Tampilkan postingan dengan label Ummat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ummat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Juli 2023

Cahaya Yang Kembali

Ini kisah tentang Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy, ulama dari Spanyol saat terjadi inkusisi. Entah siapa yang menulis, saya hanya mendapatkan dari grup WA RT dilingkungan saya. Saya akan Abadikan dalam blog saya ini. Semoga bermanfaat.

Pen.


Saya baca kisah nyata penuh ibrah ini berkali-sekali dan setiap baca tak terasa air mata telah menetes di pipi.

Kisah ini ditahun 1990-an pernah ditulis di majalah SABILI.

Kisahnya di negeri Andalusia Sepanyol ada seorang Jendral Adolfo Roberto, dia pemimpin penjara yg terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan.

Setiap sipir penjara membungkukkan badannya serendah mungkin ketika 'Algojo Penjara' itu berlalu di hadapan mereka.

Karena kalau tidak, sepatu 'Jungle' milik tuan Roberto itu akan mendarat di wajah mereka.

Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar suara seseorang membaca Ayat2 Suci Alqur'an yang amat ia benci. 

"Hai ... hentikan suara jelekmu ! Hentikan ...!!!" Teriak Roberto sekeras-kerasnya sembari membelalakkan mata.

Namun apa yang terjadi ?

Lelaki di kamar tahanan tadi tetap saja membaca & bersenandung dengan khusyu'nya

Roberto bertambah berang.

Algojo penjara itu menghampiri kamar tahanan yg sempit.

Dgn congak ia meludahi wajah renta sang tahanan yg keriput hanya tinggal tulang.

Tak puas sampai di situ, ia lalu menyulut wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dgn rokoknya yg menyala.

Sungguh ajaib ...! tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. 

Bibir yg pucat kering milik sang tahanan amat gengsi untuk meneriakkan kata kepatuhan kepada sang Algojo. 

Bibir keringnya hanya berkata lirih, _"Robbi, wa-ana 'abduka ..."

Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata, 

"Bersabarlah wahai ustadz ... Insya Allah tempatmu di Syurga."

Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustadz oleh sesama tahanan, 'algojo penjara' itu bertambah memuncak amarahnya.

Ia perintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras-keras hingga terjerembab di lantai. 

"Hai orang tua busuk...!!

Bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa jelekmu itu ?!

Aku tidak suka apapun yang berhubungan dengan agamamu....!!!"

Sang Ustadz lalu berucap, "Sungguh ... aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang amat kucintai, Allah SWT.

Karena kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemui-Nya.

Maka patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk ?

Jika aku turuti kemauanmu, tentu aku termasuk orang2 yg zhalim".

Baru saja kata-kata itu terhenti, sepatu laras Roberto sudah mendarat di wajahnya.

Laki-laki itu terhuyung-huyung.

Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dengan wajah bersimbah darah.

Ketika itulah dari saku baju penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah 'Buku Kecil'. 

Adolfo Roberto bermaksud memungutnya. 

Namun tangan sang Ustadz telah terlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat-erat.

"Berikan buku itu, hai laki-laki dungu !", bentak Roberto.

"Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini !", ucap sang ustadz dgn tatapan menghina pada Roberto.

Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu. 

Sepatu laras berbobot dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustadz yang telah lemah. 

Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati.

Namun tidak demikian bagi Roberto. 

Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus. 

Bahkan 'algojo penjara' itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur.

Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yang membuatnya penasaran. 

Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh

Mendadak algojo itu termenung dan berkata dalam hatinya :

"Ah ... sepertinya aku pernah mengenal buku ini.

Tapi kapan ??

Ya, aku pernah mengenal buku ini." suara hati Roberto bertanya-tanya.

Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu.

Jenderal berumur 30 tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan "aneh" dalam buku itu. 

Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu. 

Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Spanyol.

Akhirnya Roberto duduk di samping sang ustadz yang sedang sakarat melepas nafas-nafas terakhirnya. 

Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam.

Mata Roberto rapat terpejam.

Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang di alaminya sewaktu masih kanak-kanak dulu.

Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto.

Pemuda itu teringat ketika suatu sore di masa kanak-kanaknya terjadi kericuhan besar di negeri tempat kelahirannya ini. 

Sore itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di lapangan Inkuisisi (lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia). 

Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa.

Beribu-ribu jiwa kaum muslimin yg tak berdosa berjatuhan di bumi Andalusia. 

Di ujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab) digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. 

Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yang kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibar di udara.

Sementara, di tengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakar hidup-hidup pada tiang-tiang salib, hanya karena tidak mau memasuki agama yang dibawa oleh para rahib.

Seorang bocah laki-laki mungil tampan, berumur tujuh tahunan, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap. 

Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua.

Bocah mungil itu mencucurkan airmatanya menatap sang ibu yang terkulai lemah di tiang gantungan. 

Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang Ummi (ibu) yang sudah tak bernyawa, sembari menggayuti abaya hitamnya.

Sang bocah berkata dengan suara parau,

"Ummi.. ummi.. mari kita pulang. Hari sudah malam.

Bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa ....?

Ummi, cepat pulang ke rumah ummi ..."

Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya. 

Ia semakin bingung dan takut, tak tahu harus berbuat apa. 

Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah.

Akhirnya bocah itu berteriak memanggil bapaknya, _"Abi ... Abi ... Abi ..."

Namun ia segera terhenti berteriak memanggil sang bapak ketika teringat kemarin sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam.

"Hai ... siapa kamu?!"_ teriak segerombolan orang yang tiba-tiba mendekati sang bocah.

"Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi ..." jawab sang bocah memohon belas kasih. 

"Hah ... siapa namamu bocah ??

Coba ulangi !!!"

bentak salah seorang dari mereka

"Saya Ahmad Izzah ..."_ sang bocah kembali menjawab dengan rasa takut. 

Tiba-tiba "plak! sebuah tamparan mendarat di pipi sang bocah. 

"Hai bocah ...! Wajahmu bagus tapi namamu jelek.

Aku benci namamu.

Sekarang kuganti namamu dengan nama yang bagus.

Namamu sekarang 'Adolfo Roberto' ...

Awas !

Jangan kau sebut lagi namamu yang jelek itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!"_ ancam laki-laki itu.

Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata.

Anak laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar dari lapangan Inkuisisi. 

Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama mereka.

Roberto sadar dari renungannya yang panjang. 

Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. 

Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada tubuh sang ustadz. 

Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu. 

Ketika ia menemukan sebuah 'tanda hitam' ia berteriak histeris, "Abi... Abi ... Abi ..!!."

Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu.

Pikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. 

Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang ada di dalam genggamannya adalah Kitab Suci milik bapaknya, yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya. 

Ia juga ingat betul ayahnya mempunyai 'tanda hitam' pada bagian pusarnya.

Pemuda beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta nan lemah.

Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas ulahnya selama ini. 

