Semilir angin lembut bertiup
Merambat syahdu dalam pelukan
Merawat teduh dalam kenikmatan
Melupakan hamba akan ketaatan…
Saat khawatir hadir menelusup
Saat was-was datang menyergap
Saat kebingungan melanda jiwa-jiwa yg melupakan
Melupakan hidup yang mesti berganti rupa..
Sahabat…
Hanya hati yang darinya dihilangkan rasa kekhawatiran
Hanya hati orang-orang yang dipenuhi ketundukan
Hanya hati yang dipenuhi kepatuhan dan ketergantungan pada Allah
Yang tak pernah takut akan kekhawatiran
Yang tak pernah takut akan was-was itu,
Jika pun ia terpaksa khawatir
Jika pun ia terpaksa was-was
Kekhawatiran dan was-wasnya pun muncul
Hanya karena menanti apa yang akan Allah putuskan untuknya
Bukan khawatir karena takut resiko,
Bukan karena takut hasil yang tak sesuai,
Bukan karena nasib yang tak berfihak
Bukan karena manusia yang tak mendukung
Bukan karena hidup yang kurang beruntung
Bukan karena dunia yang tak lagi hadir disisi..
Sahabat..
Tahukah engkau hati siapakah itu..
Dialah hati para kekasih Allah
Dialah hati para waliyullah
Yang jiwa dan raganya tak pernah menjadi milik dirinya
Yang hidup dan matinya tak pernah dikuasai dunia
Sahabat..
Dimanakah hatimu kau letakkan..?
Jumat, 26 Maret 2010
Minggu, 07 Maret 2010
Cinta yang tak pernah memudar
Ku rebahkan tubuh mungilnya perlahan pada tempat tidur itu
Ku sangga kepalanya dengan bantal
Ku kecup dahi kecilnya
Ku usap rambutnya dengan untaian doa..
Nak,
Aku tahu engkau pernah membuat kami marah
Engkau pernah memecahkan gelas kesayangan ibu
Engkau pernah merobek kertas kerja milik ayah
Bahkan engkau pernah nyaris meruntuhkan rumah ini,
Tapi kemarahan kami bukan karena kami benci kamu,
Kemarahan kami karena kami kurang sabar dalam menghadapimu...
Nak,
Senakal apapun kamu,
Sebandel apapun kamu,
Semua itu adalah masa yang harus kita lalui seperti masa yg selalu berulang dalam ikatan zaman,
Semua kenakalan dan kebandelan kamu,
Justru mengingatkan kami pada almarhum kakek dan nenekmu,
Betapa mereka ternyata lebih sabar menghadapi ayahmu,
Dibandingkan kami menghadapi ulah kamu.
Nak,
Jalan panjang masih membentang dihadapanmu,
Krikil-krikil tajam akan menghambat langkah kakimu,
Tawa dan tangis akan menunggumu dalam setiap persimpangan,
Kuatkanlah langkah kakimu dan tegakkanlah badan dan kepalamu,
Penuhi jiwamu dengan muroqobatullah, dan berkariblah dengan pencipta dirimu..
Sebab hanya DIA yang pantas engkau jadikan sahabat karib, dalam sedih atau senangmu,
Dalam duka atau tawamu...
Sementara itu, hanya doa-doa yang bisa kami panjatkan..
untuk menemani hari-hari panjang mu itu..
Nak, aku tahu...
Suatu saat engkau akan sendiri...
Engkau akan membawa pergi dirimu mengikuti mata angin dimana cita-citamu akan kau labuhkan..
Engkau akan meretas jalan hidupmu sendiri..
Bila ayah dan ibumu masih menjumpai mu saat itu..
Ayah akan menopangmu sekuat kaki ayah,
Dan ibumu akan memelukmu dengan kehangatan kasihnya..
Sementara jika tak ada kami disisimu..
Maka ada Allah yang akan menjaga dirimu selalu..
Nak,
Tangisanmu di pelukan ibumu,
Atau manja-mu di bahu ayah,
Masih tak seberapa indah dibanding dengan tangisanmu pada sajadah panjang,
Atau manja-mu dalam khusyuknya ibadah malam,
Sebab disana engkau akan menemukan kedamaian sesungguhnya,
Sebab engkau akan menemukan cinta sesungguhnya..
Cinta yang tak akan pernah memudar..
Meski ayah dan ibumu pergi meninggalkanmu..
Meski ayah dan ibumu tak ada lagi disamping mu..
---
Ku kecup sekali lagi keningnya,
Ku usap kembali pipinya yang basah oleh bulir airmata yg jatuh,
Ku rapihkan kain selimut yang menutupi tubuhnya,
Sambil beranjak aku bergumam dalam doa,
Semoga Tuhan selalu menjaganya..
Amin.
Ku sangga kepalanya dengan bantal
Ku kecup dahi kecilnya
Ku usap rambutnya dengan untaian doa..
Nak,
Aku tahu engkau pernah membuat kami marah
Engkau pernah memecahkan gelas kesayangan ibu
Engkau pernah merobek kertas kerja milik ayah
Bahkan engkau pernah nyaris meruntuhkan rumah ini,
Tapi kemarahan kami bukan karena kami benci kamu,
Kemarahan kami karena kami kurang sabar dalam menghadapimu...
Nak,
Senakal apapun kamu,
Sebandel apapun kamu,
Semua itu adalah masa yang harus kita lalui seperti masa yg selalu berulang dalam ikatan zaman,
Semua kenakalan dan kebandelan kamu,
Justru mengingatkan kami pada almarhum kakek dan nenekmu,
Betapa mereka ternyata lebih sabar menghadapi ayahmu,
Dibandingkan kami menghadapi ulah kamu.
Nak,
Jalan panjang masih membentang dihadapanmu,
Krikil-krikil tajam akan menghambat langkah kakimu,
Tawa dan tangis akan menunggumu dalam setiap persimpangan,
Kuatkanlah langkah kakimu dan tegakkanlah badan dan kepalamu,
Penuhi jiwamu dengan muroqobatullah, dan berkariblah dengan pencipta dirimu..
Sebab hanya DIA yang pantas engkau jadikan sahabat karib, dalam sedih atau senangmu,
Dalam duka atau tawamu...
Sementara itu, hanya doa-doa yang bisa kami panjatkan..
untuk menemani hari-hari panjang mu itu..
Nak, aku tahu...
Suatu saat engkau akan sendiri...
Engkau akan membawa pergi dirimu mengikuti mata angin dimana cita-citamu akan kau labuhkan..
Engkau akan meretas jalan hidupmu sendiri..
Bila ayah dan ibumu masih menjumpai mu saat itu..
Ayah akan menopangmu sekuat kaki ayah,
Dan ibumu akan memelukmu dengan kehangatan kasihnya..
Sementara jika tak ada kami disisimu..
Maka ada Allah yang akan menjaga dirimu selalu..
Nak,
Tangisanmu di pelukan ibumu,
Atau manja-mu di bahu ayah,
Masih tak seberapa indah dibanding dengan tangisanmu pada sajadah panjang,
Atau manja-mu dalam khusyuknya ibadah malam,
Sebab disana engkau akan menemukan kedamaian sesungguhnya,
Sebab engkau akan menemukan cinta sesungguhnya..
Cinta yang tak akan pernah memudar..
Meski ayah dan ibumu pergi meninggalkanmu..
Meski ayah dan ibumu tak ada lagi disamping mu..
---
Ku kecup sekali lagi keningnya,
Ku usap kembali pipinya yang basah oleh bulir airmata yg jatuh,
Ku rapihkan kain selimut yang menutupi tubuhnya,
Sambil beranjak aku bergumam dalam doa,
Semoga Tuhan selalu menjaganya..
Amin.
Jumat, 05 Maret 2010
Kado Terindah 2 - Sambungan
Sepasang pengantin baru saja mengakhiri masa lajangnya. Baru saja mengucapkan sebuah kalimat singkat padat dan dalam penuh makna, ucapan akad nikah seraya berjanji dalam hati bahwa masing-masing akan berazam pada dirinya sendiri, bahwa pernikahan yang akan dijalaninya nanti, keluarga yang akan dibentuknya nanti akan berlandaskan cinta kasih, berpondasikan ketaatan pada Allah, beratapkan sunnah dan memagarinya dengan kasihsayang dan rasa saling percaya. Malamnya sebelum keduanya menikmati rizki yg diberikan oleh Allah, keduanya saling memberikan sebuah hadiah berupa kado berisikan surat tentang impian-impian masing2, tentang asa dan harapan, tentang keinginan dan cita-cita juga tentang kelebihan dan kekurangan dirinya.
Inilah kado sang istri kepada sang suami:
Assalamualaikum wr.wb.
Untuk suamiku tercinta.
Aku bersyukur kepada Allah atas pernikahan ini, atas rahmatnya yang mengirim engkau untuk menjadi pangeranku. Aku berdoa kepada Allah seraya berkhusnudzon kepada ayahku; sebagai bakti kepadanya; yang menyetujui kamu sebagai suamiku meski aku tak begitu mengenal siapa dirimu. Aku berlindung kepada Allah atas niat yang buruk, atas rencana yang jahat dan atas segala keburukan dari sebuah peristiwa. Aku berserah diri kepada Allah atas pilihanku dan bertawakal kepadaNYA.
Suamiku sayang,
Aku yakin engkau suami soleh yang dikirim oleh Allah untuk ku, Aku yakin kepadamu karena engkau adalah pilihan ayahku dan jawaban dari istikharahku. Aku berharap pernikahan ini adalah pernikahan ku satu-satunya dan engkau adalah suami dunia akheratku. Jika aku tidak sempurna dimatamu, ku minta tunjukan padaku bagaimana cara menjadi istri sempurna, apapun aku lakukan untukmu, asal tidak melanggar syariat yg dibenarkan.
Suamiku sayang,
Ketika ayahku menyetujui aku menikah denganmu, sebenarnya aku kasihan kepadamu, sebab engkau belumlah sekuat ayahku dan setegar dirinya dalam menghadapi sikap dan tingkah lakuku, engkau bagiku seperti pemuda nekat yang datang berjuang dengan tangan kosong tapi aku yakin, ketulusanmu dan kesucian niatmu semoga membuat ridha allah mengaliri pernikahan kita.
Suamiku, sebagaimana sabda nabi bahwa kaum wanita seperti tulang rusuk yang bengkok, maka jika engkau ingin meluruskan aku, luruskanlah dengan kasih sayang dan dalam kondisi yg nyaman, karena jika engkau meluruskan aku dalam kondisi emosi dan tidak nyaman, aku tak yakin bahwa allah akan membantumu melaksanakan maksudmu, bahkan engkau akan menderita karena hal itu.
Suamiku, perlu engkau ketahui, sebagaimana atsar dari aisyah yang menyatakan bahwa perkawinan itu ibarat perbudakan bagi kaum perempuan, maka seyogyanya para wali mencarikan suami yang benar untuk anak atau saudara perempuannya. Maka jika bagimu kau inginkan pernikahan seperti itu, maka aku rela melakukannya, asal engkau bisa membantuku mengangkat derajatku ketempat yang lebih tinggi, agar aku bisa layak masuk syurga karenanya , bukankah dalam islam sangat mudah bagi wanita memperoleh tiket ke surga, ia hanya butuh ridha allah dan ridha suaminya.
Suamiku, sebagaimana suatu ikatan atau perjanjian dimana dalam perjanjian itu tidak boleh ada satupun yang menzhalimi atau merasa didzhalimi yg menyebabkan perjanjian itu menjadi haram dimata Allah, Maka ikatan pernikahan ini kuingin tak ada satupun diantara kita yang merasa dizhalimi atau menzhalimi. Ku ingin engkau mengerti perasaan setiap wanita, ku ingin engkau berempati kepada kaum perempuan, tanpa melanggar syariat yang dibenarkan, ku harap dengan izin tuhan bahwa aku ingin seperti fatimah azzahra, yang tidak pernah dimadu seumur hidupnya oleh Ali bin Abi Thalib. Jika engkau bisa memenuhi harapanku, semoga allah memberikan balasan kepadamu atas kebaikanmu kepada ku, jika tidak maka aku harap keputusan mu itu adalah keputusan yang paling darurat dan tanpa melanggar syariat serta tanpa menyakiti hati seorang manusiapun di muka bumi ini.
Suamiku, aku ingin bercerita kepadamu tentang kemuliaan suatu niat, terutama niat dalam sebuah pernikahan, dimana pernikahan itu akan berkah atau tidaknya tergantung niat awal dari masing-masing pasangan. Suamiku pernahkah engkau mendengar kisah tentang ummu sulaim, sahabat wanita yang dimasa hidupnya telah dijamin oleh Allah masuk syurga, engkau pasti pernah mendengarnya, kalaupun lupa aku akan mengingatkannya tentang itu. Ummu sulaim, seorang sahabat wanita yang maharnya merupakan mahar terindah sepanjang sejarah, maharnya adalah syahadat suaminya meskipun suaminya sebelum itu; ingin memberikan segudang emas dan perak jika ia mau menikah dengannya, tetapi semua ditolaknya. Ia hanya menginginkan keislaman suaminya. Dari niat yang tulus dan benar itu, melahirkan rumah tangga yang kuat dan dipenuhi keberkahan, keduanya saling menjaga agar senantiasa keluarga mereka dipenuhi keimanan. Suatu ketika anak bungsu mereka meninggal dunia, malamnya suaminya Abu Tholhah baru saja pulang berdagang, tahukan engkau bagaimana ummu sulaim menenangkan suaminya, dijamunya suaminya dengan makanan yang nikmat, serta diberinya pelayanan yang menenangkan jiwa dan raga suaminya, setelah selesai diajaknya suaminya berdialog tentang amanat atau titipan yang harus dikembalikan jika sang empunya mengambilnya kembali. Tahukah kamu suamiku, rasulpun mendoakan semoga mereka mendapat ganti keturunan yang lebih baik, dan benar saja, kelak benih yang tertanam malam itu melahirkan anak-anak para penghafal alquran dari generasi tabiin.
