


Senin, 14 Maret 2016

Mencari Berkah Yang Hilang, Sebuah Ikhtiar


Berkah; adalah sesuatu yang tak terlihat tetapi nyata dalam kehidupan. Contoh membahagiakan kedua orang tua terutama ibu membuat hidup menjadi berkah. Hidup yang penuh berkah dambaan setiap manusia. Berkah kadang diasosiasikan dengan harta, ketika kita memilih antara harta yang sedikit tapi berkah atau harta yang banyak tapi tidak berkah, maka kita akan memilih harta yang banyak dan juga berkah sebagai idealnya, tapi jika kenyataan harus memilih, apapun itu baik sedikit atau banyak, tetap  keberkahan menjadi pilihan utama.

Selain kehidupan yang berkah, kaum muslimin juga mendambakan negeri  yang berkah. Sebagaimana dicontohkan oleh ummat terdahulu, tak asing bagi kita mendengar istilah baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur dalam alquran. Ketika kita dihadapkan pilihan sesuai dengan analogi diatas, maka memilih keberkahan negeri adalah lebih utama dari pada kemakmuran dan kekayaan saja. Betapa  banyak negeri-negeri terdahulu yang kaya raya, makmur dan gemah ripah loh jinawi, tapi kemudian diazab dan dihancurkan oleh Allah karena tidak berkah, atau berapa banyak negeri-negeri makmur dan kaya raya yang tidak membawa sedikitpun keberkahan bagi rakyat nya, bahkan keberkahan itu dicabut oleh Allah SWT.

Negeri  ini sudah merdeka lebih dari 60tahun, tapi keadaan tidak menunjukan bahwa negeri  ini  adalah negeri yang berkah, rakyat masih banyak yang menderita. Ada apa? Padahal penduduknya mayoritas muslim. jika dibandingkan dengan negeri-negeri tetangga mayoritas muslim lainya yang merdeka belakangan, mereka terlihat lebih sejahtera. Apanya yang salah dengan negeri ini. Secara tendensius saya boleh menyatakan bahwa negeri-negeri  jiran makmur karena mengadopsi syariat islam dalam kehidupan bernegara mereka, tauhid menjadi panglima, bukan sekedar teks yang tercantum  dalam konstitusi mereka. Suatu ketika dalam satu kesempatan di Makkah, saya pernah berbicara dengan seorang kawan brunei  beberapa waktu lalu. Mereka dengan jelas menyatakan, hidup dalam syariatlah yang membuat negeri mereka berkah. Ketika saya tanya bagaimana kehidupan non muslim disana, mereka menjawab, non muslim hidup nyaman dan damai, terjamin dan terlindungi. Sebab syariat islam hanya untuk kaum muslimin, tetapi imbas keberkahannya untuk semua pemeluk agama.

Islam adalah rahmatan lil alamin, bukan cuma untuk satu bangsa,  tetapi seluruh dunia bahkan alam semesta  termasuk tumbuhan dan binatang. Agama bukan cuma perilaku, bukan cuma budi pekerti  tetapi komprehensif dan menyeluruh(kaffah).  Ia menata kehidupan manusia dari lahir hingga wafat, dari bangun tidur hingga tidur lagi. Dari setiap hela nafas dan aliran nadi, dari setiap keinginan hingga perbuatan nyata.
Ketika bangun tidur, kita diajarkan untuk berdoa, pergi mandi, sarapan pagi, berangkat bekerja, sedang bekerja, kembali kerumah semua tak luput dari doa yang diajarkan agama. Begitupun dengan akhlak ketika bangun tidur, dikamar mandi, dimeja makan, dikendaraan, semua diatur oleh agama yang sempurna ini. Tak satupun helaan nafas, atau alirah darah dalam nadi yang terlepas dari pengawasan Rabb semesta alam. Melakukan hal yang kecil saja harus sesuai syariat, apalagi sesuatu yang besar seperti memilih pemimpin, yang mempengaruhi hayat hidup orang banyak, yang mempengaruhi masa depan generasi anak cucu, yang mempengaruhi kesinambungan kehidupan agama ini yang akan di tanyakan oleh sang nabi bagaimana nasib ummatku nanti, ummati-ummati!.
Bagaimana bisa kita mempertaruhkan kemuliaan  agama ini kepada orang  lain?, bagaimana mungkin mereka mau peduli?, jika kita sendiri tak pernah peduli, Kepada siapa tanggung jawab ini kita berikan, kepundak siapa nasib ummat ini kita titipkan. Ketika halal dan haram tak lagi menjadi acuan sang pemimpin, ketika miras dilegalkan, ketika perjudian di halalkan, ketika perzinahan berbalut prostitusi diizinkan, apa kata anak cucu kita nanti Jika mereka terjerat itu semua? Mereka, para anak cucu akan meminta pertanggung jawaban kita di akhirat nanti. Wahai ayah, wahai ibu, mengapa engkau menaruh masa depan kami dipundak orang yang tidak bertauhid?, mengapa engkau membiarkan negeri ini diurus oleh orang yang mempersekutukan Allah, mengatur kehidupan kami dengan aturan sekuler, memisahkan kami dengan Robb kami. Memisahkan kami dengan agama kami, sedang engkau mungkin saat itu sedang gagap menjawab pertanyaan malaikat di alam kubur.Saat itu mungkin kami memang kaya raya, tapi sepi dari iman, didunia kami memang sejahtera, tapi akhirat kami kering. Engkau memberikan kami kenikmatan dunia yang sementara, tetapi menghancurkan masa depan akhirat kami yang kekal abadi. Setega itukah engkau ayah dan ibu?