Lidahnya yang sudah berpuluh-puluh tahun alpa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, 

"Abi ... aku masih ingat alif, ba, ta, tsa ..."

Hanya sebatas kata itu yang masih terekam dalam benaknya.

Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang membasahi wajahnya. 

Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat orang yang tadi menyiksanya habis-habisan kini tengah memeluknya. 

"Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuh Abi, tunjukkan aku pada jalan itu ..."

Terdengar suara Roberto memelas.

Sang ustadz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, ia lalu memejamkan matanya. 

Air matanya pun turut berlinang. 

Betapa tidak, jika sekian puluh tahun kemudian, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, ditempat ini. 

Sungguh tak masuk akal. 

Ini semata-mata bukti kebesaran Allah.

Sang Abi dengan susah payah masih bisa berucap.

"Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Di sana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy.

Belajarlah engkau di negeri itu".

Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal kalimah indah "Dua Kalimah Syahadat..!

Beliau pergi menemui Robbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang di bumi yang fana ini.

Beberapa tahun kemudian.....

Ahmad Izzah telah menjadi seorang Ulama Besar di Mesir. 

Seluruh hidupnya dibaktikan untuk agama Islam, sebagai ganti kekafiran yang di masa muda sempat disandangnya.

Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru dunia berguru kepadanya ... Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy.

Sang Ulama berpesan kepada Seluruh Umat Islam se dunia:

Jangan engkau pilih Pemimpin yang menzhalimi para Ulama dan Jangan kau pilih pemimpin yang suka berdusta.

Firman Allah Ta'ala:

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."

(QS. 30:30).

Catatan : 

Semoga Kisah Nyata ini menjadi Iktibar bagi kita, untuk berfikir, bersikap, bertindak, dan berpihak kepada Kebenaran yang Hakiki. Karena harta, pekerjaan, pengaruh, pangkat, jabatan, dan kesenangan hidup di dunia ini, hanya sesaat

Selasa, 19 April 2022

Khutbah Nabi Saat Jumat Pertama

 "Segala puji bagi Allah, kepada-Nya aku memohon pertolongan, ampunan, dan petunjuk. Aku beriman kepada Allah dan tidak kufur kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan, aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah. Dia telah mengutusnya dengan petunjuk dan agama yang benar, dengan cahaya dan pelajaran, setelah lama tidak ada rasul yang diutus, minimnyua ilmu, dan banyaknya kesesatan pada manusia di kala zaman menjelang akhir dan ajal kian dekat.

Barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya ia telah mendapatkan petunjuk. Dan, barang siapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya ia telah melampaui batas dan tersesat dengan kesesatan yang sangat jauh.

Aku berwasiat kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah. Itulah wasiat terbaik bagi seorang Muslim. Dan, seorang Muslim hendaknya selalu ingat akhirat dan menyeru kepada ketakwaan kepada Allah.

Berhati-hatilah terhadap yang diperingatkan Allah. Sebab, itulah peringatan yang tiada tandingannya. Sesungguhnya ketakwaan kepada Allah yang dilaksanakan karena takut kepada-Nya, ia akan memperoleh pertolongan Allah atas segala urusan akhirat.

"Barang siapa yang selalu memperbaiki hubungan dirinya dengan Allah, baik di kala sendiri maupun di tengah keramaian, dan ia melakukan itu tidak lain kecuali hanya mengharapkan rida Allah, maka baginya kesuksesan di dunia dan tabungan pahala setelah mati, yaitu ketika setiap orang membutuhkan balasan atas apa yang telah dilakukannya. Dan, jika ia tidak melakukan semua itu, pastilah ia berharap agar masanya menjadi lebih panjang. Allah memperingatkan kamu akan siksa-Nya. dan Allah Mahasayang kepada hamba-hamba-Nya." (QS Ali Imran [3]: 30).

Dialah Zat yang benar firman-Nya, melaksanakan janji-Nya, dan semua itu tidak pernah teringkari. Allah berfirman, "Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah, dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku." (QS Qaf [50]: 29).

Karenanya, bertakwalah kalian kepada Allah dalam urusan sekarang maupun yang akan datang, dalam kerahasiaan maupun terang-terangan. "Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya." (QS At-Thalaq [65]: 5). "Barang siapa bertakwa kepada Allah, sungguh ia telah memperoleh kemenangan yang besar." (QS Al-Ahzab [33]: 71).

Sesungguhnya ketakwaan kepada Allah menghindarkan dari kemarahan, hukuman, dan murka-Nya. Takwa kepada Allah akan membuat wajah bersinar terang, membuat Allah rida, dan meninggikan derajat. Lakukanlah dengan sepenuh kemampuan kalian, dan jangan sampai kurang di sisi Allah.

Dia telah mengajarkan kepada kalian dalam kitab-Nya dan membentangkan jalan-Nya, untuk mengetahui siapa yang benar dan untuk mengetahui siapa yang dusta. (QS Al-Ankabut [29]: 3).

Maka, berbuat baiklah, sebagaimana Dia berbuat baik kepada kalian, dan musuhilah musuh-musuh-Nya. Berjihadlah di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad. Dia telah memilih dan menamakan kalian sebagai Muslim. (QS Al-Hajj [22]: 78). Agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata. (QS Al-Anfal [8]: 42).

Tiada daya upaya, kecuali hanya dengan kekuatan Allah. Karenanya, perbanyaklah mengingat Allah, dan beramallah untuk kehidupan setelah mati. Sesungguhnya orang yang membangun hubungan baik dengan Allah, Allah pun akan membuat baik hubungan orang itu dengan manusia lainnya.

Karena Allah yang memberi ketetapan kepada manusia, sedang manusia tidak mampu memberi ketetapan kepada-Nya. Dia menguasai manusia, sedang manusia tidak bisa menguasai-Nya. Allah itu Maha Agung. Tiada daya dan kekuatan selain dengan kekuatan Allah Yang Mahatinggi dan Mahaagung."

Sumber: Hanafi al-Mahlawi dalam bukunya Al-Amakin al-Masyhurah Fi Hayati Muhammad (Tempat-Tempat Bersejarah yang Dikunjungi Rasul SAW)

Sabtu, 11 Februari 2017

Pada Akhirnya Akhirat Adalah Tempat Kembali.

Pada Akhirnya Akhirat Adalah Tempat Kembali.
(Sebuah Renungan)

Sahabat..
Apapun yang kau lakukan didunia ini meski sebesar zarah(atom), semua akan dibalas oleh sang pencipta.
Ia menciptakan qolbu(hati) untuk mu agar memahami tanda-tandaNYA.

