Kamis, 18 Agustus 2011
Mirage
meresap kedalam ruangan kosong
dimana sajadah terhampar
basah oleh resah sang pemiliknya
berusaha mendinginkan hati yg gulana
berusaha mecairkan geram yg membeku sejak tadi
Nun
Dunia sedang bercanda kepadanya
Nasib sedang bermain-main dengan kehidupannya
Meledeknya dengan gurauan-gurauan nasib milik orang sekelilingnya
dari mengusap lembut
sampai menghimpit dengan himpitan yg begitu tajam
dan meremuk dalam hingga ke tulang rusuk
menguras tenaga dan membekukan otaknya
hingga ia tak sanggup lagi untuk berfikir
Wahai jiwa yang resah
mengapa engkau tak merasa
sakit dan himpitan itu bukan datang karena takdir
tetapi ia datang karena kau undang untuk bersarang di lubuk hatimu
kau biarkan ia menari-nari mempermainkan perasaanmu
kau tumbuhkan bibit kedengkian dalam jiwamu
hingga merusak jiwa dan pola pikirmu
Wahai jiwa
mengapa kau senang melihat orang lain susah
mengapa kau susah melihat orang lain senang
bukankah rizki allah sudah tergaris untuk masing-masing hamba
bukankah bala dan bahaya sudah tersurat dalam kitab yang maha tinggi
mengapa engkau menyakiti jiwa mu sendiri
dengan membiarkan hasad bersarang di hatimu
wahai jiwa
mengapa engkau sakit ketika melihat saudaramu menerima rizkinya
mengapa engkau menderita ketika melihat kawanmu mendapatkan haknya
bahkan engkau menginginkan kebahagian milik mereka menghilang dari dirinya
wahai jiwa
mengapa engkau membunuh dirimu sendiri dengan fatamorgana
bukankah bahagia dan derita menggilir semua hamba
ketika engkau sakit, mereka pun pernah sakit
ketika engkau bahagia, merekapun pernah bahagia
wahai jiwa
jangan biarkan ibadahmu sia-sia
jangan biarkan sujud-sujudmu hanya menjadi penghias dahimu saja
jangan biarkan api kedengkian membakar pahala-pahalamu
jangan biarkan dosa-dosa mereka mengalir deras memenuhi dirimu
dan kerugian menjadi akhir kehidupan mu
wahai jiwa
ribuan tahun pun kau bersujud
jutaan kali pun kau mengunjungi baitullah
milyaran rupiah pun engkau berinfak dan bersodaqoh
bahkan bila sepanjang hidupmu pun kau berpuasa tanpa henti
akan sia-sia jika hasad dan dengki menyergap hatimu
wahai jiwa
mengapakah kita masih memikirkan dunia
jika sang Nabi pun enggan memilikinya
mengapakah kita masih mengharap dunia
jika akhiratpun lebih baik darinya
jika dunia yang membuatmu berat
mengapa tak kau kembalikan kepada pemiliknya
Jika dengki merasuki hati
maka akhirat tak lagi bisa dimiliki
Itulah orang-orang yang merugi
Kamis, 24 Februari 2011
Dik..
jauh sudah perjalanan yang telah kita lalui..
jauh sudah jarak yang kita tempuh..
jauh sudah pandangan mata menghilang dari tempat berpijak pertama kali..
jauh pula usia merambati benang kehidupan kita,
sejak saat itu, saat jiwa merasa perlu bersatu, saat azzam di hati saling berpagut, saat sang mimpi saling berjanji menjaga hati, untuk saling menguatkan satu sama lain..
Dik..
ketika bahtera ini mulai ku kayuh pertama kali..
ketika dayung sampan ini masih terasa ringan..
ketika ombak lautpun masih mengusap lambung kapal dengan lembutnya..
jiwa-jiwa kita pun terasa nyaman dan tenang..
hati khusuk dan syahdu mensyukuri nikmat Tuhan..
dan surgapun terasa lembut ditangan..
Dik..
lalu kita pun melaju jauh ketengah lautan,
menyisir nadi samudera hingga kepusaran gelombang..
menantang tingginya ombak dan ganasnya deru angin..
hingga tersadar bahwa hidup bukanlah sebuah permainan..
hingga tersadar bahwa bahtera ini bisa terkoyak bahkan hancur berantakan..
kita pun panik dan saling menyalahkan..
atau terdiam karena syok akan hebatnya badai yang datang tak terperikan..
atau gemetar dalam pelukan rasa takut yang begitu dalam..
sampai akhirnya pertolongan Tuhan pun datang..
mendamaikan keributan dihati, menenangkan jiwa yang gelisah..
mengumpulkan kembali asa yang terserak, merapatkan kembali janji-janji yang hampir retak,
menguatkan kembali azzam yang pernah berpagut, menyadarkan kembali khittah dan komitment diri, bahwa pernikahan adalah sebuah jalan takwa menuju pada ridhaNYA.
Dik..
saat itu jiwa kita masih muda, emosi dan ego masih meraja..
dan rasa percaya diri masih begitu tinggi,
sedangkan iman dan hati ikhlas masih pas-pasan..
rasa takwa kepada Tuhanpun hanya sekedar pelampiasan..
ketika kita menyadari bahwa kita bukanlah manusia sempurna..
ketika kita menyadari bahwa kita sangat lemah bahkan tak berguna..
barulah kita tersadar bahwa kita saling membutuhkan satu sama lain..
seperti jari jemari yang saling berpilin, seperti tulang dan sendi yang saling menguatkan satu sama lain..
