Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 April 2012

Jangan Cengeng Nak...

Tubuh ringkih para orang tua mampu bertahan karena mimpi akan masa depan sang anak yang lebih baik.
Seorang ayah akan tegar mencari nafkah yang halal meski nyawa menjadi taruhan demi mewujudkan mimpi sikecil dirumah agar kelak menjadi orang besar.
Seorang suami bertahan dari himpitan pekerjaan demi istri yang setia menunggu kelahiran sang jabang bayi..
Seorang ibu terpaksa mencari pekerjaan sampingan agar cahaya tetap berbinar dimata sang anak dan senyum tetap tersimpul dibibir sang bocah.
Senyuman mereka adalah kekuatan para orangtua.
Tangisan mereka adalah kepedihan para orangtua.
Gelak tawa dan rentetan tangis mereka adalah mesiu yang memborbardir hati dan jiwa para ayah, juga mata air dari air mata para ibu.
Tubuh mungil itu harus kuat menapak, bahu kecil itu harus kuat berdiri dan jemari lentik itu harus kuat menggenggam masa depan mereka.
Celoteh-celoteh kecil itu harus di semai menjadi suara-suara lantang.
Tangis-tangis kecil itu harus dituai menjadi empati yang datang dari hati.
Kelak ketika mereka besar menjadi pemimpin.
Jiwa mereka menjadi halus, nurani menjadi peka dan suara mereka menjadi lantang dalam membela kebenaran.
Nak, beri kami sedikit waktu untuk mewujudkan mimpi-mimpimu.
Beri kami sedikit kesempatan menabur benih-benih perbekalan untuk dirimu.
Beri kami sedikit asa dalam celoteh dan tangismu.
Saat ini, mungkin hanya cinta dan kasih sayang yang bisa kami beri.
Hanya doa dan harap yang bisa mengaliri urat nadimu.
juga hanya haru dan airmata yang bisa menjadi selimut tidurmu ketika engkau terlelap.
Tapi nak,
Yakinlah, suatu saat Allah akan memberi apa yang engkau cita-citakan dan mengabulkan apa yang engkau harapkan.
Meski waktu yang akan membuktikan.
Meski masa yang akan memberikan penjelasan.
Dan
Meski saat itu.
Kami tak bisa lagi menyaksikan.
Meski kami tak ada lagi disisimu...

Jangan cengeng nak, hidup adalah perjuangan...

Selasa, 10 Agustus 2010

Ketika Senja Awal Ramadhan Tiba

Nak, lihatlah ke ufuk barat
Sejumput mega berwarna jingga telah menyambut hari-hari kita.
Hari-hari yang akan membawa kita kepada rangkulan kasih sayang Tuhan
Hari-hari yang membuat semua orang bergembira
Hari-hari dimana persaudaraan semakin merekat
Antara si kaya dan si papa
Antara si miskin dan yang berpunya.

Nak,
Sebelum jingga itu menghilang
Sebelum malam-malam itu menerangi sujud-sujud kita
Mari kita ucapkan syukur kepadaNYA
Karena kita dipertemukan kembali oleh hari-hari yg penuh rahmat dan ampunan itu.
Hari-hari dimana amal baik dilipat gandakan
Hari-hari dimana ampunan di curahkan dari langit tiada henti, dalam siang dan malam.

Nak,
Inilah saat yang kita tunggu-tunggu,
Saat menebar kebaikan dan kasih sayang lebih banyak dibanding hari biasanya.
Saat kita meminta kebaikan untuk diri kita dan untuk orang lain yg kita sayangi.

Nak,
Saat ini nenek terbaring sakit, berdoalah dalam sholatmu nanti untuk kesembuhan beliau dan ditambahkan kesabarannya.
Doakan pula ayahmu ini agar tetap kuat memegang kemudi bahtera rumah kita,
Agar tetap istiqomah mencari rezeki yang halal, tidak terperosok kedalam lembah harta yg haram yg membuat keluarga kita menangis tak henti-henti karena dosa itu.
Doakan pula ibumu agar bertambah sabar dan kuat dalam membantu ayah, dalam menyayangi kamu dan adik-adikmu. Mintalah kepada Tuhan agar ibumu tetap tegar menghadapi kondisi apapun, sebab godaan dunia begitu kuat dan dahsyat, sehingga mampu menenggelamkan kesabaran kita.
Doakan pula teman-temanmu yang mungkin saat ini menderita, baik oleh penyakit, kemiskinan ataupun musibah yang menimpa keluarga mereka. Doakan mereka tetap tersenyum meski perih dan pedih menghantui langkah-langkah mereka.
Doakan pula teman-temanmu dari kalangan berada, semoga keluarganya tetap diberkahi sehingga mereka bisa membantu saudara kita yang papa.
Doakan pula keluarga kita bisa menyelesaikan hari-hari itu dengan ibadah dan syukur kepadaNYA. Tetap konsisten dalam rangka muroqobatullah, mendekatkan diri kepadanya, sebab Dialah pemilik alam semesta ini.

