Manusia...
Dalam perjalanannya sebagai hamba
Tiada saat yang selalu bahagia
Tiada pula saat yang selalu menyenangkan hati
Begitu pula sebaliknya
Tiada saat yang selalu menderita
Tiada saat pula yang selalu merana
Ia datang seperti siang dan pergi seperti malam
Ia kadang di barat, kadang pula di timur
Kadang di utara dan kadang di selatan
Kadang mengulum senyum
Kadang menarik air mata
Kadang membuat tertawa
Kadang membelalakan mata
Ketika mentari bersinar terang dan bahagia datang,
Saat-saat senyum mengulum, hati merekah dan jiwa bahagia
Tiada beban yang menggayut lengan dan membungkukan badan
Dunia terasa lapang dan kegembiraan mencengkeram
Semua manusia pasti sanggup melewatinya,
Tapi bagaimana saat kegelapan datang mencengkeram
Saat jiwa rapuh hati merana dan dunia terasa sempit
Saat nikmat seolah-olah tercerabut dari dasar tubuh
Saat rahmat seolah-olah menghilang dan menjauh perlahan
Sanggupkan manusia melewati masa-masa itu
Ia yang dulu kekar dan perkasa
Kini lemah di pembaringan tak berdaya
Tubuh perkasa kini mulai renta dimakan usia
Teman-teman pergi satu persatu meninggalkan kenangan
Sanak family mulai menghilang dalam kesibukan
Anak wanita pun pergi dibawa orang yang mencintainya
Dan Anak lelakipun tersandera keluarganya,
Wahai jiwa,
Kemana engkau akan mengadu
Dimanakah kecongkakan masa muda mu,
Dimana kecantikan dan ketampanan parasmu
Saat kulit mengeriput dan wajahmu mengerut,
Apakah yang engkau banggakan kini?
Saat hati tersadar bahwa yang ada hanya kenangan,
Yang ada hanya penyesalan dan penyesalan
Masa-masa muda terlewati begitu saja
Amal-amal baik selalu tertunda dan tertunda
Seluruh hidup hanya habis ternoda, separuh nyawa hanya habis tersia-sia
Kini
Dipembaringan ini, jiwa merintih dan hati menangis
Air mata mengalir deras tak henti-henti
Mengingat dosa-dosa masa silam
Mengingat semua perbuatan terlanjur kelam
Saat jiwa rapuh dan hati menyendiri
Kepada siapa lagi diri ini memohon ampun
Selain kepada sang pemilik jiwa
Meminta rahmat dan kasih sayangNYA
Di rintihan-rintihan nafas yang tersenggal-senggal
Di untaian terakhir bulir hidup yang tersisa
Mudah-mudahan mendapat berkah dan sejahtera
Dengan taubatan nasuha...
Kamis, 23 Juli 2009
Yang tersendiri (Saat jiwa terasa rapuh)
Sabtu, 06 Juni 2009
Ketika Sepi Menghampiri
Dalam hidup..
Sepanjang jiwa-jiwa yang menyandangnya,
Penuh cerita suka dan duka,
Ada gelak dan tawa,
Ada tangis dan perih
Ada ramai dan gembira
Ada sepi dan sunyi..
Dalam hidup,
Ketika ia dimulai,
Manusia datang dalam kesendirian..
Lalu masa datang meramaikan..
Melupakan saat-saat itu.
Ketika hidup mulai berjalan,
Ketika ramai mulai merasuk dalam nadi,
Ketika kegembiraan mulai mengisi hari-hari,
Mulailah manusia melupakan hakikat,
Bahwa ia kelak akan sendiri lagi,
Kesendirian dalam sepi,
Kesendirian dalam alam takdir,
Dimana semua mahluk akan dihampiri,
Dimana segala kenikmatan akan diputus,
Dimana para sanak famili akan menangis,
Dimana para sahabat akan kehilangan..
Siapakah yang sudi menemani saat-saat sepi itu,
Selain amal-amal baik yang setia memberi kehangatan,
Selain amal-amal soleh yang menjadi teman seperjalanan..
Sahabat,
Jika engkau kini merasa gembira dalam keramaian,
Ingatlah bahwa suatu saat engkau akan merasa kesepian,
Dan jika engkau sekarang merasa kesepian,
Ingatlah Allah yang akan menemanimu dalam sepi mu itu,
Semoga sepimu dalam khusuk ibadahmu itu,
Meramaikan kesepianmu nanti yang sesungguhnya..
Sepanjang jiwa-jiwa yang menyandangnya,
Penuh cerita suka dan duka,
Ada gelak dan tawa,
Ada tangis dan perih
Ada ramai dan gembira
Ada sepi dan sunyi..
Dalam hidup,
Ketika ia dimulai,
Manusia datang dalam kesendirian..
Lalu masa datang meramaikan..
Melupakan saat-saat itu.