Dik..
aku tanpa mu bukanlah apa-apa dan engkau tanpa diriku bukanlah siapa-siapa..
kita adalah dua anak manusia yang mencoba menaklukan kerasnya dunia..
kita adalah dua anak manusia yang mengikuti jalannya takdir..
mencoba membagi kehidupan dan kebahagiaan bersama..
mencoba membentuk cinta dari asa dan rasa yang apa adanya..
mengais-ngais sukacita dari remah-remah mimpi..
mengutip-ngutip bahagia dari tetesan darah dan airmata..
seraya mengharap hiba kepada illahi robbi..
semoga jalan bahagia selalu diberi..
Dik..
dirimu adalah separuh nafasku, dan diriku adalah setengah jiwamu..
dan anak-anak tidak melihat aku atau dirimu saja..
kebahagiaan mereka adalah ketika aku dan kamu bersatu menjadi kita
dan berpadunya hati kita menyempurnakan kebahagiaan mereka..
Dan senyum mereka pun terbentuk karena kasih sayang kita..
Dik..
biarkan kita menikmati dunia tanpa cela di hati..
biarkan waktu mengalir menguji cinta kita..
apakah ia sekedar permainan dunia atau jalan suci menuju cintaNYA..
biarkan lengkung waktu menyapa atau menegur kita..
menguji rasa ini kepada mu, menggoyahkan atau mengokohkan..
hingga kita mengerti..bahwa kau dan aku memang telah digariskan..
menikmati lembutnya takdir atau kerasnya nasib..
menikmati kebersamaan dalam keberkahan..
atau keberkahan dalam kebersamaan..
mengukir zaman dan mengulas kisah..
menautkan mutiara-mutiara penuh hikmah..
membentuk generasi yang diidamkan sang nabi..
yang membanggakan beliau di akhirat nanti..
semoga..
In the midle of the night
Minggu, 23 Januari 2011
Cerita Tentang Sebuah Kalung
Oleh : Ibnu Hasan Ath-Thobari
"Kalung yang mengenyangkan orang lapar, menutupi yang telanjang dan mencukupi yang miskin serta membebaskan seorang budak".
Seusai shalat berjamaah, Rasulullah saw duduk dan para sahabat melingkari beliau tiba-tiba datang seorang tua yang hampir saja tak berdaya menopang tubuhnya karena lapar.
Orang tua itu berkata : " Ya Rasulallah, aku kelaparan, berilah aku makan, aku tidak punya pakaian, beri aku pakaian dan aku miskin beri aku kecukupan ". Rasul yang dermawan itu berkata : " Aku tak punya apapun untukmu, akan tetapi orang yang memberi petunjuk kepada kebaikan ganjarannya sama dengan orang yang melakukannya, karena itu cobalah datang ke rumah orang yang mencintai Allah dan RasulNya dan dicintai oleh Allah dan RasulNya, tentu dia akan mendahului Allah ketimbang dirinya sendiri, pergilah ke rumah Fatimah, hai Bilal, tolong antarkan ia ke rumah Fatimah.
Maka berangkatlah mereka ke rumah putri Rasul yang mulia Fatimah, sesampainya didepan rumah Fatimah, ia memanggil dengan suara keras : assalamu`alaikum, wahai keluarga Nabi shallallahu alaihi wa sallam, keluarga dimana Jibril as menurunkan alqur`an dari Rab semesta alam ".
Setelah menjawab salam, Fatimah bertanya : " siapakah bapak? " Ia menjawab : " aku orang tua dari suku arab baduy, aku telah bertemu ayahmu, pemimpin umat manusia, sementara aku wahai putri Rasul, adalah orang yang tidak berpakaian, lapar dan miskin, bantulah aku, semoga Allah memberkahimu ".
Saat itu, Rasulullah dan Keluarga beliau juga sedang mengalami kesulitan yang sama, sejak tiga hari lalu mereka belum makan, Rasul pun mengetahui kondisi mereka, maka Fatimah pun mengambil kulit domba yang biasa dipakai Hasan-Husain untuk alas tidur kedunya.
" Ambillah ini, semoga bapak mendapatkan sesuatu yang lebih baik darinya " kata Fatimah sambil memberikan kulit itu. Orang tua itu berkata : " Wahai putri Nabi, aku mengadukan keadaanku yang lapar, tapi engkau hanya memberi kulit domba ini ? apa yang bisa aku perbuat dengan kulit ini? ".
Mendengar ucapan orang tua itu, Fatimah mengambil kalung yang dikenakanya dan hanya itulah satu-satunya milik yang paling berharga, diserahkanya kalung tersebut sambil berkata : " Ambillah ini dan juallah. Semoga Allah memberimu sesuatu yang lebih baik ".
Orang itupun menerima kalung itu dengan gembira lalu pergi ke masjid untuk menjumpai Rasulullah, sesampainya di masjid ia menigatakan kepada Rasulullah : " Ya Rasulallah, Fatimah putrimu telah memberikan kalung ini dan ia berkata : " Juallah kalung ini, semoga Allah memberimu sesuatu yang lebih baik ".
Mendengar itu, Rasulullah pun menangis. Ammar pun berdiri seraya berkata : "Ya Rasulallah apakah anda mengizinkanku untuk membeli kalung itu? ". Rasulullah menjawab : ”Belilah wahai Ammar, sekiranya jin dan manusia ikut membelinya tentu Allah tidak akan menyiksa mereka dengan api neraka”. Ammar bertanya : ”Dengan harga berapa engkau akan menjual kalung itu wahai saudaraku?”.
Orang itu menjawab :”Seharga roti dan daging yang akan menghilangkan rasa laparku, selembar kain yaman yang akan menutupi auratku agar aku dapat shalat menghadap Rabbku dan satu dinar uang untuk pulang menemui keluargaku”.
Kemudian Ammar menjual bagian harta rampasan perang yang didapatkannya dari Rasulullah, tidak ada yang tersisa sedikitpun, ia berkata kepada orang arab baduy itu : "Anda akan saya beri uang 20 dinar 200 dirham, sehelai kain yaman, kendaraanku untuk mengantarkanmu sampai ke rumahmu dan rasa kenyang dari roti dan daging”.
