Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Juli 2023

Cahaya Yang Kembali

Ini kisah tentang Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy, ulama dari Spanyol saat terjadi inkusisi. Entah siapa yang menulis, saya hanya mendapatkan dari grup WA RT dilingkungan saya. Saya akan Abadikan dalam blog saya ini. Semoga bermanfaat.

Pen.


Saya baca kisah nyata penuh ibrah ini berkali-sekali dan setiap baca tak terasa air mata telah menetes di pipi.

Kisah ini ditahun 1990-an pernah ditulis di majalah SABILI.

Kisahnya di negeri Andalusia Sepanyol ada seorang Jendral Adolfo Roberto, dia pemimpin penjara yg terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan.

Setiap sipir penjara membungkukkan badannya serendah mungkin ketika 'Algojo Penjara' itu berlalu di hadapan mereka.

Karena kalau tidak, sepatu 'Jungle' milik tuan Roberto itu akan mendarat di wajah mereka.

Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar suara seseorang membaca Ayat2 Suci Alqur'an yang amat ia benci. 

"Hai ... hentikan suara jelekmu ! Hentikan ...!!!" Teriak Roberto sekeras-kerasnya sembari membelalakkan mata.

Namun apa yang terjadi ?

Lelaki di kamar tahanan tadi tetap saja membaca & bersenandung dengan khusyu'nya

Roberto bertambah berang.

Algojo penjara itu menghampiri kamar tahanan yg sempit.

Dgn congak ia meludahi wajah renta sang tahanan yg keriput hanya tinggal tulang.

Tak puas sampai di situ, ia lalu menyulut wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dgn rokoknya yg menyala.

Sungguh ajaib ...! tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. 

Bibir yg pucat kering milik sang tahanan amat gengsi untuk meneriakkan kata kepatuhan kepada sang Algojo. 

Bibir keringnya hanya berkata lirih, _"Robbi, wa-ana 'abduka ..."

Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata, 

"Bersabarlah wahai ustadz ... Insya Allah tempatmu di Syurga."

Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustadz oleh sesama tahanan, 'algojo penjara' itu bertambah memuncak amarahnya.

Ia perintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras-keras hingga terjerembab di lantai. 

"Hai orang tua busuk...!!

Bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa jelekmu itu ?!

Aku tidak suka apapun yang berhubungan dengan agamamu....!!!"

Sang Ustadz lalu berucap, "Sungguh ... aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang amat kucintai, Allah SWT.

Karena kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemui-Nya.

Maka patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk ?

Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku termasuk orang2 yg zhalim".

Baru saja kata-kata itu terhenti, sepatu laras Roberto sudah mendarat di wajahnya.

Laki-laki itu terhuyung-huyung.

Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dengan wajah bersimbah darah.

Ketika itulah dari saku baju penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah 'Buku Kecil'. 

Adolfo Roberto bermaksud memungutnya. 

Namun tangan sang Ustadz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat-erat.

"Berikan buku itu, hai laki-laki dungu !", bentak Roberto.

"Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini !", ucap sang ustadz dgn tatapan menghina pada Roberto.

Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu. 

Sepatu laras berbobot dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustadz yang telah lemah. 

Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati.

Namun tidak demikian bagi Roberto. 

Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus. 

Bahkan 'algojo penjara' itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur.

Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang membuatnya penasaran. 

Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh

Mendadak algojo itu termenung dan berkata dalam hatinya :

"Ah ... sepertinya aku pernah mengenal buku ini.

Tapi kapan ??

Ya, aku pernah mengenal buku ini." suara hati Roberto bertanya-tanya.

Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu.

Jenderal berumur 30 tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan "aneh" dalam buku itu. 

Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. 

Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Spanyol.

Akhirnya Roberto duduk di samping sang ustadz yang sedang sakarat melepas nafas-nafas terakhirnya. 

Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam.

Mata Roberto rapat terpejam.

Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang di alaminya sewaktu masih kanak-kanak dulu.

Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto.

Pemuda itu teringat ketika suatu sore di masa kanak-kanaknya terjadi kericuhan besar di negeri tempat kelahirannya ini. 

Sore itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). 

Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa.

Beribu-ribu jiwa kaum muslimin yg tak berdosa berjatuhan di bumi Andalusia. 

Di ujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab) digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. 

Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yang kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di udara.

Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang dibawa oleh para rahib.