Di negeri ini kaum fasik dan para politisi kotor selalu menyalahkan islam, padahal oknum pemimpin itu yang tidak mengamalkan islam secara kaffah, korupsi secara pribadi, tetapi jamaah kaum muslimin yang disalahkan. Padahal koruptor dari kalangan non muslim lebih banyak dan lebih dahsyat nilainya. Tapi itu seolah tertutupi. Entah oleh kebencian, atau oleh kedunguan nurani.
Tegas dalam islam, korupsi adalah perbuatan keji, jika syariat dilaksanakan maka pelakunya harus dipotong tangan. Tak ada yang berani mencuri jika syariat ditegakkan, tapi sayangnya seperti diawal tadi, negeri ini bukanlah negeri syariat, tak ada kesempatan kaum muslimin menegakan hukuman anti koruptor itu. Hanya sejarah yang bercerita selama 13 Abad sejak abad ke tujuh sejak Nabi diutus  sampai awal abad 20,dan kini hanya sedikit negeri-negeri muslim yang menegakkan hukum itu .  Selama 13 abad itu, Islam adalah rahmat bagi alam semesta, semua agama hidup nyaman dalam naungan penguasa muslim, hak-hak terpenuhi, tidak ada yang teraniaya. Tapi sejak kekhalifahan itu runtuh, sebaliknya, ketika muslim hidup minoritas, hak-haknya terbelenggu bahkan dibantai, mereka dihina dan dinafikan.

Ketika kaum muslimin rindu pemimpin yang sholeh.
Apakah salah jika kaum muslimin merindukan pemimpin yang sholeh, yang diharapkan dengan kesholehannya itu keberkahan akan turun menaungi negeri ini, menaungi semua rakyat Indonesia dari suku agama dan ras apapun, sebagaimana telah dinikmati oleh ummat-ummat terdahulu. Jika ia sholeh, ia pasti takut akan korupsi, takut akan berlaku aniaya, sebab kepemimpinannya akan dimintai pertanggung jawaban diakhirat nanti. Jika ia adil ia akan duduk bersama nabi, jika ia zhalim, ia akan menjadi penghuni neraka yang paling dasar.

Jangan paksa muslim memilih pemimpin non muslim, karena kamipun tidak memaksa seseorang
non muslim untuk memilih pemimpin muslim.  Sebagaimana Allahpun melarang nabi untuk memaksa seseorang itu beriman atau tidak. Sebab Allah pernah menyatakan dalam quran, jika Allah mau, bisa saja ummat manusia dijadikan satu ummat, selesai sudah. Bukan disitu pointnya. Sebab hidayah hanya milik Allah, seorang muslim hanya berkewajiban memberi peringatan, bukan memaksa.

Demokrasi adalah kebebasan berpendapat. Jika mayoritas menginginkan pemimpin sholeh, jangan sebut mereka dengan ucapan SARA, begitupun jika mayoritas tidak menginginkan pemimpin sholeh,  wajib dihormati. Kita hanya sedang berikhtiar, dan mengharapkan pahala dari ikhtiar kita. Hasilnya, baik atau buruk hanya Allah yang menentukan. Mudah-mudahan saja setelah ikhtiar itu, ada  doa yang terkabulkan yang menyertai, yaitu semoga siapapun pemimpinnya diberi hidayah oleh Allah swt, dan dapat memimpin dengan adil dan menjadikan negeri ini baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Penutup

Ketika bumi ini masih berputar, ketika kebaikan dan keburukan masih saling berebut pengikut, maka satu hal yang perlu difahami oleh kita semua; didunia ini seorang “nabi Musa” dan seorang “Firaun”, mempunyai kesempatan yang sama untuk berkuasa. Biarkan takdir mengalir dari lauhul mahfudz, menggenapi kehidupan manusia sampai masa itu tiba. Sementara dajjal dan Imam Mahdi  sedang menunggu kita diujung jalan, dan nabi Isa menanti takdirnya sebagai pamungkas akhir zaman. Terserah kita mau ikut yang mana.

