Jumat, 02 November 2012

Dan rasa itu bernama Iba



“Dan rasa itu bernama Iba”
13th Love Anniversary

Bertemu dirimu adalah  kesempatan terindah dalam hidupku
Mengenal dirimu adalah berkah terindah dalam hari-hariku
Mencintai dirimu adalah pekerjaan paling indah dalam hidupku
Dan hidup bersamamu adalah anugerah terindah yang Allah berikan kepadaku

Meski pada awalnya kamu tak mengenal aku dan aku sangat asing bagi dirimu
Meski pada awalnya jiwaku berdarah-darah karena terjebak mencintai dirimu
Meski pada awalnya tanganku harus bertepuk tak sempurna
Karena lubuk hati yg tulus ini tak terbaca jernih oleh jiwamu
Dan alasan sahihpun tak mampu menjernihkan airmata kesungguhan itu
Dan aku, dalam luka yang perih, dalam gundah yang dalam, terpapah-papah menjelaskan kepadamu, mengapa harus ada wajahmu bersemayam di sudut hati ini.

Man jadda wa jada
“Siapa berusaha dia akan mendapatkan apa yang ia usahakan “
Kalimat sakti itu mampu membuat pijakan kaki ini tetap berdiri
Kalimat sakti itu mampu membuat tubuh ini tetap tegak tanpa goyah
Dan
Ketika kesengsaraan dan nestapa hanya bisa diobati dengan doa
Ketika luka dan perih hanya bisa sembuh dengan kembali kepadaNYA
Ketika asa dan rasa hanya bisa terwujud karena takdirNYA
Maka aku tak menyia-nyiakan malam-malamku untuk mengadu kepadaNYA
Maka sajadah panjangpun menjadi teman setia disetiap ujung malam
Dan dingin kalbupun menjadi hangat karena menghadirkan cintaNYA
Lalu, kurangkai jemari dan kususun kata pinta
Memohon ampun atas segala lalai dan dosa
Memohon maaf atas segala kekhilafan dan kehinaan
Seraya meminta dirimu kepada Sang Pemilik Semesta
Atau membiarkan mu pergi dari lubuk hati karena mungkin bukan pilihan terbaik dariNYA

Ketika kepasrahan telah menyelimuti diri
Ketika keikhlasan menaungi disetiap denyut nadi
Dan ketika bayangmu tak lagi menghantui hari-hari
Di saat itu Sang Pencipta menurunkan RahmatNya
Diberinya engkau setitik rasa dari milyaran rasa keagunganNYA
Rasa yang membuat duniaku berputar seratus delapan puluh derajat
Rasa yang membuat dunia seolah-olah berada dalam genggaman
Rasa yang membuat bahwa aku seolah-olah hanya mahluk yang paling disayang olehNYA
Meski rasa itu bukan SUKA, bukan CINTA, bukan pula SAYANG
Tetapi rasa itu mampu melahirkan suka, cinta dan sayang sekaligus, bersenyawa menjadi satu dalam bentuk yang sangat dahsyat
Dan rasa itu bernama IBA.

Setelah itu
Pinanganku kau terima atas nama iba, atas nama simpati dan atas nama empati,
Atas nama rasa kasihan yang membuatmu bersedih setiap kali mengingat itu, melihat kesungguhanku berjuang memugar kembali puing-puing mimpi yang menghantui jiwa setiap insan muda.
Yang ingin menyempurnakan separuh agama dan meninggikan kehormatannya
Melalui pernikahan yang tulus dan suci
Melalui keluarga sakinah mawaddah wa rohmah.

Sejak saat itu aku belajar memahami makna
Bahwa ada rasa yang lebih dahsyat dari suka, cinta ataupun sayang
Rasa yang hadir dari keikhlasan menerima apa adanya
Tanpa embel-embel dunia yang mengikutinya
Lalu akupun bertekad mengikuti caramu menyukai, mencintai dan menyayangiku
Dengan rasa iba sebagai pondasinya, rasa ikhlas sebagai dindingnya dan rasa saling memiliki sebagai atapnya, dalam naungan cinta illahi robbi

Kini, tiga belas tahun berlalu sejak sumpah janji suci itu
Rasa iba itu masih mencengkeram erat dalam nadiku
Hembusan-hembusan nafas cinta dan sayang masih mewangi dalam setiap canda rayumu
Dan dunia ini pun masih kurasakan milik kita berdua
Meski para jundi telah lahir meramaikan dunia kita

Terimakasih honey,  Selamat menikmati 13th perkawinan kita.
I luv U


Terimakasih ya Robbi,  Tuhan pemilik kebahagiaan, tetapkan hati kami selalu dalam ketaatan pada diriMu
Tetapkan hati kami dalam mensyukuri setiap nikmat dariMu
Dan jangan masukan kami kedalam orang-orang yang kufur terhadap nikmatMU.