Nak,
Sebelum kita memasuki hari nan suci itu.
Mari kita sucikan niat dan diri kita,
Mohon ampunan kepada sang pencipta
Mohon maaf kepada sahabat dan saudara
Semoga langkah-langkah kita menjadi ringan karena maaf-maaf itu.
Nak,
Selepas senja nanti,
Marilah kita mencoba menghisab diri
Meluruskan niat dan menata hati ini
Dengan mengurangi gelak tawa dan canda yang bisa menutupi hati
Menggantinya dengan tangisan dan harapan semoga diampuni
Atas dosa-dosa yang pernah terjadi
Semoga Allah meridhai setiap usaha yang kita lakukan.
Mari nak,
Kita sambut sang senja itu, dengan senyuman takwa dan pengharapan..

Marhaban ya ramadhan...

Rabu, 30 Juni 2010

Sejumput empati yang terlupa...

Kisah ini terjadi pada tahun 2000, dan ini adalah pengalaman pribadi yang sangat menyentuh jiwa saya. Kisah ini adalah mewakili karakter sejumlah manusia yang bertanggung jawab atas nasib seorang bocah kecil yang pergi menemui Rabbnya karena kealpaan kami dalam menjawab keinginan sang bocah yang begitu mulia dalam menuntut ilmu.

Kisah ini pula yang menyadarkan saya betapa pentingnya mempunyai sense of crisis yang tinggi terhadap kaum papa, betapa pentingnya arti persaudaraan terhadap kaum miskin, betapa pentingnya pula merendahkan diri dan mengayomi sesama mahluk, juga betapa pentingnya melihat dan turun kebawah-menerima informasi secara langsung serta betapa pentingnya menikmati sulitnya kehidupan mereka,kehidupan kaum dhu’afa.

Kisah ini bermula dari keinginan sebuah keluarga kecil nan papa untuk menyekolahkan putri semata wayangnya kesebuah Taman Kanak Kanak Islam Terpadu di bilangan Kemanggisan Jakarta Barat yang kebetulan saya menjabat sebagai Ketua Yayasan Pendidikan disitu.

Katakanlah keluarga itu adalah keluarga putri, dengan sang anak bernama Putri (bukan nama sebenarnya), ibunya bernama Ummi Putri dan ayahnya Abi Putri. Tingkat ekonomi keluarga itu bukanlah termasuk tingkat ekonomi keluarga mampu, bukan pula tingkat ekonomi keluarga para penerima MSAA yang mulai kongkalikong dengan pemerintah agar tidak dijadikan miskin, bukan pula keluarga mantan penguasa orba atau keluarga kroninya, bukan pula para keluarga oportunis baru yang mulai menggeliat pencari peluang kapan bisa dekat dengan penguasa, bahkan keluarga tersebut dapat dikatakan hidup dibawah garis kemiskinan, garis yang menjadi fenomena umum yang mewakili mayoritas rakyat Indonesia pasca krisis moneter.

Abi Putri hanyalah seorang pedagang bakmi ayam keliling, sedang Ummi Putri adalah seorang pedagang gado-gado. Mereka adalah kaum urban yang mencoba mengadu nasib di Jakarta. Tinggal dikontrakan sempit dan kurang terawat di pinggiran Kemanggisan, berbatasan dengan Kelurahan Kebun Jeruk.

Kerasnya kehidupan kota, sayangnya tak mampu dihadapi secara tegar oleh Abi Putri, Beliau sering marah-marah, bahkan terkesan cuek dengan anak istrinya.Setiap kali ada masalah, selalu diakhiri dengan pertengkaran sengit yang cukup membuat jiwa Putri menjadi terganggu bahkan mungkin bisa dikatakan depresi.