Senin, 10 Februari 2014

Ketika Tuhan Memenuhi JanjiNYA

Ketika Tuhan memenuhi JanjiNya
Nikmat mana lagi yang kamu dustakan
Sabar dan sholat sebagai penolong
Berbaik sangka sebagai panduan

Sayang...
dulu kita berpeluh hati menahan sedih
meratap pedih memendam resah
saat asa tak sejalan dengan mimpi
saat cita-cita hanya berbalas kecewa

Nun..
Kehidupan tetap berjalan
nafas-nafas ini harus tetap melanjutkan kehidupan
meski hati kecewa, meski harapan belum tiba saatnya

Doa-doa dan amal sedekah menjadi pengobat
Nadi-nadi dan aliran darah berubah menjadi energi
Ketika ikhlas mengajarkan tentang kesabaran
Ketika ikhlas merekatkan hati dengan kepasrahan
Saat itulah sang takdir datang menjawabnya.

Sayang..
Sujud syukurlah kehadirat illahi robbi...
atas semua karunia ini
DIA yang dulu memberi coba
Kini memberimu bahagia
Jangan lupakan juga mereka yang berhak atas rizki itu
semoga keberkahan selalu menaungi hari-harimu.

Selamat menikmati dunia dengan mensyukuri nikmat dari Rabb mu.
Semoga duniamu menjadi bekal akhiratmu pula.
Selamat bersyukur...

Selasa, 10 Desember 2013

Cinta itu (seharusnya) bahagia

Prolog:
Tak sengaja seorang kawan berkonsultasi tentang temannya yang sepasangan suami istri yang rumah tangganya sedang dilanda prahara. Mereka menikah karena patuh kepada orangtua, dijodohkan.
Kisah ini bukan tentang perselingkuhan tapi tentang kelainan sang suami yang hobi menyiksa istrinya sebelum bertugas.
Saya terhenyak dan iba, hingga tak kuasa memenuhi permintaan sang teman untuk membuatkan puisi bagi sang istri untuk diteruskan kepada suaminya.
Saya tahu, sang istri lebih memilih untuk berpisah kepada suaminya ketimbang mendapat siksaan fisik dan bathin. Tapi saya masih menaruh harapan agar sang suami berubah, berobat kepada dokter atau psikiater, sehingga keutuhan rumah tangga mereka dapat tercipta seutuhnya.

Inilah goresan pena saya.



Assalamu’alaikum wr wb

Untuk Abangku di sana

Kutulis puisi ini sambil menata hati yang tercerai berai
Kutulis puisi ini sambil menyusun jemari dan merangkai doa
Kutulis puisi ini bersama sajadah yang basah oleh bulir air mata tak henti  mengalir…

Abang…
Tahukah engkau…
Ketika ayahku bertanya apakah aku siap menikah dengan mu
Aku meminta Allah yang menjawabnya
Ketika ibuku bertanya apakah benar-benar aku akan menjadi istrimu
Aku meminta Allah untuk menjadi penguat jawabanku
Dan aku menikahimu dengan Allah sebagai sandaranku
Dan aku menikahimu dengan ikhlas sebagai pondasinya.

Perlu abang tahu…
Sebelum abang datang, sebenarnya aku sudah mempunyai pilihan
Tapi pilihan orangtuaku lebih utama dari pilihanku
Aku ingin berbakti kepada mereka dan pasrah akan pilihan mereka yaitu kamu
Aku merelakan sudut hatiku sakit demi membahagiakan hati kedua orangtuaku
Aku merelakan mimpi-mimpiku melayang, demi sebuah bakti anak kepada orangtuanya
Dan aku melepas kebahagiaan ku demi kebahagian orangtuaku, demi kebahagiaanmu dan demi kebahagiaan orang-orang yang menginginkan kita bersatu.
Aku yakin, melepas satu kebahagian demi kebahagian orang lain akan membuat aku lebih bahagia dari sebelumnya.
Dan aku yakin, aku akan bahagia bersamamu, mengapa?
Karena melalui kasih sayang dan cinta tulusmu kepada ku
Membawaku kepada bahagia sesungguhnya

Aku yakin ikhlasku akan mu dalam pernikahan ini
Akan membawaku kepada sakinah, kepada mawaddah dan kepada rahmah sesuai dengan janji Allah kepada kita.
Aku yakin pula, ketika keikhlasan menjadi dasar perkawinan, maka ia akan mengabadi hingga akhir zaman nanti.

Tapi abang
Engkau dan aku adalah manusia biasa
Yang kadang bodoh dan sulit mengerti bagaimana mendefinisikan bahagia
Kadang tak mengerti bahwa yang kita berikan sebenarnya adalah penderitaan, bukan kebahagiaan kepada kekasih kita
Kasih sayang yang seharusnya hadir bersama kelembutan dalam percintaan
Kurasakan bagaikan siksa dineraka
Syahwat kepada lawan jenis yang seharusnya menjelma menjadi kebahagiaan saat ia saling berpagut
Justru kurasakan sebagai azab yang tak terperi
Hasratmu kepadaku yang seharusnya membuat aku damai, tenang dan berujung kenikmatan tiada tara
Kurasakan sebagai derita yang tak biasa
Aku tak mengerti mengapa bercinta bagiku seperti berjalan di api yang membara
Menghanguskan jasad dan jiwaku, dan menggoreskan luka dihati begitu dalam.