Suamiku, dari kisah ummu sulaim tadi, aku hanya menginginkan aku dan kamu meluruskan niat pernikahan ini, semoga dengan lurusnya niat kita, memudahkan langkah-langkah kita ke depannya.
Suamiku sayangku, jika engkau menginginkan seorang istri yang saleh, ketahuilah aku bukanlah orang yang engkau maksud, justru aku ingin engkau membimbingku menjadi istri yang saleh, aku tak mau menjadi istri seperti istri nabi Nuh atau nabi Luth, yang mempunyai suami saleh, tetapi kesalehan suaminya tidak membawanya kepada kebaikan sama sekali.
Suamiku, ketika aku menyerahkan kemudi hidupku kepada mu, itu artinya adalah bahwa engkau menjadi pemimpin bagiku, dan bagi anak-anak kita nanti. Jadilah pemimpin yang baik dan adillah terhadap orang yang kamu pimpin. Berhasil atau tidaknya keluarga ini, selamat atau tidaknya bahtera keluarga kita, tergantung kepada dirimu sebagai nahkoda, aku sebagai istri hanya merupakan penumpang yang membantumu menavigasi arah perahu kita, tidak lebih dari itu.
Suamiku inilah yang bisa aku sampaikan kepada mu, tidak ada yang aku inginkan dari pernikahan ini melainkan kebaikan saja, siapapun dirimu, lebih atau kurangnya kamu, aku tak akan melihatnya, keberkahanlah yang aku inginkan dari pernikahan ini. Jika nanti engkau melihat banyak kekurangan pada diriku, itulah aku sebagai manusia biasa yang penuh salah dan dosa, dan jika nanti engkau melihat banyak kelebihan pada diriku, maka bersyukurlah kepada Allah atas nikmat yang diberikan kepadamu, semoga engkau tidak salah memilih aku sebagai pendamping mu.
Salam hormat dan takzim untuk suamiku,
Dari istrimu.
Selepas membaca kado masing-masing, keduanya saling menangis haru, tiadalah kebahagiaan yang paling sempurna dimuka bumi setelah iman, selain kebahagian diberikan pendamping yang soleh dan solehah, yang akan menjadi sahabat dikala gembira dan menjadi pelipur lara dikala berduka. Tiada yang dapat mereka ucapkan selain tahmid dan tasybih seraya bersyukur atas nikmat yang sangat besar yang diberikan Allah kepadanya. Para jiwa menjadi tentram dan damai, para hatipun menjadi khusyuk. Ketika Allah telah menurunkan rizkinya kepada hamba, maka nikmat Tuhanmu mana lagikah yang kalian dustakan (Ar-rahman:18)
Inilah kado sang istri kepada sang suami:
Assalamualaikum wr.wb.
Untuk suamiku tercinta.
Aku bersyukur kepada Allah atas pernikahan ini, atas rahmatnya yang mengirim engkau untuk menjadi pangeranku. Aku berdoa kepada Allah seraya berkhusnudzon kepada ayahku; sebagai bakti kepadanya; yang menyetujui kamu sebagai suamiku meski aku tak begitu mengenal siapa dirimu. Aku berlindung kepada Allah atas niat yang buruk, atas rencana yang jahat dan atas segala keburukan dari sebuah peristiwa. Aku berserah diri kepada Allah atas pilihanku dan bertawakal kepadaNYA.
Suamiku sayang,
Aku yakin engkau suami soleh yang dikirim oleh Allah untuk ku, Aku yakin kepadamu karena engkau adalah pilihan ayahku dan jawaban dari istikharahku. Aku berharap pernikahan ini adalah pernikahan ku satu-satunya dan engkau adalah suami dunia akheratku. Jika aku tidak sempurna dimatamu, ku minta tunjukan padaku bagaimana cara menjadi istri sempurna, apapun aku lakukan untukmu, asal tidak melanggar syariat yg dibenarkan.
Suamiku sayang,
Ketika ayahku menyetujui aku menikah denganmu, sebenarnya aku kasihan kepadamu, sebab engkau belumlah sekuat ayahku dan setegar dirinya dalam menghadapi sikap dan tingkah lakuku, engkau bagiku seperti pemuda nekat yang datang berjuang dengan tangan kosong tapi aku yakin, ketulusanmu dan kesucian niatmu semoga membuat ridha allah mengaliri pernikahan kita.
Suamiku, sebagaimana sabda nabi bahwa kaum wanita seperti tulang rusuk yang bengkok, maka jika engkau ingin meluruskan aku, luruskanlah dengan kasih sayang dan dalam kondisi yg nyaman, karena jika engkau meluruskan aku dalam kondisi emosi dan tidak nyaman, aku tak yakin bahwa allah akan membantumu melaksanakan maksudmu, bahkan engkau akan menderita karena hal itu.
Suamiku, perlu engkau ketahui, sebagaimana atsar dari aisyah yang menyatakan bahwa perkawinan itu ibarat perbudakan bagi kaum perempuan, maka seyogyanya para wali mencarikan suami yang benar untuk anak atau saudara perempuannya. Maka jika bagimu kau inginkan pernikahan seperti itu, maka aku rela melakukannya, asal engkau bisa membantuku mengangkat derajatku ketempat yang lebih tinggi, agar aku bisa layak masuk syurga karenanya , bukankah dalam islam sangat mudah bagi wanita memperoleh tiket ke surga, ia hanya butuh ridha allah dan ridha suaminya.
Suamiku, sebagaimana suatu ikatan atau perjanjian dimana dalam perjanjian itu tidak boleh ada satupun yang menzhalimi atau merasa didzhalimi yg menyebabkan perjanjian itu menjadi haram dimata Allah, Maka ikatan pernikahan ini kuingin tak ada satupun diantara kita yang merasa dizhalimi atau menzhalimi. Ku ingin engkau mengerti perasaan setiap wanita, ku ingin engkau berempati kepada kaum perempuan, tanpa melanggar syariat yang dibenarkan, ku harap dengan izin tuhan bahwa aku ingin seperti fatimah azzahra, yang tidak pernah dimadu seumur hidupnya oleh Ali bin Abi Thalib. Jika engkau bisa memenuhi harapanku, semoga allah memberikan balasan kepadamu atas kebaikanmu kepada ku, jika tidak maka aku harap keputusan mu itu adalah keputusan yang paling darurat dan tanpa melanggar syariat serta tanpa menyakiti hati seorang manusiapun di muka bumi ini.
Suamiku, aku ingin bercerita kepadamu tentang kemuliaan suatu niat, terutama niat dalam sebuah pernikahan, dimana pernikahan itu akan berkah atau tidaknya tergantung niat awal dari masing-masing pasangan. Suamiku pernahkah engkau mendengar kisah tentang ummu sulaim, sahabat wanita yang dimasa hidupnya telah dijamin oleh Allah masuk syurga, engkau pasti pernah mendengarnya, kalaupun lupa aku akan mengingatkannya tentang itu. Ummu sulaim, seorang sahabat wanita yang maharnya merupakan mahar terindah sepanjang sejarah, maharnya adalah syahadat suaminya meskipun suaminya sebelum itu; ingin memberikan segudang emas dan perak jika ia mau menikah dengannya, tetapi semua ditolaknya. Ia hanya menginginkan keislaman suaminya. Dari niat yang tulus dan benar itu, melahirkan rumah tangga yang kuat dan dipenuhi keberkahan, keduanya saling menjaga agar senantiasa keluarga mereka dipenuhi keimanan. Suatu ketika anak bungsu mereka meninggal dunia, malamnya suaminya Abu Tholhah baru saja pulang berdagang, tahukan engkau bagaimana ummu sulaim menenangkan suaminya, dijamunya suaminya dengan makanan yang nikmat, serta diberinya pelayanan yang menenangkan jiwa dan raga suaminya, setelah selesai diajaknya suaminya berdialog tentang amanat atau titipan yang harus dikembalikan jika sang empunya mengambilnya kembali. Tahukah kamu suamiku, rasulpun mendoakan semoga mereka mendapat ganti keturunan yang lebih baik, dan benar saja, kelak benih yang tertanam malam itu melahirkan anak-anak para penghafal alquran dari generasi tabiin.
Suamiku, dari kisah ummu sulaim tadi, aku hanya menginginkan aku dan kamu meluruskan niat pernikahan ini, semoga dengan lurusnya niat kita, memudahkan langkah-langkah kita ke depannya.
Suamiku sayangku, jika engkau menginginkan seorang istri yang saleh, ketahuilah aku bukanlah orang yang engkau maksud, justru aku ingin engkau membimbingku menjadi istri yang saleh, aku tak mau menjadi istri seperti istri nabi Nuh atau nabi Luth, yang mempunyai suami saleh, tetapi kesalehan suaminya tidak membawanya kepada kebaikan sama sekali.
Suamiku, ketika aku menyerahkan kemudi hidupku kepada mu, itu artinya adalah bahwa engkau menjadi pemimpin bagiku, dan bagi anak-anak kita nanti. Jadilah pemimpin yang baik dan adillah terhadap orang yang kamu pimpin. Berhasil atau tidaknya keluarga ini, selamat atau tidaknya bahtera keluarga kita, tergantung kepada dirimu sebagai nahkoda, aku sebagai istri hanya merupakan penumpang yang membantumu menavigasi arah perahu kita, tidak lebih dari itu.
Suamiku inilah yang bisa aku sampaikan kepada mu, tidak ada yang aku inginkan dari pernikahan ini melainkan kebaikan saja, siapapun dirimu, lebih atau kurangnya kamu, aku tak akan melihatnya, keberkahanlah yang aku inginkan dari pernikahan ini. Jika nanti engkau melihat banyak kekurangan pada diriku, itulah aku sebagai manusia biasa yang penuh salah dan dosa, dan jika nanti engkau melihat banyak kelebihan pada diriku, maka bersyukurlah kepada Allah atas nikmat yang diberikan kepadamu, semoga engkau tidak salah memilih aku sebagai pendamping mu.
Salam hormat dan takzim untuk suamiku,
Dari istrimu.
Selepas membaca kado masing-masing, keduanya saling menangis haru, tiadalah kebahagiaan yang paling sempurna dimuka bumi setelah iman, selain kebahagian diberikan pendamping yang soleh dan solehah, yang akan menjadi sahabat dikala gembira dan menjadi pelipur lara dikala berduka. Tiada yang dapat mereka ucapkan selain tahmid dan tasybih seraya bersyukur atas nikmat yang sangat besar yang diberikan Allah kepadanya. Para jiwa menjadi tentram dan damai, para hatipun menjadi khusyuk. Ketika Allah telah menurunkan rizkinya kepada hamba, maka nikmat Tuhanmu mana lagikah yang kalian dustakan (Ar-rahman:18)
Kamis, 11 Februari 2010
Kado Terindah
Sepasang pengantin baru saja mengakhiri masa lajangnya. Baru saja mengucapkan sebuah kalimat singkat padat dan dalam penuh makna, ucapan akad nikah seraya berjanji dalam hati bahwa masing-masing akan berazam pada dirinya sendiri, bahwa pernikahan yang akan dijalaninya nanti, keluarga yang akan dibentuknya nanti akan berlandaskan cinta kasih, berpondasikan ketaatan pada Allah, beratapkan sunnah dan memagarinya dengan kasihsayang dan rasa saling percaya. Malamnya sebelum keduanya menikmati rizki yg diberikan oleh Allah, keduanya saling memberikan sebuah hadiah berupa kado berisikan surat tentang impian-impian masing2, tentang asa dan harapan, tentang keinginan dan cita-cita juga tentang kelebihan dan kekurangan dirinya.
Pertama kado sang suami pada sang istri.
Assalamualaikum wrwb.
Untuk adindaku sayang,
Aku sangat bersyukur kepada Allah atas pernikahan ini, atas dipilihnya engkau sebagai pendampingku atas dipilihnya engkau sebagai kekasihku. Aku juga bersyukur bahwa Allah telah mempertemukan aku dengan mu untuk menjalani sisa kehidupan ini bersamamu.
Adindaku sayang,
Aku adalah orang asing bagimu, dan engkau adalah orang asing bagiku. Kalau bukan karena mengharap ridha Allah atas pernikahan ini, tentu engkau akan memilih orang dekat yg engkau ketahui latar belakangnya, tapi karena engkau memilih Allah sebagai pelindungmu atas segala bahaya yg akan datang padamu, atas segala nikmat yg akan tercurah kepadamu maka engkau memilih aku sebagai suamimu meskipun aku sangat asing bagimu. Maka dengan itu pula akupun berdoa kepada Allah semoga engkau selamat dari bahaya yg timbul karena menikah denganku dan semoga rahmat Allah dapat tercurah kepadamu melalui pernikahan ini.
