Tampilkan postingan dengan label Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diri. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Januari 2011

Cerita Tentang Sebuah Kalung

Oleh : Ibnu Hasan Ath-Thobari

"Kalung yang mengenyangkan orang lapar, menutupi yang telanjang dan mencukupi yang miskin serta membebaskan seorang budak".

Seusai shalat berjamaah, Rasulullah saw duduk dan para sahabat melingkari beliau tiba-tiba datang seorang tua yang hampir saja tak berdaya menopang tubuhnya karena lapar.

Orang tua itu berkata : " Ya Rasulallah, aku kelaparan, berilah aku makan, aku tidak punya pakaian, beri aku pakaian dan aku miskin beri aku kecukupan ". Rasul yang dermawan itu berkata : " Aku tak punya apapun untukmu, akan tetapi orang yang memberi petunjuk kepada kebaikan ganjarannya sama dengan orang yang melakukannya, karena itu cobalah datang ke rumah orang yang mencintai Allah dan RasulNya dan dicintai oleh Allah dan RasulNya, tentu dia akan mendahului Allah ketimbang dirinya sendiri, pergilah ke rumah Fatimah, hai Bilal, tolong antarkan ia ke rumah Fatimah.

Maka berangkatlah mereka ke rumah putri Rasul yang mulia Fatimah, sesampainya didepan rumah Fatimah, ia memanggil dengan suara keras : assalamu`alaikum, wahai keluarga Nabi shallallahu alaihi wa sallam, keluarga dimana Jibril as menurunkan alqur`an dari Rab semesta alam ".


Setelah menjawab salam, Fatimah bertanya : " siapakah bapak? " Ia menjawab : " aku orang tua dari suku arab baduy, aku telah bertemu ayahmu, pemimpin umat manusia, sementara aku wahai putri Rasul, adalah orang yang tidak berpakaian, lapar dan miskin, bantulah aku, semoga Allah memberkahimu ".

Saat itu, Rasulullah dan Keluarga beliau juga sedang mengalami kesulitan yang sama, sejak tiga hari lalu mereka belum makan, Rasul pun mengetahui kondisi mereka, maka Fatimah pun mengambil kulit domba yang biasa dipakai Hasan-Husain untuk alas tidur kedunya.

" Ambillah ini, semoga bapak mendapatkan sesuatu yang lebih baik darinya " kata Fatimah sambil memberikan kulit itu. Orang tua itu berkata : " Wahai putri Nabi, aku mengadukan keadaanku yang lapar, tapi engkau hanya memberi kulit domba ini ? apa yang bisa aku perbuat dengan kulit ini? ".

Mendengar ucapan orang tua itu, Fatimah mengambil kalung yang dikenakanya dan hanya itulah satu-satunya milik yang paling berharga, diserahkanya kalung tersebut sambil berkata : " Ambillah ini dan juallah. Semoga Allah memberimu sesuatu yang lebih baik ".

Orang itupun menerima kalung itu dengan gembira lalu pergi ke masjid untuk menjumpai Rasulullah, sesampainya di masjid ia menigatakan kepada Rasulullah : " Ya Rasulallah, Fatimah putrimu telah memberikan kalung ini dan ia berkata : " Juallah kalung ini, semoga Allah memberimu sesuatu yang lebih baik ".

Mendengar itu, Rasulullah pun menangis. Ammar pun berdiri seraya berkata : "Ya Rasulallah apakah anda mengizinkanku untuk membeli kalung itu? ". Rasulullah menjawab : ”Belilah wahai Ammar, sekiranya jin dan manusia ikut membelinya tentu Allah tidak akan menyiksa mereka dengan api neraka”. Ammar bertanya : ”Dengan harga berapa engkau akan menjual kalung itu wahai saudaraku?”.

Orang itu menjawab :”Seharga roti dan daging yang akan menghilangkan rasa laparku, selembar kain yaman yang akan menutupi auratku agar aku dapat shalat menghadap Rabbku dan satu dinar uang untuk pulang menemui keluargaku”.

Kemudian Ammar menjual bagian harta rampasan perang yang didapatkannya dari Rasulullah, tidak ada yang tersisa sedikitpun, ia berkata kepada orang arab baduy itu : "Anda akan saya beri uang 20 dinar 200 dirham, sehelai kain yaman, kendaraanku untuk mengantarkanmu sampai ke rumahmu dan rasa kenyang dari roti dan daging”.
Orang itu berkata : “Duhai, betapa pemurahnya tuan ini. Semoga Allah memberkahi anda wahai tuan yang mulia”.

Ammar mengajak orang itu ke rumahnya dan memberikan semua yang dijanjikan kepadanya. Kemudian orang itu menjumpai Nabi shallallahu alaihi wa sallam, yang kemudian berkata : ”Sudahkah anda kenyang dan berpakaian?” Orang itu berkata : "Sudah Ya Rasulallah, bahkan demi Allah, aku menjadi orang yang kaya saat ini”.
Rasulullah bersabda :”Jika demikian, balaslah Fatimah atas perbuatannya”.

Orang itu berdoa :” Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Tuhan, kami tidak mengabdi melainkan hanya pada-Mu. Ya Allah berilah kepada Fatimah hal-hal yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga dan tidak pernah terbayang oleh hati manusia”.

Rasulullah mengamini doa orang itu lalu menjumpai para sahabat seraya berkata : "Sesungguhnya Allah telah memberikan hal itu kepada Fatimah di dunia, demikian itu karena aku adalah ayahnya, tidak ada seorangpun yang semisal denganku, Ali adalah suaminya, tidak ada orang yang sebanding dengannya, Allah juga memberinya Hasan dan Husain tidak ada manusia yang semisal dengan keduanya di alam ini keduanya adalah pemimpin pemuda surga”.

Diantara sahabat mulia yang hadir saat itu adalah Miqdad ibn Amr, Ammar, dan Salman radhiyallahu anhum, Rasulullah bertanya : ”Maukah aku tambah lagi?” “Mau Ya Rasulallah”. Jawab mereka singkat.

Rasulullah bersabda :”Baru saja malaikat Jibril datang padaku dan berkata : ”Jika Fatimah telah dipanggil oleh Allah dan saat di kuburnya akan ditanya, siapa Tuhanmu? Maka ia menjawab : Tuhanku adalah Allah, kemudian ditanya: Siapakah Nabimu? Maka ia akan menjawab : Nabiku adalah ayahku. Siapa yang berziarah kepadaku setelah wafatku seolah dia mengunjungiku pada saat hidupku dan siapa yang berziarah kepada Fatimah, seakan ia berziarah kepadaku”.

Ammar pulang ke rumahnya mengambil kalung itu lalu meneteskan minyak misik dan membungkusnya dengan kain Yaman, ia memiliki seorang budak yang bernama Sahmun yang ia beli dari ghanimah yang didapatkannya saat perang kahibar. Kalung itu diserahkan kepada budaknya seraya berkata : ”Berikan ini kepada Rasulullah dan engaku sendiri aku hadiahkan untuk beliau”.

Budak itupun mengambil bungkusan kalung tersebut dan membawanya kepada Rasulullah lalu menyampaikan apa yang dikatakan Ammar. Rasulullah bersabda : "Pergilah kepada Fatimah, berikan kalung itu kepadanya dan engkau menjadi miliknya”.
Datanglah budak itu menyampaikan apa yang dikatakan Rasulullah kepada Fatimah, Fatimah lalu menerima kalung itu, kemudian membebaskan Sahmun dari statusnya sebagai budak. Sahmun pun tertawa.

Fatimah bertanya :” Apa yang membuatmu tertawa ya ghulam?” Sahmun berkata : "Betapa besarnya keberkahan kalung ini, inilah yang membuatku tertawa. Kalung ini telah mengenyangkan orang yang lapar, memberi pakaian orang yang telanjang, menjadikan kaya orang yang miskin dan memerdekakan seorang budak, lalu kembali kepada pemiliknya”.