Ummi putri lebih bijak dari sang ayah, beliau dikaruniai kesabaran yang kuat untuk menghadapi badai dalam bahtera rumah tangga, beliau berusaha mengalah dan menutupi sesalahan suaminya dengan rajin beribadah. Apapun perkataan dan cercaan suaminya tak pernah Ia balas.

Putri pun bukanlah seorang anak yang manja, Ia seorang anak yang pendiam dan jarang merepotkan orang tua. Saat saya tanyakan tentang sifat-sifat Putri kepada temannya, rata-rata mereka menjawab bahwa putri adalah anak yang baik,rajin dan pandai pula di sekolahnya.

Ya. Putri memang sudah bersekolah, gadis kecil berusia 5 tahun itu sudah masuk ke sekolah taman kanak-kanak kelas A (nol kecil). Ibunyalah yang mengantar pendaftarannya waktu itu. Saat itu kami dari Yayasan belum tahu secara pasti tingkat ekonomi keluarga putri, sebab dari data yang masuk, tertulis pekerjaan Abi putri sebagai wiraswasta. Kebijakan kami adalah membebaskan biaya sekolah bagi para yatim atau piatu atau kepada keluarga yang secara tertulis menyatakan tidak mampu, kami tidak mengetahui kalau keluarga putri tidak mampu, akhirnya biaya masuk dan SPP untuk putri kami anggap setara dengan siswa-siswa yang lain.

Sekolah telah berjalan selama 3 bulan, putri pun bersekolah sama seperti anak-anak yang lain, dengan ceria membawa tas dengan dorongan roda seperti travel bag yang saat itu lagi ngetop pada anak-anak seusianya. Pulang sekolah bermain dengan anak-anak sebayanya dan bermain sepuasnya layaknya anak-anak seusia taman kanak-kanak yang sedang memahami kehidupan dunianya yang penuh keceriaan. Dibidang akademis, menurut laporan kepala sekolahnya, Putri pun kelihatan pintar dan cerdas, Ia cepat sekali menerima pelajaran membaca, menulis dan berhitung. Bacaan qiro’atinya pun sangat bagus dan tidak pernah mengulang. Ia menikmati kehidupannya dengan antusias dan
energik. Sekolah-pulang-bermain-tidur-bangun pagi dan sekolah lagi.

Memasuki bulan ke empat, tiba-tiba putri tidak sekolah masuk selama seminggu, para guru dan kepala sekolah sangat heran, mengapa putri tidak masuk selama seminggu. Lalu saya menyuruh kepala sekolah dan guru untuk menjenguk putri, mencari tahu ada apakah gerangan, apakah putri sakit atau berhalangan. Tiga hari kemudian saya mendapat laporan dari kepala sekolah, bahwa putri tidak masuk karena dilarang ayahnya. Saya bingung, mengapa Abi Putri melarang putri untuk pergi kesekolah. Ternyata ayahnya malu karena sudah dua bulan tidak melunasi SPP. Ia mengalami kesulitan keuangan.
Lalu saya instruksikan kepada Kepala Sekolah untuk menyuruh Putri tetap masuk sekolah tanpa bayaran, sampai putri selesai sekolahnya di TK ini.

Keesokan harinya putri memang sekolah lagi, tapi keesokan harinya pula Ia tak masuk-masuk lagi selama satu minggu. Menurut berita dari para wali murid lainnya, Abi dan Ummi putri malu untuk sekolah karena tdk bayaran, meskipun sudah kami beritahukan bahwa putri bebas biaya sekolah. Tapi ayah putri bersikeras melarang anaknya untuk sekolah, akhirnya kami tak bisa berbuat apa-apa. Tiba-tiba satu minggu kemudian terdengar berita duka cita, bahwa putri berpulang ke Rahmatullah, setelah mengalami sakit selama dua minggu.
Dan ternyata sakitnya putri disebabkan karena ia bersikeras ingin sekolah tapi dilarang ayahnya, subhanallah. Putri mengalami sakit akibat tekanan batin, jiwa kanak-kanaknya terkekang. Keinginan sekolahnya pupus, dunia kanak-kanaknya harus menderita karena alasan ekonomi.