Ketika hidup mulai berjalan,
Ketika ramai mulai merasuk dalam nadi,
Ketika kegembiraan mulai mengisi hari-hari,
Mulailah manusia melupakan hakikat,
Bahwa ia kelak akan sendiri lagi,
Kesendirian dalam sepi,
Kesendirian dalam alam takdir,
Dimana semua mahluk akan dihampiri,
Dimana segala kenikmatan akan diputus,
Dimana para sanak famili akan menangis,
Dimana para sahabat akan kehilangan..
Siapakah yang sudi menemani saat-saat sepi itu,
Selain amal-amal baik yang setia memberi kehangatan,
Selain amal-amal soleh yang menjadi teman seperjalanan..
Sahabat,
Jika engkau kini merasa gembira dalam keramaian,
Ingatlah bahwa suatu saat engkau akan merasa kesepian,
Dan jika engkau sekarang merasa kesepian,
Ingatlah Allah yang akan menemanimu dalam sepi mu itu,
Semoga sepimu dalam khusuk ibadahmu itu,
Meramaikan kesepianmu nanti yang sesungguhnya..
Jumat, 05 Juni 2009
Tanggung Jawab Itu...
Ketika pikiran buntu dan hati tak menentu..
Saat hati bertanya dalam ragu..
Mau dibawa kemana perahu organisasi bisnis kecil ini?
Sedang disana ada banyak tangan-tangan kecil yang butuh perlindungan,
ada keluarga-keluarga kecil yg butuh sandaran..
dan ada istri-istri yg butuh kedamaian...
Ya Tuhan kami, beri kami kekuatan menjaga kapal ini agar tidak hancur di hempas gelombang..
Jika maksiat-maksiat kami membuat Engkau menahan rizki kami, maka ampunilah dosa kami,
dan jika tambahan rizki darimu tidak membuat kami lebih taat kepada Mu, maka maafkanlah kesalahan kami.
Ya Rabbi, sungguh bukan satu kemauan kami untuk memegang amanah ini,
Tapi karena sayang kami kepada mereka yang menyebabkan kami mau menerima tanggung jawab ini,
Jika kami tidak bisa mengemudikan biduk ini ke jalur yang benar maka bantu kami meluruskannya...
Jika kami tak bisa memenuhi harapan mereka, maka Engkaulah maha pemberi segala sesuatu...
Ya Allah yang maha pemberi kekuatan..
Beri kami kekuatan untuk menegakkan layar bahtera ini..
Beri kami kekuatan untuk mengais-ngais rezeki yang halal melalui perahu ini..
Beri kami kekuatan hati untuk melihat setiap kesempatan itu..
Beri kami keyakinan untuk menenangkan hati anak-anak dan istri kami..
Satukan keluarga-keluarga yang menyertai perjalanan ini..
Dengan segala rahmat dan karuniamu..
Ya Tuhan kami, jika memang kami tak layak mendapatkan anugrahMu karena dosa-dosa kami,
Sungguh anak-anak kami yang membuat kami tak lagi malu meminta KepadaMu,
Sungguh istri-istri kami yang membuat kami rela menghinakan diri dihadapanMu,
Kalau bukan karena mereka, sungguh jiwa-jiwa ini menjadi kerdil tak bernyawa,
Sungguh jiwa-jiwa ini menjadi pecundang dihadapan MU.
Sungguh hati-hati ini akan hancur berkeping-keping..
Tapi karena Rahmat dan kasih sayangMU..
Sungguh Jiwa ini kembali tegar selaksa karang..
Kembali damai selaksa malam..
Amin
Saat hati bertanya dalam ragu..
Mau dibawa kemana perahu organisasi bisnis kecil ini?
Sedang disana ada banyak tangan-tangan kecil yang butuh perlindungan,
ada keluarga-keluarga kecil yg butuh sandaran..
dan ada istri-istri yg butuh kedamaian...
Ya Tuhan kami, beri kami kekuatan menjaga kapal ini agar tidak hancur di hempas gelombang..
Jika maksiat-maksiat kami membuat Engkau menahan rizki kami, maka ampunilah dosa kami,
dan jika tambahan rizki darimu tidak membuat kami lebih taat kepada Mu, maka maafkanlah kesalahan kami.
Ya Rabbi, sungguh bukan satu kemauan kami untuk memegang amanah ini,
Tapi karena sayang kami kepada mereka yang menyebabkan kami mau menerima tanggung jawab ini,
Jika kami tidak bisa mengemudikan biduk ini ke jalur yang benar maka bantu kami meluruskannya...
Jika kami tak bisa memenuhi harapan mereka, maka Engkaulah maha pemberi segala sesuatu...
Ya Allah yang maha pemberi kekuatan..
Beri kami kekuatan untuk menegakkan layar bahtera ini..
Beri kami kekuatan untuk mengais-ngais rezeki yang halal melalui perahu ini..
Beri kami kekuatan hati untuk melihat setiap kesempatan itu..
Beri kami keyakinan untuk menenangkan hati anak-anak dan istri kami..
Satukan keluarga-keluarga yang menyertai perjalanan ini..