Sumber : http://www.eramuslim.com/syariah/bercermin-salaf/keberkahan-seuntai-kalung-putri-rasul-yang-mulia.htm


Senin, 10 Januari 2011

Sebuah Rahasia

Pada sabtu siang, selepas dari rumah orang tua (alm), saya menyempatkan diri mampir ke rumah teman masa kecil yang sedang ditimpa musibah kecelakaan, hingga kaki kanannya harus di gips karena terlindas taxi. Syukurlah ia masih hidup dan hanya menderita patah tulang kaki (tipikal orang indonesia yang tetap bersyukur meski apapun terjadi :)),Asyik bercerita ngalor ngidul tak berasa hingga dua setengah jam waktu berlalu. Saya belajar banyak dari kejadian itu bahwa kita bukanlah pemilik jasad ini, meski kita berusaha menggapai kebahagiaan atau bencana, jika takdir Allah menentukan bahwa bahaya akan menemui kita, maka ia akan terjadi. Sahabat saya ini, mempunyai karakter asli periang, dan tak pernah pusing akan takdir yang ia terima. Meski awalnya sempat drop, melihat tulang kaki kanannya hancur, tapi tidak berlangsung lama, ia bisa kembali menjadi dirinya sendiri. Ia tetap periang dan senang berguyon, bahkan sakitnya itu menjadi bahan candaanya sendiri. Raut wajahnya tetap sama, tidak terlihat bahwa ia sedang tertimpa musibah. Mungkin suggesti seperti itu yang membuat luka cepat pulih. Sulit menemukan orang yang tetap ceria dalam kondisi apapun yang terjadi, selain mematut diri, bisa kah saya setegar beliau jika mengalami kondisi yang sama. Satu mutiara hikmah yang bisa diambil sebagai ibroh. Hmm sangat sulit untuk dijalani dan tidak semua orang bisa.

Esoknya, saya kembali mendapat mutiara hikmah yang tak kalah besar. Saya mendapat khabar Bibi saya (encang dalam bahasa betawi) meninggal dalam usia 88 tahun. Saya merasa menyesal sekali tidak bisa mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhir karena suatu urusan. Beliau dikebumikan satu jam sebelum saya tiba dirumahnya. Bibi saya yang walau usianya sudah lanjut usia, tetapi tetap gagah dan enerjik. Sering saya berguyon dengannya, dan jika sudah ngobrol bisa berjam-jam. Ia bercerita tentang apapun yang ia ingin ceritakan, kadang suka menyentil kadang bikin saya terbahak-bahak. Yang saya paling suka cerita darinya adalah cerita tentang masa kecilnya, masa kecil ayah saya dan masa kecil adik-adiknya. Dari jaman belanda (ia kelahiran 1923), jaman jepang, jaman kemerdekaan, jaman gestapu, hingga jaman orde baru. Keahlian beliau paling disenangi orangtua dan ditakuti anak kecil, yakni urut/pijat. Anak saya meski masih kecil paling faham jika masuk ke gang rumah beliau pasti mengajak putar balik. Terakhir kali saya bertemu, saat lebaran tahun kemarin, saya sempat minta doa biar lancar dalam urusan bisnis dan karir. Nah ketika saya pamit, tiba-tiba beliau menyuruh saya kehadapannya, kening saya di usap dan ubun-ubun saya ditiup seraya membaca doa perlahan. Kemudian setelah saya selesai, tiba-tiba istri saya pun ditarik dan diperlakukan sama, diusap ubun-ubunnya dan dibacakan doa. Setelah selesai, saya bertanya, "Yang barusan buat ape cang aji?",beliau menjawab "biar bini lu patuh dan enggak galak sama elu",tukasnya..". Hahaha, saya dan istripun terpingkal-pingkal, kirain didoain biar karir bagus juga..hihihi.
Ibroh dari sisi kehidupan bibi saya ini adalah, jangan pernah lemah oleh usia, jangan malas karena umur, dan selalu positip thinking untuk semua apapun yang terjadi alias "smile forever whatever it takes" . Hmm sangat sulit untuk dijalani, tak semua orang bisa.

Dan pagi ini, saya kaget membaca berita, seorang komedian epy kusnandar divonis umurnya tinggal empat bulan lagi karena kanker otak. Saya kaget karena lagi-lagi mengetahui bahwa hidup dan mati itu sebuah misteri. Andai vonis itu jatuh ke saya, apakah yang saya bisa kerjakan, kecuali menangis dan menangis menyesali bahwa hidup ternyata telah berlalu begitu saja, masa telah terlewati tanpa makna. Dan waktu yang diberi tenyata tinggal sedikit tak lebih dari seumur jagung. Belum lagi mengingat istri dan anak-anak yang masih kecil. Tak akan sanggup beban ini mendapat cobaan seperti itu. Tapi ketika saya melihat sang komedian, dia hanya berkata, saya ikhlas, ikhlas akan takdir Tuhan. Saya pun tersentak, Wow itulah jawabannya dari dua pertanyaan saya diatas, Ikhlas, sebuah pernyataan hati yang membuat dunia dan seisinya terasa kecil mana kala ikhlas menjadi kata kunci. Mana kala ikhlas menjadi sebuah rahasia dalam menjalani hidup. Rahasia yang sebenarnya terang benderang diketahui manusia, tetapi seringkali hilang ketika dibutuhkan. Dalam setiap detik nafas, dalam setiap denyut jantung ikhlas itu sebenarnya hadir disekeliling manusia, tetapi keangkuhan dan kesombongan, harga diri dan emosi, menutupi jalan hati untuk menggapai keikhlasan itu sendiri, sehingga ketika bahaya datang, ketika cobaan tiba atau ketika musibah menghampiri, manusia selalu merasa Tuhan tidak adil, serasa manusialah pemilik jiwa dan
raganya, padahal Allah lah sang maha pemilik jiwa raga ini. Wallahua'lam bisshowab.

Rabu, 06 Oktober 2010

Dua Sujud Saja

“Setetes air akan terlupakan jika ada segelas air, segelas air akan terlupakan jika ada seember air dan seember air akan terlupakan saat melihat kolam air melimpah ruah, sayangnya waktu berjalan berbanding terbalik, lautan luas, danau, kolam dan seember air hanya ada dimasa muda kita, dan semakin kita tua, kita hanya bisa mendapatkan setetes air di akhir hidup kita, dan dua sujud itu bagai setetes air yang melepas dahaga...”

Siang itu aku terbaring lemah di tempat tidur, ku usap kening yang basah dan ku basuh kembali dengan kompress yang telah disiapkan oleh istriku sejak pagi tadi. Ku coba menenangkan diri dan merenungi, mengapa aku bisa terserang penyakit seperti ini.
Sudah tiga hari ini aku merasakan badanku sangat panas, bibir kering dan badan pegal-pegal, tapi aku tidak tahu mengapa seluruh sendiku terasa nyeri sekali. Aku sudah berusaha pergi kedokter, dan dokter menyatakan aku hanya sakit kelelahan biasa, dan tak perlu ada yang dikhawatirkan.

Hari keempat pada sepertiga malam, kurasakan badanku tak bisa bergerak sama sekali, aku terbaring lemah di kasur, hanya bisa memandang langit-langit dengan bola mata yang senantiasa basah oleh airmata. Saat-saat seperti ini kematian terasa begitu mendekat dan kecongkakan sebagai manusia lenyap dari sanubari. Berganti dengan rasa takut akan ajal yang akan segera tiba sementara jiwa belum siap menghadapinya. Hanya tangisan dan tangisan mengisi detik demi detik, menyesali waktu yang terlewat begitu saja, menyesali masa yang berlalu tanpa makna. Seraya bibir bertasbih dan hati memohon janji kepada sang pemilik jiwa untuk diberi sehat kembali agar bisa beribadah dengan lebih baik dari hari ini dan hari kemarin. Begitulah janji ucap seorang hamba ketika dalam posisi lemah, ketika dalam posisi tertawan oleh takdir bahwa kelak manusia akan mati meninggalkan dunia dan pergi menemui rabbnya. Aku yang saat itu tak bisa berbuat apa-apa hanya bisa memohon kepada rabb agar diberi kesempatan beribadah kepadanya, melaksanakan qiyamullail meski aku tak tahu apakah sanggup atau tidak, Aku hanya ingin sholat dengan khusuk, di saat-saat akhir kekuatan masih merayap dalam tubuh ini, disaat aku masih bisa bersujud meski dua sujud saja.