Sahabat..
Jika hatimu bergetar karena cinta,
Tidakkah hatimu lebih bergetar saat kitab suciNYA dihinakan,
Jika kau tak merasakan getaran itu, sementara ribuan ummat lainnya bergetar hebat, bertanyalah pada nurani mu, apanya yang salah?
Bukankah kita tau, hanya hati yang penuh zikir yang sanggup peka terhadap tanda-tanda dari NYA.
Jika hatimu tak jua bisa merasakan getaran itu, tanyakan pada dirimu kembali, jangan-jangan itu pertanda bahwa sel-sel hatimu mulai mati.

Sahabat..
Jika engkau lebih peduli kejayaan dunia, Jika engkau lebih peduli kemakmuran dunia,
dari pada keberkahan hidup entah sebagai pribadi atau sebagai bangsa,
Ketahuilah, dunia hanya sementara,
Dan kesementaraan kita dunia bukan hanya untuk kesejahteraan dunia saja, tapi untuk semata-mata beribadah kepadanya, menyembah kepadanya dan bertauhid kepadanya.
Seperti perjanjian kita pada Allah saat masih di alam ruh, yang kelak janji itu akan ditanyakan kembali pada saatnya nanti.

Sahabat...
Kelak Allahpun akan mengumpulkan kita dalam satu golongan bukan atas nama suku bangsa, bukan pula atas nama negara, tapi atas nama ummat yang diridhoi, atas nama ummat islam, ummat yang akan dibanggakan oleh sang Nabi, terhadap ummat-ummat nabi lain, sejak Nabi Adam as hingga Isa alaihi salam.
Datangnya kita kedunia ini, adalah bukan tanpa tugas sia-sia, tetapi dalam rangka membuat sang rasul bangga, meramaikan dunia dengan risalahNya dan menegakkan kalimatNYA.
Jika menyingkirkan duri dijalan saja engkau bisa mendapatkan pahala, apalagi membantu menegakkan kalimahnya. Membantu meramaikan jumlah pengikut kalimat tauhid bersama para pemimpin yang diberkahi, bukan para pemimpin yang dimurkai karena menyekutukanNYA.

Sahabat...
Negeri mu bukanlah milik mu, Ia adalah milik penguasa alam semesta. Tugasmu hanya sebagai khalifah, sebagai pengelola yang kelak akan dimintai tanggung jawabnya. Kejayaan negeri bukan hanya soal fisik, tapi juga keberkahan, dan ampunan dari Allah SWT, sebagaimana isyarat tentang sebuah negeri yang baldhatun toyyibatun wa robbun gofuur. Sebuah Negeri idaman yang bukan semata-mata berjaya secara fisik saja, Tetapi juga  mendapat keridhoan dari Tuhan, baik keridhoan untuk rakyat atau untuk pemimpinnya.
Kita tak mau negeri ini seperti negeri babilonia, makmur dan berjaya secara materi tetapi mendapat murka dari Allah SWT, seperti juga negeri kaum Tsamud dan Kaum 'Ad.

Sahabat..
Jika kita diperintahkan untuk adil terhadap manusia, maka berbuat adil pula kepada Tuhanmu, sebelum Tuhanmu mengadili kita dihari pengadilan kelak.
Jika engkau disuruh mematuhi perintah dan menjauhi larangan, maka patuhi dan jauhilah, meski hati mu menolak dan lidahmu membantah, karena godaan dunia yang tidak seberapa.

Sahabat..
Dunia ini hanyalah perjalanan, bukan tujuan.
Dan setiap detil perjalanan itu dicatat serinci-rincinya untuk dimintai pertanggung jawaban.
Apapun langkahmu hari ini, apapun pilihanmu hari ini, mempengaruhi hari-harimu kelak di hari akhir.

Sekuat apapun kita berpendirian, sekuat apapun kita bertahan..
Ketahuilah pada akhirnya akhiratlah tempat kembali selama-lamanya.

-o0o-


Senin, 14 Maret 2016

Mencari Berkah Yang Hilang, Sebuah Ikhtiar


Berkah; adalah sesuatu yang tak terlihat tetapi nyata dalam kehidupan. Contoh membahagiakan kedua orang tua terutama ibu membuat hidup menjadi berkah. Hidup yang penuh berkah dambaan setiap manusia. Berkah kadang diasosiasikan dengan harta, ketika kita memilih antara harta yang sedikit tapi berkah atau harta yang banyak tapi tidak berkah, maka kita akan memilih harta yang banyak dan juga berkah sebagai idealnya, tapi jika kenyataan harus memilih, apapun itu baik sedikit atau banyak, tetap  keberkahan menjadi pilihan utama.

Selain kehidupan yang berkah, kaum muslimin juga mendambakan negeri  yang berkah. Sebagaimana dicontohkan oleh ummat terdahulu, tak asing bagi kita mendengar istilah baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur dalam alquran. Ketika kita dihadapkan pilihan sesuai dengan analogi diatas, maka memilih keberkahan negeri adalah lebih utama dari pada kemakmuran dan kekayaan saja. Betapa  banyak negeri-negeri terdahulu yang kaya raya, makmur dan gemah ripah loh jinawi, tapi kemudian diazab dan dihancurkan oleh Allah karena tidak berkah, atau berapa banyak negeri-negeri makmur dan kaya raya yang tidak membawa sedikitpun keberkahan bagi rakyat nya, bahkan keberkahan itu dicabut oleh Allah SWT.

Negeri  ini sudah merdeka lebih dari 60tahun, tapi keadaan tidak menunjukan bahwa negeri  ini  adalah negeri yang berkah, rakyat masih banyak yang menderita. Ada apa? Padahal penduduknya mayoritas muslim. jika dibandingkan dengan negeri-negeri tetangga mayoritas muslim lainya yang merdeka belakangan, mereka terlihat lebih sejahtera. Apanya yang salah dengan negeri ini. Secara tendensius saya boleh menyatakan bahwa negeri-negeri  jiran makmur karena mengadopsi syariat islam dalam kehidupan bernegara mereka, tauhid menjadi panglima, bukan sekedar teks yang tercantum  dalam konstitusi mereka. Suatu ketika dalam satu kesempatan di Makkah, saya pernah berbicara dengan seorang kawan brunei  beberapa waktu lalu. Mereka dengan jelas menyatakan, hidup dalam syariatlah yang membuat negeri mereka berkah. Ketika saya tanya bagaimana kehidupan non muslim disana, mereka menjawab, non muslim hidup nyaman dan damai, terjamin dan terlindungi. Sebab syariat islam hanya untuk kaum muslimin, tetapi imbas keberkahannya untuk semua pemeluk agama.