Abang
Aku tak tahu
Apakah ini adalah ujian bagiku
Aku hanya berharap semoga allah memaafkan dirimu dan diriku
Aku hanya berharap keikhlasanku saat menerima pinanganmu berbalas pahala dariNYA

Abang
Yang aku ingin hanya sederhana
Saat aku benar-benar berusaha mencintaimu, dengan darah dan airmata ini
Aku berharap semoga bahagia hidup bersamamu,
Menjalin cinta dan rasa bersama
Dalam suka maupun duka, dalam sedih atau bahagia
Aku hanya ingin seperti teman-temanku yang lain
Yang menemukan surga dirumah tangganya.

Abang
Aku tak tahu apakah ada sesuatu dalam dirimu
Yang melanggar syariat yang dibenarkan
Sehingga bukan kelembutan dan kesyahduan yang aku dapat saat kita bercinta
Abang, sungguh aku tak ingin suamiku mendapat murka dari Allah
Tatkala ia menyiksa istrinya
Bukankan sang nabi pernah bersabda
Laki-laki terhormat adalah laki-laki yang memuliakan dan membahagiakan wanita
Dan sang nabi adalah orang yang paling memuliakan wanita

Memang aku tak ingin engkau sesempurna sang nabi
Tapi aku tak ingin engkau sezhalim kaum nabi luth
Yang tega menyiksa kaum wanita termasuk istrinya
Demi mendapatkan kepuasan syahwatnya

Abang
Jika engkau tahu ada yang salah dalam dirimu
Tolong obati dirimu kemanapun engkau bisa
Dan obati hatimu dengan taubat nasuha

Abang
Jika engkau mencintaiku
Aku yakin engkau tahu apa yang harus engkau lakukan
Demi kebahagiaan seorang wanita yang kini telah menjadi istrimu
Yang merelakan dirinya, hatinya dan jasadnya untuk mengikuti kemana engkau pergi
Demi membangun generasi  berikutnya yang diidam-idamkan ayah dan bunda kita

Tapi Abang
Jika engkau tak bisa berubah
Atau engkau sulit menerima permintaanku
Aku pasrahkan diriku untuk engkau ceraikan
Kau kembalikan diriku kepada orangtuaku
Yang pastinya akan menangis pilu menyaksikan anak gadisnya terlunta dan teraniaya
Sebab patuh kepada perintah kedua ibu bapaknya

Tapi aku yakin
Mereka akan menerima
Sebab menikah seharusnya membawa sakinah
Sebab cinta itu seharusnya membawa bahagia

Maafkan aku abang.




Kamis, 30 Mei 2013

Standing Party, Menggugat Sunnah Yang Hilang

Standing Party
Menggugat Sunnah Yang Hilang


Dewasa ini pesta pernikahan kaum muslimin lebih sering diselenggarakan di gedung-gedung. Selain alasan praktis, faktor gengsi mungkin menjadi pertimbangan. Sejatinya tidak ada yang salah jika perayaan pernikahan atau pesta apapun di gedung-gedung, yang menjadi masalah adalah bahwa jumlah undangan tidak sebanding dengan jumlah kursi yang disediakan. Loh apa masalahnya, bukankah memang hampir semua seperti itu, undangan 1000 orang, kursi yang disediakan 10 buah, bahasa kerennya standing party. Dan itu jamak dilakukan oleh manusia modern saat ini. 

Ya bagi mereka yang terbiasa standing party memang tak masalah, tetapi bagi orang tertentu, seperti saya berdiri berjam-jam tentu tidaklah nyaman, apalagi sambil memakan hidangan atau membawa minuman. Belum lagi kalau yang datang adalah para orangtua renta yang terlihat lelah berdiri berlama-lama. Tapi bukan itu masalah utamanya. Masalah utamanya adalah bahwa nabi MELARANG kita untuk MINUM dan MAKAN sambil BERDIRI. 

Dari Abu Hurairah r.a :Bahwa Nabi s.a.w bersabda,”Janganlah kalian minum sambil berdiri ! Apabila kalian lupa, maka hendaklah ia memuntahkannya !” (HR. Muslim)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Adi dari Sa’id bin Arubah dari Qatadah dari Anas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang seseorang minum dalam keadaan berdiri. Kemudian ditanyakan kepada beliau, “Bagaimana dengan makan?” Beliau menjawab: “Terlebih lagi dalam makan.” Abu Isa berkata; Ini adalah hadits hasan shahih.(H.R Tirmidzi)

Jadi ada larangan jelas bahwa minum dan makan sambil berdiri adalah berdosa, bahkan kalau lupa kita diharuskan untuk memuntahkannya, persis seperti kita tertelan makanan haram atau terminum minuman khamr, segera kita muntahkan!