Dulu saat aku sehat, jangankan dua sujud, ribuan sujud pun aku masih sanggup, tetapi ribuan sujud itu aku sia-siakan, berlalu bagai debu ditiup angin. Kini, hanya dua sujud saja yang aku persembahkan untuk Tuhanku aku tak mampu, hanya dua sujud saja aku tak bisa, sampai aku memohon-mohon dengan air mata kepada Rabbku agar diberi kekuatan menegakan dua sujud itu. Ya robbi, hanya dua sujud saja aku tak bisa memberikan ibadah terbaikku untuk Mu. Ya Tuhanku, bagaimana berharganya dua sujud ini bagiku, dua sujud yang pernah aku sia-siakan dalam sehat dan waktu luangku. Dua sujud yang membedakan seorang mukmin dengan fajir, dua sujud yang membuat hamba mudah dikenali pada yaumil mahsyar, dua sujud yang memberikan kedamaian pada malam-malam seorang hamba yang soleh, dua sujud yang memberikan keadilan pada para pemimpin yang takut kepadamu disaat manusia lain terlelap tidur. Dua sujud yang membuat si papa merasa lebih kaya dari para agniya yang masih sibuk menghitung uangnya meski hari telah larut, dua sujud yang mampu memberikan keberkahan dan kesehatan para hambamu para ahli qiyamul lail, dan dua sujud itu pula yang telah aku lupakan selama ini, sehingga aku tak siap menghadapi terkaman takdir bahwa aku harus terbaring disini. Ya robbi, ampuni aku...ya robbi kasihani aku...ya robbi beri aku kesempatan menikmati dua sujud itu...ya robbi...amin..

In The middle of the night, mencari sujud yang hilang.

Rabu, 08 September 2010

Ibadah terbaik diujung ramadhan.

Ya robbi,
Tak terasa hamba telah berada diujung ramadhan.
Tak terasa pula hari-hari hamba melaju begitu saja.
Tak terasa waktu terlempar sia-sia tanpa makna.
Meski hati meratap dan jiwa mengharap atas pengampunanMU di bulan berkah ini.
Janji yg terucap setahun lalu selaksa tanpa makna.
Saat hamba kembali sibuk pada urusan dunia.

Ya Robbi,
Betul di awal ramadhan hamba merasa dekat kepada mu.
Betul saat itu hati ini sangat syahdu mengucap kalam ilahiMu.
Tapi, seiring berjalan waktu, ketika kesibukan tugas menyergap tak kenal ampun, menelusup nadi dan mengancam idealisme kami sebagai hamba, hilang pula kesyahduan ibadah kami.
Yang ada hari-hari ramadhan berjalan seperti hari biasa, bahkan lebih keras dan kejam, karena terbeban oleh makna kemenangan idul fitri yg kami artikan hanya sebatas kemegahan dan kemewahan, ajang pamer materi antar manusia dan manusia lainnya. Jadilah kami para pemangsa buas sebuah materi bernama uang, dan dengan alibi tunjangan hari raya, kamipun menghalalkan segala cara.
Hari-hari kami pun lebih sibuk dengan urusan dunia. Jejaring sosial, sms, chating, bbm ataupun email, lebih menarik perhatian kami ketimbang kitab suci MU. Juga canda ria dan gelak tawa lebih mendominasi daripada harapan mohon ampun akan penyesalan diri di bulan suci ini.

Ya robbi.
Kini dimalam terakhir ramadhan Mu tahun ini. Kami bersujud dan bersimpuh mohon ampun atas kelalaian ini. Berusaha mengisi hati-hati kami dengan mengingatmu kembali. Meski kami tahu. Semua itu tak mengembalikan ramadhan kami lagi.
Jika Engkau bertanya kepada para hambaMu yang saleh, apakah ibadah terbaik kalian pada ramadhan tahun ini, mereka pasti dengan mudah menyebutnya dengan lantang.
Tapi jika engkau bertanya kepada kami, apakah ibadah terbaik kami ramadhan tahun ini?, maka kamipun hanya bisa terdiam.
Hanya lelehan airmata dan butiran penyesalan yang kami berikan.
Hanya tangisan yg menyesak dada yang menjadi jawaban.
Dan mungkin, hanya airmata penyesalan ini yang bisa menjadi ibadah terbaik kami, ya robbi.
Tiadalagi selain bulir-bulir bening yg jatuh perlahan di kelopak mata kami.
Mengingat tak satupun diantara kami yg tahu, apakah kami akan bertemu lagi dengan ramadhanMu tahun depan.
Atau ramadhan ini adalah ramadhan terakhir bagi kami...
Faghfirliii, faghfirliii yaa robbi..ini kuntu minadz dzholimiiin.
Ampuni kami ya robbi, sesungguhnya kami termasuk orang-orang yg zholim.

Minggu, 09 Mei 2010

Apakah Kamu Ridha Kepada Ku?

Malam kian larut, diluar sana hujan gerimis masih membasahi bumi, semilir angin meniup lembut memasuki lorong-lorong jendela, udara yang sejuk memanjakan para insan melelapkan tidur-tidur mereka. Dinginnya malam mampu membuat tulang rusuk menggigil meskipun tanpa pendingin ruangan sekalipun. Tetapi suhu yang dingin itu tidak mampu membuat mata Rina terpejam, ia masih duduk dipinggiran tempat tidur, disamping suaminya yang sedari tadi telah lama mendengkur.
Malam itu, Rina sulit sekali terpejam, ia merasa bersalah kepada suaminya, karena meminta sesuatu diluar kesanggupan suaminya yang berpenghasilan pas-pasan, tapi karena sindiran para tetangga, akhirnya ia beranikan diri mengutarakan keinginannya dihadapan suaminya, meski ia tahu, suaminya tidak akan mampu mewujudkannya saat ini.

Pikirannya menerawang kembali pada kejadian beberapa hari lalu, siang itu, ia bertemu dengan orangtua wali murid teman sekolah anaknya. Temannya itu mengundang dirinya untuk hadir pada acara syukuran menempati rumah baru, ya rumah baru yg menjadi impian tiap pasangan yg telah menikah. Mendengar undangan itu hatinya tertegun, ia yg sudah menikah hampir limabelas tahun masih menumpang di rumah orangtuanya, bukan tanpa alasan tapi karena ia dan suaminya memang belum mampu mewujudkannya. Setiap kali ada teman lama yg menanyakan kabarnya pastilah pertanyaannya selalu membuat hatinya gundah, "tinggal dimana sekarang jeng", ia hanya bisa menjawab "masih ditempat yg lama" , begitulah seterusnya. Padahal ingin sekali ia menjawab, "Sekarang kami tinggal di perumahan A atau di kompleks B" tapi tidak bisa dan tidak tahu kapan ia bisa menjawab seperti itu. Belum lagi sindiran tetangga yg selalu menyakitkan hatinya, betapa tidak, ia bersama suaminya masih tinggal dirumah orangtuanya, padahal kedua adiknya sudah pergi dibawa suaminya tinggal dirumah masing-masing. Memang dirinya tidak persis tinggal dirumah orangtua, tetapi di bekas garasi dan kamar yg dibuat menjadi rumah petakan dan dibatasi dengan tembok dan sedikit pagar untuk menunjukan bahwa rumah itu terpisah tapi tetap saja dalam lingkup halaman yg sama dan satu atap pula. Padahal pernah ia mendengar rumor dari neneknya almarhum bahwa malaikat mengirim rezeki kepada manusia satu atap-satu atap, bukan satu keluarga-satu keluarga dan rumor inilah yg selalu menggayuti benaknya senantiasa. Apa mungkin rezekinya seret karena masih tinggal satu atap dengan orangtua hingga ia sulit untuk memiliki rumah sendiri. Kadang ketika ia sedang kalut ia sangat mempercayai rumor itu, tapi ketika ia sadar bahwa rezeki allah yg mengatur ia pun hanya bisa menghela nafas dan istighfar dalam-dalam.