Kami menyadari, bahwa kami pun terlibat dalam peristiwa itu, kami tidak bisa menyalahkan ayah putri. Seandainya dari awal putri kami bebaskan dari uang sekolah, tentu kejadiannya tidak akan seperti ini. Kami sangat menyesal sekali, Astagfirullah al Adziim, Ya Allah ya Rabbi, ampuni kami yang lalai ini, lalai terhadap amanah mu. Saya sebagai pemimpin merasa tak becus dan tak peka atas penderitaan ummat.

Untunglah klaim asuransi jiwa yang kami daftarkan terhadap siswa-siswa kami segera turun, artinya uang sekian juta yang diberikan sebagai penghibur untuk Ummi putri yang begitu shock atas kehilangan putrinya ibarat setitik embun dipagi hari.
Akhirul kalam, peristiwa diatas sangat memberikan hikmah kepada kami para pengurus Yayasan, bahwa kepedulian utama sebagai seorang muslim adalah memahami penderitaan saudaranya secara langsung. Segala orasi, segala ucapan, segala cuap-cuap tak akan pernah membawa hasil, tanpa mengetahui, memahami dan merasakan dengan betul apa kebutuhan mereka. Mungkin para pemimpin yang asyik berebut pengaruh, para penguasa yang asyik berebut jabatan, para wakil rakyat asyik minta kendaraan dinas para pengusaha yang asyik minta fasilitas, tak akan pernah tahu penderitaan orang-orang seperti keluarga putri. Tapi mudah-mudahan kita disini, yang merasa punya nurani,
masih peka terhadap kesulitan sesama agar kelak di akhirat nanti, kita mampu menjawab dengan baik segala amanah yang dilimpahkan kepada kita sebagai seorang pemimpin.
Ya Allah limpahkan ketabahan kepada kaum dhu’afa diantara kami, Amin.


Rojali Dahlan
Ketua YPIA
Kemanggisan Palmerah
Jakarta Barat.

PS. Khabar terakhir yang saya dengar, Ummi Putri dan Abi Putri bercerai, dan
Ummi putri kembali kekampung halamannya.

Minggu, 07 Maret 2010

Cinta yang tak pernah memudar

Ku rebahkan tubuh mungilnya perlahan pada tempat tidur itu
Ku sangga kepalanya dengan bantal
Ku kecup dahi kecilnya
Ku usap rambutnya dengan untaian doa..

Nak,
Aku tahu engkau pernah membuat kami marah
Engkau pernah memecahkan gelas kesayangan ibu
Engkau pernah merobek kertas kerja milik ayah
Bahkan engkau pernah nyaris meruntuhkan rumah ini,
Tapi kemarahan kami bukan karena kami benci kamu,
Kemarahan kami karena kami kurang sabar dalam menghadapimu...

Nak,
Senakal apapun kamu,
Sebandel apapun kamu,
Semua itu adalah masa yang harus kita lalui seperti masa yg selalu berulang dalam ikatan zaman,
Semua kenakalan dan kebandelan kamu,
Justru mengingatkan kami pada almarhum kakek dan nenekmu,
Betapa mereka ternyata lebih sabar menghadapi ayahmu,
Dibandingkan kami menghadapi ulah kamu.

Nak,
Jalan panjang masih membentang dihadapanmu,
Krikil-krikil tajam akan menghambat langkah kakimu,
Tawa dan tangis akan menunggumu dalam setiap persimpangan,
Kuatkanlah langkah kakimu dan tegakkanlah badan dan kepalamu,
Penuhi jiwamu dengan muroqobatullah, dan berkariblah dengan pencipta dirimu..
Sebab hanya DIA yang pantas engkau jadikan sahabat karib, dalam sedih atau senangmu,
Dalam duka atau tawamu...
Sementara itu, hanya doa-doa yang bisa kami panjatkan..
untuk menemani hari-hari panjang mu itu..

Nak, aku tahu...
Suatu saat engkau akan sendiri...
Engkau akan membawa pergi dirimu mengikuti mata angin dimana cita-citamu akan kau labuhkan..
Engkau akan meretas jalan hidupmu sendiri..
Bila ayah dan ibumu masih menjumpai mu saat itu..
Ayah akan menopangmu sekuat kaki ayah,
Dan ibumu akan memelukmu dengan kehangatan kasihnya..
Sementara jika tak ada kami disisimu..
Maka ada Allah yang akan menjaga dirimu selalu..