Sunnah yang begitu agung, perlahan kini mulai ditinggalkan oleh kaum muslimin. Sunnah yang mulia ini tergerus oleh budaya luar yang bernama 'Standing Party' yang ironisnya kaum muslimin bangga akan hal itu. Jika itu semua telah terjadi dalam suatu acara pesta, siapakah yang paling bertanggung jawab atas dosa kolektif itu? Yang paling bertanggung jawab adalah sang tuan rumah, yang membiarkan tamunya minum dan makan sambil berdiri karena kursi yang dibatasi, meskipun sebenarnya bisa saja samg tuan rumah menyediakan jumlah kursi yang memadai.

Alangkah ironisnya, jika sebuah pesta perkawinan yang seharusnya membawa barokah, justru tanpa sengaja malah membawa dosa yang terjadi karena kealpaan sang tuan rumah.

Semoga tak ada lagi standing party yang sebenarnya membuat sangat tidak nyaman para undangan itu dalam pesta pernikahan kaum muslimin.


Jumat, 02 November 2012

Dan rasa itu bernama Iba



“Dan rasa itu bernama Iba”
13th Love Anniversary

Bertemu dirimu adalah  kesempatan terindah dalam hidupku
Mengenal dirimu adalah berkah terindah dalam hari-hariku
Mencintai dirimu adalah pekerjaan paling indah dalam hidupku
Dan hidup bersamamu adalah anugerah terindah yang Allah berikan kepadaku

Meski pada awalnya kamu tak mengenal aku dan aku sangat asing bagi dirimu
Meski pada awalnya jiwaku berdarah-darah karena terjebak mencintai dirimu
Meski pada awalnya tanganku harus bertepuk tak sempurna
Karena lubuk hati yg tulus ini tak terbaca jernih oleh jiwamu
Dan alasan sahihpun tak mampu menjernihkan airmata kesungguhan itu
Dan aku, dalam luka yang perih, dalam gundah yang dalam, terpapah-papah menjelaskan kepadamu, mengapa harus ada wajahmu bersemayam di sudut hati ini.

Man jadda wa jada
“Siapa berusaha dia akan mendapatkan apa yang ia usahakan “
Kalimat sakti itu mampu membuat pijakan kaki ini tetap berdiri
Kalimat sakti itu mampu membuat tubuh ini tetap tegak tanpa goyah
Dan
Ketika kesengsaraan dan nestapa hanya bisa diobati dengan doa
Ketika luka dan perih hanya bisa sembuh dengan kembali kepadaNYA
Ketika asa dan rasa hanya bisa terwujud karena takdirNYA
Maka aku tak menyia-nyiakan malam-malamku untuk mengadu kepadaNYA
Maka sajadah panjangpun menjadi teman setia disetiap ujung malam
Dan dingin kalbupun menjadi hangat karena menghadirkan cintaNYA
Lalu, kurangkai jemari dan kususun kata pinta
Memohon ampun atas segala lalai dan dosa
Memohon maaf atas segala kekhilafan dan kehinaan
Seraya meminta dirimu kepada Sang Pemilik Semesta
Atau membiarkan mu pergi dari lubuk hati karena mungkin bukan pilihan terbaik dariNYA

Ketika kepasrahan telah menyelimuti diri
Ketika keikhlasan menaungi disetiap denyut nadi
Dan ketika bayangmu tak lagi menghantui hari-hari
Di saat itu Sang Pencipta menurunkan RahmatNya
Diberinya engkau setitik rasa dari milyaran rasa keagunganNYA
Rasa yang membuat duniaku berputar seratus delapan puluh derajat
Rasa yang membuat dunia seolah-olah berada dalam genggaman
Rasa yang membuat bahwa aku seolah-olah hanya mahluk yang paling disayang olehNYA
Meski rasa itu bukan SUKA, bukan CINTA, bukan pula SAYANG
Tetapi rasa itu mampu melahirkan suka, cinta dan sayang sekaligus, bersenyawa menjadi satu dalam bentuk yang sangat dahsyat
Dan rasa itu bernama IBA.

Setelah itu
Pinanganku kau terima atas nama iba, atas nama simpati dan atas nama empati,
Atas nama rasa kasihan yang membuatmu bersedih setiap kali mengingat itu, melihat kesungguhanku berjuang memugar kembali puing-puing mimpi yang menghantui jiwa setiap insan muda.
Yang ingin menyempurnakan separuh agama dan meninggikan kehormatannya
Melalui pernikahan yang tulus dan suci
Melalui keluarga sakinah mawaddah wa rohmah.