Sore itu ia membulatkan tekad untuk meminta haknya kepada suaminya, ia tak lagi menunggu suaminya berganti pakaian sepulang mengajar di sebuah sekolah swasta. Ketika suaminya tiba langsung ia berondong dengan pertanyaan dan komplain tentang kehidupan rumahtangganya yg dirasakan belum layak, ia tanpa tedeng aling-aling mengatakan bahwa ia iri dengan kedua adiknya, ia juga membandingkan penghasilan suaminya dengan penghasilan suami adiknya, kehidupan materi dirinya dan kehidupan materi adiknya. Sang suami yang kaget karena tidak siap dengan pertanyaan bertubi-tubi hanya diam membisu, hanya sudut matanya terlihat bening membulat yg makin lama makin membesar. Jujur dalam hati sang suami memang ia belum mampu memberikan kehidupan yg layak seperti yg diminta istrinya, ia pasrahkan sang istri mengeluarkan emosi dan amarahnya tanpa membantah satu patah kata pun. Ia hanya bisa menunduk tak mampu menahan tajam mata istrinya, ia sadar bahwa itu memang tanggungjawabnya memberikan nafkah, sandang serta papan merupakan tugas dirinya tapi apa mau dikata, ia belum bisa mewujudkan semua itu. Di helanya nafas dalam-dalam, kemudian ia hembuskan lagi secara perlahan. Perlahan buliran-buliran di ekormatanya mulai menggumpal, ia menangis bukan karena meratapi nasibnya, tapi karena sedih melihat istrinya menderita karena ketidakberdayaannya. Betapa tidak, ia sangat mencintai istrinya yg dinikahinya limabelas tahun lalu, dan selama itu istrinya tetap sabar atas kekurangan dirinya, tetap tersenyum meski lapar dan dahaga kerap menerpa keluarga mereka. Kadang ia malu ketika ibu mertuanya membawa lauk pauk untuk dirinya, istrinya dan anak-anaknya. Semasa ayah mertuanya masih hidup, ia masih bisa menahan malu, karena ayah mertuanya mempunyai penghasilan dari pensiunan tentara, dengan uang pensiun itu sang kakek kerap mengajak cucunya pergi jalan-jalan ke minimarket di ujungjalan dan pulang dengan membawa sekantong makanan kesukaan anaknya. Tapi kini, sang ibu mertua hanya mengandalkan sisa pensiun almarhum suaminya dan ia tidak tega jika ibu mertuanya itu memberi makanan kepada keluarganya.
Ia menangis karena tidak tega melihat istrinya menderita secara batin akibat sindiran para tetangga yg kerap datang menyinggungnya. Ia merasa bersalah tak mampu memberikan kebahagiaan yg sudah patut diterima istrinya. Kekuatan cinta istrinya kepada dirinya selama bertahun-tahun itulah yg membuat hatinya semakin miris, betapa begitu tega dirinya membiarkan sang istri menderita, padahal pengorbanan yg telah dilakukan kepadanya sangat begitu besar. Dulu ketika ia hendak melamar istrinya, sebenarnya ada pemuda kaya yg akan melamar istrinya, tapi sang istri menolak. Istrinya memilih dirinya karena pemahaman agamanya lebih bagus dari pada pemahaman agama pemuda kaya itu. Dan itulah yang membuat istrinya bangga menikah dengannya, karena ia yakin cinta dan kesalehan akan membawa kepada kebahagiaan abadi.
Mengingat hal itu hati sang suami bagai diiris-iris sembilu, ia yg dibanggakan istrinya ternyata tidak mampu membahagiakan balik istrinya. Ia hanya bisa berharap kepada rabb pencipta semesta, untuk memberikan kekuatan kepada dirinya dan diri istrinya untuk tetap tegar menghadapi kehidupan ini. Tapi sebagai manusia, kesabaran menjadi terbatas ketika waktu yg berlalu ternyata melewati batas toleransi. Apalagi ditambah hasutan syetan yg senantiasa memanas-manasi keadaan. Ketika orang lain bisa, mengapa dirinya tidak bisa, itulah perkataan terakhir Rina kepada suaminya saat sebelum meninggalkan dirinya dan pergi masuk kamar untuk menangis tersedu-sedu. Tinggal sang suami duduk lesu tak mengerti harus berkata apa, dalam rasa bersalah yg mendalam, dalam rasa iba kepada istrinya yg merasuk kedalam buluh-buluh nadi lalu mencengkrap kuat ototjantungnya. Saat itu kehidupan dirasakannya seperti berhenti berdetak, sementara azan maghrib sayup-sayup mengalun, mengabarkan dunia akan waktu sholat telah tiba.

-o0o-

Malam pun kian larut, Rina masih memandang wajah lelah suaminya yg telah bekerja seharian, ia tahu suaminya pasti belum makan karena marahnya sore tadi. Sang suami pasti enggan meminta disediakan makan malam untuknya melihat ia dalan keadaan marah seperti itu. Setelah sholat isya, sang suami lebih memilih tidur untuk menenangkan fikiran. Ia tidak perduli perutnya bergejolak karena lapar. Dalam keheningan, Rina memandangi guratan-guratan diwajah suaminya, guratan yg membuat wajahnya terlihat lebih tua dari usia seharusnya. Rina merasa bersalah, mengapa ia menyakiti suami yg tidak pernah menyakiti dirinya sedikitpun selama perkawinan mereka. Ia seakan lupa bahwa dulu ia memilih suaminya bukan karena hartanya, tapi karena kekayaan hati suaminya. Dan ia sangat bahagia akan hal itu. Tapi kini mengapa ia harus menggugat, meskipun gugatannya itu adalah gugatan wajar, ketika seorang istri menuntut hak kepada suaminya untuk mendapatkan tempat tinggal yg layak. Tapi bagi dirinya, hal itu sudah mencederai janji tulus kepada suaminya. Ia yang selama ini tetap tegar dan sabar ternyata bisa lepas kendali hanya karena sindiran tetangganya. Seorang suami yg paling baik, yg tidak pernah memarahinya, yg tidak pernah menuntutnya, yg tidak pernah menyakitinya seujung kukupun kini terluka oleh lidahnya. Ia yg sangat sabar dan telaten, penyayang dan santun, yg selalu mengajarkan tentang kebaikan dan keutamaan wanita solehah kepada dirinya kini harus tersudut oleh ucapan kerasnya. Rina begitu sangat menyesal sekali. Dipandangnya wajah lelap suaminya berkali-kali, diusapnya keringat yg mengalir dikening suaminya. Melihat pemandangan yg menyentuh pada raut muka suaminya,membuat mata Rina berkaca-kaca, nafasnyapun mulai sesenggukan, perlahan airmatanya menetes, butiran demi butiran mengalir dan jatuh menimpa kelopak mata sang suami. Sang suami kaget, ia terbangun dan perlahan membuka matanya lantas berkata. "Ada apa sayang, mengapa engkau bangunkan aku dengan airmatamu, biasanya engkau membangunkan aku dengan kecupan didahiku". Bukannya menjawab, tangisan Rina malah semakin pecah, ia menangis tersedu-sedu dibahu suaminya. Suaminya yg merasa tidak enak karena merasa Rina belum puas atas amarahnya tadi sore kini memberanikan diri untuk berkata. "Istriku sayang, kali ini aku mohon maaf kepadamu lagi, dan aku tidak tahu, sudah berapa kali aku meminta maaf kepadamu atas kelemahan diriku ini, akupun sudah malu karena seringnya aku meminta maaf kepadamu, jika engkau tidak puas kepadaku. Aku pasrahkab diriku atas keputusan yg engkau berikan, apapun keputusanmu itu." Sayangku, izinkan aku membela diri atas kelemahanku sebelum engkau memvonis aku, izinkan aku berbicara tentang hakikat rezeki sebelum engkau pergi dari ku, izinkan aku bicara atas nama cinta dan kasih sayang keluarga kita. Sayangku, aku tahu engkau menikahiku bukan karena melihat latarbelakang diriku yg papa, engkau memilih aku atas dasar keimanan yg aku punya, dan memang hanya itu harta yg aku punya ketika aku melamarmu. Itupula yang membuat aku bangga kepadamu melebihi kebanggaan apapun didunia ini. Aku tahu sebagai istri, kamu ingin seperti adik-adikmu atau seperti wanita lain, memiliki rumah sendiri meskipun kecil, memiliki "rumahku syurgaku" seperti idaman para remaja putri ketika hendak menikah. Memiliki taman kecil dihalaman depan, atau kolam ikan dihalaman belakang, memiliki hiasan kaligrapi diruang tamu, atau pancuran shower dikamar mandi. Bisa berksperimen membuat kue untuk anak-anak kita didapur yg mungil, atau sekedar berteduh di gazebo kecil di depan rumah. Semua itu adalah wajar bagi seorang istri. Semua itu adalah kesempurnaan dalam hidup dan kesenangan dalam rumah tangga. Tapi istriku, aku ingin engkau melihatnya dari sisi lain. Ketika adik-adikmu mempunyai kebahagiaan dan kebanggaan karena memiliki rumah sendiri, kamu pun memiliki kebanggaan dan kebahagiaan juga, karena Tuhan menakdirkan kita masih tetap disini, disamping orangtua kita saat mereka memasuki usia senja, ketika orang lain sulit untuk berbakti kepada orangtua, kita justru menerima anugerah itu, bakti kita kepada mereka, merawatnya ketika sakit, menemaninya ketika sepi, menghiburnya ketika sedih dan membantunya dalam segenap aktifitas sehingga ia bisa melewati masa tuanya dengan tenang tanpa beban bukankah menjadi rezeki tersendiri bagi kita, rezeki berupa pahala yang akan diberikan allah kelak karena bakti kita kepada orangtua. Mungkin dari sisi materi, orangtua lebih bangga kepada adik-adikmu, tetapi dari sisi pengabdian dan kasih sayang kepada orangtua, justru kamulah yg dibanggakannya, berapa kali ibu memujimu dihadapanku karena ketelatenanmu merawatnya. Bukankah itu rezeki yg luarbiasa istriku? Ketika adikmu memiliki dua kebahagiaan yakni kebahagiaan karena memiliki rumah sendiri dan kebahagiaan karena kehidupan yang layak, kamupun memiliki dua kebahagiaan pula, kebahagiaan yg belum tentu dimiliki oleh seorang istri sekaligus, yakni kebahagiaan karena keridhaan orangtua atas baktimu, dan kebahagiaan karena ridha suamimu atas pengorbanan dan kesetiaanmu. Bukankah dua keridhaan itu yg bisa mengangkat derajatmu menuju syurgaNYA".
Rina tak bisa bicara, mulutnya tercekat, betapa suaminya telah berhasil merobohkan tiang kebodohannya, ia telah berhasil membukakan mata batinnya, keluguannya memahami kebahagiaan seolah lenyap, digantikan pencerahan akan kebahagiaan sesungguhnya. Dalam bisik ia bertanya kepada suaminya, "apakah kau ridha kepadaku sayang?" Sang suami pun tersenyum sambil berkata "Ya, aku ridha kepadamu, atas semua bakti yg kamu lakukan selama ini dan aku pun berharap, engkaupun ridha kepadaku" kuharap dengan dua keridhaan yang kau miliki, engkau berdoa kepada Allah untuk memuluskan langkah kita kedepan, mengabulkan semua impian kita dan meneguhkan langkah-langkah kaki kita agar kuat menahan godaan". Rina pun bergumam "amin" seraya berbisik hangat ia berkata" maafkan aku sayang, akupun ridha kepadamu..."