Jumat, 06 Juli 2012

Sebuah Julukan


Kedekatan, kekariban dan rasa sayang membuat dua orang manusia saling membuat julukan/kata panggil untuk satu sama lain. Tujuannya agar menambah gizi/nilai dari panggilan terhadap orang yang disayangi.
Julukan biasa diberikan oleh sahabat dekat, kawan karib atau antara sepasang suami istri.
Memanggil dengan julukan membuat sang pemanggil merasa memiliki hal yang berbeda dengan panggilan umum yang biasa digunakan oleh orang lain, dan biasanya yang mengetahui itu hanyalah orang yang paling dekat. Julukan yang saya maksud disini beda dengan poyokan (betawi-red). Kalau poyokan dibuat sekedar untuk lucu-lucuan atau mengenang pada suatu peristiwa lucu tentang sang empunya nama, bisa juga dari nama kecil yang membuat karakter sang empunya nama mudah diingat.

Adalah Sang Nabi yang senang memangil istrinya ‘Aisyah dengan julukan khumairo (yang pipinya kemerah-merahan), dan ‘Aisyah sudah tentu senang dipanggil dengan julukan seperti itu. Meneladani sang nabi, banyak pasangan suami istri yang memanggil pasangannya dengan julukan, entah untuk menambah kemesraan, atau untuk menambah rasa sayang bagi hubungan mereka berdua, dan kamipun, jelas memiliki panggilan masing-masing, yang kalau didengar oleh orang lain terlebih-lebih sanak family, maka mereka akan mengernyitkan dahi tak mengerti apa maksutnya. Ya iyalah, panggilan itu hanya kami berdua yang mengerti. Hikmah dibalik penyebutan dengan julukan ternyata sangat besar, terbukti jika pasangan terlibat dalam konflik rumah tangga (tiada rumah tangga yang bebas dari konflik-red), penyebutan dengan julukan akan menyadarkan khittah awal, komitmen dasar dan mengajak masing-masing ke memori napak tilas, pertama kali mereka berjanji dalam ikatan suci pernikahan beberapa tahun lalu. Sepele, namun cukup membuat lubang-lubang konflik segera tertutup, retak-retak perpecahan segera terpadu kembali dan ujung-ujungnya pertengkaran akan berubah menjadi sentuhan hangat dan cumbuan mesra, setelah itu terserah pemirsa (sensor-red).

Jadi untuk para pasangan yang akan segera menikah, siapkan julukan untuk kekasih anda, semoga setiap kali pertengkaran tiba, julukan itu akan memadamkan api pertengkaran anda, dan jika tidak terjadi pertengkaran, julukan itu akan membuat anda semakin sadar bahwa ada berdua saling membutuhkan.

Untuk pasangan yang sudah kadaluarsa, jangan sedih, julukan masih bisa anda berikan dari sekarang, terserah anda apakah julukan itu berarti atau tidak, anda bebas memberi julukan pasangan anda. Saran dari saya berilah julukan yang mudah diingat seperti “endut”, “lebar” “biang lemari” “kulkas dua pintu” atau apalah yang penting anda bisa mesra. Hahaha.
Selamat memberi julukan pasangan masing-masing, semoga damai menyertai anda berdua, dan piring terbang tak lagi melayang diantara kepala anda”. 

Dan untuk para single fighter yang belum mempunyai pasangan atau sedang menunggu pasangan, tak perlu anda pusing-pusing atau repot-repot mencari julukan, saya sudah tahu julukan anda yakni ‘jomblo’ hahaha. Peace, semoga Allah mempercepat rezeki anda, amin.

PS: Panggilan kami berdua hanya satu huruf, yakni “i”. Jangan banyak tanya, sampe pohon rambutan berbuah jengkol juga tidak akan saya jelaskan. 

Rabu, 04 Juli 2012

Dimanakah gubernur kami?