Nak,
Tangisanmu di pelukan ibumu,
Atau manja-mu di bahu ayah,
Masih tak seberapa indah dibanding dengan tangisanmu pada sajadah panjang,
Atau manja-mu dalam khusyuknya ibadah malam,
Sebab disana engkau akan menemukan kedamaian sesungguhnya,
Sebab engkau akan menemukan cinta sesungguhnya..
Cinta yang tak akan pernah memudar..
Meski ayah dan ibumu pergi meninggalkanmu..
Meski ayah dan ibumu tak ada lagi disamping mu..
---
Ku kecup sekali lagi keningnya,
Ku usap kembali pipinya yang basah oleh bulir airmata yg jatuh,
Ku rapihkan kain selimut yang menutupi tubuhnya,
Sambil beranjak aku bergumam dalam doa,
Semoga Tuhan selalu menjaganya..
Amin.

Selasa, 19 Januari 2010

Kisah sebuah puisi



Dalam setiap detik kehidupan anak manusia, pasti ada satu moment di antara ribuan moment lain; yang menggetarkan hati dan jiwa mereka, yang sulit untuk dilupakan seumur hidup. Entah itu momen pernikahan, kelahiran, pekerjaan, sekolah dan lain-lain.

Sebagai seorang manusia, dan calon ayah waktu itu, sayapun memiliki salah satu momen itu, dan saya mengabadikan momen kelahiran putri pertama saya dalam secarik puisi, yang jika ia sudah bisa membaca, ia akan saya minta membacanya untuk saya, dan apa reaksinya dengan puisi itu. Ternyata manfaat dan maknanya dalam sekali untuk anak saya, empati yang saya tulis untuknya dalam puisi itu, serta harapan dan doa yg terurai bait demi bait, mampu meluruhkan emosi saat ia marah. Jadilah puisi itu andalan saya ketika memberikan nasehat dan tausiah kepadanya, bahkan adiknya pun ikut terbawa haru dengan puisi itu. Memang puisi itu saya buat dengan melibatkan emosi saya waktu itu, melibatkan seluruh rasa dalam jiwa ini karena sangat gembira atas kelahirannya, ditambah sedikit bumbu agar puisi itu bisa terserap kedalam sanubari pembacanya. Karena bernilai sejarah, puisi itu saya bingkai dan saya taruh bersamaan dengan sebuah lukisan bunga mawar dalam coretan hitam putih dengan latar belakang bulan purnama. Sebuah lukisan bersejarah yang saya buat untuk calon istri saya; yang menjadi icon pernikahan kami, Sebuah lukisan yg menjadi prasasti ketulusan dan keseriusan saya untuk menikah dengannya.

Inilah puisi yang saya persembahkan pada hari kelahiran anak pertama saya itu sembilan tahun lalu,
Selamat menyimak.

Kecerdasan sang bunga keagungan

Untuk anakku Nabila Zahra Azizah
Dari Ayah dan Ibunya

Assalamu’alaikum wr.wb.

Allahu akbar allahu akbar
Allahu akbar allahu akbar
Asyhadualla ilaa ha illallah
Wa asyhaduanna Muhammadarrasulullah

Sabtu, 19 Mei 2001
25 Shafar 1422H
Pukul 06.20.am
Telah lahir Nabila Zahra Azizah
Di RSAB Harapan Kita
Jl. Letjen S.Parman
Jakarta Barat

Ahlan wa sahlan ya bunayyah…
Selamat datang wahai anakku
Selamat datang dalam kehidupan dunia fana
Dan selamat datang dalam bahtera kecil ini
Engkau hadir sebagai penumpang pertama dari perahu kecil yang ayah kemudikan
Menuju ke pelabuhan yang kita nanti
Menuju perjalanan panjang ke haribaan Illahi Rabbi

Wahai Anakku…
Engkau adalah pelita kecil kami
Yang menerangi hati sanubari
Engkau adalah setetes embun dalam ketenangan
Yang menyejukan kegundahan hati kami
Dalam penantian buah cinta ayah dan ibumu

Wahai Anakku…
Engkau adalah harapan kami
Engkau adalah do’a kami
Dan engkau adalah syafaat dunia dan akhirat kami

Wahai Anakku…
Ketahuilah oleh mu
Saat engkau lahir, negeri ini sedang merintih akibat ketidakberdayaan para penguasa dalam memberikan keadilan bagi rakyatnya
Negeri tanah airmu masih belum nyaman untuk ditinggali
Harga-harga melambung tinggi, susu untuk mu pun melangit tinggi
Tapi engkau tidak usah khawatir anak ku
Rizki Allah teramat luas untuk kita yang lemah ini.