Angin sepoi sejuk bertiup perlahan, memasuki sela-sela pintu dan jendela. Udara dingin yg mengkristal tak mampu membekukan dua hati manusia yang saling mencintai karena Allah, kehangatan yg hadir dari para hati yg saling ridha mendamaikan kehidupan dikamar yg sempit itu, tetapi sempitnya kamar tidak membuat hati mereka ikut sempit, dengan ridha di hati justru meluaskan dan melapangkan kebahagiaan mereka, seluas samudera yang tak bertepi...

Pagi hari, 08 mei 2010

Rabu, 07 April 2010

Kabulkan doa anak ku (Sebuah hadiah buat Ayah)

Sore itu hujan rintik-rintik dan hari mulai gelap, adzan maghrib baru saja terlewati sekitar dua puluh lima menit yang lalu, aku masih terkungkung dibelakang kemudi mobil, menanti macetnya jalan yang luar biasa. Sebagai seorang karyawan, memang aku terbiasa melewati jalan macet seperti ini menuju pulang kerumah. Rutinitas sebagai kepala rumahtangga mengharuskan aku menjalani hidup pergi pagi dan pulang petang bahkan sampai malam jika pekerjaan menumpuk sangat banyak.

Selepas isya aku baru tiba dirumah, langsung mandi dan menikmati santap malam yang dihidangkan istriku.

Tiba-tiba sikecil yang berusia 7 thn menghampiriku dan memberi sebuah hadiah berupa jam weker miliknya, katanya ia ingin memberikan hadiah agar ayah disayang oleh Allah.

Aku terkejut dengan ucapannya, “maksud kamu apa sayang?”, ayah tidak mengerti.

“Ayah, aku ingin ayah disayang Allah”, jawabnya lagi. “iya nak” kita semua ingin disayang Allah, bukan cuma ayah, tapi juga kamu, ibu dan kakak. “Tapi aku, ibu dan kakak sudah di sayang Allah, ayah belum”...”Dess”, sesuatu yg tajam seperti menusuk jantungku dan jantungku berdetak keras ketika si kecil berbicara seperti itu. Aku berusaha menerka-nerka kemana arah pembicaraannya, dan apa kesalahanku sehingga anakku bisa berbicara seperti itu. Adakah selama ini kejahatan yang aku lakukan, aku tidak korupsi, juga tidak mencuri. Aku selalu berbuat baik kepada ayah dan ibuku, bersilaturahmi ke rumah saudara dan berbuat baik kepada tetangga. Sungguh aku sangat bingung oleh pernyataan sibungsu tadi.

“Begini ayah, berapa usia ayah sekarang”, aku menjawab, tiga puluh enam-tiga puluh tujuh” jawabku “yah hampir empat puluh deh” Pungkasku.

“Selama usia itu ayah telah melakukan yang terbaik untuk keluarga kita, memberi kami nafkah, makanan, pakaian, rumah, kendaraan, sekolah, rekreasi dan lain-lain”. “Ya, betul itu dan itu memang tugas ayah” potongku. “tapi ayah tidak memberikan yang terbaik buat ayah, ayah melupakan diri ayah sendiri”, aku bingung lantas menjawab. “Tentu tidak nak, ayah juga memberi makanan, pakaian, kendaraan buat ayah sendiri” bela ku tak mau kalah.

“Ayah”, anakku mendekatiku seraya berbisik. “Coba ayah hitung, berapa kali ayah meninggalkan sholat maghrib karena kesibukan ayah, berapa kali sholat subuh kesiangan karena ayah kelelahan, berapa kali ayah meninggalkan membaca alquran, belum lagi berapa lama ayah tidak sholat berjamaah dimesjid dan lain-lain ayah...” aku terdiam membisu tak mampu berkata apa-apa.

Melihat aku terdiam, anakku meneruskan kalimatnya.

“Ayah, tadi siang di sekolah, guru agama kami bercerita tentang orang-orang yang disayang Allah, orang-orang yang akan selamat selama hidupnya, mereka adalah orang yang ketika mencapai usia empatpuluh tahun tetap dalam keadaan beriman dan beramal sholeh.” Usia empat puluh itu merupakan pangkalnya seseorang apakah akan selamat atau tidak” Jika di usia empat puluh masih berbuat bermaksiat, kecil kemungkinan akan kembali kejalan yang benar ayah.”,“Ketika guru kami bercerita, aku teringat ayah dan aku menangis sedih. Ayah selalu sibuk dengan pekerjaan ayah, ayah hampir tak pernah mengajak kami sholat berjamaah, tak pernah mengajari kami mengaji, tak pernah membangungkan kami sholat subuh, ayah begitu asyik dengan dunia ayah, ayah begitu sibuk dengan pekerjaan ayah, dan ayah membiarkan itu terjadi kepada kami. Untung ada ibu yang mengingatkan kami, mengingatkan aku dan kakak untuk sholat dan mengaji. Tapi aku ingin seperti anak-anak lain ayah, yang begitu riang berangkat ke mesjid bersama ayahnya, mengaji bersama dan berjamaah bersama-sama ayah. Ketika aku mendengar cerita guruku, yang ku lihat adalah wajah ayah, wajah ayah yang murung karena tidak disayang Allah, aku tak kuat membayangkan itu semua ayah, karena aku sangat menyayangi ayah, dan aku ingin ayahku juga disayang Allah, bukan cuma aku, kakak atau ibu”. Ayah, ambillah jam weker milikku ini, agar ayah bisa membangunkan aku esok pagi-pagi dan kita bisa sholat berjamaah bersama-sama esok hari.”