Seorang bocah laki-laki mungil tampan, berumur tujuh tahunan, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap. 

Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua.

Bocah mungil itu mencucurkan airmatanya menatap sang ibu yang terkulai lemah di tiang gantungan. 

Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang Ummi (ibu) yang sudah tak bernyawa, sembari menggayuti abaya hitamnya.

Sang bocah berkata dengan suara parau,

"Ummi.. ummi.. mari kita pulang. Hari sudah malam.

Bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa ....?

Ummi, cepat pulang ke rumah ummi ..."

Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya. 

Ia semakin bingung dan takut, tak tahu harus berbuat apa. 

Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah.

Akhirnya bocah itu berteriak memanggil bapaknya, _"Abi ... Abi ... Abi ..."

Namun ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapak ketika teringat kemarin sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.

"Hai ... siapa kamu?!"_ teriak segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati sang bocah.

"Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi ..." jawab sang bocah memohon belas kasih. 

"Hah ... siapa namamu bocah ??

Coba ulangi !!!"

bentak salah seorang dari mereka

"Saya Ahmad Izzah ..."_ sang bocah kembali menjawab dengan rasa takut. 

Tiba-tiba "plak! sebuah tamparan mendarat di pipi sang bocah. 

"Hai bocah ...! Wajahmu bagus tapi namamu jelek.

Aku benci namamu.

Sekarang kuganti namamu dengan nama yang bagus.

Namamu sekarang 'Adolfo Roberto' ...

Awas !

Jangan kau sebut lagi namamu yang jelek itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!"_ ancam laki-laki itu.

Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata.

Anak laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar dari lapangan Inkuisisi. 

Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama mereka.

Roberto sadar dari renungannya yang panjang. 

Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. 

Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada tubuh sang ustadz. 

Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu. 

Ketika ia menemukan sebuah 'tanda hitam' ia berteriak histeris, "Abi... Abi ... Abi ..!!."

Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu.

Pikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. 

Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang ada di dalam genggamannya adalah Kitab Suci milik bapaknya, yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya. 

Ia juga ingat betul ayahnya mempunyai 'tanda hitam' pada bagian pusarnya.

Pemuda beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta nan lemah.

Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas ulahnya selama ini. 

Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun alpa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, 

"Abi ... aku masih ingat alif, ba, ta, tsa ..."

Hanya sebatas kata itu yang masih terekam dalam benaknya.

Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang membasahi wajahnya. 

Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat orang yang tadi menyiksanya habis-habisan kini tengah memeluknya. 

"Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuh Abi, tunjukkan aku pada jalan itu ..."

Terdengar suara Roberto memelas.

Sang ustadz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, ia lalu memejamkan matanya. 

Air matanya pun turut berlinang. 

Betapa tidak, jika sekian puluh tahun kemudian, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, ditempat ini. 

Sungguh tak masuk akal. 

Ini semata-mata bukti kebesaran Allah.

Sang Abi dengan susah payah masih bisa berucap.

"Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Di sana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy.

Belajarlah engkau di negeri itu".

Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal kalimah indah "Dua Kalimah Syahadat..!

Beliau pergi menemui Robbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang di bumi yang fana ini.

Beberapa tahun kemudian.....

Ahmad Izzah telah menjadi seorang Ulama Besar di Mesir. 

Seluruh hidupnya dibaktikan untuk agama Islam, sebagai ganti kekafiran yang di masa muda sempat disandangnya.

Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru dunia berguru kepadanya ... Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy.

Sang Ulama berpesan kepada Seluruh Umat Islam se dunia:

Jangan engkau pilih Pemimpin yang menzhalimi para Ulama dan Jangan kau pilih pemimpin yang suka berdusta.

Firman Allah Ta'ala:

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."

(QS. 30:30).

Catatan : 

Semoga Kisah Nyata ini menjadi Iktibar bagi kita, untuk berfikir, bersikap, bertindak, dan berpihak kepada Kebenaran yang Hakiki. Karena harta, pekerjaan, pengaruh, pangkat, jabatan, dan kesenangan hidup di dunia ini, hanya sesaat

Senin, 14 Maret 2016

Mencari Berkah Yang Hilang, Sebuah Ikhtiar


Berkah; adalah sesuatu yang tak terlihat tetapi nyata dalam kehidupan. Contoh membahagiakan kedua orang tua terutama ibu membuat hidup menjadi berkah. Hidup yang penuh berkah dambaan setiap manusia. Berkah kadang diasosiasikan dengan harta, ketika kita memilih antara harta yang sedikit tapi berkah atau harta yang banyak tapi tidak berkah, maka kita akan memilih harta yang banyak dan juga berkah sebagai idealnya, tapi jika kenyataan harus memilih, apapun itu baik sedikit atau banyak, tetap  keberkahan menjadi pilihan utama.