Kawan, aku baru saja dilantik menjadi penguasa kota ini seratus hari lalu.
Akupun bersyukur atas karunia ini, dan berusaha membumi atas seluruh amanah ini.
Mungkin malam-malamku tak akan nyenyak malam sebelumnya
Dan hari-hariku akan terasa berat seolah terpidana yang sedang menanti pancungan
Mataku akan sembab sebab tangisan yang tak berkesudahan
Jiwaku akan terasa sempit sebab derita mereka yang menjadi tanggungjawabku dunia akhirat.
Dadaku akan sesak melihat betapa pedihnya kehidupan rakyatku, Betapa perihnya kehidupan para dhuafa, betapa nestapanya kehidupan para fakir miskin dikota ini.
Jelang malam tadi selepas rapat marathon membahas bidang kesra
Kusempatkan berjalan sendiri menembus angin malam
Mengusap-usap malam dalam riuh tepi jalan
Menikmati hening dan hentak nadi kota
Mencoba menapak tilas jalan sang khalifah
Bertanya pada malam ada khabar apakah disana.
Nun disana di perempatan permata hijau arah jalan kebayoran lama,
ada seorang nenek renta masih bergelayut dengan dingin
Tangannya terpapah kayu dan seonggok kaleng bekas susu
Menengadah kepada setiap mahluk yang berpapasan dengannya
“Nak berilah nenek sedikit rezeki untuk esok hari”
Begitulah ia ulangi berkali-kali tak jua bosan,
Sampai ketika tiang listrik berdentang keras terbentur tubuh ringih sang nenek,
Suaranya terdengar lantang seolah berkata “dimana gubernurmu berada nek? Harusnya ia melihat kondisi nenek renta ini, adakah tempat nyaman untukmu berlindung di hari tua??”
Lantas aku tersontak kaget bercampur haru, diam membisu dalam rasa yang semakin terasa, dalam perih yang semakin mengiris, seraya menjawab lirih “Aku disini nek, aku disini”
Belum sempat aku mengusap bulir yang jatuh, tiba-tiba kakiku terantuk benda lunak, dipinggir trotoar ditepi jalan becek, sang empunya marah seraya mengumpat, “mengapa engkau injak tanganku pak”. Aku menoleh dan terhenyak kembali.
Seorang bocah remaja tanpa kedua kaki masih terjaga, tangan kurusnya berusaha memindahkan tubuhnya, berlari-lari dengan jari tangannya yg lincah, berusaha memungut segelitir koin yang dilemparkan orang, bunyinya bergerincing seolah berkata “Dimanakah gubernurmu nak, mengapa ia membiarkanmu bertarung dengan maut”
Akupun terdiam kembali seribu bahasa, berusaha menjawab dengan asa yang semakin tak menentu “aku disini nak, aku disini gubernurmu” gumamku dalam hati.
Kakiku terpaku kaku terbujur
Lidahku kelu mulut membisu
Dan hati berzikir seraya berdoa
Mengharap Allah mengampuni dosa-dosaku
Belum habis aku terluka
Seorang kakek hampir renta terlihat duduk dipinggir jalan, menyanyi dengan sebuah rebana, seraya menggelar saputangan sebagai isyarat kepada mereka, para pemilik hati yang ingin berderma. Tak peduli para mata yang memandang menahan iba, seorang yang mestinya beristirahat dengan nyaman bersama anak cucu, bergelut dengan debu dan dinginnya bayu,menunggu sang waktu kapankah ia datang bertamu.
Tak dung  tak dung tak dung tak, suara lirih terdengar antara ada dan tiada, seolah bertanya “dimanakah gubernurmu wahai kakek renta?”
Tiba-tiba
Suara-suara semakin banyak datang bergelombang dari segala penjuru
Saling berebut masuk ketelingaku tanpa bisa aku cegah.
Membawa berita dari sudut-sudut kota.
Nun disana di perempatan pejompongan di samping rel kereta
Para balita berlomba lari dengan bahaya, menunggu sang lampu merah menatap iba
Bagi tangan-tangan kecil yang menengadah, bagi wajah-wajah lugu yang tak mengerti
Mengapa ia berada disitu.
Dunia yang nyaman yang seharusnya dipeluknya dalam taman-taman bermain, tergerus oleh kerasnya negeri yang baru saja memilih gubernurnya.
Dan asap knalpot serta bising kendaraan seolah berkata, “Dimana pemimpinmu Nak”
Nun disana diperempatan cengkareng,
Wajah-wajah lusuh bersimbah keringat, punggung mungilnya memanggul karung berisi gelas pelastik dan botol bekas, menyusuri jalan hingga pagi menjelang, lelah dan lelap membuatnya tergeletak dipinggir kios yg belum buka, hingga dingin air terpercik muka membangunkan khayalnya tentang masadepan, atau sengat matahari menyapa kelopak matanya yg mungil, sayu dan tertutup debu.
Rintik hujanpun menyapa, “dimana pemimpin mu nak? sehingga engkau harus terdampar disini, demi mimpi bapak dan emakmu.
Nun disana di pertigaan condet, bocah-bocah lusuh menjajakan koran, permen dan juga rokok.
Sementara yg lain menyanyi ditemani kicrikan bekas tutup botol, berlari dari satu pintu mobil pribadi ke pintu lainnya, sementara sang pemilik melirik sinis dan acuh tak peduli.
Dan suara-suara kecil itu tetap lantang menyanyi, tanpa tahu mengapa ia harus bernyanyi ditengah belantara kota. Kapankah rasa nyaman datang menghampirimu wahai para bocah, dan anginpun berbisik seraya mencemooh, “kemana perginya pemimpin kota ini nak?”
Nun disana, diribuan perempatan jakarta, diribuan pertigaan ibu kota, di ribuan jalan-jalan metropolitan, di pinggir kali, dibawah jembatan, hingga dipelataran-pelataran toko atau dihalaman rumah sakit. ada banyak anakbangsa yang terampas hak-haknya, ada banyak orangtua renta yang terlantar tanpa bisa berlindung dihari tuanya, ada yang meringis menahan sakit tanpa bisa melakukan apa-apa. Dimanakah pemimpinmu wahai ibukota?
Disisi lain, para aparat di tingkat rendah hingga tingkat tinggi sibuk memperkaya diri, korupsi dan kolusi serta pungli selalu menemani, bagai kawan karib bahkan saudara sendiri. Rakyat kecil enggan mengurus surat miskin lantaran kemiskinannya menjadi komoditi, bahkan mengurus surat kematian seperti mengurus surat hibah, berapa anda sanggup maka urusan menjadi lancar. Para investorpun berinsvestasi karena terpaksa, sebab antrian pungli bagai daftar belanja bertautbaris hingga puluhan baris. Dimanakah pemimpinmu wahai pelayan negara??.
Belum lagi keamanan dan kedamaian yang begitu mahal didapatkan, di kota ini.
Aman dan nyaman adalah seberapa banyak kita mampu membayar preman, baik sendiri ataupun terorganisir rapi, bahkan untuk parkir dihalaman sendiripun rakyat kami terpaksa membayar.  Wahai kota, Dimanakah gurbernurmu menyembunyikan rasa aman milik kami???
Dan akupun tak sanggup lagi berdiri.
Dan jantungku berhenti berdetak
Sebelas juta penduduk kotapun mencari aku kesana-kemari,
Seraya bertanya kemana perginya gubernur mereka selama ini…
-oOo-
(Mudah-mudahan dibaca oleh para cagub, amin)