Air mataku mengalir deras, membasahi pipiku tiada henti, hatiku berdegup kencang tak karuan. Ternyata selama ini aku hanya memberikan nafkah dunia buat keluargaku, tetapi membiarkan kehidupan akhiratku terbengkalai, aku juga tidak memberikan teladan yang baik buat anak-anakku karena silaunya dunia yang menantangku untuk ditaklukan. “Ya robbi, ampuni aku, ampuni diri ini yang telah tertipu oleh silaunya materi”. “Nak, maafkan ayahmu, ayah telah mengabaikan kamu dan kakakmu selama ini. Tuhan terimakasih kau kirim hidayah melalui anak terkecilku”.

Seraya menghapus airmata aku berkata kepada anakku, “Nak, jangan tunggu besok, sekarang saja kita sholat berjamaah, mari kita berwudhu, mumpung waktu isya baru saja masuk”, ajak kakak dan ibumu bergabung bersama kita.” Anak ku pun tersenyum, terima kasih ayah, aku sangat sayang sama ayah”

Kami pun segera melaksanakan sholat berjamaah, aku saat itu merasa gerogi sekali, aku malu terhadap diriku, apalagi terhadap anak dan istriku, tapi aku tak peduli, aku lebih malu kepada Allah yg telah kulupakan selama ini.

Dalam suara parau, dalam khusuknya doa, aku menangis tersedu-sedu, dan baru kali ini aku merasakan sholat begitu khusuknya, begitu syahdunya.

Dalam sayup-sayup terdengar suara lirih anak ku berdoa “robbighfirli waali-waalidayya warhamhuma kama robbayani shogiiro” dan aku pun membalas “amin ya robb, kabulkan doa anak ku..”

o0o

Rabu, 26 Agustus 2009

Oase itu bernama Ramadhan

Manusia,
Dalam perjalanan hidupnya
Selama waktu yang telah digariskan
Selama masa yang telah ditetapkan
Adalah sebagai pengembara,

Ia yang ditugaskan Tuhannya untuk pergi dari satu tempat ketempat lainnya,
Dari tempat bernama dunia menuju tempat tujuan bernama akhirat,
Dalam masa dan perjalanan panjang bersama sang waktu,
Melewati gurun tandus dan gersang sepanjang perjalanan.

Keringat dan peluh, serta bau badan yang menusuk karena debu-debu yang bertebaran,
Kaki-kaki yang luka karena duri-duri yang berserak ditengah jalan,
Dan perih mata karena tertusuk angin penuh debu dan kotoran liar yang menyaput tiada henti.

Mereka yang dikaruniai kelebihan harta, merasa nyaman dengan tandu-tandu dan gerobak yang didorong oleh keledai.
Mereka merasa nyaman dalam kesenangan sementara, terkantuk-kantuk dalam tenda yang bergoyang oleh kerikil-kerikil yang menyusuri jalan.

Sedang mereka yang diberi hidup pas-pasan, berjuang dengan keringat dan darah, dengan telanjang kaki tanpa sepatu dan alaskaki, dengan penutup tubuh seadanya, sekedar menghilangkan panas dari teriknya matahari dan dinginnya malam,
Mencoba berjalan dengan jiwa-jiwa kuat dan penuh harap, kapankah perjalanan ini akan tiba ditujuan.

Rasa haus dan lapar, rasa dahaga dan perih lambung yang menyertai, sebenarnya akan hilang jika telah sampai ditempat istirahat sementara, sebelum tiba ditujuan...
Tuhanpun sayang kepada manusia, Dia telah menyiapkan tempat untuk rehat, dalam sebuah oase yang damai, yang penuh dengan air dari telaga kautsar, dan pohon-pohon penuh buah untuk tempat berteduh.
Tuhan telah menyiapkan sebuah oase dalam setiap satu masa perjalanan, yang kadarnya adalah satu bulan untuk satu tahun.
Di oase itu, disana engkau dapat minum dan menyucikan diri, membasuh hati dan muka yang kotor karena debu perjalanan.
Mencuci dan membersihkan pakaian-pakaian mu dengan shodaqoh dan zakat, mengairi tenggorokan dengan basuhan quran, berteduh dalam naungan shaf-shaf sholat berjamaah, bergembira dan bercengkrama dalam nikmatnya berbuka.
Dalam oase itu, kita juga bisa berselimut tahajud dan qiyamul lail, merebahkan diri dalam hangatnya dzikir, dan berolahraga dengan rakaat-rakaat tarawih.

Bagi mereka kaum papa, yang merasakan panasnya perjalanan dengan telanjang kaki, sampainya kepada oase, seolah-olah seperti telah sampai kepada tempat tujuan. Tiba pada bulan oase adalah kesempatan yang sangat diharapkan, sembari mengumpulkan kembali kantung-kantung perbekalan untuk masa perjalanan berikutnya.
Juga bagi mereka kaum kaya, tetapi tidak silau akan kekayaan dunia, yang menganggap kekayaannya hanya sebatas titipan, justru merindukan saat oase itu untuk memberikan semua kekayaannya kepada kaum papa, dan mengisi kantung-kantung air mereka untuk perjalanan berikutnya pula.

Tapi bagi mereka yang merasa kaya, yang telah lupa akan adanya oase, yang asyik dalam tenda-tenda, yang asyik dan tertidur didalam tandu-tandu, mereka tidak menyadari nikmatnya beristrirahat di oase itu. Mereka tidak perduli dengan keriuhan riak-riak dalam oase, mereka tidak peduli dengan nikmat dan kenyamanan dalam guyuran-guyuran air takwa, dan basuhan-basuhan sejuk keimanan, hingga ketika tiba ditujuan, mereka terkejut bahwa saat mereka telah tiba, sedang perbekalan tak satupun mereka punya, karena habis dimakan selama perjalanan hidupnya.

Tapi yang lebih celaka lagi, bagi mereka yang papa, yg berjalan tanpa alas kaki, yang berlindung hanya dengan sehelai kain, tetapi tidak peduli dan tidak tahu dengan oase itu sendiri. Akhirnya perjalanan mereka berlalu dengan berat, dan bekalpun tak ada yang didapat. Hidup di dunia menderita dan di akhirat mendapat sengsara.
Adalah kebodohan dan ketidak pedulian akan belajar yang membuat mereka tidak mengetahui, bahwa dalam perjalanan panjang dunia, ada satu bulan tempat istrirahat, dalam perjalanan panjang digurun bertandus, ada satu oase tempat untuk rehat, dan oase itu bernama Ramadhan.
Itulah saat-saat yang paling menyenangkan dalam hidup. Seandainya manusia tahu, mungkin mereka akan meminta, bahwa seluruh bulan adalah bulan Ramadhan, seluruh tempat perjalanan adalah oase keimanan.

Wallahualam bishowab.

Jumat, 07 Agustus 2009

Muhasabah dalam Munajat

Tuhanku
Di keheningan malam ini ku bersimpuh kepada Mu
Ku bersujud mengharap kasih sayang Mu
Dalam balutan perih dan pedih
Yang menyertai langkah-langkah ini

Tuhanku
Kepada siapa lagi aku mengadu
Kepada siapa lagi aku bermunajat
Sedang engkau adalah pemilik semesta ini
Sedang engkau adalah pemilik jiwa dan raga ini

Tuhanku
Meski air mata ini mengalir deras
Meski mata ini sembab karena tangis tak berkesudahan
Meski hati ini sesak karena rasa sesal tak jua bisa terurai
Meski kening mengerut dan mata kaki bengkak karena sujud-sujud penyesalan
Aku tahu semua itu belum pantas bagiku
Untuk mendapatkan maghfirah atas ampunan dariMu.

Tuhanku
Dalam perjalanan hidupku yang kini menginjak lebih dari separuh usia Rasul Mu
Ku tahu,
Hanya sedikit waktu yang sempat kuberikan khusus untukMu,
Hanya sedikit masa yang mampu aku persembahkan untuk mendekat kepadaMu,
Hanya sedikit hari-hari yang ku lakukan untuk bisa beribadah kepadaMu,

Tuhanku
Silaunya dunia membuat aku banyak melupakan diriMu,
Gemerlapnya dunia membuat aku terseret lautan dosa dan maksiat kepadaMu,
Karatnya hati ini karena penyakit wahn telah merasuk sampai ke urat nadiku,
Membuat jiwaku gersang akan fitrah dan ruhku sepi akan munajat kepadaMu.