Selain kehidupan yang berkah, kaum muslimin juga mendambakan negeri  yang berkah. Sebagaimana dicontohkan oleh ummat terdahulu, tak asing bagi kita mendengar istilah baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur dalam alquran. Ketika kita dihadapkan pilihan sesuai dengan analogi diatas, maka memilih keberkahan negeri adalah lebih utama dari pada kemakmuran dan kekayaan saja. Betapa  banyak negeri-negeri terdahulu yang kaya raya, makmur dan gemah ripah loh jinawi, tapi kemudian diazab dan dihancurkan oleh Allah karena tidak berkah, atau berapa banyak negeri-negeri makmur dan kaya raya yang tidak membawa sedikitpun keberkahan bagi rakyat nya, bahkan keberkahan itu dicabut oleh Allah SWT.

Negeri  ini sudah merdeka lebih dari 60tahun, tapi keadaan tidak menunjukan bahwa negeri  ini  adalah negeri yang berkah, rakyat masih banyak yang menderita. Ada apa? Padahal penduduknya mayoritas muslim. jika dibandingkan dengan negeri-negeri tetangga mayoritas muslim lainya yang merdeka belakangan, mereka terlihat lebih sejahtera. Apanya yang salah dengan negeri ini. Secara tendensius saya boleh menyatakan bahwa negeri-negeri  jiran makmur karena mengadopsi syariat islam dalam kehidupan bernegara mereka, tauhid menjadi panglima, bukan sekedar teks yang tercantum  dalam konstitusi mereka. Suatu ketika dalam satu kesempatan di Makkah, saya pernah berbicara dengan seorang kawan brunei  beberapa waktu lalu. Mereka dengan jelas menyatakan, hidup dalam syariatlah yang membuat negeri mereka berkah. Ketika saya tanya bagaimana kehidupan non muslim disana, mereka menjawab, non muslim hidup nyaman dan damai, terjamin dan terlindungi. Sebab syariat islam hanya untuk kaum muslimin, tetapi imbas keberkahannya untuk semua pemeluk agama.

Islam adalah rahmatan lil alamin, bukan cuma untuk satu bangsa,  tetapi seluruh dunia bahkan alam semesta  termasuk tumbuhan dan binatang. Agama bukan cuma perilaku, bukan cuma budi pekerti  tetapi komprehensif dan menyeluruh(kaffah).  Ia menata kehidupan manusia dari lahir hingga wafat, dari bangun tidur hingga tidur lagi. Dari setiap hela nafas dan aliran nadi, dari setiap keinginan hingga perbuatan nyata.
Ketika bangun tidur, kita diajarkan untuk berdoa, pergi mandi, sarapan pagi, berangkat bekerja, sedang bekerja, kembali kerumah semua tak luput dari doa yang diajarkan agama. Begitupun dengan akhlak ketika bangun tidur, dikamar mandi, dimeja makan, dikendaraan, semua diatur oleh agama yang sempurna ini. Tak satupun helaan nafas, atau alirah darah dalam nadi yang terlepas dari pengawasan Rabb semesta alam. Melakukan hal yang kecil saja harus sesuai syariat, apalagi sesuatu yang besar seperti memilih pemimpin, yang mempengaruhi hayat hidup orang banyak, yang mempengaruhi masa depan generasi anak cucu, yang mempengaruhi kesinambungan kehidupan agama ini yang akan di tanyakan oleh sang nabi bagaimana nasib ummatku nanti, ummati-ummati!.
Bagaimana bisa kita mempertaruhkan kemuliaan  agama ini kepada orang  lain?, bagaimana mungkin mereka mau peduli?, jika kita sendiri tak pernah peduli, Kepada siapa tanggung jawab ini kita berikan, kepundak siapa nasib ummat ini kita titipkan. Ketika halal dan haram tak lagi menjadi acuan sang pemimpin, ketika miras dilegalkan, ketika perjudian di halalkan, ketika perzinahan berbalut prostitusi diizinkan, apa kata anak cucu kita nanti Jika mereka terjerat itu semua? Mereka, para anak cucu akan meminta pertanggung jawaban kita di akhirat nanti. Wahai ayah, wahai ibu, mengapa engkau menaruh masa depan kami dipundak orang yang tidak bertauhid?, mengapa engkau membiarkan negeri ini diurus oleh orang yang mempersekutukan Allah, mengatur kehidupan kami dengan aturan sekuler, memisahkan kami dengan Robb kami. Memisahkan kami dengan agama kami, sedang engkau mungkin saat itu sedang gagap menjawab pertanyaan malaikat di alam kubur.Saat itu mungkin kami memang kaya raya, tapi sepi dari iman, didunia kami memang sejahtera, tapi akhirat kami kering. Engkau memberikan kami kenikmatan dunia yang sementara, tetapi menghancurkan masa depan akhirat kami yang kekal abadi. Setega itukah engkau ayah dan ibu?