Selasa, 15 Mei 2012

Once Upon In a Lifetime

Life is so beautiful just to be filled by a grief, 
Families are so comfortable as a shelter occupants 
And the world is so perfect if only filled by solitude ...






























Kamis, 12 April 2012

Jangan Cengeng Nak...

Tubuh ringkih para orang tua mampu bertahan karena mimpi akan masa depan sang anak yang lebih baik.
Seorang ayah akan tegar mencari nafkah yang halal meski nyawa menjadi taruhan demi mewujudkan mimpi sikecil dirumah agar kelak menjadi orang besar.
Seorang suami bertahan dari himpitan pekerjaan demi istri yang setia menunggu kelahiran sang jabang bayi..
Seorang ibu terpaksa mencari pekerjaan sampingan agar cahaya tetap berbinar dimata sang anak dan senyum tetap tersimpul dibibir sang bocah.
Senyuman mereka adalah kekuatan para orangtua.
Tangisan mereka adalah kepedihan para orangtua.
Gelak tawa dan rentetan tangis mereka adalah mesiu yang memborbardir hati dan jiwa para ayah, juga mata air dari air mata para ibu.
Tubuh mungil itu harus kuat menapak, bahu kecil itu harus kuat berdiri dan jemari lentik itu harus kuat menggenggam masa depan mereka.
Celoteh-celoteh kecil itu harus di semai menjadi suara-suara lantang.
Tangis-tangis kecil itu harus dituai menjadi empati yang datang dari hati.
Kelak ketika mereka besar menjadi pemimpin.
Jiwa mereka menjadi halus, nurani menjadi peka dan suara mereka menjadi lantang dalam membela kebenaran.
Nak, beri kami sedikit waktu untuk mewujudkan mimpi-mimpimu.
Beri kami sedikit kesempatan menabur benih-benih perbekalan untuk dirimu.
Beri kami sedikit asa dalam celoteh dan tangismu.
Saat ini, mungkin hanya cinta dan kasih sayang yang bisa kami beri.
Hanya doa dan harap yang bisa mengaliri urat nadimu.
juga hanya haru dan airmata yang bisa menjadi selimut tidurmu ketika engkau terlelap.
Tapi nak,
Yakinlah, suatu saat Allah akan memberi apa yang engkau cita-citakan dan mengabulkan apa yang engkau harapkan.
Meski waktu yang akan membuktikan.
Meski masa yang akan memberikan penjelasan.
Dan
Meski saat itu.
Kami tak bisa lagi menyaksikan.
Meski kami tak ada lagi disisimu...

Jangan cengeng nak, hidup adalah perjuangan...

Rabu, 21 Desember 2011

Kisah tentang sebutir kelapa. (Sebait memoar tentang ibu)

Di dunia ini tak ada sosok yang begitu berpengaruh pada diri seorang manusia, disamping ayah kecuali seorang ibu, bahkan bagi sebagian orang atau mungkin mayoritas manusia, ibu adalah sosok sentral dalam kehidupan mereka, segala keputusan hidup baik tentang sekolah, pekerjaan, pernikahan, keluarga dan lain-lain, tak luput dari sumbangsih ibu memberikan petuah dan nasehat bijaknya, saran dan larangan, usul dan pendapat serta pertolongan yang tulus diberikan kepada anaknya tanpa mengharap balas budi.