Dengan segala rahmat dan karuniamu..
Ya Tuhan kami, jika memang kami tak layak mendapatkan anugrahMu karena dosa-dosa kami,
Sungguh anak-anak kami yang membuat kami tak lagi malu meminta KepadaMu,
Sungguh istri-istri kami yang membuat kami rela menghinakan diri dihadapanMu,
Kalau bukan karena mereka, sungguh jiwa-jiwa ini menjadi kerdil tak bernyawa,
Sungguh jiwa-jiwa ini menjadi pecundang dihadapan MU.
Sungguh hati-hati ini akan hancur berkeping-keping..
Tapi karena Rahmat dan kasih sayangMU..
Sungguh Jiwa ini kembali tegar selaksa karang..
Kembali damai selaksa malam..
Amin
Rabu, 03 Juni 2009
Pra-Syukur ( Bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk bersyukur)
Syukur, sebuah ungkapan rasa terimakasih kepada Sang Pencipta atas nikmat yang telah diberikan, atas sukses yang dicapai dan atas kemenangan yg digapai.
Syukur, sebuah ritual untuk membetulkan kembali posisi relasional antara hamba dan Pencipta, antara mahluk dan Khaliq.
Posisi yang menegaskan bahwa seorang hamba tidaklah berarti apa-apa tanpa kuasa sang Pencipta,seorang mahluk tidaklah berdaya tanpa rahmat sang Khaliq.
Syukur, sebagai suatu pembuktian dari seorang hamba yang tahu diri dan mengerti posisi.
Sebagai lambang kerendahan hati, ketawadhu’an jiwa dan kezuhudan diri.
Syukur, membuat manusia selalu percaya diri bahwa apapun yang dilakukan, bagaimanapun kondisinya dan seberat apapun nilainya tetap akan diberikan poin oleh Allah SWT.
Syukur melahirkan jiwa-jiwa yg qona’ah, membentuk spirit ketaqwaan dan melahirkan batin yang bening.
Dengan syukur terjalin komunikasi yang harmonis antara ruh dan jasad, antara jiwa dan fisik serta antara jasmani dan ruhani.
Syukur adalah perbuatan mulia yang dilakukan oleh hamba-hamba yg salih, kaum-kaum penghuni firdaus, dan para penduduk arsy.
Dan dengan syukur pula Allah membalas kembali berlipat-lipat amalan para hambanya.
Sahabat,
Ada satu pertanyaan yang menggelitik hati saya, pada saat kapankah syukur itu paling tepat kita panjatkan.
Sering diantara kita semua syukur itu kita lakukan ketika mendapat kegembiraan, kesenangan dan hal-hal lain yang menggembirakan hati.
Saat lulus ujian, saat pernikahan, saat anak lahir, saat diterima kerja, saat kenaikan gaji, saat kenaikan jabatan, saat mendapat proyek dan lain sebagainya.
Betul dan saya sangat setuju ketika semua kegembiraan itu kita ukir dengan cara bersyukur.
Tapi saya lebih sangat setuju ketika seorang hamba melakukan syukur sebelum kegembiraan itu datang, contoh : bersyukur masih diberi kesempatan untuk ikut ujian meski belum tentu lulus, bersyukur masih diberi kesempatan untuk menikah meskipun belum tentu lamarannya diterima, bersyukur masih diberi kesempatan untuk hamil, meskipun belum tentu lahir dengan selamat, bersyukur masih diberi kesempatan untuk ujian test kerja, meskipun belum tentu diterima, bersyukur masih diberi kesempatan untuk test kenaikan gaji/pangkat meskipun belum tentu lulus, dan bersyukur masih diberi kesempatan ikut tender, meskipun belum tentu menang.
Pra-Syukur semacam ini lebih baik dan lebih menguatkan jiwa saat hasil yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan dan lebih melipatgandakan rasa syukur, jika sesuai dengan hasil yg diharapkan.
Pra-syukur semacam ini membuat seorang hamba lebih nyaman dalam menghadapi kehidupan, sekeras apapun itu. Disemua kejadian baik senang atau susah ia tetap bersyukur. Jika susah dia akan bersabar plus bersyukur, jika senang syukurnya akan berlipat-lipat. Satu syukur saja Allah akan melipat gandakan, bagaimana dengan syukur kuadrat? Wow...tentu langit dan bumi semuanya akan diberikan oleh Allah SWT kepada kita.
Jadi bagaimana kalau mulai sekarang kita BERPRASYUKUR, minimal kita bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk bersyukur.
Syukur, sebuah ritual untuk membetulkan kembali posisi relasional antara hamba dan Pencipta, antara mahluk dan Khaliq.
Posisi yang menegaskan bahwa seorang hamba tidaklah berarti apa-apa tanpa kuasa sang Pencipta,seorang mahluk tidaklah berdaya tanpa rahmat sang Khaliq.
Syukur, sebagai suatu pembuktian dari seorang hamba yang tahu diri dan mengerti posisi.