Orang itu berkata : “Duhai, betapa pemurahnya tuan ini. Semoga Allah memberkahi anda wahai tuan yang mulia”.
Ammar mengajak orang itu ke rumahnya dan memberikan semua yang dijanjikan kepadanya. Kemudian orang itu menjumpai Nabi shallallahu alaihi wa sallam, yang kemudian berkata : ”Sudahkah anda kenyang dan berpakaian?” Orang itu berkata : "Sudah Ya Rasulallah, bahkan demi Allah, aku menjadi orang yang kaya saat ini”.
Rasulullah bersabda :”Jika demikian, balaslah Fatimah atas perbuatannya”.
Orang itu berdoa :” Ya Allah, sesungguhnya Engkau adalah Tuhan, kami tidak mengabdi melainkan hanya pada-Mu. Ya Allah berilah kepada Fatimah hal-hal yang tidak pernah terlihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga dan tidak pernah terbayang oleh hati manusia”.
Rasulullah mengamini doa orang itu lalu menjumpai para sahabat seraya berkata : "Sesungguhnya Allah telah memberikan hal itu kepada Fatimah di dunia, demikian itu karena aku adalah ayahnya, tidak ada seorangpun yang semisal denganku, Ali adalah suaminya, tidak ada orang yang sebanding dengannya, Allah juga memberinya Hasan dan Husain tidak ada manusia yang semisal dengan keduanya di alam ini keduanya adalah pemimpin pemuda surga”.
Diantara sahabat mulia yang hadir saat itu adalah Miqdad ibn Amr, Ammar, dan Salman radhiyallahu anhum, Rasulullah bertanya : ”Maukah aku tambah lagi?” “Mau Ya Rasulallah”. Jawab mereka singkat.
Rasulullah bersabda :”Baru saja malaikat Jibril datang padaku dan berkata : ”Jika Fatimah telah dipanggil oleh Allah dan saat di kuburnya akan ditanya, siapa Tuhanmu? Maka ia menjawab : Tuhanku adalah Allah, kemudian ditanya: Siapakah Nabimu? Maka ia akan menjawab : Nabiku adalah ayahku. Siapa yang berziarah kepadaku setelah wafatku seolah dia mengunjungiku pada saat hidupku dan siapa yang berziarah kepada Fatimah, seakan ia berziarah kepadaku”.
Ammar pulang ke rumahnya mengambil kalung itu lalu meneteskan minyak misik dan membungkusnya dengan kain Yaman, ia memiliki seorang budak yang bernama Sahmun yang ia beli dari ghanimah yang didapatkannya saat perang kahibar. Kalung itu diserahkan kepada budaknya seraya berkata : ”Berikan ini kepada Rasulullah dan engaku sendiri aku hadiahkan untuk beliau”.
Budak itupun mengambil bungkusan kalung tersebut dan membawanya kepada Rasulullah lalu menyampaikan apa yang dikatakan Ammar. Rasulullah bersabda : "Pergilah kepada Fatimah, berikan kalung itu kepadanya dan engkau menjadi miliknya”.
Datanglah budak itu menyampaikan apa yang dikatakan Rasulullah kepada Fatimah, Fatimah lalu menerima kalung itu, kemudian membebaskan Sahmun dari statusnya sebagai budak. Sahmun pun tertawa.
Fatimah bertanya :” Apa yang membuatmu tertawa ya ghulam?” Sahmun berkata : "Betapa besarnya keberkahan kalung ini, inilah yang membuatku tertawa. Kalung ini telah mengenyangkan orang yang lapar, memberi pakaian orang yang telanjang, menjadikan kaya orang yang miskin dan memerdekakan seorang budak, lalu kembali kepada pemiliknya”.
Sumber : http://www.eramuslim.com/syariah/bercermin-salaf/keberkahan-seuntai-kalung-putri-rasul-yang-mulia.htm
Senin, 10 Januari 2011
Sebuah Rahasia
Esoknya, saya kembali mendapat mutiara hikmah yang tak kalah besar. Saya mendapat khabar Bibi saya (encang dalam bahasa betawi) meninggal dalam usia 88 tahun. Saya merasa menyesal sekali tidak bisa mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhir karena suatu urusan. Beliau dikebumikan satu jam sebelum saya tiba dirumahnya. Bibi saya yang walau usianya sudah lanjut usia, tetapi tetap gagah dan enerjik. Sering saya berguyon dengannya, dan jika sudah ngobrol bisa berjam-jam. Ia bercerita tentang apapun yang ia ingin ceritakan, kadang suka menyentil kadang bikin saya terbahak-bahak. Yang saya paling suka cerita darinya adalah cerita tentang masa kecilnya, masa kecil ayah saya dan masa kecil adik-adiknya. Dari jaman belanda (ia kelahiran 1923), jaman jepang, jaman kemerdekaan, jaman gestapu, hingga jaman orde baru. Keahlian beliau paling disenangi orangtua dan ditakuti anak kecil, yakni urut/pijat. Anak saya meski masih kecil paling faham jika masuk ke gang rumah beliau pasti mengajak putar balik. Terakhir kali saya bertemu, saat lebaran tahun kemarin, saya sempat minta doa biar lancar dalam urusan bisnis dan karir. Nah ketika saya pamit, tiba-tiba beliau menyuruh saya kehadapannya, kening saya di usap dan ubun-ubun saya ditiup seraya membaca doa perlahan. Kemudian setelah saya selesai, tiba-tiba istri saya pun ditarik dan diperlakukan sama, diusap ubun-ubunnya dan dibacakan doa. Setelah selesai, saya bertanya, "Yang barusan buat ape cang aji?",beliau menjawab "biar bini lu patuh dan enggak galak sama elu",tukasnya..". Hahaha, saya dan istripun terpingkal-pingkal, kirain didoain biar karir bagus juga..hihihi.