Wahai Anakku…
Ketahuilah…
Kelahiranmu tidak sempat dilihat oleh kakekmu
Kakek yang menyayangi ayah dengan teramat sangat
Kakek yang baik, yang mencintai keluarga kita dengan cinta yang tak mungkin dapat dibalas.
Wahai anakku…
Sebenarnya Almarhum kakekmu ingin sekali melihat kamu dilahirkan
Tapi takdir Tuhan menentukan lain
Kakekmu menghadap keharibaan Allah dua puluh enam hari sebelum engkau dilahirkan
Penyakit yang dideritanya sejak ayah masih seusia kamu tak sanggup lagi ditahannya
Beliaupun wafat dengan tenang
Anakku, jika engkau sudah besar nanti dan sudah bisa berdo’a
Maka jangan lupa untuk mendo’akan kakekmu
Juga untuk mendoakan nenek yang amat mencintai kita
Juga untuk mendo’akan kakek dan nenek dari pihak ibumu
Yang selalu merawatmu dengan kasih sayang ketika engkau masih kecil

Wahai Anakku…
Segudang harapan dari ayah dan ibumu mengiringi kelahiranmu
Harapan agar engkau menjadi anak soleh
Yang menjadi saksi di yaumil akhir nanti

Wahai Anakku…
Bunga Keagungan nan cerdas
Itulah arti harafiah namamu
Nama indah yang diberikan ibumu
Agar engkau mempunyai keindahan seperti bunga
Mempunya keagungan dan kecerdasan
Dalam perjalanan hidupmu sebagai amanah dan titipan
Yang diberikan Rabbmu yang telah menciptakan

Wahai putriku…
Engkau adalah muslimah
Engkau adalah wanita
Engkau adalah sebaik-baiknya perhiasan dunia
Jika engkau bisa menjadi anak yang sholihah


Wahai putriku…
Ketahuilah olehmu
Menjaga anak perempuan seperti menjaga mahkota dari kaca
Dia akan retak oleh guncangan sedikit saja
Maka kami berpesan untukmu sejak dini
Patuhilah Rabbmu dan Rasulmu
Karena merekalah sebaik-baiknya penjaga

Wahai putriku…
Ayah berpesan untuk kamu tentang ibumu
Patuhilah perintahnya dan jangan membantahnya
Sebab ridho Allah tergantung ridhonya
Dan surgapun terletak dibawah telapak kakinya
Ia yang mengandung kamu dengan susah payah selama sembilan bulan sepuluh hari
Dan melahirkan kamu dengan penuh kesakitan dan penderitaan
Jagalah ibumu ketika ayah tak ada disisinya
Panggilah Ia dengan selembut-lembutnya panggilan
Panggilah Ia dengan sebutan Ummi
Sebab itulah keinginnannya

Wahai putriku
Ayah berpesan untukmu tentang ayahmu
Patuhilah ayah jika ayah benar, dan tegurlah ayah jika ayah salah
Panggilah ayahmu ini dengan sebutan Abi
Agar ummi tidak merasa sendiri

Wahai putriku
Mulai saat ini dan detik ini
Engkau bisa memanggil ayahmu dengan sebutan Abi
Dan memanggil ibumu dengan sebutan Ummi
Bahagiakanlah kami dengan akhlakmu
Muliakanlah kami dengan tingkah lakumu

Wahai anakku, wahai putriku
Kami berjanji tidak akan menyia-nyiakan kamu
Tidak akan melupakan amanah ini
Do’a kan Abi dan Ummi agar tabah menjalani hidup ini
Bersama-sama mendidikmu dan adik-adikmu nanti
Agar keluarga kita menjadi sakinah mawaddah wa rohmah
Agar perahu kecil yang ayah kemudikan ini
Selamat sampai tujuan
Tidak tenggelam ditengah jalan
Tidak luruh dihantam ombak
Tidak lekang ditelan zaman
Tidak hancur oleh badai
Dan tidak musnah disapu gelombang…

Ahlan wa sahlan yaa putriku
Selamat datang dalam kehidupan ini…


Wassalamu’alaikum wr.wb.
Jakarta, 19 Mei 2001

Dari Abi dan Ummi yang menyayangimu.