Sebagai lambang kerendahan hati, ketawadhu’an jiwa dan kezuhudan diri.
Syukur, membuat manusia selalu percaya diri bahwa apapun yang dilakukan, bagaimanapun kondisinya dan seberat apapun nilainya tetap akan diberikan poin oleh Allah SWT.
Syukur melahirkan jiwa-jiwa yg qona’ah, membentuk spirit ketaqwaan dan melahirkan batin yang bening.
Dengan syukur terjalin komunikasi yang harmonis antara ruh dan jasad, antara jiwa dan fisik serta antara jasmani dan ruhani.
Syukur adalah perbuatan mulia yang dilakukan oleh hamba-hamba yg salih, kaum-kaum penghuni firdaus, dan para penduduk arsy.
Dan dengan syukur pula Allah membalas kembali berlipat-lipat amalan para hambanya.
Sahabat,
Ada satu pertanyaan yang menggelitik hati saya, pada saat kapankah syukur itu paling tepat kita panjatkan.
Sering diantara kita semua syukur itu kita lakukan ketika mendapat kegembiraan, kesenangan dan hal-hal lain yang menggembirakan hati.
Saat lulus ujian, saat pernikahan, saat anak lahir, saat diterima kerja, saat kenaikan gaji, saat kenaikan jabatan, saat mendapat proyek dan lain sebagainya.
Betul dan saya sangat setuju ketika semua kegembiraan itu kita ukir dengan cara bersyukur.
Tapi saya lebih sangat setuju ketika seorang hamba melakukan syukur sebelum kegembiraan itu datang, contoh : bersyukur masih diberi kesempatan untuk ikut ujian meski belum tentu lulus, bersyukur masih diberi kesempatan untuk menikah meskipun belum tentu lamarannya diterima, bersyukur masih diberi kesempatan untuk hamil, meskipun belum tentu lahir dengan selamat, bersyukur masih diberi kesempatan untuk ujian test kerja, meskipun belum tentu diterima, bersyukur masih diberi kesempatan untuk test kenaikan gaji/pangkat meskipun belum tentu lulus, dan bersyukur masih diberi kesempatan ikut tender, meskipun belum tentu menang.
Pra-Syukur semacam ini lebih baik dan lebih menguatkan jiwa saat hasil yang diharapkan tidak sesuai dengan kenyataan dan lebih melipatgandakan rasa syukur, jika sesuai dengan hasil yg diharapkan.
Pra-syukur semacam ini membuat seorang hamba lebih nyaman dalam menghadapi kehidupan, sekeras apapun itu. Disemua kejadian baik senang atau susah ia tetap bersyukur. Jika susah dia akan bersabar plus bersyukur, jika senang syukurnya akan berlipat-lipat. Satu syukur saja Allah akan melipat gandakan, bagaimana dengan syukur kuadrat? Wow...tentu langit dan bumi semuanya akan diberikan oleh Allah SWT kepada kita.
Jadi bagaimana kalau mulai sekarang kita BERPRASYUKUR, minimal kita bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk bersyukur.
Kamis, 28 Mei 2009
Belahan Jiwa (I LOVE MY FAMILY)
Sepuluh Tahun Lalu..
Saat ku bermunajat kepada Mu, tentang sebuah keinginan,
Keinginan yg datang dari hati kecil, tentang sebuah rencana besar..
Yang membuat dada para pemuda bergelora, yg membuat jiwa para pemudi bergetar..
Sebuah keinginan untuk membuat keputusan, keputusan mencari pendamping hidup.
Saat hati mantap dan jiwa merasa kuat, kususun jemari kurangkai doa, semoga diberikan belahan jiwa yang mampu mendamaikan keributan di hati ini.
Yang mampu meluruskan pandangan, yang mampu menegakkan dagu, yg mampu menuntun jemari saat mata terasa gelap, yang mampu memberi teduh saat panas emosi membakar sanubari, yang mampu memberikan perlindungan saat jiwa melemah karena angkara murka.
Yang mampu menguatkan visi serta mampu meluaskan pandangan, yang mampu menyadarkan diri akan rasa syukur atas hidup ini, Serta yang mampu mengingatkan akan kewajiban sebagai hamba.
Sayangku...
TuhanKu pun mengirimkan engkau sebagai jawaban doaku..
Doa yg tak henti-hentinya aku panjatkan dalam malam-malam penuh tangis..
Tangis yg selalu datang ketika teringat akan harapan, kapan masa itu akan tiba..
Dan dalam siang-siang saat diri terjaga, mengais-ngais harap di rimbunan asa..
Sayangku...
Engkau adalah anugrah terbesar yang Allah berikan kepadaku,
Kesederhanaan sifatmu mampu melunakan kesombonganku,
Keluguan hatimu meredamkan emosi jiwaku,
Pun tak ada dunia yg kau pinta, kecuali menjaga keutuhan keluarga ini sampai akhir hayat bahkan sampai di surga kembali.
Saat anak-anak lahir..