Ibroh dari sisi kehidupan bibi saya ini adalah, jangan pernah lemah oleh usia, jangan malas karena umur, dan selalu positip thinking untuk semua apapun yang terjadi alias "smile forever whatever it takes" . Hmm sangat sulit untuk dijalani, tak semua orang bisa.
Dan pagi ini, saya kaget membaca berita, seorang komedian epy kusnandar divonis umurnya tinggal empat bulan lagi karena kanker otak. Saya kaget karena lagi-lagi mengetahui bahwa hidup dan mati itu sebuah misteri. Andai vonis itu jatuh ke saya, apakah yang saya bisa kerjakan, kecuali menangis dan menangis menyesali bahwa hidup ternyata telah berlalu begitu saja, masa telah terlewati tanpa makna. Dan waktu yang diberi tenyata tinggal sedikit tak lebih dari seumur jagung. Belum lagi mengingat istri dan anak-anak yang masih kecil. Tak akan sanggup beban ini mendapat cobaan seperti itu. Tapi ketika saya melihat sang komedian, dia hanya berkata, saya ikhlas, ikhlas akan takdir Tuhan. Saya pun tersentak, Wow itulah jawabannya dari dua pertanyaan saya diatas, Ikhlas, sebuah pernyataan hati yang membuat dunia dan seisinya terasa kecil mana kala ikhlas menjadi kata kunci. Mana kala ikhlas menjadi sebuah rahasia dalam menjalani hidup. Rahasia yang sebenarnya terang benderang diketahui manusia, tetapi seringkali hilang ketika dibutuhkan. Dalam setiap detik nafas, dalam setiap denyut jantung ikhlas itu sebenarnya hadir disekeliling manusia, tetapi keangkuhan dan kesombongan, harga diri dan emosi, menutupi jalan hati untuk menggapai keikhlasan itu sendiri, sehingga ketika bahaya datang, ketika cobaan tiba atau ketika musibah menghampiri, manusia selalu merasa Tuhan tidak adil, serasa manusialah pemilik jiwa dan
raganya, padahal Allah lah sang maha pemilik jiwa raga ini. Wallahua'lam bisshowab.
Rabu, 06 Oktober 2010
Dua Sujud Saja
Siang itu aku terbaring lemah di tempat tidur, ku usap kening yang basah dan ku basuh kembali dengan kompress yang telah disiapkan oleh istriku sejak pagi tadi. Ku coba menenangkan diri dan merenungi, mengapa aku bisa terserang penyakit seperti ini.
Sudah tiga hari ini aku merasakan badanku sangat panas, bibir kering dan badan pegal-pegal, tapi aku tidak tahu mengapa seluruh sendiku terasa nyeri sekali. Aku sudah berusaha pergi kedokter, dan dokter menyatakan aku hanya sakit kelelahan biasa, dan tak perlu ada yang dikhawatirkan.
Hari keempat pada sepertiga malam, kurasakan badanku tak bisa bergerak sama sekali, aku terbaring lemah di kasur, hanya bisa memandang langit-langit dengan bola mata yang senantiasa basah oleh airmata. Saat-saat seperti ini kematian terasa begitu mendekat dan kecongkakan sebagai manusia lenyap dari sanubari. Berganti dengan rasa takut akan ajal yang akan segera tiba sementara jiwa belum siap menghadapinya. Hanya tangisan dan tangisan mengisi detik demi detik, menyesali waktu yang terlewat begitu saja, menyesali masa yang berlalu tanpa makna. Seraya bibir bertasbih dan hati memohon janji kepada sang pemilik jiwa untuk diberi sehat kembali agar bisa beribadah dengan lebih baik dari hari ini dan hari kemarin. Begitulah janji ucap seorang hamba ketika dalam posisi lemah, ketika dalam posisi tertawan oleh takdir bahwa kelak manusia akan mati meninggalkan dunia dan pergi menemui rabbnya. Aku yang saat itu tak bisa berbuat apa-apa hanya bisa memohon kepada rabb agar diberi kesempatan beribadah kepadanya, melaksanakan qiyamullail meski aku tak tahu apakah sanggup atau tidak, Aku hanya ingin sholat dengan khusuk, di saat-saat akhir kekuatan masih merayap dalam tubuh ini, disaat aku masih bisa bersujud meski dua sujud saja.
Dulu saat aku sehat, jangankan dua sujud, ribuan sujud pun aku masih sanggup, tetapi ribuan sujud itu aku sia-siakan, berlalu bagai debu ditiup angin. Kini, hanya dua sujud saja yang aku persembahkan untuk Tuhanku aku tak mampu, hanya dua sujud saja aku tak bisa, sampai aku memohon-mohon dengan air mata kepada Rabbku agar diberi kekuatan menegakan dua sujud itu. Ya robbi, hanya dua sujud saja aku tak bisa memberikan ibadah terbaikku untuk Mu. Ya Tuhanku, bagaimana berharganya dua sujud ini bagiku, dua sujud yang pernah aku sia-siakan dalam sehat dan waktu luangku. Dua sujud yang membedakan seorang mukmin dengan fajir, dua sujud yang membuat hamba mudah dikenali pada yaumil mahsyar, dua sujud yang memberikan kedamaian pada malam-malam seorang hamba yang soleh, dua sujud yang memberikan keadilan pada para pemimpin yang takut kepadamu disaat manusia lain terlelap tidur. Dua sujud yang membuat si papa merasa lebih kaya dari para agniya yang masih sibuk menghitung uangnya meski hari telah larut, dua sujud yang mampu memberikan keberkahan dan kesehatan para hambamu para ahli qiyamul lail, dan dua sujud itu pula yang telah aku lupakan selama ini, sehingga aku tak siap menghadapi terkaman takdir bahwa aku harus terbaring disini. Ya robbi, ampuni aku...ya robbi kasihani aku...ya robbi beri aku kesempatan menikmati dua sujud itu...ya robbi...amin..