Adinda sayangku.
Aku bukanlah manusia sempurna yang terbebas dari salah. Aku hanyalah seorang hamba yg ingin menyempurnakan separuh agama, melaksanakan sunnah nabi seperti para sahabatku lainnya. Aku hanyalah seorang pengembara yang baru saja menemukan pulau tambatan hati, setelah sekian lama terombang-ambing dalam gelombang kebingungan dan kebimbangan, hingga Allah menurunkan rizkinya kepadaku berupa dirimu, sebagai tempat pelipur lara, sebagai tempat berkasih sayang, sebagai tempat berkeluh kesah, sebagai tongkat penunjuk jalan, sebagai pelita dalam kegelapan, sebagai embun dikala dahaga, sebagai tempat berteduh dikala panas, sebagai selimut dikala dingin, sebagai peredam duka dikala emosi, sebagai tempat berpangku mesra dikala gundah gulana dan sebagai tempat mengadu dikala ragu dan buntu.
Adindaku, Aku menyadari siapa diriku, maka aku tak ingin meminta lebih kepadamu, aku tak ingin engkau secantik Zulaikha,atau secerdas Aisyah, atau sezuhud Khadijah atau semulia Maryam. Aku juga tak ingin engkau sesolehah Asiah tetapi bersuamikan firaun. Aku hanya ingin engkau seperti apa adanya, yg menangis dikala sedih, yg marah dikala terluka dan tersenyum dikala bahagia. Aku tidak menginginkan engkau sesempurna istri sang nabi, sebab aku sadar bahwa aku pun tidak sesempurna beliau. Yang aku inginkan adalah bahwa kita saling menjaga agar bisa meneladani sikap mereka.
Adindaku...
Jika engkau mengharap harta dariku, ketahuilah aku hanyalah seorang pemuda biasa, yg penghasilannya dapat engkau lihat sendiri. Aku juga bukan pengusaha yg mungkin bisa mewujudkan semua impianmu dengan uang mereka. Tapi jika engkau berpendapat bahwa harta dapat membawa kita kepada syurga, atau kefakiran bisa membawa kepada kekufuran, aku setuju dengan mu. Tapi aku bukanlah Abdurrahman bin auf, atau Abu bakar shiddiq atau ustman bin affan, yg dengan hartanya bisa membawa mereka ke pintu syurga. Aku mungkin hanya bisa menjadi Abudzar al giffari, yg hidup dalam kesendirian dan mati dalam kesendirian. Hanya iman yg ia bawa dan istri yg setia yg menemani pada saat-saat terakhirnya.
Adinda ku..
Justru dengan keberkahan yg insya Allah hadir bersamamu, kita bisa bersama-sama mengumpulkan harta sebagai bekal untuk akhirat kita. Justru dengan pernikahan ini semoga Allah membukakan pintu-pintu rezeki dari arah yg kita tidak sangka-sangka.
Adindaku sayang..
Saat mengetahui engkau menerima khitbahku. Aku menangis terharu, bumi yang ku pijak seakan bergoyang. Aku tak kuasa menahan rasa bahagia saat itu, saat engkau menyetujui lamaranku. Penantian panjang dan melelahkan yg menghabiskan hampir separuh nafas para pemuda dan pemudi, yg membuat mereka terbangun dikala malam, mengadukan nasibnya pada illahi rabbi, menangis disela-sela rintihan dan doa seraya bertanya kapan masa itu akan hadir menjemput mereka. Masa-masa yg menggetarkan jiwa, menyenangkan hati dan membuat orang normal seperti orang kekurang akal, masa yang hakikatnya seperti berjalan diatas titian besi panas hingga mampu menjerumuskan mereka yg tidak sabar akan datangnya masa bahagia itu. Adindaku, tibanya masa itu merupakan rahmat yg tiada tara bagi para hamba yang bersyukur, yang menyadari bahwa pernikahan itu adalah sebuah perjuangan dan bukanlah sebuah permainan.
Sayangku...
Jika engkau mengharapkan ketampanan, kesempurnaan fisik dan penampilan, ketahuilah aku hanyalah seorang manusia biasa, yg lahir dari benih ayah dan ibuku, yang rupa dan bentuk fisiknya tak bisa aku inginkan sesuai mauku. Aku hanya menerima takdir tuhan, beginilah diriku adanya. Aku tidak setampan nabi Yusuf, tidak segagah nabi Daud, tidak sekuat Umar bin khatab, tidak sehalus Usman bin affan, tidak sepintar Ali bin abi thalib, dan aku juga tidak sesabar Abu bakar shiddiq. Jika engkau menginginkan semua sifat itu ada padaku, maka aku berlindung kepada Allah, atas kelemahan diriku. Tapi jika engkau mendoakan aku memiliki salah satu saja sifat mulia mereka, maka aku bersyukur kepada Allah atas doamu itu dan juga atas berlipatnya rizkiku karena menikah dengan manusia pemilik doa sepertimu.
Adindaku, aku dan engkau akan tahu, kita akan menghadapi masa-masa yang akan datang bersama-sama, masa yang kadang indah untuk dikenang, atau pahit untuk diingat. Semua tergantung seberapa besar hati ini mau melapangkan jalan untuk menerima apapun kondisi itu. Sayangku, Jika salah satu sudut hatimu pada saat ini sudah terisi untukku, maka sudut-sudut yang lain isilah dengan rabb pencipta alam semesta. Jangan kau isi semua sudut hatimu dengan diriku atau dengan yanglain kecuali Tuhan mu, sebab aku tidak akan sanggup menjaga mu bahkan menjaga hatimu, hanya Allah lah yang bisa menjagamu, menjaga hati dan jiwamu, menjaga fisik dan ragamu. Kamu mungkin bisa melupakan aku jika aku berbuat kesalahan, kamu bisa saja membuang sudut hati tempatku berpijak dan mengganti dengan orang lain yang sesuai dengan keinginanmu, tapi engkau tidak akan bisa melupakan rabb pemilik hatimu. Dan aku lebih nyaman jika hatimu dikuasai oleh pemilik alam semesta, ketimbang dikuasai oleh aku atau apapun itu.
Adindaku,
Insya Allah kita akan menjalani tahap-tahap usia pernikahan kita,
Pada tahun pertama perkawinan kita, kuharap engkau mau lebih bersabar, mau memahami lebih dalam perbedaan-perbedaan antara kita, sebab kita adalah dua orang asing yang harus mengayuh perahu bersama, jika kita tidak bisa bekerja sama, aku khawatir perahu ini tenggelam ketika baru saja kita meninggalkan pantai.
Pada tahun kedua hingga tahun kelima, kuharap engkau sudah mengerti tentang diriku, tentang sifat dan tingkah lakuku. Saat itu mungkin anak pertama kita akan lahir dan tanggung jawab kita sebagai orangtua baru dimulai. Aku berpesan kepadamu, kemulyaanmu sebagai seorang ibu baru saja dimulai, jika engkau merasa capek dan lelah janganlah sungkan-sungkan untuk meminta tolong kepadaku. Meski aku tahu pada saat itu mungkin kehidupan kita masih prihatin. Tapi aku yakin anak-anak kita yang masih lucu akan mampu menghapus semua duka lara, letih dan lelah serta rasa capek dan lelah karena tugas kita. Tugasmu sebagai madrasah yang memberi pendidikan agama dan nilai luhur para orang saleh pendahulu kita, dan tugasku membantumu membumikan pendidikan itu.
Pada tahun kelima hingga kesepuluh, mungkin kita akan didera oleh kondisi keuangan karena saat itu kebutuhan kita akan meningkat, anak-anak beranjak ke sekolah dan kebutuhan rumah tangga akan meningkat. Aku memohon kepadamu, bantu aku dengan doa-doamu, dengan dhuha dan tahajudmu dengan zikir dan shodaqohmu, semoga masa-masa sulit segera pergi hingga Allah memenuhi janjinya kepada kita.
Pada tahun kesepuluh hingga keduapuluh, mungkin Allah telah mengalirkan rezeki yang deras kepada kita, kehidupan mulai mapan, kesejahteraan mulai datang, dan anak-anak mulai dewasa. Aku memohon kepadamu, bantu aku menguatkan batin dan jiwaku agar aku tidak terperosok kedalam jurang kenistaan, karena godaan dunia berupa harta tahta dan wanita. Sadarkan aku tentang umur dan usiaku yang mulai menua juga temperamenku yang mulai meninggi dimakan usia. Bantu aku bersahabat dengan anak-anak kita, berikan mereka pengertian tentang arti kehidupan sesungguhnya, karena sebentar lagi mereka akan memilih jalannya masing-masing.
Pada tahun ketigapuluh dan sesudahnya, aku tak tahu apakah kita akan sampai disitu, yang jelas kita akan kembali berdua, anak-anak lelaki kita akan pergi dan anak perempuan akan mengikuti suaminya. Kita hanyalah sepasang manusia renta yang tak bisa melawan takdirnya. Kuingin saat itu, hari-hari kita hanya dipenuhi zikir dan tasbih, dipenuhi munajat dan doa, seraya menunggu utusan Tuhan datang menjemput. Aku ingin engkau dan aku tetap menjadi pasangan didunia dan akhirat, jadi kumohon kita saling menjaga, saling memberi peringatan dan tausiah agar tujuan pernikahan ini sesuai dengan yang kita harapkan. Terakhir aku ingin kado ku ini menjadi prasasti cinta kita, yang tertanam jauh dilubuk hati, sehingga jika terjadi goncangan, kita selalu kembali ke komitmen awal pernikahan.
Salam bahagia
Suamimu.
Kado dari sang istri.
Bersambung ke http://rojalidahlan.blogspot.com/2010/03/kado-terindah-2_05.html
Pertama kado sang suami pada sang istri.
Assalamualaikum wrwb.
Untuk adindaku sayang,
Aku sangat bersyukur kepada Allah atas pernikahan ini, atas dipilihnya engkau sebagai pendampingku atas dipilihnya engkau sebagai kekasihku. Aku juga bersyukur bahwa Allah telah mempertemukan aku dengan mu untuk menjalani sisa kehidupan ini bersamamu.
Adindaku sayang,
Aku adalah orang asing bagimu, dan engkau adalah orang asing bagiku. Kalau bukan karena mengharap ridha Allah atas pernikahan ini, tentu engkau akan memilih orang dekat yg engkau ketahui latar belakangnya, tapi karena engkau memilih Allah sebagai pelindungmu atas segala bahaya yg akan datang padamu, atas segala nikmat yg akan tercurah kepadamu maka engkau memilih aku sebagai suamimu meskipun aku sangat asing bagimu. Maka dengan itu pula akupun berdoa kepada Allah semoga engkau selamat dari bahaya yg timbul karena menikah denganku dan semoga rahmat Allah dapat tercurah kepadamu melalui pernikahan ini.
Adinda sayangku.
Aku bukanlah manusia sempurna yang terbebas dari salah. Aku hanyalah seorang hamba yg ingin menyempurnakan separuh agama, melaksanakan sunnah nabi seperti para sahabatku lainnya. Aku hanyalah seorang pengembara yang baru saja menemukan pulau tambatan hati, setelah sekian lama terombang-ambing dalam gelombang kebingungan dan kebimbangan, hingga Allah menurunkan rizkinya kepadaku berupa dirimu, sebagai tempat pelipur lara, sebagai tempat berkasih sayang, sebagai tempat berkeluh kesah, sebagai tongkat penunjuk jalan, sebagai pelita dalam kegelapan, sebagai embun dikala dahaga, sebagai tempat berteduh dikala panas, sebagai selimut dikala dingin, sebagai peredam duka dikala emosi, sebagai tempat berpangku mesra dikala gundah gulana dan sebagai tempat mengadu dikala ragu dan buntu.
Adindaku, Aku menyadari siapa diriku, maka aku tak ingin meminta lebih kepadamu, aku tak ingin engkau secantik Zulaikha,atau secerdas Aisyah, atau sezuhud Khadijah atau semulia Maryam. Aku juga tak ingin engkau sesolehah Asiah tetapi bersuamikan firaun. Aku hanya ingin engkau seperti apa adanya, yg menangis dikala sedih, yg marah dikala terluka dan tersenyum dikala bahagia. Aku tidak menginginkan engkau sesempurna istri sang nabi, sebab aku sadar bahwa aku pun tidak sesempurna beliau. Yang aku inginkan adalah bahwa kita saling menjaga agar bisa meneladani sikap mereka.
Adindaku...
Jika engkau mengharap harta dariku, ketahuilah aku hanyalah seorang pemuda biasa, yg penghasilannya dapat engkau lihat sendiri. Aku juga bukan pengusaha yg mungkin bisa mewujudkan semua impianmu dengan uang mereka. Tapi jika engkau berpendapat bahwa harta dapat membawa kita kepada syurga, atau kefakiran bisa membawa kepada kekufuran, aku setuju dengan mu. Tapi aku bukanlah Abdurrahman bin auf, atau Abu bakar shiddiq atau ustman bin affan, yg dengan hartanya bisa membawa mereka ke pintu syurga. Aku mungkin hanya bisa menjadi Abudzar al giffari, yg hidup dalam kesendirian dan mati dalam kesendirian. Hanya iman yg ia bawa dan istri yg setia yg menemani pada saat-saat terakhirnya.