Bicara tentang ibu, ada berjuta kisah disana, ada suka ada duka, ada sedih ada senang, ada canda dan juga tawa, semua berpilin kasih dan terajut dalam bening cinta sang bunda.
Begitupun bagi saya pribadi, ketika buntu pikiran, ibulah tempat mengadu dan berkeluh kesah, ketika menentukan pilihan, ibulah tempat pemberi nasehat dan sebagainya.
Saat saya ingin melanjutkan kuliah, kepada ibulah saya meminta saran,ketika itu saya mengikuti umptn dan diterima di universitas negeri lampung, tetapi ibu menyarakan saya untuk kuliah di jakarta saja, jadilah saya kuliah di ubinus, selain dekat juga tidak memerlukan biaya tambahan, baik transportasi ataupun bea kost. Saya mengikuti saja saran beliau, saya yakin itulah yang terbaik untuk saya.
Begitupun ketika saya menentukan siapa yang akan menjadi pendamping hidup saya, ibu saya ingin menilai dan melihat bagaimana rupa calon istri saya itu. Maka saya aturlah waktu dimana beliau bisa melihat calon istri saya tanpa sang calon istri mengetahui keberadaan ibu saya. Setelah melihat dengan seksama ibu saya hanya berkata, “Silahkan kamu lanjutkan”. Tanpa bertanya ini, itu, atau bibit bebet bobot dsb. Entah apa yang ia lihat, mungkin dengan mata bathin dan naluri keibuannya ia tahu bahwa inilah yang terbaik untuk anaknya.
Begitupun ketika istri saya mengandung, saya berkonsultasi tentang bagaimana dan di RS mana istri saya harus melahirkan, beliaulah yang selalu memberi saran. Memang saya akui, diantara tiga anak laki-lakinya, sayalah yang paling sering berkomunikasi dengan beliau, sebab abang saya sudah menikah dan tinggal dirumahnya, sedang adik saya yang laki-laki saat itu masih kecil, saya jugalah yang mengantar beliau kemanapun beliau ingin pergi, entah kepasar, ke dokter, ke undangan, ke tempat family dan sebagainya, saya seperti sopir pribadi beliau saja layaknya, dan bila saya ingat saat itu, saya sangat bahagia dan bangga sekali, karena saat itulah saat pengabdian saya kepada beliau, ketika beliau masih hidup, meski hanya sebagai sopir. Saat yang tidak akan mungkin terulang lagi.

Setahun sebelum kepergian beliau, beliau pernah mengajak saya pergi ke parung kerumah sepupunya tapi kali ini tidak memakai mobil, beliau ingin dibonceng pakai sepeda motor, saya kaget sekali, saya bertanya apa masih kuat boncengan motor, gpp, masih kuat katanya. Sayapun tak ingin membantah, jadilah saya pergi pulang dari kemanggisan ke parung sejauh 25Km bersama sang ibu, sebuah pengalaman yang cukup mendebarkan.

Dari segala kisah yang terpatri bersama sang ibu, ada satu kisah yang membuat saya sampai hari ini merasa gundah bila mengingat kejadian itu.
Alkisah ketika beliau sakit (dan ternyata sakit beliau itu berkepanjangan hingga beliau bertemu Rabbnya) beliau meminta saya untuk mampir membelikan sebutir kelapa ijo di pasar palmerah sepulang dari kantor. Pada kali yang pertama, kelapa ijonya habis, jadi saya hanya membelikan kelapa biasa. Saya bilang besok saya belikan kelapa ijonya yang lain. Ibu saya tidak marah, ia pun menerima kelapa biasa itu. Saya pikir tugas saya sudah selesai, toh ibu saya juga tidak marah dan tidak ngotot untuk mendapatkan kelapa ijo itu, Ternyata saya salah besar, ia tidak marah karena menghargai saya yg sudah capek-capek membeli kelapa biasa itu, tetapi di hati kecilnya ia tetap menginginkan kelapa ijo itu. Dan ketika beliau disibukan oleh sakitnya, hingga beberapa kali masuk rumah sakit, saya pun melupakan janji saya tentang kelapa ijo itu.

Sampai pada suatu ketika, beberapa bulan setelah wafatnya ibu saya, saya kembali melewati kios kelapa ijo itu, barulah saya sadar bahwa saya masih punya janji terhadap ibu saya.

Dan.. setiap kali saya melewati jalan itu, mata saya pun berkaca-kaca, perlahan butir-bening mengalir, dan ada sesak didada yg tiba-tiba meraja, saya pun hanya diam terpaku seraya berguman “Ibu maafkan saya”.