Islam adalah rahmatan lil alamin, bukan cuma untuk satu bangsa,  tetapi seluruh dunia bahkan alam semesta  termasuk tumbuhan dan binatang. Agama bukan cuma perilaku, bukan cuma budi pekerti  tetapi komprehensif dan menyeluruh(kaffah).  Ia menata kehidupan manusia dari lahir hingga wafat, dari bangun tidur hingga tidur lagi. Dari setiap hela nafas dan aliran nadi, dari setiap keinginan hingga perbuatan nyata.
Ketika bangun tidur, kita diajarkan untuk berdoa, pergi mandi, sarapan pagi, berangkat bekerja, sedang bekerja, kembali kerumah semua tak luput dari doa yang diajarkan agama. Begitupun dengan akhlak ketika bangun tidur, dikamar mandi, dimeja makan, dikendaraan, semua diatur oleh agama yang sempurna ini. Tak satupun helaan nafas, atau alirah darah dalam nadi yang terlepas dari pengawasan Rabb semesta alam. Melakukan hal yang kecil saja harus sesuai syariat, apalagi sesuatu yang besar seperti memilih pemimpin, yang mempengaruhi hayat hidup orang banyak, yang mempengaruhi masa depan generasi anak cucu, yang mempengaruhi kesinambungan kehidupan agama ini yang akan di tanyakan oleh sang nabi bagaimana nasib ummatku nanti, ummati-ummati!.
Bagaimana bisa kita mempertaruhkan kemuliaan  agama ini kepada orang  lain?, bagaimana mungkin mereka mau peduli?, jika kita sendiri tak pernah peduli, Kepada siapa tanggung jawab ini kita berikan, kepundak siapa nasib ummat ini kita titipkan. Ketika halal dan haram tak lagi menjadi acuan sang pemimpin, ketika miras dilegalkan, ketika perjudian di halalkan, ketika perzinahan berbalut prostitusi diizinkan, apa kata anak cucu kita nanti Jika mereka terjerat itu semua? Mereka, para anak cucu akan meminta pertanggung jawaban kita di akhirat nanti. Wahai ayah, wahai ibu, mengapa engkau menaruh masa depan kami dipundak orang yang tidak bertauhid?, mengapa engkau membiarkan negeri ini diurus oleh orang yang mempersekutukan Allah, mengatur kehidupan kami dengan aturan sekuler, memisahkan kami dengan Robb kami. Memisahkan kami dengan agama kami, sedang engkau mungkin saat itu sedang gagap menjawab pertanyaan malaikat di alam kubur.Saat itu mungkin kami memang kaya raya, tapi sepi dari iman, didunia kami memang sejahtera, tapi akhirat kami kering. Engkau memberikan kami kenikmatan dunia yang sementara, tetapi menghancurkan masa depan akhirat kami yang kekal abadi. Setega itukah engkau ayah dan ibu?

Di negeri ini kaum fasik dan para politisi kotor selalu menyalahkan islam, padahal oknum pemimpin itu yang tidak mengamalkan islam secara kaffah, korupsi secara pribadi, tetapi jamaah kaum muslimin yang disalahkan. Padahal koruptor dari kalangan non muslim lebih banyak dan lebih dahsyat nilainya. Tapi itu seolah tertutupi. Entah oleh kebencian, atau oleh kedunguan nurani.
Tegas dalam islam, korupsi adalah perbuatan keji, jika syariat dilaksanakan maka pelakunya harus dipotong tangan. Tak ada yang berani mencuri jika syariat ditegakkan, tapi sayangnya seperti diawal tadi, negeri ini bukanlah negeri syariat, tak ada kesempatan kaum muslimin menegakan hukuman anti koruptor itu. Hanya sejarah yang bercerita selama 13 Abad sejak abad ke tujuh sejak Nabi diutus  sampai awal abad 20,dan kini hanya sedikit negeri-negeri muslim yang menegakkan hukum itu .  Selama 13 abad itu, Islam adalah rahmat bagi alam semesta, semua agama hidup nyaman dalam naungan penguasa muslim, hak-hak terpenuhi, tidak ada yang teraniaya. Tapi sejak kekhalifahan itu runtuh, sebaliknya, ketika muslim hidup minoritas, hak-haknya terbelenggu bahkan dibantai, mereka dihina dan dinafikan.

Ketika kaum muslimin rindu pemimpin yang sholeh.
Apakah salah jika kaum muslimin merindukan pemimpin yang sholeh, yang diharapkan dengan kesholehannya itu keberkahan akan turun menaungi negeri ini, menaungi semua rakyat Indonesia dari suku agama dan ras apapun, sebagaimana telah dinikmati oleh ummat-ummat terdahulu. Jika ia sholeh, ia pasti takut akan korupsi, takut akan berlaku aniaya, sebab kepemimpinannya akan dimintai pertanggung jawaban diakhirat nanti. Jika ia adil ia akan duduk bersama nabi, jika ia zhalim, ia akan menjadi penghuni neraka yang paling dasar.

Jangan paksa muslim memilih pemimpin non muslim, karena kamipun tidak memaksa seseorang
non muslim untuk memilih pemimpin muslim.  Sebagaimana Allahpun melarang nabi untuk memaksa seseorang itu beriman atau tidak. Sebab Allah pernah menyatakan dalam quran, jika Allah mau, bisa saja ummat manusia dijadikan satu ummat, selesai sudah. Bukan disitu pointnya. Sebab hidayah hanya milik Allah, seorang muslim hanya berkewajiban memberi peringatan, bukan memaksa.

Demokrasi adalah kebebasan berpendapat. Jika mayoritas menginginkan pemimpin sholeh, jangan sebut mereka dengan ucapan SARA, begitupun jika mayoritas tidak menginginkan pemimpin sholeh,  wajib dihormati. Kita hanya sedang berikhtiar, dan mengharapkan pahala dari ikhtiar kita. Hasilnya, baik atau buruk hanya Allah yang menentukan. Mudah-mudahan saja setelah ikhtiar itu, ada  doa yang terkabulkan yang menyertai, yaitu semoga siapapun pemimpinnya diberi hidayah oleh Allah swt, dan dapat memimpin dengan adil dan menjadikan negeri ini baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Penutup

Ketika bumi ini masih berputar, ketika kebaikan dan keburukan masih saling berebut pengikut, maka satu hal yang perlu difahami oleh kita semua; didunia ini seorang “nabi Musa” dan seorang “Firaun”, mempunyai kesempatan yang sama untuk berkuasa. Biarkan takdir mengalir dari lauhul mahfudz, menggenapi kehidupan manusia sampai masa itu tiba. Sementara dajjal dan Imam Mahdi  sedang menunggu kita diujung jalan, dan nabi Isa menanti takdirnya sebagai pamungkas akhir zaman. Terserah kita mau ikut yang mana.

Jumat, 04 November 2011

Dan Surgapun Virtual

Sebuah fenomena, sekedar intermezzo.

Suatu ketika dalam pengadilan akhirat, seorang hamba protes kepada Allah mengapa dirinya tetap dijebloskan kedalam neraka.Sedang ia merasa melakukan semua perintah allah dan menjauhi larangannya. Lalu Allahpun berbaik hati kepadanya dan membuatkan untuknya syurga virtual(maya), loh kok bisa?.