Adinda ku..
Justru dengan keberkahan yg insya Allah hadir bersamamu, kita bisa bersama-sama mengumpulkan harta sebagai bekal untuk akhirat kita. Justru dengan pernikahan ini semoga Allah membukakan pintu-pintu rezeki dari arah yg kita tidak sangka-sangka.
Adindaku sayang..
Saat mengetahui engkau menerima khitbahku. Aku menangis terharu, bumi yang ku pijak seakan bergoyang. Aku tak kuasa menahan rasa bahagia saat itu, saat engkau menyetujui lamaranku. Penantian panjang dan melelahkan yg menghabiskan hampir separuh nafas para pemuda dan pemudi, yg membuat mereka terbangun dikala malam, mengadukan nasibnya pada illahi rabbi, menangis disela-sela rintihan dan doa seraya bertanya kapan masa itu akan hadir menjemput mereka. Masa-masa yg menggetarkan jiwa, menyenangkan hati dan membuat orang normal seperti orang kekurang akal, masa yang hakikatnya seperti berjalan diatas titian besi panas hingga mampu menjerumuskan mereka yg tidak sabar akan datangnya masa bahagia itu. Adindaku, tibanya masa itu merupakan rahmat yg tiada tara bagi para hamba yang bersyukur, yang menyadari bahwa pernikahan itu adalah sebuah perjuangan dan bukanlah sebuah permainan.
Sayangku...
Jika engkau mengharapkan ketampanan, kesempurnaan fisik dan penampilan, ketahuilah aku hanyalah seorang manusia biasa, yg lahir dari benih ayah dan ibuku, yang rupa dan bentuk fisiknya tak bisa aku inginkan sesuai mauku. Aku hanya menerima takdir tuhan, beginilah diriku adanya. Aku tidak setampan nabi Yusuf, tidak segagah nabi Daud, tidak sekuat Umar bin khatab, tidak sehalus Usman bin affan, tidak sepintar Ali bin abi thalib, dan aku juga tidak sesabar Abu bakar shiddiq. Jika engkau menginginkan semua sifat itu ada padaku, maka aku berlindung kepada Allah, atas kelemahan diriku. Tapi jika engkau mendoakan aku memiliki salah satu saja sifat mulia mereka, maka aku bersyukur kepada Allah atas doamu itu dan juga atas berlipatnya rizkiku karena menikah dengan manusia pemilik doa sepertimu.
Adindaku, aku dan engkau akan tahu, kita akan menghadapi masa-masa yang akan datang bersama-sama, masa yang kadang indah untuk dikenang, atau pahit untuk diingat. Semua tergantung seberapa besar hati ini mau melapangkan jalan untuk menerima apapun kondisi itu. Sayangku, Jika salah satu sudut hatimu pada saat ini sudah terisi untukku, maka sudut-sudut yang lain isilah dengan rabb pencipta alam semesta. Jangan kau isi semua sudut hatimu dengan diriku atau dengan yanglain kecuali Tuhan mu, sebab aku tidak akan sanggup menjaga mu bahkan menjaga hatimu, hanya Allah lah yang bisa menjagamu, menjaga hati dan jiwamu, menjaga fisik dan ragamu. Kamu mungkin bisa melupakan aku jika aku berbuat kesalahan, kamu bisa saja membuang sudut hati tempatku berpijak dan mengganti dengan orang lain yang sesuai dengan keinginanmu, tapi engkau tidak akan bisa melupakan rabb pemilik hatimu. Dan aku lebih nyaman jika hatimu dikuasai oleh pemilik alam semesta, ketimbang dikuasai oleh aku atau apapun itu.
Adindaku,
Insya Allah kita akan menjalani tahap-tahap usia pernikahan kita,
Pada tahun pertama perkawinan kita, kuharap engkau mau lebih bersabar, mau memahami lebih dalam perbedaan-perbedaan antara kita, sebab kita adalah dua orang asing yang harus mengayuh perahu bersama, jika kita tidak bisa bekerja sama, aku khawatir perahu ini tenggelam ketika baru saja kita meninggalkan pantai.
Pada tahun kedua hingga tahun kelima, kuharap engkau sudah mengerti tentang diriku, tentang sifat dan tingkah lakuku. Saat itu mungkin anak pertama kita akan lahir dan tanggung jawab kita sebagai orangtua baru dimulai. Aku berpesan kepadamu, kemulyaanmu sebagai seorang ibu baru saja dimulai, jika engkau merasa capek dan lelah janganlah sungkan-sungkan untuk meminta tolong kepadaku. Meski aku tahu pada saat itu mungkin kehidupan kita masih prihatin. Tapi aku yakin anak-anak kita yang masih lucu akan mampu menghapus semua duka lara, letih dan lelah serta rasa capek dan lelah karena tugas kita. Tugasmu sebagai madrasah yang memberi pendidikan agama dan nilai luhur para orang saleh pendahulu kita, dan tugasku membantumu membumikan pendidikan itu.
Pada tahun kelima hingga kesepuluh, mungkin kita akan didera oleh kondisi keuangan karena saat itu kebutuhan kita akan meningkat, anak-anak beranjak ke sekolah dan kebutuhan rumah tangga akan meningkat. Aku memohon kepadamu, bantu aku dengan doa-doamu, dengan dhuha dan tahajudmu dengan zikir dan shodaqohmu, semoga masa-masa sulit segera pergi hingga Allah memenuhi janjinya kepada kita.
Pada tahun kesepuluh hingga keduapuluh, mungkin Allah telah mengalirkan rezeki yang deras kepada kita, kehidupan mulai mapan, kesejahteraan mulai datang, dan anak-anak mulai dewasa. Aku memohon kepadamu, bantu aku menguatkan batin dan jiwaku agar aku tidak terperosok kedalam jurang kenistaan, karena godaan dunia berupa harta tahta dan wanita. Sadarkan aku tentang umur dan usiaku yang mulai menua juga temperamenku yang mulai meninggi dimakan usia. Bantu aku bersahabat dengan anak-anak kita, berikan mereka pengertian tentang arti kehidupan sesungguhnya, karena sebentar lagi mereka akan memilih jalannya masing-masing.
Pada tahun ketigapuluh dan sesudahnya, aku tak tahu apakah kita akan sampai disitu, yang jelas kita akan kembali berdua, anak-anak lelaki kita akan pergi dan anak perempuan akan mengikuti suaminya. Kita hanyalah sepasang manusia renta yang tak bisa melawan takdirnya. Kuingin saat itu, hari-hari kita hanya dipenuhi zikir dan tasbih, dipenuhi munajat dan doa, seraya menunggu utusan Tuhan datang menjemput. Aku ingin engkau dan aku tetap menjadi pasangan didunia dan akhirat, jadi kumohon kita saling menjaga, saling memberi peringatan dan tausiah agar tujuan pernikahan ini sesuai dengan yang kita harapkan. Terakhir aku ingin kado ku ini menjadi prasasti cinta kita, yang tertanam jauh dilubuk hati, sehingga jika terjadi goncangan, kita selalu kembali ke komitmen awal pernikahan.
Salam bahagia
Suamimu.
Kado dari sang istri.
Bersambung ke http://rojalidahlan.blogspot.com/2010/03/kado-terindah-2_05.html
Selasa, 19 Januari 2010
Kisah sebuah puisi
Dalam setiap detik kehidupan anak manusia, pasti ada satu moment di antara ribuan moment lain; yang menggetarkan hati dan jiwa mereka, yang sulit untuk dilupakan seumur hidup. Entah itu momen pernikahan, kelahiran, pekerjaan, sekolah dan lain-lain.
Sebagai seorang manusia, dan calon ayah waktu itu, sayapun memiliki salah satu momen itu, dan saya mengabadikan momen kelahiran putri pertama saya dalam secarik puisi, yang jika ia sudah bisa membaca, ia akan saya minta membacanya untuk saya, dan apa reaksinya dengan puisi itu. Ternyata manfaat dan maknanya dalam sekali untuk anak saya, empati yang saya tulis untuknya dalam puisi itu, serta harapan dan doa yg terurai bait demi bait, mampu meluruhkan emosi saat ia marah. Jadilah puisi itu andalan saya ketika memberikan nasehat dan tausiah kepadanya, bahkan adiknya pun ikut terbawa haru dengan puisi itu. Memang puisi itu saya buat dengan melibatkan emosi saya waktu itu, melibatkan seluruh rasa dalam jiwa ini karena sangat gembira atas kelahirannya, ditambah sedikit bumbu agar puisi itu bisa
Inilah puisi yang saya persembahkan pada hari kelahiran anak pertama saya itu sembilan tahun lalu,
Selamat menyimak.
Kecerdasan sang bunga keagungan
Untuk anakku Nabila Zahra Azizah
Dari Ayah dan Ibunya
Assalamu’alaikum wr.wb.
Allahu akbar allahu akbar
Allahu akbar allahu akbar
Asyhadualla ilaa ha illallah
Wa asyhaduanna Muhammadarrasulullah
Sabtu, 19 Mei 2001
25 Shafar 1422H
Pukul 06.20.am
Telah lahir Nabila Zahra Azizah
Di RSAB Harapan Kita
Jl. Letjen S.Parman
Jakarta Barat
Ahlan wa sahlan ya bunayyah…
Selamat datang wahai anakku
Selamat datang dalam kehidupan dunia fana
Dan selamat datang dalam bahtera kecil ini
Engkau hadir sebagai penumpang pertama dari perahu kecil yang ayah kemudikan
Menuju ke pelabuhan yang kita nanti
Menuju perjalanan panjang ke haribaan Illahi Rabbi
Wahai Anakku…
Engkau adalah pelita kecil kami
Yang menerangi hati sanubari
Engkau adalah setetes embun dalam ketenangan
Yang menyejukan kegundahan hati kami
Dalam penantian buah cinta ayah dan ibumu
Wahai Anakku…
Engkau adalah harapan kami
Engkau adalah do’a kami
Dan engkau adalah syafaat dunia dan akhirat kami
Wahai Anakku…
Ketahuilah oleh mu
Saat engkau lahir, negeri ini sedang merintih akibat ketidakberdayaan para penguasa dalam memberikan keadilan bagi rakyatnya
Negeri tanah airmu masih belum nyaman untuk ditinggali
Harga-harga melambung tinggi, susu untuk mu pun melangit tinggi
Tapi engkau tidak usah khawatir anak ku
Rizki Allah teramat luas untuk kita yang lemah ini.
Wahai Anakku…
Ketahuilah…
Kelahiranmu tidak sempat dilihat oleh kakekmu
Kakek yang menyayangi ayah dengan teramat sangat
Kakek yang baik, yang mencintai keluarga kita dengan cinta yang tak mungkin dapat dibalas.
Wahai anakku…
Sebenarnya Almarhum kakekmu ingin sekali melihat kamu dilahirkan
Tapi takdir Tuhan menentukan lain
Kakekmu menghadap keharibaan Allah dua puluh enam hari sebelum engkau dilahirkan
Penyakit yang dideritanya sejak ayah masih seusia kamu tak sanggup lagi ditahannya
Beliaupun wafat dengan tenang
Anakku, jika engkau sudah besar nanti dan sudah bisa berdo’a
Maka jangan lupa untuk mendo’akan kakekmu
Juga untuk mendoakan nenek yang amat mencintai kita
Juga untuk mendo’akan kakek dan nenek dari pihak ibumu
Yang selalu merawatmu dengan kasih sayang ketika engkau masih kecil
Wahai Anakku…
Segudang harapan dari ayah dan ibumu mengiringi kelahiranmu
Harapan agar engkau menjadi anak soleh
Yang menjadi saksi di yaumil akhir nanti
Wahai Anakku…
Bunga Keagungan nan cerdas
Itulah arti harafiah namamu
Nama indah yang diberikan ibumu
Agar engkau mempunyai keindahan seperti bunga
Mempunya keagungan dan kecerdasan
Dalam perjalanan hidupmu sebagai amanah dan titipan
Yang diberikan Rabbmu yang telah menciptakan
Wahai putriku…
Engkau adalah muslimah
Engkau adalah wanita
Engkau adalah sebaik-baiknya perhiasan dunia
Jika engkau bisa menjadi anak yang sholihah
Wahai putriku…
Ketahuilah olehmu
Menjaga anak perempuan seperti menjaga mahkota dari kaca
Dia akan retak oleh guncangan sedikit saja
Maka kami berpesan untukmu sejak dini
Patuhilah Rabbmu dan Rasulmu
Karena merekalah sebaik-baiknya penjaga
Wahai putriku…
Ayah berpesan untuk kamu tentang ibumu
Patuhilah perintahnya dan jangan membantahnya
Sebab ridho Allah tergantung ridhonya
Dan surgapun terletak dibawah telapak kakinya
Ia yang mengandung kamu dengan susah payah selama sembilan bulan sepuluh hari
Dan melahirkan kamu dengan penuh kesakitan dan penderitaan
Jagalah ibumu ketika ayah tak ada disisinya
Panggilah Ia dengan selembut-lembutnya panggilan
Panggilah Ia dengan sebutan Ummi
Sebab itulah keinginnannya
Wahai putriku
Ayah berpesan untukmu tentang ayahmu
Patuhilah ayah jika ayah benar, dan tegurlah ayah jika ayah salah
Panggilah ayahmu ini dengan sebutan Abi
Agar ummi tidak merasa sendiri
Wahai putriku
Mulai saat ini dan detik ini
Engkau bisa memanggil ayahmu dengan sebutan Abi
Dan memanggil ibumu dengan sebutan Ummi
Bahagiakanlah kami dengan akhlakmu
Muliakanlah kami dengan tingkah lakumu
Wahai anakku, wahai putriku
Kami berjanji tidak akan menyia-nyiakan kamu
Tidak akan melupakan amanah ini
Do’a kan Abi dan Ummi agar tabah menjalani hidup ini
Bersama-sama mendidikmu dan adik-adikmu nanti
Agar keluarga kita menjadi sakinah mawaddah wa rohmah
Agar perahu kecil yang ayah kemudikan ini
Selamat sampai tujuan
Tidak tenggelam ditengah jalan
Tidak luruh dihantam ombak
Tidak lekang ditelan zaman
Tidak hancur oleh badai
Dan tidak musnah disapu gelombang…
Ahlan wa sahlan yaa putriku
Selamat datang dalam kehidupan ini…
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Jakarta, 19 Mei 2001
Dari Abi dan Ummi yang menyayangimu.