In The middle of the night, mencari sujud yang hilang.
Rabu, 08 September 2010
Ibadah terbaik diujung ramadhan.
Tak terasa hamba telah berada diujung ramadhan.
Tak terasa pula hari-hari hamba melaju begitu saja.
Tak terasa waktu terlempar sia-sia tanpa makna.
Meski hati meratap dan jiwa mengharap atas pengampunanMU di bulan berkah ini.
Janji yg terucap setahun lalu selaksa tanpa makna.
Saat hamba kembali sibuk pada urusan dunia.
Ya Robbi,
Betul di awal ramadhan hamba merasa dekat kepada mu.
Betul saat itu hati ini sangat syahdu mengucap kalam ilahiMu.
Tapi, seiring berjalan waktu, ketika kesibukan tugas menyergap tak kenal ampun, menelusup nadi dan mengancam idealisme kami sebagai hamba, hilang pula kesyahduan ibadah kami.
Yang ada hari-hari ramadhan berjalan seperti hari biasa, bahkan lebih keras dan kejam, karena terbeban oleh makna kemenangan idul fitri yg kami artikan hanya sebatas kemegahan dan kemewahan, ajang pamer materi antar manusia dan manusia lainnya. Jadilah kami para pemangsa buas sebuah materi bernama uang, dan dengan alibi tunjangan hari raya, kamipun menghalalkan segala cara.
Hari-hari kami pun lebih sibuk dengan urusan dunia. Jejaring sosial, sms, chating, bbm ataupun email, lebih menarik perhatian kami ketimbang kitab suci MU. Juga canda ria dan gelak tawa lebih mendominasi daripada harapan mohon ampun akan penyesalan diri di bulan suci ini.
Ya robbi.
Kini dimalam terakhir ramadhan Mu tahun ini. Kami bersujud dan bersimpuh mohon ampun atas kelalaian ini. Berusaha mengisi hati-hati kami dengan mengingatmu kembali. Meski kami tahu. Semua itu tak mengembalikan ramadhan kami lagi.
Jika Engkau bertanya kepada para hambaMu yang saleh, apakah ibadah terbaik kalian pada ramadhan tahun ini, mereka pasti dengan mudah menyebutnya dengan lantang.
Tapi jika engkau bertanya kepada kami, apakah ibadah terbaik kami ramadhan tahun ini?, maka kamipun hanya bisa terdiam.
Hanya lelehan airmata dan butiran penyesalan yang kami berikan.
Hanya tangisan yg menyesak dada yang menjadi jawaban.
Dan mungkin, hanya airmata penyesalan ini yang bisa menjadi ibadah terbaik kami, ya robbi.
Tiadalagi selain bulir-bulir bening yg jatuh perlahan di kelopak mata kami.
Mengingat tak satupun diantara kami yg tahu, apakah kami akan bertemu lagi dengan ramadhanMu tahun depan.
Atau ramadhan ini adalah ramadhan terakhir bagi kami...
Faghfirliii, faghfirliii yaa robbi..ini kuntu minadz dzholimiiin.
Ampuni kami ya robbi, sesungguhnya kami termasuk orang-orang yg zholim.
Selasa, 10 Agustus 2010
Ketika Senja Awal Ramadhan Tiba
Sejumput mega berwarna jingga telah menyambut hari-hari kita.
Hari-hari yang akan membawa kita kepada rangkulan kasih sayang Tuhan
Hari-hari yang membuat semua orang bergembira
Hari-hari dimana persaudaraan semakin merekat
Antara si kaya dan si papa
Antara si miskin dan yang berpunya.
Nak,
Sebelum jingga itu menghilang
Sebelum malam-malam itu menerangi sujud-sujud kita
Mari kita ucapkan syukur kepadaNYA
Karena kita dipertemukan kembali oleh hari-hari yg penuh rahmat dan ampunan itu.
Hari-hari dimana amal baik dilipat gandakan
Hari-hari dimana ampunan di curahkan dari langit tiada henti, dalam siang dan malam.
Nak,
Inilah saat yang kita tunggu-tunggu,
Saat menebar kebaikan dan kasih sayang lebih banyak dibanding hari biasanya.
Saat kita meminta kebaikan untuk diri kita dan untuk orang lain yg kita sayangi.
Nak,
Saat ini nenek terbaring sakit, berdoalah dalam sholatmu nanti untuk kesembuhan beliau dan ditambahkan kesabarannya.
Doakan pula ayahmu ini agar tetap kuat memegang kemudi bahtera rumah kita,
Agar tetap istiqomah mencari rezeki yang halal, tidak terperosok kedalam lembah harta yg haram yg membuat keluarga kita menangis tak henti-henti karena dosa itu.
Doakan pula ibumu agar bertambah sabar dan kuat dalam membantu ayah, dalam menyayangi kamu dan adik-adikmu. Mintalah kepada Tuhan agar ibumu tetap tegar menghadapi kondisi apapun, sebab godaan dunia begitu kuat dan dahsyat, sehingga mampu menenggelamkan kesabaran kita.
Doakan pula teman-temanmu yang mungkin saat ini menderita, baik oleh penyakit, kemiskinan ataupun musibah yang menimpa keluarga mereka. Doakan mereka tetap tersenyum meski perih dan pedih menghantui langkah-langkah mereka.
Doakan pula teman-temanmu dari kalangan berada, semoga keluarganya tetap diberkahi sehingga mereka bisa membantu saudara kita yang papa.