Kembali kepada tahun 2000an saat sang hamba masih hidup, dimana era internet sedang berkembang dahsyat dan fenomena media sosial seperti facebook sedang melanda dunia, masing-masing manusia diseantero dunia tak mau ketinggalan untuk eksis didunia maya itu. Begitupula sang hamba. Sebenarnya sang hamba termasuk mukmin yang soleh, bahkan bisa juga disebut ustad karena kesalihannya itu, TETAPI ada yang terlupakan dari dirinya semenjak ia berjumpa dengan mahluk yang namanya facebook.
Karena begitu antusiasnya ia menggunakan facebook sebagai ajang yang katanya sebagai sarana dakwah maka ia selalu mengupdate dan memposting kegiatannya setiap detik demi mengajak rekan-rekannya untuk bertaqwa, kembali kepada allah. Status bertuliskan "Sedang Tahajud, mari kita gapai nikmat allah" atau "nikmatnya dhuha" atau "sedang menanti adzan maghrib" maksutnya sedang menunggu berbuka, juga status ketika berada di pengajian, di mushola, dimesjid, ditempat taklim, bahkan ayat-ayat alquran berseliweran distatusnya yang katanya ayat inilah yang sedang beliau baca, juga kalimat "sudahkan anda sholat" "sudahkah anda baca quran" dan lain-lain mengiringi status beliau ketika melakukan ibadah. Sepintas memang tidak ada yang salah dengan status-status itu, justru status itu adalah status terbaik dalam dunia maya, daripada bikin status yang membuat orang lain marah, atau status bernada pornografi atau menjelek-jelekan orang alias ghibah. Tapi dibalik cemerlangnya logam, ada setitik celah yang mampu membuat logam itu hancur karena karat, dan disanalah iblis lebih pintar daripada sang hamba, ketika manusia terlena karena pujian dan sanjungan, ketika komentar indah dan jempol diangkat meninabobokan amal sholeh, maka saat itulah manusia menjadi lengah dan ketika manusia lengah ada saja bibit dosa yang disamarkan oleh iblis kehati manusia, ia tak terlihat mata telanjang, tersamar bagai tirai kaca, halus bagai partikel-partikel oksigen diudara, tetapi efeknya sangat luar biasa dahsyatnya. Dan bibit itu adalah riya. Ketika sang hamba melakukan aktifitas beribadah kepada allah dan secara sengaja mempublikasikannya dengan harapan orang lain mengikutinya, maka secara paralel ada sifat riya yang membonceng dalam statusnya itu. bagaimana tidak muncul riya, sebab media sosial seperti facebook bagaikan sebuah toa(speaker) mesjid, ketika seseorang sedang beribadah, misalnya sedang tahajud atau mengaji, lalu ia teriak-teriak di toa "Woi saya sedang tahajud..." yang didengar oleh seluruh orang kampung menunjukan bahwa sang hamba sedang riya, begitupun amalan-amalan lain yang dilakukan sang hamba pribadi lantas diupdate dalam statusnya juga merupakan sebuah riya, tanpa sang hamba sadari meski ia merasa sedang melakukan dakwah.
Lalu ketika hari penghitungan tiba dan sang hamba protes mengapa amal baiknya tidak dinilai oleh Allah, mungkin allah akan menjawab bahwa dalam dunia nyata amal sang hamba telah hangus dimakan oleh sifat riya tadi, tapi dialam virtual, sang akun hamba tadi tetap mendapatkan ganjaran atas amalnya yakni surga virtual tadi.
Dan para penghuni facebookpun banyak yang mendapatkan surga virtual atas amal baiknya…hihihi.

Minggu, 23 Januari 2011

Cerita Tentang Sebuah Kalung

Oleh : Ibnu Hasan Ath-Thobari

"Kalung yang mengenyangkan orang lapar, menutupi yang telanjang dan mencukupi yang miskin serta membebaskan seorang budak".

Seusai shalat berjamaah, Rasulullah saw duduk dan para sahabat melingkari beliau tiba-tiba datang seorang tua yang hampir saja tak berdaya menopang tubuhnya karena lapar.

Orang tua itu berkata : " Ya Rasulallah, aku kelaparan, berilah aku makan, aku tidak punya pakaian, beri aku pakaian dan aku miskin beri aku kecukupan ". Rasul yang dermawan itu berkata : " Aku tak punya apapun untukmu, akan tetapi orang yang memberi petunjuk kepada kebaikan ganjarannya sama dengan orang yang melakukannya, karena itu cobalah datang ke rumah orang yang mencintai Allah dan RasulNya dan dicintai oleh Allah dan RasulNya, tentu dia akan mendahului Allah ketimbang dirinya sendiri, pergilah ke rumah Fatimah, hai Bilal, tolong antarkan ia ke rumah Fatimah.

Maka berangkatlah mereka ke rumah putri Rasul yang mulia Fatimah, sesampainya didepan rumah Fatimah, ia memanggil dengan suara keras : assalamu`alaikum, wahai keluarga Nabi shallallahu alaihi wa sallam, keluarga dimana Jibril as menurunkan alqur`an dari Rab semesta alam ".


Setelah menjawab salam, Fatimah bertanya : " siapakah bapak? " Ia menjawab : " aku orang tua dari suku arab baduy, aku telah bertemu ayahmu, pemimpin umat manusia, sementara aku wahai putri Rasul, adalah orang yang tidak berpakaian, lapar dan miskin, bantulah aku, semoga Allah memberkahimu ".

Saat itu, Rasulullah dan Keluarga beliau juga sedang mengalami kesulitan yang sama, sejak tiga hari lalu mereka belum makan, Rasul pun mengetahui kondisi mereka, maka Fatimah pun mengambil kulit domba yang biasa dipakai Hasan-Husain untuk alas tidur kedunya.

" Ambillah ini, semoga bapak mendapatkan sesuatu yang lebih baik darinya " kata Fatimah sambil memberikan kulit itu. Orang tua itu berkata : " Wahai putri Nabi, aku mengadukan keadaanku yang lapar, tapi engkau hanya memberi kulit domba ini ? apa yang bisa aku perbuat dengan kulit ini? ".

Mendengar ucapan orang tua itu, Fatimah mengambil kalung yang dikenakanya dan hanya itulah satu-satunya milik yang paling berharga, diserahkanya kalung tersebut sambil berkata : " Ambillah ini dan juallah. Semoga Allah memberimu sesuatu yang lebih baik ".

Orang itupun menerima kalung itu dengan gembira lalu pergi ke masjid untuk menjumpai Rasulullah, sesampainya di masjid ia menigatakan kepada Rasulullah : " Ya Rasulallah, Fatimah putrimu telah memberikan kalung ini dan ia berkata : " Juallah kalung ini, semoga Allah memberimu sesuatu yang lebih baik ".