Allahu akbar allahu akbar
Asyhadualla ilaa ha illallah
Wa asyhaduanna Muhammadarrasulullah
Sabtu, 19 Mei 2001
25 Shafar 1422H
Pukul 06.20.am
Telah lahir Nabila Zahra Azizah
Di RSAB Harapan Kita
Jl. Letjen S.Parman
Jakarta Barat
Ahlan wa sahlan ya bunayyah…
Selamat datang wahai anakku
Selamat datang dalam kehidupan dunia fana
Dan selamat datang dalam bahtera kecil ini
Engkau hadir sebagai penumpang pertama dari perahu kecil yang ayah kemudikan
Menuju ke pelabuhan yang kita nanti
Menuju perjalanan panjang ke haribaan Illahi Rabbi
Wahai Anakku…
Engkau adalah pelita kecil kami
Yang menerangi hati sanubari
Engkau adalah setetes embun dalam ketenangan
Yang menyejukan kegundahan hati kami
Dalam penantian buah cinta ayah dan ibumu
Wahai Anakku…
Engkau adalah harapan kami
Engkau adalah do’a kami
Dan engkau adalah syafaat dunia dan akhirat kami
Wahai Anakku…
Ketahuilah oleh mu
Saat engkau lahir, negeri ini sedang merintih akibat ketidakberdayaan para penguasa dalam memberikan keadilan bagi rakyatnya
Negeri tanah airmu masih belum nyaman untuk ditinggali
Harga-harga melambung tinggi, susu untuk mu pun melangit tinggi
Tapi engkau tidak usah khawatir anak ku
Rizki Allah teramat luas untuk kita yang lemah ini.
Wahai Anakku…
Ketahuilah…
Kelahiranmu tidak sempat dilihat oleh kakekmu
Kakek yang menyayangi ayah dengan teramat sangat
Kakek yang baik, yang mencintai keluarga kita dengan cinta yang tak mungkin dapat dibalas.
Wahai anakku…
Sebenarnya Almarhum kakekmu ingin sekali melihat kamu dilahirkan
Tapi takdir Tuhan menentukan lain
Kakekmu menghadap keharibaan Allah dua puluh enam hari sebelum engkau dilahirkan
Penyakit yang dideritanya sejak ayah masih seusia kamu tak sanggup lagi ditahannya
Beliaupun wafat dengan tenang
Anakku, jika engkau sudah besar nanti dan sudah bisa berdo’a
Maka jangan lupa untuk mendo’akan kakekmu
Juga untuk mendoakan nenek yang amat mencintai kita
Juga untuk mendo’akan kakek dan nenek dari pihak ibumu
Yang selalu merawatmu dengan kasih sayang ketika engkau masih kecil
Wahai Anakku…
Segudang harapan dari ayah dan ibumu mengiringi kelahiranmu
Harapan agar engkau menjadi anak soleh
Yang menjadi saksi di yaumil akhir nanti
Wahai Anakku…
Bunga Keagungan nan cerdas
Itulah arti harafiah namamu
Nama indah yang diberikan ibumu
Agar engkau mempunyai keindahan seperti bunga
Mempunya keagungan dan kecerdasan
Dalam perjalanan hidupmu sebagai amanah dan titipan
Yang diberikan Rabbmu yang telah menciptakan
Wahai putriku…
Engkau adalah muslimah
Engkau adalah wanita
Engkau adalah sebaik-baiknya perhiasan dunia
Jika engkau bisa menjadi anak yang sholihah
Wahai putriku…
Ketahuilah olehmu
Menjaga anak perempuan seperti menjaga mahkota dari kaca
Dia akan retak oleh guncangan sedikit saja
Maka kami berpesan untukmu sejak dini
Patuhilah Rabbmu dan Rasulmu
Karena merekalah sebaik-baiknya penjaga
Wahai putriku…
Ayah berpesan untuk kamu tentang ibumu
Patuhilah perintahnya dan jangan membantahnya
Sebab ridho Allah tergantung ridhonya
Dan surgapun terletak dibawah telapak kakinya
Ia yang mengandung kamu dengan susah payah selama sembilan bulan sepuluh hari
Dan melahirkan kamu dengan penuh kesakitan dan penderitaan
Jagalah ibumu ketika ayah tak ada disisinya
Panggilah Ia dengan selembut-lembutnya panggilan
Panggilah Ia dengan sebutan Ummi
Sebab itulah keinginnannya
Wahai putriku
Ayah berpesan untukmu tentang ayahmu
Patuhilah ayah jika ayah benar, dan tegurlah ayah jika ayah salah
Panggilah ayahmu ini dengan sebutan Abi
Agar ummi tidak merasa sendiri
Wahai putriku
Mulai saat ini dan detik ini
Engkau bisa memanggil ayahmu dengan sebutan Abi
Dan memanggil ibumu dengan sebutan Ummi
Bahagiakanlah kami dengan akhlakmu
Muliakanlah kami dengan tingkah lakumu
Wahai anakku, wahai putriku
Kami berjanji tidak akan menyia-nyiakan kamu
Tidak akan melupakan amanah ini
Do’a kan Abi dan Ummi agar tabah menjalani hidup ini
Bersama-sama mendidikmu dan adik-adikmu nanti
Agar keluarga kita menjadi sakinah mawaddah wa rohmah
Agar perahu kecil yang ayah kemudikan ini
Selamat sampai tujuan
Tidak tenggelam ditengah jalan
Tidak luruh dihantam ombak
Tidak lekang ditelan zaman
Tidak hancur oleh badai
Dan tidak musnah disapu gelombang…
Ahlan wa sahlan yaa putriku
Selamat datang dalam kehidupan ini…
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Jakarta, 19 Mei 2001
Dari Abi dan Ummi yang menyayangimu.
-o0o-
Ketika puisi ini dibuat, saya baru saja kehilangan ayah saya, ayah yang selalu memberikan nasehat kepada saya bahkan sampai menentukan di rumah sakit mana anak saya harus dilahirkan. Beliaulah yang menyuruh saya mempersiapkan segala sesuatunya. Bagi anak saya, cerita tentang kakeknya membawa haru tersendiri, bagaimana indahnya jika mempunyai seorang kakek, sebab kini semua kakeknya telah tiada, juga ibu saya yg menyusul ayah saya dua tahun lalu. Yang masih ada hanya neneknya dari pihak ibu atau mertua saya, beliaulah kini yang menjadi pusat perhatian anak-anak saya jika bicara tentang lebaran atau liburan sekolah.
Puisi ini mengikat batin saya dengan anak-anak saya, menjadikan mereka sebagai seorang sahabat,sebagai teman diskusi, bahkan sebagai teman curhat. Empati yang saya bangun dalam puisi itu, ingin saya realisasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan memohon izin Allah tentunya. Meski kadang sebagai orangtua, kita juga tidak mau mengalah, kita merasa bahwa mereka masih bau kencur dan tidak mengerti apa-apa. Kadang juga kita menginginkan mereka sesuai dengan maunya kita, kita ingin menguasai jiwa dan raga mereka untuk kita bentuk sesuai dengan keinginan kita, padahal seperti kata Kahlil gibran, “Anakmu bukan lah anakmu, engkau adalah busur dimana panah anak-anakmu dilepaskan, engkau dapat menguasai badannya, tetapi tidak jiwanya”. Mereka tidaklah berbeda dengan kita, masing-masing adalah anak pada zamannya sendiri, perbedaan mereka dengan kita adalah bahwa kita lebih dahulu diberikan kesempatan untuk hidup, sehingga kita lebih pandai dan lebih berpengalaman dari anak-anak kita.
Semoga bermanfaat.
Rabu, 13 Januari 2010
Sejatinya..
Dalam cermin yg lemah memantul,
sejatinya bayang-bayang tercipta buram..
Dalam hati yg semakin tumpul,
sejatinya hidup bagai dikungkung malam..
Tapi
Setitik cahaya tiba-tiba mengenyahkan temaram
membawa sayang dari Sang Pencipta kepada hamba..
mengobati kedunguan pribadi, mencerahkan kebodohan hati
dan menerangkan lugunya jiwa-jiwa yang picik akan nasib yang selalu bergulir..
Dulu mungkin kita raja, dulu mungkin kita penguasa,
tetapi roda zaman menggilas kejam, mematahkan tulang rusuk para penghalang..
mengganti si kaya menjadi si papa, mengganti si tuan menjadi si anak buah
atau
Dulu mungkin kita bukan siapa-siapa, dulu mungkin kita hanya rakyat nestapa..
tetapi roda kehidupan mengangkat beban, mencengkram kuat tengkuk para hamba dan menegakkan dada dan dagu mereka..
Sahabat
Tak ada yang mustahil bagi Allah pemilik semesta..
Jika kita merasa saat ini bahagia, tahanlah bahagia itu, sampai engkau yakin bahagiamu bisa mencium aroma surga..
dan jika kita merasa saat ini berduka nestapa, tahanlah kesabaranmu itu, sampai engkau yakin kenestapaanmu itu bisa menjauhkanmu dari api neraka..
Jika kita sekarang bahagia, sejatinya itu adalah ujian dari Allah..
dan jika kita sekarang menderita, sejatinya itu adalah kasih sayang dari Allah..
DIA maha pencipta dan kita adalah hamba..
Dan sejatinya, para hambalah yang butuh pencipta, bukan sebaliknya..
Pantaskah kita berlepas dariNYA,
Pantaskah kita melawan perintahNYA,
Pantaskah kita menuntut hak kita,
Sedang kewajiban masih terseok-seok oleh kesenangan dunia..
Sedang hak Pencipta masih tergadaikan oleh rakusnya nafsu si hamba..
Jika bukan didunia milikNYA ini, didunia mana lagi kita bisa menepi..
Jika bukan disemesta milikNYA ini, di semesta mana lagi kita bisa terlindungi..
Sejatinya..
Kita adalah Hamba, dan bukan siapa-siapa..
Ya dzat yang membolak-balikan hati, tetapkanlah hati ini dalam ketaatan kepadaMu..
sejatinya bayang-bayang tercipta buram..
Dalam hati yg semakin tumpul,
sejatinya hidup bagai dikungkung malam..
Tapi
Setitik cahaya tiba-tiba mengenyahkan temaram
membawa sayang dari Sang Pencipta kepada hamba..
mengobati kedunguan pribadi, mencerahkan kebodohan hati
dan menerangkan lugunya jiwa-jiwa yang picik akan nasib yang selalu bergulir..
Dulu mungkin kita raja, dulu mungkin kita penguasa,
tetapi roda zaman menggilas kejam, mematahkan tulang rusuk para penghalang..
mengganti si kaya menjadi si papa, mengganti si tuan menjadi si anak buah
atau
Dulu mungkin kita bukan siapa-siapa, dulu mungkin kita hanya rakyat nestapa..
tetapi roda kehidupan mengangkat beban, mencengkram kuat tengkuk para hamba dan menegakkan dada dan dagu mereka..
Sahabat
Tak ada yang mustahil bagi Allah pemilik semesta..
Jika kita merasa saat ini bahagia, tahanlah bahagia itu, sampai engkau yakin bahagiamu bisa mencium aroma surga..
dan jika kita merasa saat ini berduka nestapa, tahanlah kesabaranmu itu, sampai engkau yakin kenestapaanmu itu bisa menjauhkanmu dari api neraka..
Jika kita sekarang bahagia, sejatinya itu adalah ujian dari Allah..
dan jika kita sekarang menderita, sejatinya itu adalah kasih sayang dari Allah..
DIA maha pencipta dan kita adalah hamba..
Dan sejatinya, para hambalah yang butuh pencipta, bukan sebaliknya..
Pantaskah kita berlepas dariNYA,
Pantaskah kita melawan perintahNYA,
Pantaskah kita menuntut hak kita,
Sedang kewajiban masih terseok-seok oleh kesenangan dunia..
Sedang hak Pencipta masih tergadaikan oleh rakusnya nafsu si hamba..
Jika bukan didunia milikNYA ini, didunia mana lagi kita bisa menepi..