Doakan pula keluarga kita bisa menyelesaikan hari-hari itu dengan ibadah dan syukur kepadaNYA. Tetap konsisten dalam rangka muroqobatullah, mendekatkan diri kepadanya, sebab Dialah pemilik alam semesta ini.
Nak,
Sebelum kita memasuki hari nan suci itu.
Mari kita sucikan niat dan diri kita,
Mohon ampunan kepada sang pencipta
Mohon maaf kepada sahabat dan saudara
Semoga langkah-langkah kita menjadi ringan karena maaf-maaf itu.
Nak,
Selepas senja nanti,
Marilah kita mencoba menghisab diri
Meluruskan niat dan menata hati ini
Dengan mengurangi gelak tawa dan canda yang bisa menutupi hati
Menggantinya dengan tangisan dan harapan semoga diampuni
Atas dosa-dosa yang pernah terjadi
Semoga Allah meridhai setiap usaha yang kita lakukan.
Mari nak,
Kita sambut sang senja itu, dengan senyuman takwa dan pengharapan..
Marhaban ya ramadhan...
Rabu, 30 Juni 2010
Sejumput empati yang terlupa...
Kisah ini pula yang menyadarkan saya betapa pentingnya mempunyai sense of crisis yang tinggi terhadap kaum papa, betapa pentingnya arti persaudaraan terhadap kaum miskin, betapa pentingnya pula merendahkan diri dan mengayomi sesama mahluk, juga betapa pentingnya melihat dan turun kebawah-menerima informasi secara langsung serta betapa pentingnya menikmati sulitnya kehidupan mereka,kehidupan kaum dhu’afa.
Kisah ini bermula dari keinginan sebuah keluarga kecil nan papa untuk menyekolahkan putri semata wayangnya kesebuah Taman Kanak Kanak Islam Terpadu di bilangan Kemanggisan Jakarta Barat yang kebetulan saya menjabat sebagai Ketua Yayasan Pendidikan disitu.
Katakanlah keluarga itu adalah keluarga putri, dengan sang anak bernama Putri (bukan nama sebenarnya), ibunya bernama Ummi Putri dan ayahnya Abi Putri. Tingkat ekonomi keluarga itu bukanlah termasuk tingkat ekonomi keluarga mampu, bukan pula tingkat ekonomi keluarga para penerima MSAA yang mulai kongkalikong dengan pemerintah agar tidak dijadikan miskin, bukan pula keluarga mantan penguasa orba atau keluarga kroninya, bukan pula para keluarga oportunis baru yang mulai menggeliat pencari peluang kapan bisa dekat dengan penguasa, bahkan keluarga tersebut dapat dikatakan hidup dibawah garis kemiskinan, garis yang menjadi fenomena umum yang mewakili mayoritas rakyat Indonesia pasca krisis moneter.
Abi Putri hanyalah seorang pedagang bakmi ayam keliling, sedang Ummi Putri adalah seorang pedagang gado-gado. Mereka adalah kaum urban yang mencoba mengadu nasib di Jakarta. Tinggal dikontrakan sempit dan kurang terawat di pinggiran Kemanggisan, berbatasan dengan Kelurahan Kebun Jeruk.
Kerasnya kehidupan kota, sayangnya tak mampu dihadapi secara tegar oleh Abi Putri, Beliau sering marah-marah, bahkan terkesan cuek dengan anak istrinya.Setiap kali ada masalah, selalu diakhiri dengan pertengkaran sengit yang cukup membuat jiwa Putri menjadi terganggu bahkan mungkin bisa dikatakan depresi.
Ummi putri lebih bijak dari sang ayah, beliau dikaruniai kesabaran yang kuat untuk menghadapi badai dalam bahtera rumah tangga, beliau berusaha mengalah dan menutupi sesalahan suaminya dengan rajin beribadah. Apapun perkataan dan cercaan suaminya tak pernah Ia balas.
Putri pun bukanlah seorang anak yang manja, Ia seorang anak yang pendiam dan jarang merepotkan orang tua. Saat saya tanyakan tentang sifat-sifat Putri kepada temannya, rata-rata mereka menjawab bahwa putri adalah anak yang baik,rajin dan pandai pula di sekolahnya.
Ya. Putri memang sudah bersekolah, gadis kecil berusia 5 tahun itu sudah masuk ke sekolah taman kanak-kanak kelas A (nol kecil). Ibunyalah yang mengantar pendaftarannya waktu itu. Saat itu kami dari Yayasan belum tahu secara pasti tingkat ekonomi keluarga putri, sebab dari data yang masuk, tertulis pekerjaan Abi putri sebagai wiraswasta. Kebijakan kami adalah membebaskan biaya sekolah bagi para yatim atau piatu atau kepada keluarga yang secara tertulis menyatakan tidak mampu, kami tidak mengetahui kalau keluarga putri tidak mampu, akhirnya biaya masuk dan SPP untuk putri kami anggap setara dengan siswa-siswa yang lain.
Sekolah telah berjalan selama 3 bulan, putri pun bersekolah sama seperti anak-anak yang lain, dengan ceria membawa tas dengan dorongan roda seperti travel bag yang saat itu lagi ngetop pada anak-anak seusianya. Pulang sekolah bermain dengan anak-anak sebayanya dan bermain sepuasnya layaknya anak-anak seusia taman kanak-kanak yang sedang memahami kehidupan dunianya yang penuh keceriaan. Dibidang akademis, menurut laporan kepala sekolahnya, Putri pun kelihatan pintar dan cerdas, Ia cepat sekali menerima pelajaran membaca, menulis dan berhitung. Bacaan qiro’atinya pun sangat bagus dan tidak pernah mengulang. Ia menikmati kehidupannya dengan antusias dan
energik. Sekolah-pulang-bermain-tidur-bangun pagi dan sekolah lagi.