Saat Lahir
Betapa aku sangat mensyukuri nikmat Mu atas kelahiran diriku,
Bertemu dengan keluarga sederhana yang memiliki latar belakang keislaman
Meskipun aku hanya seorang muslim keturunan,
Setidaknya hidayahMu mengalir sejak diriku masih bayi
Hingga aku mengerti bahwa itu adalah nikmat paling besar dalam hidupku

Saat Balita
Aku bersyukur kepadaMu atas cinta kasih yang diberikan oleh kedua orangtuaku
Yang merawat diriku sejak masih kecil dengan kasih sayang
Yang cintanya tak pernah bisa aku balas
Meski dengan pengorbanan seluruh hidupku
Ya Allah ampunilah kedua orang tuaku
Bahagiakan mereka dengan kasih sayangMu
Lapangkan dan terangilah kuburnya
Maafkan aku yang belum bisa memberikan kebahagiaan kepada mereka
Maafkan aku yang belum mampu memberikan kedamaian dihati mereka
Hingga saat-saat terakhir mereka

Tuhanku
Ampuni aku yang pernah bersikap kasar kepada keduanya
Ampuni aku yang pernah membantah keduanya
Ampuni aku yang pernah berkata “ahh” kepadanya
Maafkan aku yang pernah membuat luka dihatinya,
Tuhanku
Ikhlaskan amal-amal kami untuknya
Lapangkan hati kami dalam mendoakan kebaikan kepadanya
Dan sampaikan salam dan rasa hormat kami kepada keduanya

Tuhanku
Jika aku belum sempat membalas kebaikan keduanya selama mereka masih hidup
Izinkan aku menjadi anak yang saleh untuknya, dalam sisa-sisa usiaku
Beri aku kekuatan untuk menjadikannya tauladan bagi diriku dan anak-anakku
Beri aku kelapangan dalam menjalankan amanat-amanatnya
Jadikan mereka merasa bangga atas diri kami
Karena pengorbanan mereka terhadap kami tak pernah sia-sia.

Tuhanku,
Saat remaja tiba
Aku ingat masa-masa jahiliyah itu,
Masa-masa remaja yang membuat para pemuda terlena
Masa-masa remaja yang naif dan congak akan dunia
Masa-masa remaja yang sombong dan angkuh dalam mencari jati diri mereka
Yang berkata inilah aku, inilah duniaku, dan aku tak pernah perduli siapapun diriMu,
Tuhanku
Kalau bukan karena rahmat dan kasih sayangMu
Mungkin saat itu diriku telah menjadi sampah masyarakat
Yang mati muda dalam kesia-siaan
Yang tewas dalam kebodohan dan kejumudan

Tuhanku
Maafkan diriku yang melewati saat-saat indah itu dengan sia-sia
Saat dimana engkau berjanji kepada para pemuda dan para pemudi
Akan memberikan naungan kepada mereka di yaumil mashyar
yang membaktikan masa mudanya dalam keimanan kepadaMu, yang mencondongkan hatinya kepada mesjid-mesjid milikMu.

Saat Dewasa dan Menikah
Tuhanku,
Dengan segala kebaikan dan anugerah dariMu
Kau berikan aku pekerjaan dan penghidupan yang layak
Kau berikan cinta seorang manusia kepada diriku
Kau berikan istri sholehan dan anak-anak yang lucu
Kau berikan aku mahligai rumahtangga yang sakinah
Kau berikan aku bahtera keluarga yang mawaddah
Dan kau berikan aku kehidupan dua insan yang penuh rahmah

Tuhanku,
Dari semua nikmat yang engkau berikan kepadaku sejak aku lahir, balita, remaja, dewasa Hingga menikah
Aku tahu hanya sedikit sekali aku bersyukur kepadaMu,
Hanya sedikit sekali tasbih dan hamdalah yang terucap dari bibirku,
Hanya sedikit sekali tangan ini berada diatas untuk beribadah kepadaMu,
Sedang rahmatMu tak pernah putus kepadaku.

Tuhanku,
Dalam munajatku malam ini
Dalam muhasabahku kali ini
Tiada yang kupinta hanya mohon ampun kepadaMu
Dan mohon keridhaanMu atas diriku,

Tuhanku,
Engkaulah penguasa segala sesuatu, Engkaulah pemilik segala sesuatu
Tiadalah daun yang jatuh ditengah rimba tanpa sepengetahuan diriMu,
Tiadalah semut hitam yang berjalan ditengah malam diatas batu hitam yang tidak engkau ketahui.
Sampaikan salamku untuk junjungan kami, kekasihMu Rasulullah Muhammad SAW.
Sampaikan salawat kami untuknya, juga untuk sahabatnya dan untuk pengikutnya hingga akhirzaman nanti.
Sampaikan salam rindu kami, untuknya, sampaikan salam takzim kami kepadanya
Meski kami berjarak ribuan tahun dengan dirinya,
Tapi cinta kami tetap hangat untuknya
Beri kekuatan kepada kami untuk meniru suri tauladannya.

Tuhanku,
Dalam munajatku kali ini,
Engkau tahu,
Kami adalah selemah-lemahnya manusia
Kami adalah tempat berkumpulnya salah dan dosa
Jika bukan karena kasih sayangMu,
Tak mungkin kami bisa meminta
Meski dalam hati yang berbicara.

Tuhanku,
Ramadhan telah dekat,
Bantu kami menggapai barokah bulan suci Mu,
Bantu kami menggapai derajat yang tinggi dalam naungan saum-saum kami,
Dalam qiyamulail-qiyamulail yang akan kami lewati,
Jangan biarkan malam-malam kami terlewat begitu saja
Jangan biarkan siang-siang kami berlalu sia-sia
Tuhanku,
Kalau bukan pada Ramadhan kali ini kami berharap
Kami tak pernah tahu apakah akan berjumpa kembali dengan Ramadhan-Ramadan berikutnya

Tuhanku,
Meski lelah tubuh ini bersimpuh dihadapanMu,
Tapi tak lelah hati ini untuk memohon ampun kepadaMu,
Tak pernah lelah jiwa ini mengadu kepadaMu,
Meskipun airmata ini telah mengering sejak tadi
Tapi rasa harap ini tak pernah berhenti
Karena hati ini selalu naik dan turun
Karena iman ini tak pernah stabil
Siang ku ingat malam ku alpa lagi
Malam ku bermunajat siang ku bermaksiat lagi
Ya Tuhanku,
Kami butuh pertolonganMu yaa Zat yang membolak-balikan hati
Kami butuh bimbinganMu untuk meneruskan sisa-sisa usia kami
Agar jiwa-jiwa ini tak lagi gelisah
Agar hati ini tak lagi merasa resah
Saat ketetapanMu datang menjemput kami
Saat takdirmu menyapa umur kami

Lirih kami berucap dalam hening malam..
Dalam sepi yang menemani..
Dalam desir angin sayup-sayup terdengar..
Dalam gumam kecil yang membasahi bibir..

Subhanallah walhamdulillah walaailahailallah wallahuakbar
Subhanallah walhamdulillah walaailahailallah wallahuakbar
Subhanallah walhamdulillah walaailahailallah wallahuakbar

Sesungguhnya Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. QS 39:42

Kamis, 23 Juli 2009

Yang tersendiri (Saat jiwa terasa rapuh)

Manusia...
Dalam perjalanannya sebagai hamba
Tiada saat yang selalu bahagia
Tiada pula saat yang selalu menyenangkan hati
Begitu pula sebaliknya
Tiada saat yang selalu menderita
Tiada saat pula yang selalu merana

Ia datang seperti siang dan pergi seperti malam
Ia kadang di barat, kadang pula di timur
Kadang di utara dan kadang di selatan
Kadang mengulum senyum
Kadang menarik air mata
Kadang membuat tertawa
Kadang membelalakan mata

Ketika mentari bersinar terang dan bahagia datang,
Saat-saat senyum mengulum, hati merekah dan jiwa bahagia
Tiada beban yang menggayut lengan dan membungkukan badan
Dunia terasa lapang dan kegembiraan mencengkeram
Semua manusia pasti sanggup melewatinya,

Tapi bagaimana saat kegelapan datang mencengkeram
Saat jiwa rapuh hati merana dan dunia terasa sempit
Saat nikmat seolah-olah tercerabut dari dasar tubuh
Saat rahmat seolah-olah menghilang dan menjauh perlahan
Sanggupkan manusia melewati masa-masa itu

Ia yang dulu kekar dan perkasa
Kini lemah di pembaringan tak berdaya
Tubuh perkasa kini mulai renta dimakan usia
Teman-teman pergi satu persatu meninggalkan kenangan
Sanak family mulai menghilang dalam kesibukan
Anak wanita pun pergi dibawa orang yang mencintainya
Dan Anak lelakipun tersandera keluarganya,

Wahai jiwa,
Kemana engkau akan mengadu
Dimanakah kecongkakan masa muda mu,
Dimana kecantikan dan ketampanan parasmu
Saat kulit mengeriput dan wajahmu mengerut,
Apakah yang engkau banggakan kini?