Jika bukan disemesta milikNYA ini, di semesta mana lagi kita bisa terlindungi..
Sejatinya..
Kita adalah Hamba, dan bukan siapa-siapa..
Ya dzat yang membolak-balikan hati, tetapkanlah hati ini dalam ketaatan kepadaMu..
Selasa, 22 Desember 2009
Lengkung Waktu Buat Ibu
I dedicated this poem for every mother in this world...
Ibu..
Peluk hangatmu masih mengalir di dalam nadiku...
Benih Cintamu masih merekah dalam relung-relung hatiku...
Kedamaian kasihmu masih membekas di sudut-sudut jiwaku..
Meski jarak dan waktu telah begitu jauh..
Memisahkan aku dan dirimu...
Ibu..
Ketika kaki kecilku masih lemah menapak..
Ketika lengan mungilku masih lemah menggenggam..
Ketika bibir kecilku masih lirih berucap..
Ketika punggungku masih ringkih menegak..
Ketika tubuh mungilku masih lemah merangkak..
Cintamu hadir menjadikan tapak-tapak ini kuat..
Hangatmu hadir menjadikan lengan-lengan ini mengepal..
Kasihmu menjadikan bibir ini mampu bersulang kata..
Sayangmu mampu menegakkan punggung ini..
Dan curahan hatimu yang damai membuat tubuh ini mampu menegakkan kepala..
Ibu..
Andai aku bisa memutar waktu..
Ku ingin engkau kembali seperti dulu..
Mendamaikan keributan dihati ini..
Mendamaikan kegelisahan dijiwa ini..
Ibu..
Andai ku bisa menggulung hari..
Ku ingin engkau selalu disini..
Mengusap kepalaku dari debu..
Mengecup luka di kaki dan tubuhku..
Menemaniku tidur saat ku gelisah dan takut..
Mencairkan bekunya airmata yang aku lupa kapan terakhir ia jatuh..
Mengadu kepadamu tentang kelemahanku..
Ibu..
Ku harap aku bisa mengerti..
Ku harap aku bisa memahami
Hadirmu dibumi sebagai permadani..
Tempat aku, kakak dan adikku bermain dan bernyanyi..
Tuhan ku..
Aku berharap bisa melengkungkan waktu..
Dan aku persembahkan kepada ibu..
Menjadikan anak-anak gadis kami kelak akan seperti dirimu..
Menjadikan mereka kelak meneladani sifat-sifatmu..
Menjadi tempat bernaung bagi bocah-bocah seperti kami..
Menjadi tempat sekolah dan masa depan kami..
Dan menjadi bahu tempat bersandar cita-cita kami..
Ibu..
Semoga Tuhan menerima amal baik mu..
Semoga engkau bahagia disana..
Semoga penghuni langit menyambutmu dengan gembira..
Dan memberikan tempat yang terbaik disisiNYA..
Amin.
Ibu..
Peluk hangatmu masih mengalir di dalam nadiku...
Benih Cintamu masih merekah dalam relung-relung hatiku...
Kedamaian kasihmu masih membekas di sudut-sudut jiwaku..
Meski jarak dan waktu telah begitu jauh..
Memisahkan aku dan dirimu...
Ibu..
Ketika kaki kecilku masih lemah menapak..
Ketika lengan mungilku masih lemah menggenggam..
Ketika bibir kecilku masih lirih berucap..
Ketika punggungku masih ringkih menegak..
Ketika tubuh mungilku masih lemah merangkak..
Cintamu hadir menjadikan tapak-tapak ini kuat..
Hangatmu hadir menjadikan lengan-lengan ini mengepal..
Kasihmu menjadikan bibir ini mampu bersulang kata..
Sayangmu mampu menegakkan punggung ini..
Dan curahan hatimu yang damai membuat tubuh ini mampu menegakkan kepala..
Ibu..
Andai aku bisa memutar waktu..
Ku ingin engkau kembali seperti dulu..
Mendamaikan keributan dihati ini..
Mendamaikan kegelisahan dijiwa ini..
Ibu..
Andai ku bisa menggulung hari..
Ku ingin engkau selalu disini..
Mengusap kepalaku dari debu..
Mengecup luka di kaki dan tubuhku..
Menemaniku tidur saat ku gelisah dan takut..
Mencairkan bekunya airmata yang aku lupa kapan terakhir ia jatuh..
Mengadu kepadamu tentang kelemahanku..
Ibu..
Ku harap aku bisa mengerti..
Ku harap aku bisa memahami
Hadirmu dibumi sebagai permadani..
Tempat aku, kakak dan adikku bermain dan bernyanyi..
Tuhan ku..
Aku berharap bisa melengkungkan waktu..
Dan aku persembahkan kepada ibu..
Menjadikan anak-anak gadis kami kelak akan seperti dirimu..
Menjadikan mereka kelak meneladani sifat-sifatmu..
Menjadi tempat bernaung bagi bocah-bocah seperti kami..
Menjadi tempat sekolah dan masa depan kami..
Dan menjadi bahu tempat bersandar cita-cita kami..
Ibu..
Semoga Tuhan menerima amal baik mu..
Semoga engkau bahagia disana..
Semoga penghuni langit menyambutmu dengan gembira..
Dan memberikan tempat yang terbaik disisiNYA..
Amin.
Selasa, 03 November 2009
Secarik doa untukmu...
Sayangku,
Ada saat dimana diriku terdiam membisu
Tak mengerti apa yang harus kulakukan
Tak jua ku bisa melakukan sedikit asa untukmu
Hanya secarik harapan dan doa yg mengiringi...
Sayangku,
Jikalau harta bisa merubah itu
Jikalau materi mampu mewujudkannya
Mungkin kita bisa menukar itu dengan semua yang kita miliki
Demi mewujudkan kebahagiaan dirimu
Dan kebahagiaan keluarga kita...
Tapi tidak, bukan itu yang sanggup memberi makna
Bukan itu yang memberikan bahagia
Sebab hal itu hanya membuat fitnah kepada manusia
Sebab hal itu bukan yang kita minta...
Sayangku,
Dalam riak-riak air mata yang tercurah
Dalam sendu-sendu yg menyelusup dalam sanubari
Dalam senggal-senggal nafas yang tertahan
Aku pun menghiba-harap kepada sang Pencipta
Semoga memberi apa yang kau pinta
Sebab DIAlah maha pemberi sesuatu
Sayangku,
Bakti dan sayangmu menjadi penguat rindu
Senyum dan kasihmu menjadi perantara cinta
Sujud-sujud mu kepadaNYA menjadi mahligai terindah
Dan butir-butir ikhlasku padamu pun bisa membuka tabir
Ketika engkau mengharap keharibaanNYA
Sayangku,
Ketika semua tak lagi berarti,
Ketika tak satupun bisa diharapkan
Ketika hatipun terasa sempit
Hanya doa kita yang membuat jiwamu kembali bertahta
Dalam tangisan-tangisan harap
Dalam rintihan-rintihan asa
Dalam pelukan-hangat selimut munajat
Dalam butiran-butiran air mata yang bergulir lambat
Dalam zikir-zikirmu yang semakin melemah
Dalam kecupan-kecupan doa yang terurai
Dalam sunyi-sunyi malam yang mulai merayap
Dalam ikhlas-ikhlas hati yang mulai bersemayam..
3 November 2009, tengah hari bolong, saat fikiran lagi mumet dan ide lagi macet...
Ada saat dimana diriku terdiam membisu
Tak mengerti apa yang harus kulakukan
Tak jua ku bisa melakukan sedikit asa untukmu
Hanya secarik harapan dan doa yg mengiringi...
Sayangku,
Jikalau harta bisa merubah itu
Jikalau materi mampu mewujudkannya
Mungkin kita bisa menukar itu dengan semua yang kita miliki
Demi mewujudkan kebahagiaan dirimu
Dan kebahagiaan keluarga kita...
Tapi tidak, bukan itu yang sanggup memberi makna
Bukan itu yang memberikan bahagia
Sebab hal itu hanya membuat fitnah kepada manusia
Sebab hal itu bukan yang kita minta...
Sayangku,
Dalam riak-riak air mata yang tercurah
Dalam sendu-sendu yg menyelusup dalam sanubari
Dalam senggal-senggal nafas yang tertahan
Aku pun menghiba-harap kepada sang Pencipta
Semoga memberi apa yang kau pinta
Sebab DIAlah maha pemberi sesuatu
Sayangku,
Bakti dan sayangmu menjadi penguat rindu
Senyum dan kasihmu menjadi perantara cinta
Sujud-sujud mu kepadaNYA menjadi mahligai terindah
Dan butir-butir ikhlasku padamu pun bisa membuka tabir
Ketika engkau mengharap keharibaanNYA
Sayangku,
Ketika semua tak lagi berarti,
Ketika tak satupun bisa diharapkan
Ketika hatipun terasa sempit
Hanya doa kita yang membuat jiwamu kembali bertahta
Dalam tangisan-tangisan harap
Dalam rintihan-rintihan asa
Dalam pelukan-hangat selimut munajat
Dalam butiran-butiran air mata yang bergulir lambat
Dalam zikir-zikirmu yang semakin melemah
Dalam kecupan-kecupan doa yang terurai
Dalam sunyi-sunyi malam yang mulai merayap
Dalam ikhlas-ikhlas hati yang mulai bersemayam..
3 November 2009, tengah hari bolong, saat fikiran lagi mumet dan ide lagi macet...
Selasa, 20 Oktober 2009
Surat terbuka untuk Bapak Presiden
Assalamualaikum Wr. Wb.
Yth Bapak Presiden Republik Indonesia
Saya adalah seorang bocah laki-laki berumur 10 th, saya mempunyai kakak perempuan berusia 12 th dan adik berusia 5 th.
Kini kami bertiga telah yatim piatu dan sekarang sudah tidak bersekolah lagi, keadaan yang memaksa kami untuk hidup dijalanan, saya berdagang koran, kakak dan adik saya menjadi pengemis dan pengamen jalanan.
Bermula dari Lumpur itu
Dahulu sebelum bencana itu datang, keluarga kami masih mempunyai kehidupan normal, meski kami hanya hidup dalam rumah kecil dengan sedikit perabotan seadanya. Ayah seorang anak tunggal bekerja sebagai buruh, kemudian berhenti dan berwiraswasta membuka warung kelontong didepan rumah, sedangkan Ibu bekerja sebagai TKW di Timur tengah dan selalu mengirimkan uang tiap bulan kepada keluarga kami.
Kematian Ibu
Enam bulan sebelum lumpur itu menghancurkan rumah kami, musibah terjadi menimpa ibu, Ia hampir diperkosa majikannya tetapi berhasil kabur keluar rumah setelah menusuk majikan nya itu dengan sebuah pisau buah. Tetapi keluarga majikan malah memfitnah ibu dengan fitnah keji, ibu dituduh merayu dan membunuh majikan. Ketika Ibu ditangkap dan didakwa dengan hukuman gantung, Ibu sangat syok, tiada yang membelanya karena semua bukti direkayasa. Pemerintah dalam hal ini KBRI tidak bisa memberikan pertolongan apa-apa, kecuali hanya sekedar simpati. Disana ibu berjuang sendiri, tidak ada yang perduli dengan dirinya yang hanya sebagai korban, dan pertolongan pemerintah sebagai tempat terakhir seakan-akan seperti pungguk merindukan bulan. Para petinggi itu seakan tidak peduli akan nasib ibu, tidak ada usaha untuk membuktikan bahwa ibu difitnah oleh majikannya. Dalam masa penahanannya, ibu mengirim surat-suratnya kepada kami, surat-surat yang membuat kami menangis setiap hari, membuat bapak selalu pingsan dan membuat si bungsu dan kakak perempuanku merintih setiap malam. Hanya aku sebagai anak lelaki yang paling besar yang berusaha tabah dan menyabarkan keluargaku. Hari-hari ceria berubah menjadi kelam, canda tawa kami seketika menghilang dalam gelapnya episode yang akan kami lalui nanti. Sampai suatu ketika dalam surat terakhirnya, ibu menyuruh bapak untuk tabah dan kuat untuk melanjutkan kehidupan keluarga kami, ia memilih jalan yang terhormat ketimbang mati dalam kondisi difitnah. Dua hari setelah itu, kami mendengar ibu tewas bunuh diri didalam penjara. Ternyata jalan terhormat itu yang dimaksud ibu dalam surat terakhirnya adalah gantung diri.
Setelah kematian Ibu, kehidupan berjalan normal kembali dan bapak melaksanakan janjinya, ia tidak terlihat cengeng, bahkan lebih tegar, terbukti dengan niatnya berwiraswasta dengan membuka warung kelontong yang cukup ramai, bahkan bapak nekad meminjam uang untuk menambah modal usahanya. Ia katakan kepadaku kalau ingin besar harus berani mengambil resiko besar pula.
Bencana itu
Roda kehidupan berjalan bagai pedati menarik jerami, ia berputar kadang diatas dan kadang dibawah.