Genap sudah nikmat dari Tuhanku..
Tubuh yang lemah dan pikiran yg lelah, kini hilang semua tersaput senyum manis sang bocah..
Semangat yang melemah kembali bergelora saat mengingat tugas dan kewajiban menjaga amanah..
Menjaga jundi-jundi kecil melalui masa-masanya, sampai ia mengenal siapa dirinya, siapa Tuhannya.
Menjaga hidup agar tetap berjalan pada relnya, menjaga mimpi agar mencapai cita-citanya, menjaga harapan agar sampai ketujuannya.
Ketika badai dan riak-riak kecil datang menghampiri perahu keluarga ini..
Kitapun bersama-sama menyatukan tekad, jangan sampai bahtera ini tenggelam menghanyutkan kita dan menenggelamkan anak-anak yang tak mengerti apa-apa..
Kitapun menyatukan niat untuk kembali kepada komitmen awal..
Bahwa pernikahan ini adalah sebagai sarana, bukan sebagai tujuan..
Sarana untuk mengabdikan diri kepada sang Pencipta, sebagai bekal menuju keharibaannya..
Sayangku, Doakan aku agar kuat memegang tali kemudi ini..
Anak-anakku, doakan ayah agar mampu menjaga kalian sampai tiba ditempat tujuan..
Tangan-tangan kecilmu mampu membuat ayah tetap terjaga,
Mimpi-mimpi kamu mampu membuat ayah tetap terpesona.
Bantu kuatkan pijakan kaki ayah agar tetap pada tempatnya..
Bantu perahu ini agar berlayar dengan selamat..
Tuhanku, hanya syukur yg bisa hamba ucapkan pada Mu.
Meski Engkau tahu hamba kadang tak patuh kepada Mu,
Meski maksiat tetap menghampiri hari-hari kami, tapi kasih sayangMu tetap mengalir dalam diri kami.
Tuhanku, jadikanlah diri ini hamba-hamba yang selalu bersyukur kepada Mu.
Jadikanlah keluarga ini keluarga yang patuh kepadaMU,
Seperti keluarga Imran, seperti keluarga Ibrahim dan seperti keluarga junjungan kami Nabi Muhammad SAW..
Amin..
I LOVE MY FAMILY
Saat ku bermunajat kepada Mu, tentang sebuah keinginan,
Keinginan yg datang dari hati kecil, tentang sebuah rencana besar..
Yang membuat dada para pemuda bergelora, yg membuat jiwa para pemudi bergetar..
Sebuah keinginan untuk membuat keputusan, keputusan mencari pendamping hidup.
Saat hati mantap dan jiwa merasa kuat, kususun jemari kurangkai doa, semoga diberikan belahan jiwa yang mampu mendamaikan keributan di hati ini.
Yang mampu meluruskan pandangan, yang mampu menegakkan dagu, yg mampu menuntun jemari saat mata terasa gelap, yang mampu memberi teduh saat panas emosi membakar sanubari, yang mampu memberikan perlindungan saat jiwa melemah karena angkara murka.
Yang mampu menguatkan visi serta mampu meluaskan pandangan, yang mampu menyadarkan diri akan rasa syukur atas hidup ini, Serta yang mampu mengingatkan akan kewajiban sebagai hamba.
Sayangku...
TuhanKu pun mengirimkan engkau sebagai jawaban doaku..
Doa yg tak henti-hentinya aku panjatkan dalam malam-malam penuh tangis..
Tangis yg selalu datang ketika teringat akan harapan, kapan masa itu akan tiba..
Dan dalam siang-siang saat diri terjaga, mengais-ngais harap di rimbunan asa..
Sayangku...
Engkau adalah anugrah terbesar yang Allah berikan kepadaku,
Kesederhanaan sifatmu mampu melunakan kesombonganku,
Keluguan hatimu meredamkan emosi jiwaku,
Pun tak ada dunia yg kau pinta, kecuali menjaga keutuhan keluarga ini sampai akhir hayat bahkan sampai di surga kembali.
Saat anak-anak lahir..
Genap sudah nikmat dari Tuhanku..
Tubuh yang lemah dan pikiran yg lelah, kini hilang semua tersaput senyum manis sang bocah..
Semangat yang melemah kembali bergelora saat mengingat tugas dan kewajiban menjaga amanah..
Menjaga jundi-jundi kecil melalui masa-masanya, sampai ia mengenal siapa dirinya, siapa Tuhannya.
Menjaga hidup agar tetap berjalan pada relnya, menjaga mimpi agar mencapai cita-citanya, menjaga harapan agar sampai ketujuannya.
Ketika badai dan riak-riak kecil datang menghampiri perahu keluarga ini..
Kitapun bersama-sama menyatukan tekad, jangan sampai bahtera ini tenggelam menghanyutkan kita dan menenggelamkan anak-anak yang tak mengerti apa-apa..
Kitapun menyatukan niat untuk kembali kepada komitmen awal..