Sejak saat itu aku belajar memahami makna
Bahwa ada rasa yang lebih dahsyat dari suka, cinta ataupun sayang
Rasa yang hadir dari keikhlasan menerima apa adanya
Tanpa embel-embel dunia yang mengikutinya
Lalu akupun bertekad mengikuti caramu menyukai, mencintai dan menyayangiku
Dengan rasa iba sebagai pondasinya, rasa ikhlas sebagai dindingnya dan rasa saling memiliki sebagai atapnya, dalam naungan cinta illahi robbi

Kini, tiga belas tahun berlalu sejak sumpah janji suci itu
Rasa iba itu masih mencengkeram erat dalam nadiku
Hembusan-hembusan nafas cinta dan sayang masih mewangi dalam setiap canda rayumu
Dan dunia ini pun masih kurasakan milik kita berdua
Meski para jundi telah lahir meramaikan dunia kita

Terimakasih honey,  Selamat menikmati 13th perkawinan kita.
I luv U


Terimakasih ya Robbi,  Tuhan pemilik kebahagiaan, tetapkan hati kami selalu dalam ketaatan pada diriMu
Tetapkan hati kami dalam mensyukuri setiap nikmat dariMu
Dan jangan masukan kami kedalam orang-orang yang kufur terhadap nikmatMU.

Jumat, 06 Juli 2012

Sebuah Julukan


Kedekatan, kekariban dan rasa sayang membuat dua orang manusia saling membuat julukan/kata panggil untuk satu sama lain. Tujuannya agar menambah gizi/nilai dari panggilan terhadap orang yang disayangi.
Julukan biasa diberikan oleh sahabat dekat, kawan karib atau antara sepasang suami istri.
Memanggil dengan julukan membuat sang pemanggil merasa memiliki hal yang berbeda dengan panggilan umum yang biasa digunakan oleh orang lain, dan biasanya yang mengetahui itu hanyalah orang yang paling dekat. Julukan yang saya maksud disini beda dengan poyokan (betawi-red). Kalau poyokan dibuat sekedar untuk lucu-lucuan atau mengenang pada suatu peristiwa lucu tentang sang empunya nama, bisa juga dari nama kecil yang membuat karakter sang empunya nama mudah diingat.

Adalah Sang Nabi yang senang memangil istrinya ‘Aisyah dengan julukan khumairo (yang pipinya kemerah-merahan), dan ‘Aisyah sudah tentu senang dipanggil dengan julukan seperti itu. Meneladani sang nabi, banyak pasangan suami istri yang memanggil pasangannya dengan julukan, entah untuk menambah kemesraan, atau untuk menambah rasa sayang bagi hubungan mereka berdua, dan kamipun, jelas memiliki panggilan masing-masing, yang kalau didengar oleh orang lain terlebih-lebih sanak family, maka mereka akan mengernyitkan dahi tak mengerti apa maksutnya. Ya iyalah, panggilan itu hanya kami berdua yang mengerti. Hikmah dibalik penyebutan dengan julukan ternyata sangat besar, terbukti jika pasangan terlibat dalam konflik rumah tangga (tiada rumah tangga yang bebas dari konflik-red), penyebutan dengan julukan akan menyadarkan khittah awal, komitmen dasar dan mengajak masing-masing ke memori napak tilas, pertama kali mereka berjanji dalam ikatan suci pernikahan beberapa tahun lalu. Sepele, namun cukup membuat lubang-lubang konflik segera tertutup, retak-retak perpecahan segera terpadu kembali dan ujung-ujungnya pertengkaran akan berubah menjadi sentuhan hangat dan cumbuan mesra, setelah itu terserah pemirsa (sensor-red).

Jadi untuk para pasangan yang akan segera menikah, siapkan julukan untuk kekasih anda, semoga setiap kali pertengkaran tiba, julukan itu akan memadamkan api pertengkaran anda, dan jika tidak terjadi pertengkaran, julukan itu akan membuat anda semakin sadar bahwa ada berdua saling membutuhkan.

Untuk pasangan yang sudah kadaluarsa, jangan sedih, julukan masih bisa anda berikan dari sekarang, terserah anda apakah julukan itu berarti atau tidak, anda bebas memberi julukan pasangan anda. Saran dari saya berilah julukan yang mudah diingat seperti “endut”, “lebar” “biang lemari” “kulkas dua pintu” atau apalah yang penting anda bisa mesra. Hahaha.
Selamat memberi julukan pasangan masing-masing, semoga damai menyertai anda berdua, dan piring terbang tak lagi melayang diantara kepala anda”. 

Dan untuk para single fighter yang belum mempunyai pasangan atau sedang menunggu pasangan, tak perlu anda pusing-pusing atau repot-repot mencari julukan, saya sudah tahu julukan anda yakni ‘jomblo’ hahaha. Peace, semoga Allah mempercepat rezeki anda, amin.

PS: Panggilan kami berdua hanya satu huruf, yakni “i”. Jangan banyak tanya, sampe pohon rambutan berbuah jengkol juga tidak akan saya jelaskan. 

Rabu, 04 Juli 2012

Dimanakah gubernur kami?