Belum lama kami berhasil tersenyum kembali sejak kematian ibu, bencana yang lebih besar datang, kampung halaman kami terendam lumpur yang berasal dari pipa pengeboran perusahaan swasta.Lumpur itu melululantahkan rumah-rumah kami dan terpaksa kami menjadi pengungsi dikampung halaman sendiri. Rumah kami, sekolah kami, surau kami kini hilang ditelan bumi, memang katanya ada penggantian dari perusahaan itu, tapi ternyata penggantian itu hanya berlaku untuk rumah-rumah yang terdaftar di lembaga penanggulangan lumpur milik pemerintah dengan mengajukan surat-surat tanah, sedang rumah kami, rumah kecil warisan dari kakek kami, yang hanya terletak diujung jalan tidak pernah dihitung oleh mereka. Kami berusaha melaporkan kepada Pak RT, tetapi Pak RT sendiri kami tak tahu dimana rimbanya, beliau sudah pergi entah kemana karena rumahnya pun telah hilang. Ayah kami yang lugu tak tahu harus meminta tolong kepada siapa, dan ia bingung harus melakukan apa, bahkan ia sering berteriak-teriak seperti orang gila karena tak sanggup menahan beban derita yang berkepanjangan karena ganti rugi tak jua dibayar-bayar. Sampai pada suatu ketika, ia menyuruh kami untuk ke Jakarta meneruskan sisa-sisa hidup kami untuk menumpang kepada seorang kerabat ibu disana. Dibekali secarik kertas alamat dan sedikit uang kami bertiga pergi ke jakarta menumpang bus malam diantar tetangga kami.
Sesampai di Jakarta, kami tak tahu harus kemana, kami pun tidak mengerti mengapa ayah menyuruh kami pergi ke kota besar ini, selain ia hanya bilang bahwa kita lebih baik tinggal bersama kerabat ibu yang tinggal disini. Ayah akan berjuang mendapatkan haknya untuk menuntut penggantian uang gantirugi atas rumah kami, begitu katanya sambil tertawa terbahak-bahak sambil menangis. Terakhir, kata tetangga kami ayah kami harus meninggal karena gantung diri sebab tak kuat lagi untuk menahan berat hidup.
Di jakarta, kami luntang-lantung tak tahu harus kemana, sampai akhirnya kami dirazia oleh satpol PP karena disangka kami pengemis dan gelandangan. Dan memang saat itu, tanpa sadar bahwa kami memang telah menjadi gelandangan. Kami tak punya siapa-siapa di kota besar ini, rumah tempat tinggal kami dipaksa untuk hilang dari muka bumi, sekolah kami dan masa depan kami dirampas dengan paksa oleh orang-orang itu yang entah siapa mereka dan apa kesalahan kami. Yang kami tahu kami dan teman-teman kami tercerai berai oleh bencana itu, bencana yang oleh Bapak Presiden dibilang sebagai “Musibah” sedang bagi kami tetaplah sebagai bencana.
Selepas dari pemeriksaan satpol PP, kami ditolong oleh seorang tua penjual koran yang juga tertangkap oleh petugas itu. Ia membawa kami untuk tinggal digubuknya yang sempit seraya berjanji untuk mencari alamat kerabat ibu kami. Digubuk yang terletak disamping rel itu, kami meneruskan sisa-sisa nafas kami, kami tinggalkan masa kanak-kanak kami dengan berjuang untuk bertahan hidup. Saat anak-anak yang lain bercengkerama dengan teman sekolahnya, adik kami yang seharusnya duduk dibangku TK, terpaksa berlari-lari dijalanan untuk mengemis dari satu kendaraan ke kendaraan lain tak peduli kaki mungilnya menghitam dan rambut kritingnya memerah karena sengatan matahari. Setiap ada kendaraan yg lewat dan berhenti, tangan kecilnya tak lupa untuk menengadah berharap ada pengendara yang berbaik hati memberikan sedekahnya. Sedangkan aku, berdiri dan berlari-lari diperempatan jalan sambil meneriakan koran yang aku jajakan sejak subuh tadi, semoga ada pembeli yang mau membaca koranku pagi ini. Dan kakakku, karena ia memiliki suara merdu, ia menjadi pengamen jalanan dengan sebuah kericikan ditangan. Ia yang seharusnya duduk di bangku SMP dengan kecerdasan yang dimilikinya, seharusnya bisa merenda masa depan yang lebih baik. Semua pekerjaan itu kami lakukan dengan terpaksa, dari pagi hingga malam demi menyambung hari esok, demi menggapai impian-impian anak-anak kecil seperti kami.
Bapak Presiden yang saya hormati.
Karena seringnya membaca koran, kini aku menjadi tahu tentang siapa dirimu, dan apa saja yang bisa engkau lakukan dengan kekuatan hebat yang engkau miliki. Karena sering membaca koran itu juga aku bisa menulis surat ini untuk mu, Ternyata engkaulah orang yang selama ini aku cari-cari. Engkaulah orang yang bisa merubah nasib kami dengan sekali perintah saja, orang yang memiliki kesanggupan untuk merubah dunia ditangannya. Orang yang bisa merubah nasib Ibuku jika saat itu ia mau tahu dan membantu dengan bantuan hukum, orang yang bisa mengembalikan rumah kami yang hilang terendam lumpur, orang yang bisa menyembuhkan sakit gila ayahku, orang yang bisa menyekolahkan si bungsu adikku, juga aku dan kakakku, orang yang bisa menampung anak-anak seperti kami dalam rumah yg nyaman, orang yang bisa membuat cerah masa depan kami dan ribuan anak-anak jalanan lainnya yang terjebak dalam kondisi ini bukan karena inilah nasib mereka, tetapi karena dipaksa oleh orang dewasa yang tidak berprikemanusiaan.
Bapak Presiden, yang aku kagumi,
Pagi ini setelah melihat berita engkau dilantik, aku ingin engkau menggunakan kekuatan hebatmu untuk membantu kami menemukan kembali kebahagiaan kami yang hilang. Mengembalikan keceriaan sibungsu, memuluskan kembali jari-jari tangannya yang terbakar aspal dan memutihkan kembali mukanya yang tertutup debu jalanan. Juga mengembalikan tawa riang kakak kami yang menghilang sejak ayah sakit jiwa dan menyegarkan kembali wajahnya yang cantik dengan untaian senyumnya seperti beberapa tahun lalu. Juga membantuku mewujudkan cita-cita Ibu dan harapan ayah pada diriku untuk menjadi orang yang berguna bagi sesama. Engkau Juga adalah orang yang bisa melindungi anak-anak seperti kami yang terpaksa mencari nafkah dijalanan, dari jeratan undang-undang ketertiban milik pemda yang senantiasa bisa menjerat kami kedalam penjara.
Bapak Presiden yang aku hormati,
Jika engkau tidak bisa menggunakan kekuatan hebatmu untuk kami, tidak mengapa, aku tidak akan marah, begitu juga adik dan kakak ku. Kami terbiasa tidak meminta kepada orang lain, kami terbiasa tidak menggantungkan hidup kepada manusia lain. Keluarga kami terbiasa hidup keras dan tidak lemah. Satu-satunya tempat bergantung kami hanyalah Allah, Tuhan pemilik dunia ini, itulah yang sering almarhum ibu sampaikan kepada kami, untuk menghibur diri kami saat kami jauh darinya.
Jika engkau sulit untuk mewujudkan harapan kami, juga harapan ribuan anak jalanan lainnya, juga harapan jutaan kaum yang senasib dengan kami, kami hanya meminta kepada engkau untuk mengaminkan doa kami saja, semoga kami bisa menggantikan posisi engkau ketika kami dewasa nanti. Karena kami ingin menolong orang yang bernasib seperti ibu kami, kami ingin menolong orang yang senasib dengan keluarga kami, juga keluarga-keluarga lainnya yang kurang beruntung hidup dinegeri ini.
Sampaikan salam kami untuk para pembantu engkau, agar beliau juga mengamini doa kami, agar kami dapat menggantikan posisi mereka kelak jika kami besar. Agar Si bungsu kelak akan tercapai cita-citanya menjadi orang yg menyayangi orang lain dengan sepenuh hati seperti sayangnya pak tua penjual koran itu kepada kami, setiap pagi ketika hidup mulai bergulir kembali.
Bapak Presiden yang kami hormati, semoga engkau membaca surat kami.
Wassalamualaikum Wr.Wb.
Dari anak negeri yg terhempas di jalanan karena nasib yang kurang beruntung.
20 Oktober 2009, Tengah malam bertepatan dengan pelantikan Presiden/Wakil Presiden RI periode 2009-2014
Suatu Siang Di Seberang Istana (IWAN FALS)
Sore Tugu Pancoran (IWAN FALS)
Yth Bapak Presiden Republik Indonesia
Saya adalah seorang bocah laki-laki berumur 10 th, saya mempunyai kakak perempuan berusia 12 th dan adik berusia 5 th.
Kini kami bertiga telah yatim piatu dan sekarang sudah tidak bersekolah lagi, keadaan yang memaksa kami untuk hidup dijalanan, saya berdagang koran, kakak dan adik saya menjadi pengemis dan pengamen jalanan.
Bermula dari Lumpur itu
Dahulu sebelum bencana itu datang, keluarga kami masih mempunyai kehidupan normal, meski kami hanya hidup dalam rumah kecil dengan sedikit perabotan seadanya. Ayah seorang anak tunggal bekerja sebagai buruh, kemudian berhenti dan berwiraswasta membuka warung kelontong didepan rumah, sedangkan Ibu bekerja sebagai TKW di Timur tengah dan selalu mengirimkan uang tiap bulan kepada keluarga kami.
Kematian Ibu
Enam bulan sebelum lumpur itu menghancurkan rumah kami, musibah terjadi menimpa ibu, Ia hampir diperkosa majikannya tetapi berhasil kabur keluar rumah setelah menusuk majikan nya itu dengan sebuah pisau buah. Tetapi keluarga majikan malah memfitnah ibu dengan fitnah keji, ibu dituduh merayu dan membunuh majikan. Ketika Ibu ditangkap dan didakwa dengan hukuman gantung, Ibu sangat syok, tiada yang membelanya karena semua bukti direkayasa. Pemerintah dalam hal ini KBRI tidak bisa memberikan pertolongan apa-apa, kecuali hanya sekedar simpati. Disana ibu berjuang sendiri, tidak ada yang perduli dengan dirinya yang hanya sebagai korban, dan pertolongan pemerintah sebagai tempat terakhir seakan-akan seperti pungguk merindukan bulan. Para petinggi itu seakan tidak peduli akan nasib ibu, tidak ada usaha untuk membuktikan bahwa ibu difitnah oleh majikannya. Dalam masa penahanannya, ibu mengirim surat-suratnya kepada kami, surat-surat yang membuat kami menangis setiap hari, membuat bapak selalu pingsan dan membuat si bungsu dan kakak perempuanku merintih setiap malam. Hanya aku sebagai anak lelaki yang paling besar yang berusaha tabah dan menyabarkan keluargaku. Hari-hari ceria berubah menjadi kelam, canda tawa kami seketika menghilang dalam gelapnya episode yang akan kami lalui nanti. Sampai suatu ketika dalam surat terakhirnya, ibu menyuruh bapak untuk tabah dan kuat untuk melanjutkan kehidupan keluarga kami, ia memilih jalan yang terhormat ketimbang mati dalam kondisi difitnah. Dua hari setelah itu, kami mendengar ibu tewas bunuh diri didalam penjara. Ternyata jalan terhormat itu yang dimaksud ibu dalam surat terakhirnya adalah gantung diri.
Setelah kematian Ibu, kehidupan berjalan normal kembali dan bapak melaksanakan janjinya, ia tidak terlihat cengeng, bahkan lebih tegar, terbukti dengan niatnya berwiraswasta dengan membuka warung kelontong yang cukup ramai, bahkan bapak nekad meminjam uang untuk menambah modal usahanya. Ia katakan kepadaku kalau ingin besar harus berani mengambil resiko besar pula.
Bencana itu
Roda kehidupan berjalan bagai pedati menarik jerami, ia berputar kadang diatas dan kadang dibawah.
Belum lama kami berhasil tersenyum kembali sejak kematian ibu, bencana yang lebih besar datang, kampung halaman kami terendam lumpur yang berasal dari pipa pengeboran perusahaan swasta.Lumpur itu melululantahkan rumah-rumah kami dan terpaksa kami menjadi pengungsi dikampung halaman sendiri. Rumah kami, sekolah kami, surau kami kini hilang ditelan bumi, memang katanya ada penggantian dari perusahaan itu, tapi ternyata penggantian itu hanya berlaku untuk rumah-rumah yang terdaftar di lembaga penanggulangan lumpur milik pemerintah dengan mengajukan surat-surat tanah, sedang rumah kami, rumah kecil warisan dari kakek kami, yang hanya terletak diujung jalan tidak pernah dihitung oleh mereka. Kami berusaha melaporkan kepada Pak RT, tetapi Pak RT sendiri kami tak tahu dimana rimbanya, beliau sudah pergi entah kemana karena rumahnya pun telah hilang. Ayah kami yang lugu tak tahu harus meminta tolong kepada siapa, dan ia bingung harus melakukan apa, bahkan ia sering berteriak-teriak seperti orang gila karena tak sanggup menahan beban derita yang berkepanjangan karena ganti rugi tak jua dibayar-bayar. Sampai pada suatu ketika, ia menyuruh kami untuk ke Jakarta meneruskan sisa-sisa hidup kami untuk menumpang kepada seorang kerabat ibu disana. Dibekali secarik kertas alamat dan sedikit uang kami bertiga pergi ke jakarta menumpang bus malam diantar tetangga kami.