Selasa, 15 November 2011

Resah

Dalam gulita malam ini
Mengadu hamba pada Mu Ya Robbi
Tentang rasa yg sama, tentang gundah yg sama
Tentang mimpi dan angan yg bergelayut dalam doa-doa hamba
Yang meretas kedalam ke nadi, merayu butir-butir darah agar menyampaikan kepada hati
Tentang keinginan itu, tentang hasrat itu.
Ya robbi..
Jikalau bukan karena Rahmat dari MU
Jikalau bukan karena kasih sayangMU
Jika bukan karena mengharap tetap beningnya airmata ini,
Jika bukan karena mengharap tetap sucinya niat ini,
Niscaya dosa itu telah terkepal dalam genggaman, niscaya alpa itu menjadi cengkraman dalam setiap hembusan nafas hamba
Menjadikan jiwa ini tersandera
Menjadikan hati ini terbebani oleh gulana yg meremukan hari-hari hamba detik demi detik.
Ya robbi...
Dunia ini begitu mempesona
Harta dan tahta berserak dalam benak hamba
Puja dan puji manusia bersenandung indah dalam pikiran hamba
Membangun surga fatamorgana dalam hati dan menebar kenikmatan maya yg tak pernah habis-habisnya menggoda
Hingga letih jiwa ini mengikutinya
Hingga perih kalbu ini tersayat lukanya
Sedangkan jasad tak sanggup lagi menemani langkah-langkahnya
Sedangkan fisik hanya bisa mengangguk menjalankan takdirnya

Dalam pekat gulita yg semakin gelap
Kupejamkan mata yg tak bisa lagi merapat
Sembab oleh airmata yg terlelap oleh kepedihan
Sedang ekormata masih berharap bahwa butiran terakhir kali ini masih mampu mengalir
Mencairkan kebekuan hati, mendamaikan gelisah dalam nurani.

Ya robbi..
Beri kami arti tentang diri ini
Beri kami makna tentang jiwa ini
Kami yang selalu hidup dalam kebekuan
Yang selalu merasa resah kala nikmat tak lagi meraja
Yang selalu merajuk tatkala bencana datang mengharu hiba
Yang selalu lupa kala bahagia
Yang selalu takut kala bala menyapa
Yang tak bosan-bosannya berkeluh kesah
Yang tak bosan-bosannya mengalungi airmata

Ya robbi
Dalam desah nafas dan gundah gulana
Dalam selimut malam yg semakin pekat
Ku hamparkan letih dalam pelukanMU
Seraya kususun jemari
Kurangkai doa dan kusulam kata pinta
Kupilin tasbih kuuntai kata harap
Semoga hati ini tetap padaMU
Semoga jiwa ini tetap bersamaMU
Semoga hidup ini tetap berada di jalanMU
Semoga lisan ini tetap berzikir mengingatMU.

'Ala bidzikrillah tatma'inul qulub'

Jumat, 04 November 2011

Dan Surgapun Virtual

Sebuah fenomena, sekedar intermezzo.

Suatu ketika dalam pengadilan akhirat, seorang hamba protes kepada Allah mengapa dirinya tetap dijebloskan kedalam neraka.Sedang ia merasa melakukan semua perintah allah dan menjauhi larangannya. Lalu Allahpun berbaik hati kepadanya dan membuatkan untuknya syurga virtual(maya), loh kok bisa?.