Mendengar itu, Rasulullah pun menangis. Ammar pun berdiri seraya berkata : "Ya Rasulallah apakah anda mengizinkanku untuk membeli kalung itu? ". Rasulullah menjawab : ”Belilah wahai Ammar, sekiranya jin dan manusia ikut membelinya tentu Allah tidak akan menyiksa mereka dengan api neraka”. Ammar bertanya : ”Dengan harga berapa engkau akan menjual kalung itu wahai saudaraku?”.

Orang itu menjawab :”Seharga roti dan daging yang akan menghilangkan rasa laparku, selembar kain yaman yang akan menutupi auratku agar aku dapat shalat menghadap Rabbku dan satu dinar uang untuk pulang menemui keluargaku”.

Kemudian Ammar menjual bagian harta rampasan perang yang didapatkannya dari Rasulullah, tidak ada yang tersisa sedikitpun, ia berkata kepada orang arab baduy itu : "Anda akan saya beri uang 20 dinar 200 dirham, sehelai kain yaman, kendaraanku untuk mengantarkanmu sampai ke rumahmu dan rasa kenyang dari roti dan daging”.
Orang itu berkata : “Duhai, betapa pemurahnya tuan ini. Semoga Allah memberkahi anda wahai tuan yang mulia”.

Ammar mengajak orang itu ke rumahnya dan memberikan semua yang dijanjikan kepadanya. Kemudian orang itu menjumpai Nabi shallallahu alaihi wa sallam, yang kemudian berkata : ”Sudahkah anda kenyang dan berpakaian?” Orang itu berkata : "Sudah Ya Rasulallah, bahkan demi Allah, aku menjadi orang yang kaya saat ini”.
Rasulullah bersabda :”Jika demikian, balaslah Fatimah atas perbuatannya”.

Orang itu berdoa :” Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Tuhan, kami tidak mengabdi melainkan hanya pada-Mu. Ya Allah berilah kepada Fatimah hal-hal yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga dan tidak pernah terbayang oleh hati manusia”.

Rasulullah mengamini doa orang itu lalu menjumpai para sahabat seraya berkata : "Sesungguhnya Allah telah memberikan hal itu kepada Fatimah di dunia, demikian itu karena aku adalah ayahnya, tidak ada seorangpun yang semisal denganku, Ali adalah suaminya, tidak ada orang yang sebanding dengannya, Allah juga memberinya Hasan dan Husain tidak ada manusia yang semisal dengan keduanya di alam ini keduanya adalah pemimpin pemuda surga”.

Diantara sahabat mulia yang hadir saat itu adalah Miqdad ibn Amr, Ammar, dan Salman radhiyallahu anhum, Rasulullah bertanya : ”Maukah aku tambah lagi?” “Mau Ya Rasulallah”. Jawab mereka singkat.

Rasulullah bersabda :”Baru saja malaikat Jibril datang padaku dan berkata : ”Jika Fatimah telah dipanggil oleh Allah dan saat di kuburnya akan ditanya, siapa Tuhanmu? Maka ia menjawab : Tuhanku adalah Allah, kemudian ditanya: Siapakah Nabimu? Maka ia akan menjawab : Nabiku adalah ayahku. Siapa yang berziarah kepadaku setelah wafatku seolah dia mengunjungiku pada saat hidupku dan siapa yang berziarah kepada Fatimah, seakan ia berziarah kepadaku”.

Ammar pulang ke rumahnya mengambil kalung itu lalu meneteskan minyak misik dan membungkusnya dengan kain Yaman, ia memiliki seorang budak yang bernama Sahmun yang ia beli dari ghanimah yang didapatkannya saat perang kahibar. Kalung itu diserahkan kepada budaknya seraya berkata : ”Berikan ini kepada Rasulullah dan engaku sendiri aku hadiahkan untuk beliau”.

Budak itupun mengambil bungkusan kalung tersebut dan membawanya kepada Rasulullah lalu menyampaikan apa yang dikatakan Ammar. Rasulullah bersabda : "Pergilah kepada Fatimah, berikan kalung itu kepadanya dan engkau menjadi miliknya”.
Datanglah budak itu menyampaikan apa yang dikatakan Rasulullah kepada Fatimah, Fatimah lalu menerima kalung itu, kemudian membebaskan Sahmun dari statusnya sebagai budak. Sahmun pun tertawa.

Fatimah bertanya :” Apa yang membuatmu tertawa ya ghulam?” Sahmun berkata : "Betapa besarnya keberkahan kalung ini, inilah yang membuatku tertawa. Kalung ini telah mengenyangkan orang yang lapar, memberi pakaian orang yang telanjang, menjadikan kaya orang yang miskin dan memerdekakan seorang budak, lalu kembali kepada pemiliknya”.

Sumber : http://www.eramuslim.com/syariah/bercermin-salaf/keberkahan-seuntai-kalung-putri-rasul-yang-mulia.htm


Rabu, 30 Juni 2010

Sejumput empati yang terlupa...

Kisah ini terjadi pada tahun 2000, dan ini adalah pengalaman pribadi yang sangat menyentuh jiwa saya. Kisah ini adalah mewakili karakter sejumlah manusia yang bertanggung jawab atas nasib seorang bocah kecil yang pergi menemui Rabbnya karena kealpaan kami dalam menjawab keinginan sang bocah yang begitu mulia dalam menuntut ilmu.

Kisah ini pula yang menyadarkan saya betapa pentingnya mempunyai sense of crisis yang tinggi terhadap kaum papa, betapa pentingnya arti persaudaraan terhadap kaum miskin, betapa pentingnya pula merendahkan diri dan mengayomi sesama mahluk, juga betapa pentingnya melihat dan turun kebawah-menerima informasi secara langsung serta betapa pentingnya menikmati sulitnya kehidupan mereka,kehidupan kaum dhu’afa.

Kisah ini bermula dari keinginan sebuah keluarga kecil nan papa untuk menyekolahkan putri semata wayangnya kesebuah Taman Kanak Kanak Islam Terpadu di bilangan Kemanggisan Jakarta Barat yang kebetulan saya menjabat sebagai Ketua Yayasan Pendidikan disitu.

Katakanlah keluarga itu adalah keluarga putri, dengan sang anak bernama Putri (bukan nama sebenarnya), ibunya bernama Ummi Putri dan ayahnya Abi Putri. Tingkat ekonomi keluarga itu bukanlah termasuk tingkat ekonomi keluarga mampu, bukan pula tingkat ekonomi keluarga para penerima MSAA yang mulai kongkalikong dengan pemerintah agar tidak dijadikan miskin, bukan pula keluarga mantan penguasa orba atau keluarga kroninya, bukan pula para keluarga oportunis baru yang mulai menggeliat pencari peluang kapan bisa dekat dengan penguasa, bahkan keluarga tersebut dapat dikatakan hidup dibawah garis kemiskinan, garis yang menjadi fenomena umum yang mewakili mayoritas rakyat Indonesia pasca krisis moneter.