Sesampai di Jakarta, kami tak tahu harus kemana, kami pun tidak mengerti mengapa ayah menyuruh kami pergi ke kota besar ini, selain ia hanya bilang bahwa kita lebih baik tinggal bersama kerabat ibu yang tinggal disini. Ayah akan berjuang mendapatkan haknya untuk menuntut penggantian uang gantirugi atas rumah kami, begitu katanya sambil tertawa terbahak-bahak sambil menangis. Terakhir, kata tetangga kami ayah kami harus meninggal karena gantung diri sebab tak kuat lagi untuk menahan berat hidup.
Di jakarta, kami luntang-lantung tak tahu harus kemana, sampai akhirnya kami dirazia oleh satpol PP karena disangka kami pengemis dan gelandangan. Dan memang saat itu, tanpa sadar bahwa kami memang telah menjadi gelandangan. Kami tak punya siapa-siapa di kota besar ini, rumah tempat tinggal kami dipaksa untuk hilang dari muka bumi, sekolah kami dan masa depan kami dirampas dengan paksa oleh orang-orang itu yang entah siapa mereka dan apa kesalahan kami. Yang kami tahu kami dan teman-teman kami tercerai berai oleh bencana itu, bencana yang oleh Bapak Presiden dibilang sebagai “Musibah” sedang bagi kami tetaplah sebagai bencana.
Selepas dari pemeriksaan satpol PP, kami ditolong oleh seorang tua penjual koran yang juga tertangkap oleh petugas itu. Ia membawa kami untuk tinggal digubuknya yang sempit seraya berjanji untuk mencari alamat kerabat ibu kami. Digubuk yang terletak disamping rel itu, kami meneruskan sisa-sisa nafas kami, kami tinggalkan masa kanak-kanak kami dengan berjuang untuk bertahan hidup. Saat anak-anak yang lain bercengkerama dengan teman sekolahnya, adik kami yang seharusnya duduk dibangku TK, terpaksa berlari-lari dijalanan untuk mengemis dari satu kendaraan ke kendaraan lain tak peduli kaki mungilnya menghitam dan rambut kritingnya memerah karena sengatan matahari. Setiap ada kendaraan yg lewat dan berhenti, tangan kecilnya tak lupa untuk menengadah berharap ada pengendara yang berbaik hati memberikan sedekahnya. Sedangkan aku, berdiri dan berlari-lari diperempatan jalan sambil meneriakan koran yang aku jajakan sejak subuh tadi, semoga ada pembeli yang mau membaca koranku pagi ini. Dan kakakku, karena ia memiliki suara merdu, ia menjadi pengamen jalanan dengan sebuah kericikan ditangan. Ia yang seharusnya duduk di bangku SMP dengan kecerdasan yang dimilikinya, seharusnya bisa merenda masa depan yang lebih baik. Semua pekerjaan itu kami lakukan dengan terpaksa, dari pagi hingga malam demi menyambung hari esok, demi menggapai impian-impian anak-anak kecil seperti kami.
Bapak Presiden yang saya hormati.
Karena seringnya membaca koran, kini aku menjadi tahu tentang siapa dirimu, dan apa saja yang bisa engkau lakukan dengan kekuatan hebat yang engkau miliki. Karena sering membaca koran itu juga aku bisa menulis surat ini untuk mu, Ternyata engkaulah orang yang selama ini aku cari-cari. Engkaulah orang yang bisa merubah nasib kami dengan sekali perintah saja, orang yang memiliki kesanggupan untuk merubah dunia ditangannya. Orang yang bisa merubah nasib Ibuku jika saat itu ia mau tahu dan membantu dengan bantuan hukum, orang yang bisa mengembalikan rumah kami yang hilang terendam lumpur, orang yang bisa menyembuhkan sakit gila ayahku, orang yang bisa menyekolahkan si bungsu adikku, juga aku dan kakakku, orang yang bisa menampung anak-anak seperti kami dalam rumah yg nyaman, orang yang bisa membuat cerah masa depan kami dan ribuan anak-anak jalanan lainnya yang terjebak dalam kondisi ini bukan karena inilah nasib mereka, tetapi karena dipaksa oleh orang dewasa yang tidak berprikemanusiaan.
Bapak Presiden, yang aku kagumi,
Pagi ini setelah melihat berita engkau dilantik, aku ingin engkau menggunakan kekuatan hebatmu untuk membantu kami menemukan kembali kebahagiaan kami yang hilang. Mengembalikan keceriaan sibungsu, memuluskan kembali jari-jari tangannya yang terbakar aspal dan memutihkan kembali mukanya yang tertutup debu jalanan. Juga mengembalikan tawa riang kakak kami yang menghilang sejak ayah sakit jiwa dan menyegarkan kembali wajahnya yang cantik dengan untaian senyumnya seperti beberapa tahun lalu. Juga membantuku mewujudkan cita-cita Ibu dan harapan ayah pada diriku untuk menjadi orang yang berguna bagi sesama. Engkau Juga adalah orang yang bisa melindungi anak-anak seperti kami yang terpaksa mencari nafkah dijalanan, dari jeratan undang-undang ketertiban milik pemda yang senantiasa bisa menjerat kami kedalam penjara.
Bapak Presiden yang aku hormati,
Jika engkau tidak bisa menggunakan kekuatan hebatmu untuk kami, tidak mengapa, aku tidak akan marah, begitu juga adik dan kakak ku. Kami terbiasa tidak meminta kepada orang lain, kami terbiasa tidak menggantungkan hidup kepada manusia lain. Keluarga kami terbiasa hidup keras dan tidak lemah. Satu-satunya tempat bergantung kami hanyalah Allah, Tuhan pemilik dunia ini, itulah yang sering almarhum ibu sampaikan kepada kami, untuk menghibur diri kami saat kami jauh darinya.
Jika engkau sulit untuk mewujudkan harapan kami, juga harapan ribuan anak jalanan lainnya, juga harapan jutaan kaum yang senasib dengan kami, kami hanya meminta kepada engkau untuk mengaminkan doa kami saja, semoga kami bisa menggantikan posisi engkau ketika kami dewasa nanti. Karena kami ingin menolong orang yang bernasib seperti ibu kami, kami ingin menolong orang yang senasib dengan keluarga kami, juga keluarga-keluarga lainnya yang kurang beruntung hidup dinegeri ini.
Sampaikan salam kami untuk para pembantu engkau, agar beliau juga mengamini doa kami, agar kami dapat menggantikan posisi mereka kelak jika kami besar. Agar Si bungsu kelak akan tercapai cita-citanya menjadi orang yg menyayangi orang lain dengan sepenuh hati seperti sayangnya pak tua penjual koran itu kepada kami, setiap pagi ketika hidup mulai bergulir kembali.
Bapak Presiden yang kami hormati, semoga engkau membaca surat kami.
Wassalamualaikum Wr.Wb.
Dari anak negeri yg terhempas di jalanan karena nasib yang kurang beruntung.
20 Oktober 2009, Tengah malam bertepatan dengan pelantikan Presiden/Wakil Presiden RI periode 2009-2014
Suatu Siang Di Seberang Istana (IWAN FALS)
Sore Tugu Pancoran (IWAN FALS)
Jumat, 02 Oktober 2009
Nak, Tuhan sangat sayang kepadamu...
Sore itu,
puluhan anak sedang asyik mengisi saat senggang mereka dengan kesibukan
puluhan bocah sedang giat mewujudkan impian mereka
puluhan generasi pengganti mengisi hari-hari mereka dengan kebaikan ilmu
saat anak-anak lain duduk tertawa di depan televisi
mereka mengernyitkan dahi memutar otak membahas pelajaran demi pelajaran
dalam suatu majelis ilmu bernama gama
di sebuah kota bernama padang
sebuah kota di negeri kami tercinta..
Tiba-tiba,
suara gemuruh datang dan gedung bergoyang
dalam sekejap mata mereka terbenam
kekhusukan berubah menjadi tangis
keheningan berubah menjadi iba
hati-hati para belia pun luruh dalam kepasrahan..
dalam doa-doa lirih yang tak sanggup lagi mereka ucapkan..
Tersentak hati menangis dan jiwa tak mampu berdiri
kepala tak sanggup untuk ditegakkan..
tajam luka hati ini melihat kondisi engkau wahai anak-anakku
dalam kesyahidan mencari ilmu
dalam kemulyaan engkau dipanggil sang pencipta..
Saat asa untuk hidup mengiringi harapan mereka
detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam hingga hari berganti..
pertolongan tak jua datang, ia hanya bisa mengankat sebongkah batu,
ia hanya bisa menjemput satu dan dua jiwa saja,
sedang jiwa-jiwa lain dijemput oleh sang pencipta,
dalam gelap mereka meringis, dalam haus mereka menangis...
dalam rintik hujan mereka pasrah dijemput penciptanya...
Nak...
ketahuilah..
Tuhan sangat sayang kepada engkau,
kepada teman-teman mu, juga kepada yang lain..
engkau lebih mulia dari kami,
engkau lebih berjasa dari para pahlawan manapun..
pahala syahid pun telah menunggu engkau..
dalam menuntut ilmu bagi dirimu, bagi orang tuamu, bagi agamamu dan bagi negaramu..
engkau patut bangga..
engkau tak pernah bermain-main dengan hidup mu,
engkau tak pernah menyia-nyiakan waktu mu,
sedang kami, disini ditempat yang jauh dari mu,
para orang tua, para mahluk dewasa kadang tak sadar telah banyak menyia-nyiakan hidup
telah banyak menyia-nyiakan waktu hanya untuk bermaksiat kepadaNYA
Seharusnya bencana itu bisa menampar hati kami,
seharusnya bencana itu bisa membuka mata kami,
seharusnya bencana itu dapat menyadarkan kami,
dan seharusnya kesyahidan mu itu membuat malu diri kami...
Nak..
sampaikan salamkan kami kepada orangtuamu
sampaikan iri kami kepada ayah bundamu yang sangat tabah
yang telah melahirkanmu sebagai mujahid
dalam mengabdi kepada ilmu
dalam mengisi ruang-ruang waktu
dengan kemulyaan seorang ulama..
Untuk anak-anakku korban gempa di Padang ketika sedang menuntut ilmu dalam gedung gama, kami semua sayang kamu..
puluhan anak sedang asyik mengisi saat senggang mereka dengan kesibukan
puluhan bocah sedang giat mewujudkan impian mereka
puluhan generasi pengganti mengisi hari-hari mereka dengan kebaikan ilmu
saat anak-anak lain duduk tertawa di depan televisi
mereka mengernyitkan dahi memutar otak membahas pelajaran demi pelajaran
dalam suatu majelis ilmu bernama gama
di sebuah kota bernama padang
sebuah kota di negeri kami tercinta..
Tiba-tiba,
suara gemuruh datang dan gedung bergoyang
dalam sekejap mata mereka terbenam
kekhusukan berubah menjadi tangis
keheningan berubah menjadi iba
hati-hati para belia pun luruh dalam kepasrahan..
dalam doa-doa lirih yang tak sanggup lagi mereka ucapkan..
Tersentak hati menangis dan jiwa tak mampu berdiri
kepala tak sanggup untuk ditegakkan..
tajam luka hati ini melihat kondisi engkau wahai anak-anakku
dalam kesyahidan mencari ilmu
dalam kemulyaan engkau dipanggil sang pencipta..
Saat asa untuk hidup mengiringi harapan mereka
detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam hingga hari berganti..
pertolongan tak jua datang, ia hanya bisa mengankat sebongkah batu,
ia hanya bisa menjemput satu dan dua jiwa saja,
sedang jiwa-jiwa lain dijemput oleh sang pencipta,
dalam gelap mereka meringis, dalam haus mereka menangis...
dalam rintik hujan mereka pasrah dijemput penciptanya...
Nak...
ketahuilah..
Tuhan sangat sayang kepada engkau,
kepada teman-teman mu, juga kepada yang lain..
engkau lebih mulia dari kami,
engkau lebih berjasa dari para pahlawan manapun..
pahala syahid pun telah menunggu engkau..
dalam menuntut ilmu bagi dirimu, bagi orang tuamu, bagi agamamu dan bagi negaramu..
engkau patut bangga..
engkau tak pernah bermain-main dengan hidup mu,
engkau tak pernah menyia-nyiakan waktu mu,
sedang kami, disini ditempat yang jauh dari mu,
para orang tua, para mahluk dewasa kadang tak sadar telah banyak menyia-nyiakan hidup
telah banyak menyia-nyiakan waktu hanya untuk bermaksiat kepadaNYA
Seharusnya bencana itu bisa menampar hati kami,
seharusnya bencana itu bisa membuka mata kami,
seharusnya bencana itu dapat menyadarkan kami,
dan seharusnya kesyahidan mu itu membuat malu diri kami...
Nak..
sampaikan salamkan kami kepada orangtuamu
sampaikan iri kami kepada ayah bundamu yang sangat tabah
yang telah melahirkanmu sebagai mujahid
dalam mengabdi kepada ilmu
dalam mengisi ruang-ruang waktu
dengan kemulyaan seorang ulama..
Untuk anak-anakku korban gempa di Padang ketika sedang menuntut ilmu dalam gedung gama, kami semua sayang kamu..
Langganan:
Postingan (Atom)