Kembali kepada tahun 2000an saat sang hamba masih hidup, dimana era internet sedang berkembang dahsyat dan fenomena media sosial seperti facebook sedang melanda dunia, masing-masing manusia diseantero dunia tak mau ketinggalan untuk eksis didunia maya itu. Begitupula sang hamba. Sebenarnya sang hamba termasuk mukmin yang soleh, bahkan bisa juga disebut ustad karena kesalihannya itu, TETAPI ada yang terlupakan dari dirinya semenjak ia berjumpa dengan mahluk yang namanya facebook.
Karena begitu antusiasnya ia menggunakan facebook sebagai ajang yang katanya sebagai sarana dakwah maka ia selalu mengupdate dan memposting kegiatannya setiap detik demi mengajak rekan-rekannya untuk bertaqwa, kembali kepada allah. Status bertuliskan "Sedang Tahajud, mari kita gapai nikmat allah" atau "nikmatnya dhuha" atau "sedang menanti adzan maghrib" maksutnya sedang menunggu berbuka, juga status ketika berada di pengajian, di mushola, dimesjid, ditempat taklim, bahkan ayat-ayat alquran berseliweran distatusnya yang katanya ayat inilah yang sedang beliau baca, juga kalimat "sudahkan anda sholat" "sudahkah anda baca quran" dan lain-lain mengiringi status beliau ketika melakukan ibadah. Sepintas memang tidak ada yang salah dengan status-status itu, justru status itu adalah status terbaik dalam dunia maya, daripada bikin status yang membuat orang lain marah, atau status bernada pornografi atau menjelek-jelekan orang alias ghibah. Tapi dibalik cemerlangnya logam, ada setitik celah yang mampu membuat logam itu hancur karena karat, dan disanalah iblis lebih pintar daripada sang hamba, ketika manusia terlena karena pujian dan sanjungan, ketika komentar indah dan jempol diangkat meninabobokan amal sholeh, maka saat itulah manusia menjadi lengah dan ketika manusia lengah ada saja bibit dosa yang disamarkan oleh iblis kehati manusia, ia tak terlihat mata telanjang, tersamar bagai tirai kaca, halus bagai partikel-partikel oksigen diudara, tetapi efeknya sangat luar biasa dahsyatnya. Dan bibit itu adalah riya. Ketika sang hamba melakukan aktifitas beribadah kepada allah dan secara sengaja mempublikasikannya dengan harapan orang lain mengikutinya, maka secara paralel ada sifat riya yang membonceng dalam statusnya itu. bagaimana tidak muncul riya, sebab media sosial seperti facebook bagaikan sebuah toa(speaker) mesjid, ketika seseorang sedang beribadah, misalnya sedang tahajud atau mengaji, lalu ia teriak-teriak di toa "Woi saya sedang tahajud..." yang didengar oleh seluruh orang kampung menunjukan bahwa sang hamba sedang riya, begitupun amalan-amalan lain yang dilakukan sang hamba pribadi lantas diupdate dalam statusnya juga merupakan sebuah riya, tanpa sang hamba sadari meski ia merasa sedang melakukan dakwah.
Lalu ketika hari penghitungan tiba dan sang hamba protes mengapa amal baiknya tidak dinilai oleh Allah, mungkin allah akan menjawab bahwa dalam dunia nyata amal sang hamba telah hangus dimakan oleh sifat riya tadi, tapi dialam virtual, sang akun hamba tadi tetap mendapatkan ganjaran atas amalnya yakni surga virtual tadi.
Dan para penghuni facebookpun banyak yang mendapatkan surga virtual atas amal baiknya…hihihi.

Kamis, 18 Agustus 2011

Mirage

Lembut angin malam menyusup ventilasi
meresap kedalam ruangan kosong
dimana sajadah terhampar
basah oleh resah sang pemiliknya
berusaha mendinginkan hati yg gulana
berusaha mecairkan geram yg membeku sejak tadi

Nun
Dunia sedang bercanda kepadanya
Nasib sedang bermain-main dengan kehidupannya
Meledeknya dengan gurauan-gurauan nasib milik orang sekelilingnya
dari mengusap lembut
sampai menghimpit dengan himpitan yg begitu tajam
dan meremuk dalam hingga ke tulang rusuk
menguras tenaga dan membekukan otaknya
hingga ia tak sanggup lagi untuk berfikir

Wahai jiwa yang resah
mengapa engkau tak merasa
sakit dan himpitan itu bukan datang karena takdir
tetapi ia datang karena kau undang untuk bersarang di lubuk hatimu
kau biarkan ia menari-nari mempermainkan perasaanmu
kau tumbuhkan bibit kedengkian dalam jiwamu
hingga merusak jiwa dan pola pikirmu

Wahai jiwa
mengapa kau senang melihat orang lain susah
mengapa kau susah melihat orang lain senang
bukankah rizki allah sudah tergaris untuk masing-masing hamba
bukankah bala dan bahaya sudah tersurat dalam kitab yang maha tinggi
mengapa engkau menyakiti jiwa mu sendiri
dengan membiarkan hasad bersarang di hatimu

wahai jiwa
mengapa engkau sakit ketika melihat saudaramu menerima rizkinya
mengapa engkau menderita ketika melihat kawanmu mendapatkan haknya
bahkan engkau menginginkan kebahagian milik mereka menghilang dari dirinya

wahai jiwa
mengapa engkau membunuh dirimu sendiri dengan fatamorgana
bukankah bahagia dan derita menggilir semua hamba
ketika engkau sakit, mereka pun pernah sakit
ketika engkau bahagia, merekapun pernah bahagia

wahai jiwa
jangan biarkan ibadahmu sia-sia
jangan biarkan sujud-sujudmu hanya menjadi penghias dahimu saja
jangan biarkan api kedengkian membakar pahala-pahalamu
jangan biarkan dosa-dosa mereka mengalir deras memenuhi dirimu
dan kerugian menjadi akhir kehidupan mu

wahai jiwa
ribuan tahun pun kau bersujud
jutaan kali pun kau mengunjungi baitullah
milyaran rupiah pun engkau berinfak dan bersodaqoh
bahkan bila sepanjang hidupmu pun kau berpuasa tanpa henti
akan sia-sia jika hasad dan dengki menyergap hatimu

wahai jiwa
mengapakah kita masih memikirkan dunia
jika sang Nabi pun enggan memilikinya
mengapakah kita masih mengharap dunia
jika akhiratpun lebih baik darinya

jika dunia yang membuatmu berat
mengapa tak kau kembalikan kepada pemiliknya

Jika dengki merasuki hati
maka akhirat tak lagi bisa dimiliki
Itulah orang-orang yang merugi

Kamis, 24 Februari 2011

Dik..