Abi Putri hanyalah seorang pedagang bakmi ayam keliling, sedang Ummi Putri adalah seorang pedagang gado-gado. Mereka adalah kaum urban yang mencoba mengadu nasib di Jakarta. Tinggal dikontrakan sempit dan kurang terawat di pinggiran Kemanggisan, berbatasan dengan Kelurahan Kebun Jeruk.

Kerasnya kehidupan kota, sayangnya tak mampu dihadapi secara tegar oleh Abi Putri, Beliau sering marah-marah, bahkan terkesan cuek dengan anak istrinya.Setiap kali ada masalah, selalu diakhiri dengan pertengkaran sengit yang cukup membuat jiwa Putri menjadi terganggu bahkan mungkin bisa dikatakan depresi.

Ummi putri lebih bijak dari sang ayah, beliau dikaruniai kesabaran yang kuat untuk menghadapi badai dalam bahtera rumah tangga, beliau berusaha mengalah dan menutupi sesalahan suaminya dengan rajin beribadah. Apapun perkataan dan cercaan suaminya tak pernah Ia balas.

Putri pun bukanlah seorang anak yang manja, Ia seorang anak yang pendiam dan jarang merepotkan orang tua. Saat saya tanyakan tentang sifat-sifat Putri kepada temannya, rata-rata mereka menjawab bahwa putri adalah anak yang baik,rajin dan pandai pula di sekolahnya.

Ya. Putri memang sudah bersekolah, gadis kecil berusia 5 tahun itu sudah masuk ke sekolah taman kanak-kanak kelas A (nol kecil). Ibunyalah yang mengantar pendaftarannya waktu itu. Saat itu kami dari Yayasan belum tahu secara pasti tingkat ekonomi keluarga putri, sebab dari data yang masuk, tertulis pekerjaan Abi putri sebagai wiraswasta. Kebijakan kami adalah membebaskan biaya sekolah bagi para yatim atau piatu atau kepada keluarga yang secara tertulis menyatakan tidak mampu, kami tidak mengetahui kalau keluarga putri tidak mampu, akhirnya biaya masuk dan SPP untuk putri kami anggap setara dengan siswa-siswa yang lain.

Sekolah telah berjalan selama 3 bulan, putri pun bersekolah sama seperti anak-anak yang lain, dengan ceria membawa tas dengan dorongan roda seperti travel bag yang saat itu lagi ngetop pada anak-anak seusianya. Pulang sekolah bermain dengan anak-anak sebayanya dan bermain sepuasnya layaknya anak-anak seusia taman kanak-kanak yang sedang memahami kehidupan dunianya yang penuh keceriaan. Dibidang akademis, menurut laporan kepala sekolahnya, Putri pun kelihatan pintar dan cerdas, Ia cepat sekali menerima pelajaran membaca, menulis dan berhitung. Bacaan qiro’atinya pun sangat bagus dan tidak pernah mengulang. Ia menikmati kehidupannya dengan antusias dan
energik. Sekolah-pulang-bermain-tidur-bangun pagi dan sekolah lagi.

Memasuki bulan ke empat, tiba-tiba putri tidak sekolah masuk selama seminggu, para guru dan kepala sekolah sangat heran, mengapa putri tidak masuk selama seminggu. Lalu saya menyuruh kepala sekolah dan guru untuk menjenguk putri, mencari tahu ada apakah gerangan, apakah putri sakit atau berhalangan. Tiga hari kemudian saya mendapat laporan dari kepala sekolah, bahwa putri tidak masuk karena dilarang ayahnya. Saya bingung, mengapa Abi Putri melarang putri untuk pergi kesekolah. Ternyata ayahnya malu karena sudah dua bulan tidak melunasi SPP. Ia mengalami kesulitan keuangan.
Lalu saya instruksikan kepada Kepala Sekolah untuk menyuruh Putri tetap masuk sekolah tanpa bayaran, sampai putri selesai sekolahnya di TK ini.

Keesokan harinya putri memang sekolah lagi, tapi keesokan harinya pula Ia tak masuk-masuk lagi selama satu minggu. Menurut berita dari para wali murid lainnya, Abi dan Ummi putri malu untuk sekolah karena tdk bayaran, meskipun sudah kami beritahukan bahwa putri bebas biaya sekolah. Tapi ayah putri bersikeras melarang anaknya untuk sekolah, akhirnya kami tak bisa berbuat apa-apa. Tiba-tiba satu minggu kemudian terdengar berita duka cita, bahwa putri berpulang ke Rahmatullah, setelah mengalami sakit selama dua minggu.
Dan ternyata sakitnya putri disebabkan karena ia bersikeras ingin sekolah tapi dilarang ayahnya, subhanallah. Putri mengalami sakit akibat tekanan batin, jiwa kanak-kanaknya terkekang. Keinginan sekolahnya pupus, dunia kanak-kanaknya harus menderita karena alasan ekonomi.

Kami menyadari, bahwa kami pun terlibat dalam peristiwa itu, kami tidak bisa menyalahkan ayah putri. Seandainya dari awal putri kami bebaskan dari uang sekolah, tentu kejadiannya tidak akan seperti ini. Kami sangat menyesal sekali, Astagfirullah al Adziim, Ya Allah ya Rabbi, ampuni kami yang lalai ini, lalai terhadap amanah mu. Saya sebagai pemimpin merasa tak becus dan tak peka atas penderitaan ummat.

Untunglah klaim asuransi jiwa yang kami daftarkan terhadap siswa-siswa kami segera turun, artinya uang sekian juta yang diberikan sebagai penghibur untuk Ummi putri yang begitu shock atas kehilangan putrinya ibarat setitik embun dipagi hari.
Akhirul kalam, peristiwa diatas sangat memberikan hikmah kepada kami para pengurus Yayasan, bahwa kepedulian utama sebagai seorang muslim adalah memahami penderitaan saudaranya secara langsung. Segala orasi, segala ucapan, segala cuap-cuap tak akan pernah membawa hasil, tanpa mengetahui, memahami dan merasakan dengan betul apa kebutuhan mereka. Mungkin para pemimpin yang asyik berebut pengaruh, para penguasa yang asyik berebut jabatan, para wakil rakyat asyik minta kendaraan dinas para pengusaha yang asyik minta fasilitas, tak akan pernah tahu penderitaan orang-orang seperti keluarga putri. Tapi mudah-mudahan kita disini, yang merasa punya nurani,
masih peka terhadap kesulitan sesama agar kelak di akhirat nanti, kita mampu menjawab dengan baik segala amanah yang dilimpahkan kepada kita sebagai seorang pemimpin.
Ya Allah limpahkan ketabahan kepada kaum dhu’afa diantara kami, Amin.


Rojali Dahlan
Ketua YPIA
Kemanggisan Palmerah
Jakarta Barat.