Memasuki bulan ke empat, tiba-tiba putri tidak sekolah masuk selama seminggu, para guru dan kepala sekolah sangat heran, mengapa putri tidak masuk selama seminggu. Lalu saya menyuruh kepala sekolah dan guru untuk menjenguk putri, mencari tahu ada apakah gerangan, apakah putri sakit atau berhalangan. Tiga hari kemudian saya mendapat laporan dari kepala sekolah, bahwa putri tidak masuk karena dilarang ayahnya. Saya bingung, mengapa Abi Putri melarang putri untuk pergi kesekolah. Ternyata ayahnya malu karena sudah dua bulan tidak melunasi SPP. Ia mengalami kesulitan keuangan.
Lalu saya instruksikan kepada Kepala Sekolah untuk menyuruh Putri tetap masuk sekolah tanpa bayaran, sampai putri selesai sekolahnya di TK ini.
Keesokan harinya putri memang sekolah lagi, tapi keesokan harinya pula Ia tak masuk-masuk lagi selama satu minggu. Menurut berita dari para wali murid lainnya, Abi dan Ummi putri malu untuk sekolah karena tdk bayaran, meskipun sudah kami beritahukan bahwa putri bebas biaya sekolah. Tapi ayah putri bersikeras melarang anaknya untuk sekolah, akhirnya kami tak bisa berbuat apa-apa. Tiba-tiba satu minggu kemudian terdengar berita duka cita, bahwa putri berpulang ke Rahmatullah, setelah mengalami sakit selama dua minggu.
Dan ternyata sakitnya putri disebabkan karena ia bersikeras ingin sekolah tapi dilarang ayahnya, subhanallah. Putri mengalami sakit akibat tekanan batin, jiwa kanak-kanaknya terkekang. Keinginan sekolahnya pupus, dunia kanak-kanaknya harus menderita karena alasan ekonomi.
Kami menyadari, bahwa kami pun terlibat dalam peristiwa itu, kami tidak bisa menyalahkan ayah putri. Seandainya dari awal putri kami bebaskan dari uang sekolah, tentu kejadiannya tidak akan seperti ini. Kami sangat menyesal sekali, Astagfirullah al Adziim, Ya Allah ya Rabbi, ampuni kami yang lalai ini, lalai terhadap amanah mu. Saya sebagai pemimpin merasa tak becus dan tak peka atas penderitaan ummat.
Untunglah klaim asuransi jiwa yang kami daftarkan terhadap siswa-siswa kami segera turun, artinya uang sekian juta yang diberikan sebagai penghibur untuk Ummi putri yang begitu shock atas kehilangan putrinya ibarat setitik embun dipagi hari.
Akhirul kalam, peristiwa diatas sangat memberikan hikmah kepada kami para pengurus Yayasan, bahwa kepedulian utama sebagai seorang muslim adalah memahami penderitaan saudaranya secara langsung. Segala orasi, segala ucapan, segala cuap-cuap tak akan pernah membawa hasil, tanpa mengetahui, memahami dan merasakan dengan betul apa kebutuhan mereka. Mungkin para pemimpin yang asyik berebut pengaruh, para penguasa yang asyik berebut jabatan, para wakil rakyat asyik minta kendaraan dinas para pengusaha yang asyik minta fasilitas, tak akan pernah tahu penderitaan orang-orang seperti keluarga putri. Tapi mudah-mudahan kita disini, yang merasa punya nurani,
masih peka terhadap kesulitan sesama agar kelak di akhirat nanti, kita mampu menjawab dengan baik segala amanah yang dilimpahkan kepada kita sebagai seorang pemimpin.
Ya Allah limpahkan ketabahan kepada kaum dhu’afa diantara kami, Amin.
Rojali Dahlan
Ketua YPIA
Kemanggisan Palmerah
Jakarta Barat.
PS. Khabar terakhir yang saya dengar, Ummi Putri dan Abi Putri bercerai, dan
Ummi putri kembali kekampung halamannya.
Senin, 14 Juni 2010
Menanti sebuah jawaban
Menanti datangnya pendamping hidup
Berharap-harap dalam sepertiga malam
Semoga diberikan kekasih idaman
Seorang pemudi terpaku dalam lamunan
Menanti kapan tibanya khitbah sang pangeran
Menangis haru dalam gelap-gelap malam
Semoga tuhan mau berkenan
Sepasang suami istri bersimpuh dalam sujudnya
Menanti datangnya amanah dan titipan
Menanti masa yg bertahun2 tak jua tiba
Yang melengkapi kebahagian mereka,
Yang melengkapi dunia mereka
Seorang ayah yg miskin dan papa
Merajut tangisan dalam butiran-butiran airmata
Menghentak malam-malam sepi dalam munajat
Berharap sangat pada sang kuasa
Semoga nasib bisa cepat berubah
Seorang istri mengusap duka laranya
Yang hanyut ditelan lelehan airmata
Mengharap sang suami kembali padanya
Menanti bahagia kembali dalam hidupnya
Seorang suami tafakur dalam diam
Meratapi sepi yang mulai bergulir
Menahan sesak dalam dada yang semakin dalam
Menanti sang istri yang telah pergi
Dan tak tahu apakah akan kembali
Ketika manusia merasa dalam hampa
Ketika manusia terbenam dalam lautan duka
Tenggelam dalam haru dan airmata
Tersesat dalam gelapnya teka-teki kehidupan
Mengapa ia mudah sekali berputus asa
Mengapa ia mudah sekali lepas dari rahmat allah
Mengapa ia menghinakan dirinya dalam rasa suudzhon
Bahkan menyalahkan Allah sang pemilik jiwa raga
Padahal tiada yang hebat yang sedang ia lakukan
Padahal tiada yang fantantis yang sedang ia kerjakan
Ia hanya menjalankan sesi kehidupan biasa
Ia hanya menyambung nafas untuk kehidupannya esok
Ia hanya mengurutkan buliran-buliran peristiwa dalam hidupnya
Yang mungkin peristiwa itu hanya setetes debu dihadapan sang pencipta
Yang ada atau tidaknya ia,tidak mempengaruhi izzah dan wibawaNYA
Bahkan mempengaruhi rotasi atom dalam dirinya sekalipun
Tapi
Mengapa ia merasa begitu paling sengsara
Mengapa ia merasa begitu paling menderita
Padahal ia hanya melakukan sebuah hal yang biasa
Padahal ia hanya sedang menanti sebuah jawaban
Yang ia sendiri tidak berhak untuk bertanya
Apakah jawaban itu sesuai atau tidak dengan keinginan hatinya
Jika ia merasa bukan siapa-siapa
Mengapa tak menjadikan Allah sebagai jawabannya???