-o0o-

Ketika puisi ini dibuat, saya baru saja kehilangan ayah saya, ayah yang selalu memberikan nasehat kepada saya bahkan sampai menentukan di rumah sakit mana anak saya harus dilahirkan. Beliaulah yang menyuruh saya mempersiapkan segala sesuatunya. Bagi anak saya, cerita tentang kakeknya membawa haru tersendiri, bagaimana indahnya jika mempunyai seorang kakek, sebab kini semua kakeknya telah tiada, juga ibu saya yg menyusul ayah saya dua tahun lalu. Yang masih ada hanya neneknya dari pihak ibu atau mertua saya, beliaulah kini yang menjadi pusat perhatian anak-anak saya jika bicara tentang lebaran atau liburan sekolah.

Puisi ini mengikat batin saya dengan anak-anak saya, menjadikan mereka sebagai seorang sahabat,sebagai teman diskusi, bahkan sebagai teman curhat. Empati yang saya bangun dalam puisi itu, ingin saya realisasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan memohon izin Allah tentunya. Meski kadang sebagai orangtua, kita juga tidak mau mengalah, kita merasa bahwa mereka masih bau kencur dan tidak mengerti apa-apa. Kadang juga kita menginginkan mereka sesuai dengan maunya kita, kita ingin menguasai jiwa dan raga mereka untuk kita bentuk sesuai dengan keinginan kita, padahal seperti kata Kahlil gibran, “Anakmu bukan lah anakmu, engkau adalah busur dimana panah anak-anakmu dilepaskan, engkau dapat menguasai badannya, tetapi tidak jiwanya”. Mereka tidaklah berbeda dengan kita, masing-masing adalah anak pada zamannya sendiri, perbedaan mereka dengan kita adalah bahwa kita lebih dahulu diberikan kesempatan untuk hidup, sehingga kita lebih pandai dan lebih berpengalaman dari anak-anak kita.
Semoga bermanfaat.

Jumat, 02 Oktober 2009

Nak, Tuhan sangat sayang kepadamu...

Sore itu,
puluhan anak sedang asyik mengisi saat senggang mereka dengan kesibukan
puluhan bocah sedang giat mewujudkan impian mereka
puluhan generasi pengganti mengisi hari-hari mereka dengan kebaikan ilmu
saat anak-anak lain duduk tertawa di depan televisi
mereka mengernyitkan dahi memutar otak membahas pelajaran demi pelajaran
dalam suatu majelis ilmu bernama gama
di sebuah kota bernama padang
sebuah kota di negeri kami tercinta..

Tiba-tiba,
suara gemuruh datang dan gedung bergoyang
dalam sekejap mata mereka terbenam
kekhusukan berubah menjadi tangis
keheningan berubah menjadi iba
hati-hati para belia pun luruh dalam kepasrahan..
dalam doa-doa lirih yang tak sanggup lagi mereka ucapkan..

Tersentak hati menangis dan jiwa tak mampu berdiri
kepala tak sanggup untuk ditegakkan..
tajam luka hati ini melihat kondisi engkau wahai anak-anakku
dalam kesyahidan mencari ilmu
dalam kemulyaan engkau dipanggil sang pencipta..

Saat asa untuk hidup mengiringi harapan mereka
detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam hingga hari berganti..
pertolongan tak jua datang, ia hanya bisa mengankat sebongkah batu,
ia hanya bisa menjemput satu dan dua jiwa saja,
sedang jiwa-jiwa lain dijemput oleh sang pencipta,
dalam gelap mereka meringis, dalam haus mereka menangis...
dalam rintik hujan mereka pasrah dijemput penciptanya...