PS. Khabar terakhir yang saya dengar, Ummi Putri dan Abi Putri bercerai, dan
Ummi putri kembali kekampung halamannya.

Rabu, 02 Juni 2010

Sebutir batu untuk Ali

Pagi baru saja merayap, gelap masih mencengkram lemah, sementara subuh sudah terlewati hampir setengah jam yang lalu, dan rona fajar masih enggan menampakan wajahnya. Dua orang bocah tampak terburu-buru melarikan diri dari sajadah tempat ia bersujud, berlari menuju pantai yang saat itu sangat tenang. Tiba dipesisir pantai, sang kakak mencari tempat yang tinggi agar bisa melihat perahu besar yang katanya akan membawa sekaleng susu untuk dirinya dan adik-adiknya.
Seorang bocah, Husien, berumur 5 tahun tampak antusias berdialog dengan adiknya yang berusia 3 tahun, bernama Ali. Sang adik menanyakan kapan segelas susu penuh buatnya akan tiba.
"Adikku sayang, sabar ya sebentar lagi kita akan meminum susu sampai puas, tidak seperti hari-hari yg lalu, dimana kamu jarang sekali minum susu, meski hanya setengah gelas, sebab kamu harus berbagi dengan adik bayi kita".
"Iya kak, aku senang sekali, kata ibu, kita akan mendapat bantuan susu dari saudara kita dari tempat yang jauh di seberang dunia sana.”, “makanya dik, ibu menyuruh kita kemari untuk mengantri, kasihan ibu di rumah sendiri bersama adik bayi. “Sejak ayah pergi dan tak pernah kembali, hanya ibu yang memberi makanan kepada kita, dan bantuan para tetangga yang baik hati”, “untuk itu mari kita doakan dik, agar mereka cepat sampai disini.” “Baik kak”. Keduanya lantas merebahkan diri di pasir, menatap langit yang mulai memerah, mengiringi kepergian bintang-bintang seraya mengharap kepada sang pencipta untuk mengabulkan doa mereka.
Angin pantai yang mulai datang perlahan meniup-niup kelopak mata mereka,dan mereka tertidur hingga sengatan matahari membangunkan kedua bocah yang mulai terasa lapar itu. “Kak Husien, bangun...bangun.. nanti kita tidak kebagian susu..” teriak Ali membangunkan kakaknya.” “hmmm..ternyata sudah siang, ayo kita menuju ke kerumunan orang-orang itu. Dua bocah kecil berlari kencang menuju kerumunan orang yang terlihat lesu tak besemangat. Sang kakak bertanya pada seorang kakek, “Kakek, mana susu buat kita, apakah sudah dibagikan, kami harus buru-buru pulang sebab adik bayi kami pasti kelaparan belum minum susu”, “Iya kek, mana jatah untuk kami” kata Ali. “Sabar ya nak, perahu susumu di rompak oleh tentara jahat itu, jadi kembalilah kepada ibumu..” Sang adik tertegun...”jadi kita tidak dapat susu ya kak...””Iya dik”
Kedua bocah pun berlari kembali kerumahnya, sesampai dirumah, sang ibu menanyakan kabar kepada kedua anaknya yang masih balita itu, usia mereka memang balita, tetapi, fikiran dan tingkah laku mereka terlihat lebih dewasa dari usia seharusnya, keadaan yg memaksa akibat isolasi tentara zionis membuat mereka hidup lebih tegar, tidak ada tampang cengeng dan merajuk seperti anak-anak balita didunia luar sana. “bagaimana nak, dapat susunya?” tanya ibunya dengan tatapan haru. “Tidak bunda, kata kakek tadi, kapal pembawa susu itu dirompak tentara zionis” jadi kita tidak dapat susu, jangan menangis ya bunda, sebab aku dan adik masih bisa kok memerah susu kambing untuk adik bayi, jadi bunda tidak usah khawatir ya..” , “Tidak, nak, gumam sang ibu dalam hati, bukan bunda yang harusnya jangan menangis, tetapi kamu dan adikmulah yang seharusnya menangis, karena jatah susumu hilang diambil orang, Ibu bangga kepada mu nak, kamu tidak bersedih, malah mengayomi ibu untuk tidak bersedih.
“Sambil mengusap air mata, agar tak terlihat cengeng dimata kedua anaknya sang ibu berkata..”. Tidak mengapa nak, mungkin belum rezeki kita, memang tidak seharusnya kita meminta-minta kepada manusia, sebab Allahlah yang selama ini menjaga kita. Toh meski dalam kondisi yang sulit saat ini dan ayahmu telah syahid meninggalkan kita, kita masih tetap bisa hidup. Kita berdoa saja agar Allah tetap menjaga kita dan bangsa ini. Juga kita berdoa kepada Allah agar saudara-saudara kita dinegeri lain sana tetap tabah dan kuat untuk kembali mengirimkan susu untuk kamu dan adikmu.”Iya bu”. Ini sebuah batu untuk mu,dan satu batu lagi untuk adikmu, Ali, ganjallah perutmu dengan batu itu, sampai ibu bisa bertemu dengan orang yang baik hati, doakan ibu ya nak...”

Nun jauh disana di negeri merdeka bernama Indonesia, banyak para keluarga bersama anak-anaknya berkumpul disebuah restoran terkenal dari AS, restoran yg dimiliki penyandang dana bagi tentara yang telah merompak susu milik Ali. Secara perlahan, suap-demi suap dari fastfood yg mereka makan, menjelma menjadi batu-demi batu yang menjadi pengganjal perut Ali, perut kakaknya Husien dan perut adik bayinya...

-o0o-

1 Juni 2010, Memperingati Black Monday dan untuk Freedom Flotilla yang dibajak zionis.

Senin, 23 Maret 2009

CINTA DAN BENCI

Allah mencintai orang kaya yang dermawan
Tapi, Allah lebih mencintai orang miskin yang dermawan

Allah membenci orang kaya yang sombong
Tapi, Allah lebih membenci kepada orang miskin yang sombong

Allah mencintai orang tua yang bertaubat
Tapi, Allah lebih mencintai anak muda yang bertaubat

Allah membenci pemuda yang bermaksiat
Tapi, Allah lebih membenci kepada orangtua yang masih bermaksiat

Allah mencintai masyarakat yang adil
Tapi, Allah lebih mencintai pemimpin yang adil

Allah membenci pemimpin yang zalim
Tapi, Allah lebih membenci kepada masyarakat yang zalim

Allah mencintai orang-orang yang sabar
Tapi, Allah lebih mencintai orang teraniaya yang sabar

Allah membenci orang pemarah
Tapi Allah lebih membenci orang yang tak pernah marah karena akidahnya dilecehkan..

Allah mencintai orang-orang baik
Tapi Allah lebih mencintai generasi-generasi terbaik.

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS 3:110)