Kawan, aku baru saja dilantik menjadi penguasa kota ini seratus hari lalu.
Akupun bersyukur atas karunia ini, dan berusaha membumi atas seluruh amanah ini.
Mungkin malam-malamku tak akan nyenyak malam sebelumnya
Dan hari-hariku akan terasa berat seolah terpidana yang sedang menanti pancungan
Mataku akan sembab sebab tangisan yang tak berkesudahan
Jiwaku akan terasa sempit sebab derita mereka yang menjadi tanggungjawabku dunia akhirat.
Dadaku akan sesak melihat betapa pedihnya kehidupan rakyatku, Betapa perihnya kehidupan para dhuafa, betapa nestapanya kehidupan para fakir miskin dikota ini.
Jelang malam tadi selepas rapat marathon membahas bidang kesra
Kusempatkan berjalan sendiri menembus angin malam
Mengusap-usap malam dalam riuh tepi jalan
Menikmati hening dan hentak nadi kota
Mencoba menapak tilas jalan sang khalifah
Bertanya pada malam ada khabar apakah disana.
Nun disana di perempatan permata hijau arah jalan kebayoran lama,
ada seorang nenek renta masih bergelayut dengan dingin
Tangannya terpapah kayu dan seonggok kaleng bekas susu
Menengadah kepada setiap mahluk yang berpapasan dengannya
“Nak berilah nenek sedikit rezeki untuk esok hari”
Begitulah ia ulangi berkali-kali tak jua bosan,
Sampai ketika tiang listrik berdentang keras terbentur tubuh ringih sang nenek,
Suaranya terdengar lantang seolah berkata “dimana gubernurmu berada nek? Harusnya ia melihat kondisi nenek renta ini, adakah tempat nyaman untukmu berlindung di hari tua??”
Lantas aku tersontak kaget bercampur haru, diam membisu dalam rasa yang semakin terasa, dalam perih yang semakin mengiris, seraya menjawab lirih “Aku disini nek, aku disini”
Belum sempat aku mengusap bulir yang jatuh, tiba-tiba kakiku terantuk benda lunak, dipinggir trotoar ditepi jalan becek, sang empunya marah seraya mengumpat, “mengapa engkau injak tanganku pak”. Aku menoleh dan terhenyak kembali.
Seorang bocah remaja tanpa kedua kaki masih terjaga, tangan kurusnya berusaha memindahkan tubuhnya, berlari-lari dengan jari tangannya yg lincah, berusaha memungut segelitir koin yang dilemparkan orang, bunyinya bergerincing seolah berkata “Dimanakah gubernurmu nak, mengapa ia membiarkanmu bertarung dengan maut”
Akupun terdiam kembali seribu bahasa, berusaha menjawab dengan asa yang semakin tak menentu “aku disini nak, aku disini gubernurmu” gumamku dalam hati.
Kakiku terpaku kaku terbujur
Lidahku kelu mulut membisu
Dan hati berzikir seraya berdoa
Mengharap Allah mengampuni dosa-dosaku
Belum habis aku terluka
Seorang kakek hampir renta terlihat duduk dipinggir jalan, menyanyi dengan sebuah rebana, seraya menggelar saputangan sebagai isyarat kepada mereka, para pemilik hati yang ingin berderma. Tak peduli para mata yang memandang menahan iba, seorang yang mestinya beristirahat dengan nyaman bersama anak cucu, bergelut dengan debu dan dinginnya bayu,menunggu sang waktu kapankah ia datang bertamu.
Tak dung  tak dung tak dung tak, suara lirih terdengar antara ada dan tiada, seolah bertanya “dimanakah gubernurmu wahai kakek renta?”
Tiba-tiba
Suara-suara semakin banyak datang bergelombang dari segala penjuru
Saling berebut masuk ketelingaku tanpa bisa aku cegah.
Membawa berita dari sudut-sudut kota.
Nun disana di perempatan pejompongan di samping rel kereta
Para balita berlomba lari dengan bahaya, menunggu sang lampu merah menatap iba
Bagi tangan-tangan kecil yang menengadah, bagi wajah-wajah lugu yang tak mengerti
Mengapa ia berada disitu.
Dunia yang nyaman yang seharusnya dipeluknya dalam taman-taman bermain, tergerus oleh kerasnya negeri yang baru saja memilih gubernurnya.
Dan asap knalpot serta bising kendaraan seolah berkata, “Dimana pemimpinmu Nak”
Nun disana diperempatan cengkareng,
Wajah-wajah lusuh bersimbah keringat, punggung mungilnya memanggul karung berisi gelas pelastik dan botol bekas, menyusuri jalan hingga pagi menjelang, lelah dan lelap membuatnya tergeletak dipinggir kios yg belum buka, hingga dingin air terpercik muka membangunkan khayalnya tentang masadepan, atau sengat matahari menyapa kelopak matanya yg mungil, sayu dan tertutup debu.
Rintik hujanpun menyapa, “dimana pemimpin mu nak? sehingga engkau harus terdampar disini, demi mimpi bapak dan emakmu.
Nun disana di pertigaan condet, bocah-bocah lusuh menjajakan koran, permen dan juga rokok.
Sementara yg lain menyanyi ditemani kicrikan bekas tutup botol, berlari dari satu pintu mobil pribadi ke pintu lainnya, sementara sang pemilik melirik sinis dan acuh tak peduli.
Dan suara-suara kecil itu tetap lantang menyanyi, tanpa tahu mengapa ia harus bernyanyi ditengah belantara kota. Kapankah rasa nyaman datang menghampirimu wahai para bocah, dan anginpun berbisik seraya mencemooh, “kemana perginya pemimpin kota ini nak?”
Nun disana, diribuan perempatan jakarta, diribuan pertigaan ibu kota, di ribuan jalan-jalan metropolitan, di pinggir kali, dibawah jembatan, hingga dipelataran-pelataran toko atau dihalaman rumah sakit. ada banyak anakbangsa yang terampas hak-haknya, ada banyak orangtua renta yang terlantar tanpa bisa berlindung dihari tuanya, ada yang meringis menahan sakit tanpa bisa melakukan apa-apa. Dimanakah pemimpinmu wahai ibukota?
Disisi lain, para aparat di tingkat rendah hingga tingkat tinggi sibuk memperkaya diri, korupsi dan kolusi serta pungli selalu menemani, bagai kawan karib bahkan saudara sendiri. Rakyat kecil enggan mengurus surat miskin lantaran kemiskinannya menjadi komoditi, bahkan mengurus surat kematian seperti mengurus surat hibah, berapa anda sanggup maka urusan menjadi lancar. Para investorpun berinsvestasi karena terpaksa, sebab antrian pungli bagai daftar belanja bertautbaris hingga puluhan baris. Dimanakah pemimpinmu wahai pelayan negara??.
Belum lagi keamanan dan kedamaian yang begitu mahal didapatkan, di kota ini.
Aman dan nyaman adalah seberapa banyak kita mampu membayar preman, baik sendiri ataupun terorganisir rapi, bahkan untuk parkir dihalaman sendiripun rakyat kami terpaksa membayar.  Wahai kota, Dimanakah gurbernurmu menyembunyikan rasa aman milik kami???
Dan akupun tak sanggup lagi berdiri.
Dan jantungku berhenti berdetak
Sebelas juta penduduk kotapun mencari aku kesana-kemari,
Seraya bertanya kemana perginya gubernur mereka selama ini…
-oOo-
(Mudah-mudahan dibaca oleh para cagub, amin)