Bahwa pernikahan ini adalah sebagai sarana, bukan sebagai tujuan..
Sarana untuk mengabdikan diri kepada sang Pencipta, sebagai bekal menuju keharibaannya..
Sayangku, Doakan aku agar kuat memegang tali kemudi ini..
Anak-anakku, doakan ayah agar mampu menjaga kalian sampai tiba ditempat tujuan..
Tangan-tangan kecilmu mampu membuat ayah tetap terjaga,
Mimpi-mimpi kamu mampu membuat ayah tetap terpesona.
Bantu kuatkan pijakan kaki ayah agar tetap pada tempatnya..
Bantu perahu ini agar berlayar dengan selamat..
Tuhanku, hanya syukur yg bisa hamba ucapkan pada Mu.
Meski Engkau tahu hamba kadang tak patuh kepada Mu,
Meski maksiat tetap menghampiri hari-hari kami, tapi kasih sayangMu tetap mengalir dalam diri kami.
Tuhanku, jadikanlah diri ini hamba-hamba yang selalu bersyukur kepada Mu.
Jadikanlah keluarga ini keluarga yang patuh kepadaMU,
Seperti keluarga Imran, seperti keluarga Ibrahim dan seperti keluarga junjungan kami Nabi Muhammad SAW..
Amin..
I LOVE MY FAMILY
Minggu, 24 Mei 2009
Mencoba Mengerti Arti Persahabatan
Sahabat,
Maafkan aku yang sedikit memaksamu untuk ikut dalam situs pertemanan ini,
Aku tak bermaksud membuatmu gundah, apalagi sampai membuatmu gulana,
Aku hanya ingin engkau melupakan sejenak beban-beban yang ada dipundakmu.
Aku hanya ingin engkau mau berbagi dengan kami, atas apapun dukamu itu.
Sahabat,
Disana, ada keceriaan-keceriaan yang mungkin dapat meringankan penderitaan mu,
Disana ada simpul-simpul tali silaturahmi yang dapat kita rekat kembali,
Disana ada pula hikmah-hikmah yang dapat diambil manfaatnya untuk kita,
Bukankah bersilaturahim dapat memanjangkan umur dan membuka pintu-pintu rezeki?
Sahabat,
Jika engkau lebih menyukai memendam semua nestapa itu,
Atau jika memang engkau belum siap untuk berbagi dengan kami,
Tak mengapa engkau diam saja di situ, atau pergi meninggalkan dunia maya ini.
Di dunia nyata pun ada doa kami untukmu, dan sayang kami untukmu.
Sahabat
Rentang waktu sekian tahun yang memisahkan kita,
Mungkin membuat aku tak mampu mengenalmu kembali seperti dulu,
Atau mungkin mampu membuatmu berubah bagai orang lain bagi diriku,
Mungkin lain waktu ketika jiwa mu sudah mampu menggenggam kekuatan kembali.
Atau ketika kita sudah menemukan bahasa kalbu yang mampu mencairkan kebekuan selama ini.
Kita dapat bercengkrama kembali tentang apa saja yg engkau mau.
Semoga niat yang tulus dapat menunjukan jalan bagi kita,
Tentang arti persahabatan sesungguhnya...
Maafkan aku yang sedikit memaksamu untuk ikut dalam situs pertemanan ini,
Aku tak bermaksud membuatmu gundah, apalagi sampai membuatmu gulana,
Aku hanya ingin engkau melupakan sejenak beban-beban yang ada dipundakmu.
Aku hanya ingin engkau mau berbagi dengan kami, atas apapun dukamu itu.
Sahabat,
Disana, ada keceriaan-keceriaan yang mungkin dapat meringankan penderitaan mu,
Disana ada simpul-simpul tali silaturahmi yang dapat kita rekat kembali,
Disana ada pula hikmah-hikmah yang dapat diambil manfaatnya untuk kita,
Bukankah bersilaturahim dapat memanjangkan umur dan membuka pintu-pintu rezeki?
Sahabat,
Jika engkau lebih menyukai memendam semua nestapa itu,
Atau jika memang engkau belum siap untuk berbagi dengan kami,
Tak mengapa engkau diam saja di situ, atau pergi meninggalkan dunia maya ini.
Di dunia nyata pun ada doa kami untukmu, dan sayang kami untukmu.
Sahabat
Rentang waktu sekian tahun yang memisahkan kita,
Mungkin membuat aku tak mampu mengenalmu kembali seperti dulu,
Atau mungkin mampu membuatmu berubah bagai orang lain bagi diriku,
Mungkin lain waktu ketika jiwa mu sudah mampu menggenggam kekuatan kembali.
Atau ketika kita sudah menemukan bahasa kalbu yang mampu mencairkan kebekuan selama ini.
Kita dapat bercengkrama kembali tentang apa saja yg engkau mau.
Semoga niat yang tulus dapat menunjukan jalan bagi kita,
Tentang arti persahabatan sesungguhnya...