Saat hati tersadar bahwa yang ada hanya kenangan,
Yang ada hanya penyesalan dan penyesalan
Masa-masa muda terlewati begitu saja
Amal-amal baik selalu tertunda dan tertunda
Seluruh hidup hanya habis ternoda, separuh nyawa hanya habis tersia-sia

Kini
Dipembaringan ini, jiwa merintih dan hati menangis
Air mata mengalir deras tak henti-henti
Mengingat dosa-dosa masa silam
Mengingat semua perbuatan terlanjur kelam

Saat jiwa rapuh dan hati menyendiri
Kepada siapa lagi diri ini memohon ampun
Selain kepada sang pemilik jiwa
Meminta rahmat dan kasih sayangNYA
Di rintihan-rintihan nafas yang tersenggal-senggal
Di untaian terakhir bulir hidup yang tersisa
Mudah-mudahan mendapat berkah dan sejahtera
Dengan taubatan nasuha...

Sabtu, 06 Juni 2009

Ketika Sepi Menghampiri

Dalam hidup..
Sepanjang jiwa-jiwa yang menyandangnya,
Penuh cerita suka dan duka,
Ada gelak dan tawa,
Ada tangis dan perih
Ada ramai dan gembira
Ada sepi dan sunyi..

Dalam hidup,
Ketika ia dimulai,
Manusia datang dalam kesendirian..
Lalu masa datang meramaikan..
Melupakan saat-saat itu.

Ketika hidup mulai berjalan,
Ketika ramai mulai merasuk dalam nadi,
Ketika kegembiraan mulai mengisi hari-hari,
Mulailah manusia melupakan hakikat,
Bahwa ia kelak akan sendiri lagi,

Kesendirian dalam sepi,
Kesendirian dalam alam takdir,
Dimana semua mahluk akan dihampiri,
Dimana segala kenikmatan akan diputus,
Dimana para sanak famili akan menangis,
Dimana para sahabat akan kehilangan..

Siapakah yang sudi menemani saat-saat sepi itu,
Selain amal-amal baik yang setia memberi kehangatan,
Selain amal-amal soleh yang menjadi teman seperjalanan..

Sahabat,
Jika engkau kini merasa gembira dalam keramaian,
Ingatlah bahwa suatu saat engkau akan merasa kesepian,
Dan jika engkau sekarang merasa kesepian,
Ingatlah Allah yang akan menemanimu dalam sepi mu itu,
Semoga sepimu dalam khusuk ibadahmu itu,
Meramaikan kesepianmu nanti yang sesungguhnya..

Sabtu, 14 Maret 2009

Dimata Tuhan, semua itu telah selesai.

Sahabat..
Mengapa kita begitu ambisi..
Mengejar cita-cita akan dunia ini..
Mengejar mimpi akan kekuasaan ini..
Mengejar ambisi akan harta benda ini..

Kawan..
Mengapa kita begitu bernafsu..
Memeluk dunia dalam genggaman..
Atas alibi untuk kesejahteraan..
Atas alasan untuk nafkah keluarga..
Atas jawaban untuk anak-anak tercinta..

Sahabat..
Bukankah semuanya telah kita miliki..
Bukankah semuanya telah berada dalam genggaman ini..
Kalaupun kita minta lebih, Allah pasti menambahi..
Tapi mengapa kita masih merasa tak pernah puas..

Kawan..
Jika semua yang telah kita miliki ini..
Jika semua yang ada dalam genggaman ini
Tak mampu membuat kita bahagia..
Mengapa kita masih terus mencari..
Bukankah dimata Tuhan, semua ini telah selesai. kawan?
Mengapa masih saja dunia ini yang kita cari..
Bukankah ridhaNya lebih berarti?

Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.(QS 63-9)

Minggu, 01 Maret 2009

Diantara dua kebaikan..

Ketika pilihan itu datang..
Kepada manusia-manusia pilihan..
Yang ada hanya dua kebaikan..
Dia bersabar atau bersyukur..

Ketika pilihan itu datang..
Kepada manusia-manusia pilihan..
Yang ada hanya dua kebaikan..
Hidup mulia atau mati syahid..

Ketika pilihan itu datang..
Kepada manusia-manusia pilihan..
Yang ada hanya dua kebaikan..
Surga atau bertemu Robbnya..

Ketika pilihan itu datang..
Kepada manusia-manusia pilihan..
Didalam musibah ia bersabar..
Adalah satu kebaikan..
Didalam kemakmuran, ia pun bersyukur..
Adalah juga satu kebaikan..

Ketika pilihan itu datang..
Kepada manusia-manusia pilihan..
Hidupnya mengabdi untuk Ummat
Adalah satu kemuliaan..
Dan matinya untuk kesyahidan..
Adalah juga satu kemenangan

Ketika pilihan itu datang..
Kepada manusia-manusia pilihan..
Tuhannya pun memberikan Surga kepadanya ..
Adalah sebuah kenikmatan
Tuhannya jua ingin berjumpa dengannya
Adalah Nikmat tiada tara..

Ketika pilihan itu datang..
Kepada manusia-manusia pilihan..
Tiada lagi sebuah pilihan..
Melainkan semua adalah kebaikan..

Senin, 23 Februari 2009

Meledek Tuhan

Teman..
Aku ingin kamu juga tahu
Ketika aku berdoa meminta kepadaNYA
Menghiba sujud memburai airmata
Beralibi dgn sejuta pengakuan dosa
Merasa sebagai manusia pendurja
Dengan tangis-tangis di sela-sela selaput mata...

Kusulam jari kurangkai pinta
Kutengadah telapak tangan kelangit
Mengharap rahmat turun dari sisinya
Berprasangka sebagai orang suci yang pantas diterima..

Tak lama hari kembali sendiri...
Sang pendoa diberi nikmat kembali
Nikmat sedikit yang membutakan mata...
Lalu kembali merangkul dosa...

Teman...
Aku ingin engkau bantu aku..
Bantu aku meminta maafku..
Aku malu kepadaNYA..
Yang sering meledek dalam do'a dan nyata ku...

The Convergensi Sin

Sahabat...
Sudah lebih dari tiga puluh lima tahun usia ini terjalani
Tak ada yang bisa dibanggakan
Tak ada pula yang bisa di sesalkan
Semua sudah berlalu
Tinggal kenangan yang harus dipertangungjawabkan

Sahabat...
Ketika engkau merasa hidup, pernahkah engkau merasa begitu berguna...
atau..
Ketika engkau merasa ajalmu sudah dekat, pernahkan engkau merasa hidupmu ini sia-sia...
Itulah yang aku alami dari separuh perjalanan hidup ini...
Aku merasa, semakin hari semakin berat beban dosa yang aku lakukan,
Semakin berat juga jalan-jalan yang harus aku lakukan..
Demi sepotong mimpi..
Sepotong mimpi yang membuat kegelisahan hidup membuncah nyaris pecahkan dada.
Mimpi tentang anak manusia yang ingin hidup bahagia...


Sahabat...
Dalam siang dan malam dan dalam gelap dan terang...
Aku merasa tak ada yang bertambah dalam timbangan kebajikan milikku..
Kalaupun ada selalu hilang tersapu angin gibah dan kedengkian hatiku..
Terhadap mereka yang bernasib beruntung...
Dikarunia Allah hidup sejahtera dan damai...

Sahabat..
Bukannya aku ingin menggugat takdir...
Tetapi hanya pertanyakan sampai kapan kah semua ini akan berakhir..
Ketika jiwa ini selalu saja gelisah meskipun dahi telah hitam oleh sujud-sujud malam..
Tatkala datang pertanyaan tentang takdir itu sendiri...
Apakah Ujian, cobaan ataupun azab yang datang..
Ataukah Tuhan mempunyai cara yang berbeda...
Bagaimana menyayangi umatnya...

Februari 2009