Di negeri ini kaum fasik dan para politisi kotor selalu menyalahkan islam, padahal oknum pemimpin itu yang tidak mengamalkan islam secara kaffah, korupsi secara pribadi, tetapi jamaah kaum muslimin yang disalahkan. Padahal koruptor dari kalangan non muslim lebih banyak dan lebih dahsyat nilainya. Tapi itu seolah tertutupi. Entah oleh kebencian, atau oleh kedunguan nurani.
Tegas dalam islam, korupsi adalah perbuatan keji, jika syariat dilaksanakan maka pelakunya harus dipotong tangan. Tak ada yang berani mencuri jika syariat ditegakkan, tapi sayangnya seperti diawal tadi, negeri ini bukanlah negeri syariat, tak ada kesempatan kaum muslimin menegakan hukuman anti koruptor itu. Hanya sejarah yang bercerita selama 13 Abad sejak abad ke tujuh sejak Nabi diutus  sampai awal abad 20,dan kini hanya sedikit negeri-negeri muslim yang menegakkan hukum itu .  Selama 13 abad itu, Islam adalah rahmat bagi alam semesta, semua agama hidup nyaman dalam naungan penguasa muslim, hak-hak terpenuhi, tidak ada yang teraniaya. Tapi sejak kekhalifahan itu runtuh, sebaliknya, ketika muslim hidup minoritas, hak-haknya terbelenggu bahkan dibantai, mereka dihina dan dinafikan.

Ketika kaum muslimin rindu pemimpin yang sholeh.
Apakah salah jika kaum muslimin merindukan pemimpin yang sholeh, yang diharapkan dengan kesholehannya itu keberkahan akan turun menaungi negeri ini, menaungi semua rakyat Indonesia dari suku agama dan ras apapun, sebagaimana telah dinikmati oleh ummat-ummat terdahulu. Jika ia sholeh, ia pasti takut akan korupsi, takut akan berlaku aniaya, sebab kepemimpinannya akan dimintai pertanggung jawaban diakhirat nanti. Jika ia adil ia akan duduk bersama nabi, jika ia zhalim, ia akan menjadi penghuni neraka yang paling dasar.

Jangan paksa muslim memilih pemimpin non muslim, karena kamipun tidak memaksa seseorang
non muslim untuk memilih pemimpin muslim.  Sebagaimana Allahpun melarang nabi untuk memaksa seseorang itu beriman atau tidak. Sebab Allah pernah menyatakan dalam quran, jika Allah mau, bisa saja ummat manusia dijadikan satu ummat, selesai sudah. Bukan disitu pointnya. Sebab hidayah hanya milik Allah, seorang muslim hanya berkewajiban memberi peringatan, bukan memaksa.

Demokrasi adalah kebebasan berpendapat. Jika mayoritas menginginkan pemimpin sholeh, jangan sebut mereka dengan ucapan SARA, begitupun jika mayoritas tidak menginginkan pemimpin sholeh,  wajib dihormati. Kita hanya sedang berikhtiar, dan mengharapkan pahala dari ikhtiar kita. Hasilnya, baik atau buruk hanya Allah yang menentukan. Mudah-mudahan saja setelah ikhtiar itu, ada  doa yang terkabulkan yang menyertai, yaitu semoga siapapun pemimpinnya diberi hidayah oleh Allah swt, dan dapat memimpin dengan adil dan menjadikan negeri ini baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Penutup

Ketika bumi ini masih berputar, ketika kebaikan dan keburukan masih saling berebut pengikut, maka satu hal yang perlu difahami oleh kita semua; didunia ini seorang “nabi Musa” dan seorang “Firaun”, mempunyai kesempatan yang sama untuk berkuasa. Biarkan takdir mengalir dari lauhul mahfudz, menggenapi kehidupan manusia sampai masa itu tiba. Sementara dajjal dan Imam Mahdi  sedang menunggu kita diujung jalan, dan nabi Isa menanti takdirnya sebagai pamungkas akhir zaman. Terserah kita mau ikut yang mana.