Jumat, 08 Mei 2009
Cukup Nafsu Lawamah, Jangan Nafsu Amarah...
Meretas ingatan mencari jawaban...
Saat emosi sulit sekali ditaklukan..
Menjadikan jiwa terlihat kerdil..
Saat yang tak bersalah menjadi korban kebengisan...
Tuhanku, sebagaimana Adam melupakan wasiatmu..
Dan Iblispun menentang titah Mu..
Tiada yang mampu meringkus hawa nafsu itu..
Kecuali ikhlas malaikat Mu dititiskan ke jiwa-jiwa kami..
Sulit menahan walau sedetik saja..
Saat angkara murka membutakan mata..
Saat para mahluk durjana mengipasi hati..
Jadilah penyesalan menghantui diri..
Bukan hendak melempar kesalahan..
Saat belenggu amarah terlalu keras mencekik leher..
Saat wajah sendu tak lagi mampu meneduhkan mata..
Saat rintihan-rintihan ketakutan tak lagi bisa mendamaikan..
Yang ada hanya mental-mental para pecundang..
Yang tak bisa redam gelombang kemarahan..
Tuhanku, berilah kami sedikit air dari telaga kautsar milik rasulMu..
Untuk mensucikan hati kotor kami..
Sedikit saja tak mengapa,
Untuk membasuh jelaga-jelaga yang menutupi karat jiwa kami..
Agar diri ini tidak lagi menjadi sumber malapetaka..
Bagi jiwa-jiwa yang ingin terlindungi..
Saat emosi sulit sekali ditaklukan..
Menjadikan jiwa terlihat kerdil..
Saat yang tak bersalah menjadi korban kebengisan...
Tuhanku, sebagaimana Adam melupakan wasiatmu..
Dan Iblispun menentang titah Mu..
Tiada yang mampu meringkus hawa nafsu itu..
Kecuali ikhlas malaikat Mu dititiskan ke jiwa-jiwa kami..
Sulit menahan walau sedetik saja..
Saat angkara murka membutakan mata..
Saat para mahluk durjana mengipasi hati..
Jadilah penyesalan menghantui diri..
Bukan hendak melempar kesalahan..
Saat belenggu amarah terlalu keras mencekik leher..
Saat wajah sendu tak lagi mampu meneduhkan mata..
Saat rintihan-rintihan ketakutan tak lagi bisa mendamaikan..
Yang ada hanya mental-mental para pecundang..
Yang tak bisa redam gelombang kemarahan..
Tuhanku, berilah kami sedikit air dari telaga kautsar milik rasulMu..
Untuk mensucikan hati kotor kami..
Sedikit saja tak mengapa,
Untuk membasuh jelaga-jelaga yang menutupi karat jiwa kami..
Agar diri ini tidak lagi menjadi sumber malapetaka..
Bagi jiwa-jiwa yang ingin terlindungi..
Rabu, 08 April 2009
Mayatku Masih Disini
aku cuma rakyat biasa
tapi aku adalah tangan penguasa
--aku tak punya cita-cita
--tapi aku punya pemimpin yg pemimpi
aku tak punya harta
tapi aku punya suntikan dana
--aku tak bisa bergerak
--tapi aku punya gerakan massa
aku masih hidup
tapi aku terlihat mati
--tubuhku gemuk
--tapi fikiran ku kurus
dogmaku tetap hidup
tapi anak buahku mati
--jiwaku telah pergi
--tapi mayatku masih disini
tapi aku adalah tangan penguasa
--aku tak punya cita-cita
--tapi aku punya pemimpin yg pemimpi
aku tak punya harta
tapi aku punya suntikan dana
--aku tak bisa bergerak
--tapi aku punya gerakan massa
aku masih hidup
tapi aku terlihat mati
--tubuhku gemuk
--tapi fikiran ku kurus
dogmaku tetap hidup
tapi anak buahku mati
--jiwaku telah pergi
--tapi mayatku masih disini
Rabu, 01 April 2009
Sang Penenang Jiwa (Prosa)
Suatu saat aku menyempatkan berdialog dengan Anak-anakku, Si sulung 8 thn kelas II SD dan yang nomor dua kelas TKB.
Dialog tentang berbagai macam hal tentang kehidupan menurut pandangan mereka, menurut versi mereka.
Sejauh mana mereka bisa memahami permasalahan yang dihadapi dunia orang dewasa dan dunia mereka sendiri.
Ketika membahas tentang harta dan bagaimana pentingnya harta bagi kelangsungan hidup manusia.
Akupun menjelaskan sembari meminta maaf bahwa aku tidak bisa memberikan harta yang cukup bahkan terbilang pas-pasan untuk mereka, alhamdulilah mereka bisa memahami dan mengerti, bahkan lebih meresap kedalam kalbu, hal itu ku ketahui ketika suatu hari aku mendengar percakapan anakku dengan temannya tentang posisi orang kaya dan orang miskin dan bagaimana posisi keluarga kami. Anakku menjawab dengan jawaban yang membuatku bangga. "Kami bukan orang kaya, dan kami juga bukan orang miskin. Keluarga kami adalah keluarga sederhana, tapi dengan begitu kami pernah merasakan sebagai orang kaya, kami pernah berlibur dan menginap di villa, pernah pulang kampung bawa mobil tapi kami juga pernah kekurangan uang".