Dik..
jauh sudah perjalanan yang telah kita lalui..
jauh sudah jarak yang kita tempuh..
jauh sudah pandangan mata menghilang dari tempat berpijak pertama kali..
jauh pula usia merambati benang kehidupan kita,
sejak saat itu, saat jiwa merasa perlu bersatu, saat azzam di hati saling berpagut, saat sang mimpi saling berjanji menjaga hati, untuk saling menguatkan satu sama lain..

Dik..
ketika bahtera ini mulai ku kayuh pertama kali..
ketika dayung sampan ini masih terasa ringan..
ketika ombak lautpun masih mengusap lambung kapal dengan lembutnya..
jiwa-jiwa kita pun terasa nyaman dan tenang..
hati khusuk dan syahdu mensyukuri nikmat Tuhan..
dan surgapun terasa lembut ditangan..

Dik..
lalu kita pun melaju jauh ketengah lautan,
menyisir nadi samudera hingga kepusaran gelombang..
menantang tingginya ombak dan ganasnya deru angin..
hingga tersadar bahwa hidup bukanlah sebuah permainan..
hingga tersadar bahwa bahtera ini bisa terkoyak bahkan hancur berantakan..
kita pun panik dan saling menyalahkan..
atau terdiam karena syok akan hebatnya badai yang datang tak terperikan..
atau gemetar dalam pelukan rasa takut yang begitu dalam..
sampai akhirnya pertolongan Tuhan pun datang..
mendamaikan keributan dihati, menenangkan jiwa yang gelisah..
mengumpulkan kembali asa yang terserak, merapatkan kembali janji-janji yang hampir retak,
menguatkan kembali azzam yang pernah berpagut, menyadarkan kembali khittah dan komitment diri, bahwa pernikahan adalah sebuah jalan takwa menuju pada ridhaNYA.

Dik..
saat itu jiwa kita masih muda, emosi dan ego masih meraja..
dan rasa percaya diri masih begitu tinggi,
sedangkan iman dan hati ikhlas masih pas-pasan..
rasa takwa kepada Tuhanpun hanya sekedar pelampiasan..
ketika kita menyadari bahwa kita bukanlah manusia sempurna..
ketika kita menyadari bahwa kita sangat lemah bahkan tak berguna..
barulah kita tersadar bahwa kita saling membutuhkan satu sama lain..
seperti jari jemari yang saling berpilin, seperti tulang dan sendi yang saling menguatkan satu sama lain..

Dik..
aku tanpa mu bukanlah apa-apa dan engkau tanpa diriku bukanlah siapa-siapa..
kita adalah dua anak manusia yang mencoba menaklukan kerasnya dunia..
kita adalah dua anak manusia yang mengikuti jalannya takdir..
mencoba membagi kehidupan dan kebahagiaan bersama..
mencoba membentuk cinta dari asa dan rasa yang apa adanya..
mengais-ngais sukacita dari remah-remah mimpi..
mengutip-ngutip bahagia dari tetesan darah dan airmata..
seraya mengharap hiba kepada illahi robbi..
semoga jalan bahagia selalu diberi..


Dik..
dirimu adalah separuh nafasku, dan diriku adalah setengah jiwamu..
dan anak-anak tidak melihat aku atau dirimu saja..
kebahagiaan mereka adalah ketika aku dan kamu bersatu menjadi kita
dan berpadunya hati kita menyempurnakan kebahagiaan mereka..
Dan senyum mereka pun terbentuk karena kasih sayang kita..

Dik..
biarkan kita menikmati dunia tanpa cela di hati..
biarkan waktu mengalir menguji cinta kita..
apakah ia sekedar permainan dunia atau jalan suci menuju cintaNYA..
biarkan lengkung waktu menyapa atau menegur kita..
menguji rasa ini kepada mu, menggoyahkan atau mengokohkan..
hingga kita mengerti..bahwa kau dan aku memang telah digariskan..
menikmati lembutnya takdir atau kerasnya nasib..
menikmati kebersamaan dalam keberkahan..
atau keberkahan dalam kebersamaan..
mengukir zaman dan mengulas kisah..
menautkan mutiara-mutiara penuh hikmah..
membentuk generasi yang diidamkan sang nabi..
yang membanggakan beliau di akhirat nanti..
semoga..


In the midle of the night