Rabu, 08 April 2009

Mayatku Masih Disini

aku cuma rakyat biasa
tapi aku adalah tangan penguasa
--aku tak punya cita-cita
--tapi aku punya pemimpin yg pemimpi
aku tak punya harta
tapi aku punya suntikan dana
--aku tak bisa bergerak
--tapi aku punya gerakan massa
aku masih hidup
tapi aku terlihat mati
--tubuhku gemuk
--tapi fikiran ku kurus
dogmaku tetap hidup
tapi anak buahku mati
--jiwaku telah pergi
--tapi mayatku masih disini

Selasa, 24 Februari 2009

"Menggugat Karomah Pak Kyai"

Iseng-iseng searching file2 lama saya eh ketemu.. lumayan buat arsip

----- Original Message -----
From: "Rojali Dahlan" <rojali@...>
To: <is-lam@...>
Sent: Thursday, July 27, 2000 1:17 PM
Subject: [is-lam] "Menggugat Karomah Pak Kyai".


"Menggugat Karomah Pak Kyai".

Pak kyai...
Lima belas tahun lalu kami duduk disamping lekar-mu dalam surau itu ...
Lima belas tahun lalu kami pun duduk dalam majelismu mendengarkan engkau berfatwa dan Lima belas tahun lalu kami masih menjadi santrimu...
Saat itu...
Engkau bercerita, bahwa Allah dan Rasulnya melarang kami bermaksiat kepadanya...
Jangan mencuri, jangan berzina, jangan berbohong, jangan berjudi, jangan mubazir, jangan memfitnah, jangan menghardik anak yatim dan orang tua, jangan berbuat zolim, jangan menyakiti hamba yang tak berdosa, jangan berbuat aniaya, dan sejuta hikmah agung lain yang mengalir dari mulut bijakmu...
Saat itu engkau adalah panutan kami, uswah kami, teladan kami dan penunjuk jalan kami...
Pak Kyai...
Kini kami sudah dewasa, lukisanmu tentang akhlak disanubari kami tak pernah lapuk dimakan hujan dan tak pernah lekang ditelan panas.
Kami masih meneguhkan hati kami terhadap nasehatmu tentang kemanusiaan.
Tapi kini...
Mengapa kami merasa harus menggugat dirimu...
Entahlah,
Apakah kami nanti akan kualat atau tidak disebabkan berbeda pendapat denganmu..
Yang jelas, sejak engkau menjadi UMARA di dusun ini, engkau banyak berubah sekali Pak kyai...
Engkau sekarang sulit ditemui, karena pagar betis dari pengawalmu,dan lingkaran besi pengikut fanatik mu.
Bahkan engkau melupakan wasiat yang pernah engkau berikan kepada kami.
"Wahai muridku, berdirilah diatas semua golongan, karena Islam adalah rahmatan lil alamin, janganlah engkau berfihak, karena islam tak pernah berfihak kecuali kepada kebenaran Ilahi."
Pak Kyai, setahun lalu saat kami mendengar saudara kami seakidah mengalami musibah dianiaya kaum kafir, kami ingin membantunya, tapi engkau melarang.
Saat kami ingin membela hak kami yang tertindas, engkau membungkam kami.
Engkau hanya membela dan berjuang hanya untuk atasanmu bahkan engkau rela mati untuknya.
Bahkan yang membuat kami menangis, engkau tega memprovokasi teman kami untuk
bertempur melawan kami hanya kami sekarang berbeda pendapat kepadamu.

Pak Kyai...
Bolehkah kami menggugat karomah mu....
Tidak untuk masa lalu...
Tapi untuk hari ini, sejak engkau mempunyai seorang atasan.
sejak engkau menjadi umara di republik ini.

...