Ketika aku berbicara tentang harta warisan dan aku mengatakan seandainya tak bisa mewariskan harta yang cukup kecuali hanya mewariskan ilmu kepada mereka,
Anakku yang sulung menjawab "Abi, kami tidak butuh harta dari Abi, yang kami butuhkan hanya kasih dan sayang dari Abi dan Ummi"
Subhanallah, jawaban yang mengetarkan jiwa, yang membuatku terharu dan hampir menangis. Ku peluk keduanya sambil ku usap-usap kepalanya. "
Bagus Nak, memang seharusnya kamu paham tentang itu".
Jawaban kamu menenangkan jiwa kami.
Dialog tentang berbagai macam hal tentang kehidupan menurut pandangan mereka, menurut versi mereka.
Sejauh mana mereka bisa memahami permasalahan yang dihadapi dunia orang dewasa dan dunia mereka sendiri.
Ketika membahas tentang harta dan bagaimana pentingnya harta bagi kelangsungan hidup manusia.
Akupun menjelaskan sembari meminta maaf bahwa aku tidak bisa memberikan harta yang cukup bahkan terbilang pas-pasan untuk mereka, alhamdulilah mereka bisa memahami dan mengerti, bahkan lebih meresap kedalam kalbu, hal itu ku ketahui ketika suatu hari aku mendengar percakapan anakku dengan temannya tentang posisi orang kaya dan orang miskin dan bagaimana posisi keluarga kami. Anakku menjawab dengan jawaban yang membuatku bangga. "Kami bukan orang kaya, dan kami juga bukan orang miskin. Keluarga kami adalah keluarga sederhana, tapi dengan begitu kami pernah merasakan sebagai orang kaya, kami pernah berlibur dan menginap di villa, pernah pulang kampung bawa mobil tapi kami juga pernah kekurangan uang".
Ketika aku berbicara tentang harta warisan dan aku mengatakan seandainya tak bisa mewariskan harta yang cukup kecuali hanya mewariskan ilmu kepada mereka,
Anakku yang sulung menjawab "Abi, kami tidak butuh harta dari Abi, yang kami butuhkan hanya kasih dan sayang dari Abi dan Ummi"
Subhanallah, jawaban yang mengetarkan jiwa, yang membuatku terharu dan hampir menangis. Ku peluk keduanya sambil ku usap-usap kepalanya. "
Bagus Nak, memang seharusnya kamu paham tentang itu".
Jawaban kamu menenangkan jiwa kami.
Senin, 23 Maret 2009
CINTA DAN BENCI
Allah mencintai orang kaya yang dermawan
Tapi, Allah lebih mencintai orang miskin yang dermawan
Allah membenci orang kaya yang sombong
Tapi, Allah lebih membenci kepada orang miskin yang sombong
Allah mencintai orang tua yang bertaubat
Tapi, Allah lebih mencintai anak muda yang bertaubat
Allah membenci pemuda yang bermaksiat
Tapi, Allah lebih membenci kepada orangtua yang masih bermaksiat
Allah mencintai masyarakat yang adil
Tapi, Allah lebih mencintai pemimpin yang adil
Allah membenci pemimpin yang zalim
Tapi, Allah lebih membenci kepada masyarakat yang zalim
Allah mencintai orang-orang yang sabar
Tapi, Allah lebih mencintai orang teraniaya yang sabar
Allah membenci orang pemarah
Tapi Allah lebih membenci orang yang tak pernah marah karena akidahnya dilecehkan..
Allah mencintai orang-orang baik
Tapi Allah lebih mencintai generasi-generasi terbaik.
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS 3:110)
Tapi, Allah lebih mencintai orang miskin yang dermawan
Allah membenci orang kaya yang sombong
Tapi, Allah lebih membenci kepada orang miskin yang sombong
Allah mencintai orang tua yang bertaubat
Tapi, Allah lebih mencintai anak muda yang bertaubat
Allah membenci pemuda yang bermaksiat
Tapi, Allah lebih membenci kepada orangtua yang masih bermaksiat
Allah mencintai masyarakat yang adil
Tapi, Allah lebih mencintai pemimpin yang adil
Allah membenci pemimpin yang zalim
Tapi, Allah lebih membenci kepada masyarakat yang zalim
Allah mencintai orang-orang yang sabar
Tapi, Allah lebih mencintai orang teraniaya yang sabar
Allah membenci orang pemarah
Tapi Allah lebih membenci orang yang tak pernah marah karena akidahnya dilecehkan..
Allah mencintai orang-orang baik
Tapi Allah lebih mencintai generasi-generasi terbaik.
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. (QS 3:110)
Langganan:
Postingan (Atom)