Rabu, 02 Juni 2010
Sebutir batu untuk Ali
Seorang bocah, Husien, berumur 5 tahun tampak antusias berdialog dengan adiknya yang berusia 3 tahun, bernama Ali. Sang adik menanyakan kapan segelas susu penuh buatnya akan tiba.
"Adikku sayang, sabar ya sebentar lagi kita akan meminum susu sampai puas, tidak seperti hari-hari yg lalu, dimana kamu jarang sekali minum susu, meski hanya setengah gelas, sebab kamu harus berbagi dengan adik bayi kita".
"Iya kak, aku senang sekali, kata ibu, kita akan mendapat bantuan susu dari saudara kita dari tempat yang jauh di seberang dunia sana.”, “makanya dik, ibu menyuruh kita kemari untuk mengantri, kasihan ibu di rumah sendiri bersama adik bayi. “Sejak ayah pergi dan tak pernah kembali, hanya ibu yang memberi makanan kepada kita, dan bantuan para tetangga yang baik hati”, “untuk itu mari kita doakan dik, agar mereka cepat sampai disini.” “Baik kak”. Keduanya lantas merebahkan diri di pasir, menatap langit yang mulai memerah, mengiringi kepergian bintang-bintang seraya mengharap kepada sang pencipta untuk mengabulkan doa mereka.
Angin pantai yang mulai datang perlahan meniup-niup kelopak mata mereka,dan mereka tertidur hingga sengatan matahari membangunkan kedua bocah yang mulai terasa lapar itu. “Kak Husien, bangun...bangun.. nanti kita tidak kebagian susu..” teriak Ali membangunkan kakaknya.” “hmmm..ternyata sudah siang, ayo kita menuju ke kerumunan orang-orang itu. Dua bocah kecil berlari kencang menuju kerumunan orang yang terlihat lesu tak besemangat. Sang kakak bertanya pada seorang kakek, “Kakek, mana susu buat kita, apakah sudah dibagikan, kami harus buru-buru pulang sebab adik bayi kami pasti kelaparan belum minum susu”, “Iya kek, mana jatah untuk kami” kata Ali. “Sabar ya nak, perahu susumu di rompak oleh tentara jahat itu, jadi kembalilah kepada ibumu..” Sang adik tertegun...”jadi kita tidak dapat susu ya kak...””Iya dik”
Kedua bocah pun berlari kembali kerumahnya, sesampai dirumah, sang ibu menanyakan kabar kepada kedua anaknya yang masih balita itu, usia mereka memang balita, tetapi, fikiran dan tingkah laku mereka terlihat lebih dewasa dari usia seharusnya, keadaan yg memaksa akibat isolasi tentara zionis membuat mereka hidup lebih tegar, tidak ada tampang cengeng dan merajuk seperti anak-anak balita didunia luar sana. “bagaimana nak, dapat susunya?” tanya ibunya dengan tatapan haru. “Tidak bunda, kata kakek tadi, kapal pembawa susu itu dirompak tentara zionis” jadi kita tidak dapat susu, jangan menangis ya bunda, sebab aku dan adik masih bisa kok memerah susu kambing untuk adik bayi, jadi bunda tidak usah khawatir ya..” , “Tidak, nak, gumam sang ibu dalam hati, bukan bunda yang harusnya jangan menangis, tetapi kamu dan adikmulah yang seharusnya menangis, karena jatah susumu hilang diambil orang, Ibu bangga kepada mu nak, kamu tidak bersedih, malah mengayomi ibu untuk tidak bersedih.
“Sambil mengusap air mata, agar tak terlihat cengeng dimata kedua anaknya sang ibu berkata..”. Tidak mengapa nak, mungkin belum rezeki kita, memang tidak seharusnya kita meminta-minta kepada manusia, sebab Allahlah yang selama ini menjaga kita. Toh meski dalam kondisi yang sulit saat ini dan ayahmu telah syahid meninggalkan kita, kita masih tetap bisa hidup. Kita berdoa saja agar Allah tetap menjaga kita dan bangsa ini. Juga kita berdoa kepada Allah agar saudara-saudara kita dinegeri lain sana tetap tabah dan kuat untuk kembali mengirimkan susu untuk kamu dan adikmu.”Iya bu”. Ini sebuah batu untuk mu,dan satu batu lagi untuk adikmu, Ali, ganjallah perutmu dengan batu itu, sampai ibu bisa bertemu dengan orang yang baik hati, doakan ibu ya nak...”
Nun jauh disana di negeri merdeka bernama Indonesia, banyak para keluarga bersama anak-anaknya berkumpul disebuah restoran terkenal dari AS, restoran yg dimiliki penyandang dana bagi tentara yang telah merompak susu milik Ali. Secara perlahan, suap-demi suap dari fastfood yg mereka makan, menjelma menjadi batu-demi batu yang menjadi pengganjal perut Ali, perut kakaknya Husien dan perut adik bayinya...
-o0o-
1 Juni 2010, Memperingati Black Monday dan untuk Freedom Flotilla yang dibajak zionis.