Selasa, 15 Mei 2012

Once Upon In a Lifetime

Life is so beautiful just to be filled by a grief, 
Families are so comfortable as a shelter occupants 
And the world is so perfect if only filled by solitude ...






























Kamis, 12 April 2012

Jangan Cengeng Nak...

Tubuh ringkih para orang tua mampu bertahan karena mimpi akan masa depan sang anak yang lebih baik.
Seorang ayah akan tegar mencari nafkah yang halal meski nyawa menjadi taruhan demi mewujudkan mimpi sikecil dirumah agar kelak menjadi orang besar.
Seorang suami bertahan dari himpitan pekerjaan demi istri yang setia menunggu kelahiran sang jabang bayi..
Seorang ibu terpaksa mencari pekerjaan sampingan agar cahaya tetap berbinar dimata sang anak dan senyum tetap tersimpul dibibir sang bocah.
Senyuman mereka adalah kekuatan para orangtua.
Tangisan mereka adalah kepedihan para orangtua.
Gelak tawa dan rentetan tangis mereka adalah mesiu yang memborbardir hati dan jiwa para ayah, juga mata air dari air mata para ibu.
Tubuh mungil itu harus kuat menapak, bahu kecil itu harus kuat berdiri dan jemari lentik itu harus kuat menggenggam masa depan mereka.
Celoteh-celoteh kecil itu harus di semai menjadi suara-suara lantang.
Tangis-tangis kecil itu harus dituai menjadi empati yang datang dari hati.
Kelak ketika mereka besar menjadi pemimpin.
Jiwa mereka menjadi halus, nurani menjadi peka dan suara mereka menjadi lantang dalam membela kebenaran.
Nak, beri kami sedikit waktu untuk mewujudkan mimpi-mimpimu.
Beri kami sedikit kesempatan menabur benih-benih perbekalan untuk dirimu.
Beri kami sedikit asa dalam celoteh dan tangismu.
Saat ini, mungkin hanya cinta dan kasih sayang yang bisa kami beri.
Hanya doa dan harap yang bisa mengaliri urat nadimu.
juga hanya haru dan airmata yang bisa menjadi selimut tidurmu ketika engkau terlelap.
Tapi nak,
Yakinlah, suatu saat Allah akan memberi apa yang engkau cita-citakan dan mengabulkan apa yang engkau harapkan.
Meski waktu yang akan membuktikan.
Meski masa yang akan memberikan penjelasan.
Dan
Meski saat itu.
Kami tak bisa lagi menyaksikan.
Meski kami tak ada lagi disisimu...

Jangan cengeng nak, hidup adalah perjuangan...