Nak...
ketahuilah..
Tuhan sangat sayang kepada engkau,
kepada teman-teman mu, juga kepada yang lain..
engkau lebih mulia dari kami,
engkau lebih berjasa dari para pahlawan manapun..
pahala syahid pun telah menunggu engkau..
dalam menuntut ilmu bagi dirimu, bagi orang tuamu, bagi agamamu dan bagi negaramu..

engkau patut bangga..
engkau tak pernah bermain-main dengan hidup mu,
engkau tak pernah menyia-nyiakan waktu mu,
sedang kami, disini ditempat yang jauh dari mu,
para orang tua, para mahluk dewasa kadang tak sadar telah banyak menyia-nyiakan hidup
telah banyak menyia-nyiakan waktu hanya untuk bermaksiat kepadaNYA
Seharusnya bencana itu bisa menampar hati kami,
seharusnya bencana itu bisa membuka mata kami,
seharusnya bencana itu dapat menyadarkan kami,
dan seharusnya kesyahidan mu itu membuat malu diri kami...

Nak..
sampaikan salamkan kami kepada orangtuamu
sampaikan iri kami kepada ayah bundamu yang sangat tabah
yang telah melahirkanmu sebagai mujahid
dalam mengabdi kepada ilmu
dalam mengisi ruang-ruang waktu
dengan kemulyaan seorang ulama..


Untuk anak-anakku korban gempa di Padang ketika sedang menuntut ilmu dalam gedung gama, kami semua sayang kamu..

Kamis, 19 Maret 2009

Kesuksesan itu...

Sahabat..
Apakah kesuksesan itu..?

Sukses adalah ketika kita berhasil mencapai cita-cita kita..
Sukses adalah ketika kita berhasil menyelesaikan pendidikan kita ke jenjang yang lebih tinggi..
Sukses adalah ketika kita berhasil mendapatkan istri impian kita..
Sukses juga adalah ketika kita berhasil memenangkan proyek dan menjadikan kita pengusaha kaya raya..
Dan Sukses juga adalah ketika kita berhasil menduduki jabatan tinggi..

Sukses adalah ketika kita berhasil mengantar anak-anak kita belajar ke luar negeri..
Sukses adalah ketika kita mempunyai pengaruh di masyarakat..
Sukses adalah ketika kita berhasil menjadi pemimpin yang dikagumi..
Dan Sukses adalah ketika kita berhasil menggenggam dunia..

Sahabat..
Bagiku sukses adalah..
Saat kita terbujur kaku dalam kain kafan penghantar pergi kehidupan fana..
Kita berhasil mendapatkan anak-anak disisi kita..
Ada anak-anak yang bisa mendoakan kita, dan meminta ampun atas dosa dan kesalahan kita..
Ada anak-anak yang pandai bersyukur atas nikmat yang diberikan melalui orangtuanya..
Ada anak-anak yang menentramkan hati dengan baktinya kepada ayah ibunya..
Ada anak-anak yang bisa memaafkan kesalahan kedua orangtuanya semasa beliau hidup..
Ada anak-anak yang perbuatannya mengharumkan nama baik keluarga..

Ya Allah ya Tuhan kami..
Ajari kami cara mendidik anak-anak kami..
Ajari kami memberi kasih sayang kepada mereka..
Ajari kami mencintai mereka dengan setulus hati..
Ajari kami memberi jalan yang benar kepada mereka..
Ajari kami memberikan pemahaman yang lurus kepada mereka..
Ajari kami menjadi seperti Luqmanul Hakim..
Yang bijaksana mendidik anak-anak mereka..
Sehingga menjadi tauladan sepanjang masa..
Agar kami bisa meraih kesuksesan itu..
Menyambung generasi dengan sebaik-baik generasi..

Senin, 23 Februari 2009

Sebelum Rezeki

Tuhan...
Pagi ini Engkau baik sekali kepadaku..
Kau berikan aku nikmat kecil sebelum rezeki pagiku tiba

Nikmat kecil yang mendesir dihatiku..
Saat melihat sang bayi kecil tersenyum mengantarku pergi..
Selaksa berdoa untuk kelancaran bisnis sang ayah..

Nak.. berdoalah sebisamu...
Katakan apasaja yang engkau ingin katakan..
Mintalah apapun yang engkau ingin pinta...
Mumpung tak ada jarak antara dirimu dan Tuhan..

Nak...
Tenangkan hati ayahmu dengan senyummu..
Gembirakan hati ayahmu dengan doamu..
Dan hapus gurat diwajah ayahmu dengan tertawamu..
Mumpung malaikat masih menjaga disisimu..

Terima kasih Nak..
Terima kasih Tuhan..

(Pagi hari menjelang berangkat kerja)