Selasa, 19 Januari 2010

Kisah sebuah puisi



Dalam setiap detik kehidupan anak manusia, pasti ada satu moment di antara ribuan moment lain; yang menggetarkan hati dan jiwa mereka, yang sulit untuk dilupakan seumur hidup. Entah itu momen pernikahan, kelahiran, pekerjaan, sekolah dan lain-lain.

Sebagai seorang manusia, dan calon ayah waktu itu, sayapun memiliki salah satu momen itu, dan saya mengabadikan momen kelahiran putri pertama saya dalam secarik puisi, yang jika ia sudah bisa membaca, ia akan saya minta membacanya untuk saya, dan apa reaksinya dengan puisi itu. Ternyata manfaat dan maknanya dalam sekali untuk anak saya, empati yang saya tulis untuknya dalam puisi itu, serta harapan dan doa yg terurai bait demi bait, mampu meluruhkan emosi saat ia marah. Jadilah puisi itu andalan saya ketika memberikan nasehat dan tausiah kepadanya, bahkan adiknya pun ikut terbawa haru dengan puisi itu. Memang puisi itu saya buat dengan melibatkan emosi saya waktu itu, melibatkan seluruh rasa dalam jiwa ini karena sangat gembira atas kelahirannya, ditambah sedikit bumbu agar puisi itu bisa terserap kedalam sanubari pembacanya. Karena bernilai sejarah, puisi itu saya bingkai dan saya taruh bersamaan dengan sebuah lukisan bunga mawar dalam coretan hitam putih dengan latar belakang bulan purnama. Sebuah lukisan bersejarah yang saya buat untuk calon istri saya; yang menjadi icon pernikahan kami, Sebuah lukisan yg menjadi prasasti ketulusan dan keseriusan saya untuk menikah dengannya.

Inilah puisi yang saya persembahkan pada hari kelahiran anak pertama saya itu sembilan tahun lalu,
Selamat menyimak.

Kecerdasan sang bunga keagungan

Untuk anakku Nabila Zahra Azizah
Dari Ayah dan Ibunya

Assalamu’alaikum wr.wb.

Allahu akbar allahu akbar
Allahu akbar allahu akbar
Asyhadualla ilaa ha illallah
Wa asyhaduanna Muhammadarrasulullah

Sabtu, 19 Mei 2001
25 Shafar 1422H
Pukul 06.20.am
Telah lahir Nabila Zahra Azizah
Di RSAB Harapan Kita
Jl. Letjen S.Parman
Jakarta Barat

Ahlan wa sahlan ya bunayyah…
Selamat datang wahai anakku
Selamat datang dalam kehidupan dunia fana
Dan selamat datang dalam bahtera kecil ini
Engkau hadir sebagai penumpang pertama dari perahu kecil yang ayah kemudikan
Menuju ke pelabuhan yang kita nanti
Menuju perjalanan panjang ke haribaan Illahi Rabbi

Wahai Anakku…
Engkau adalah pelita kecil kami
Yang menerangi hati sanubari
Engkau adalah setetes embun dalam ketenangan
Yang menyejukan kegundahan hati kami
Dalam penantian buah cinta ayah dan ibumu

Wahai Anakku…
Engkau adalah harapan kami
Engkau adalah do’a kami
Dan engkau adalah syafaat dunia dan akhirat kami

Wahai Anakku…
Ketahuilah oleh mu
Saat engkau lahir, negeri ini sedang merintih akibat ketidakberdayaan para penguasa dalam memberikan keadilan bagi rakyatnya
Negeri tanah airmu masih belum nyaman untuk ditinggali
Harga-harga melambung tinggi, susu untuk mu pun melangit tinggi
Tapi engkau tidak usah khawatir anak ku
Rizki Allah teramat luas untuk kita yang lemah ini.

Wahai Anakku…
Ketahuilah…
Kelahiranmu tidak sempat dilihat oleh kakekmu
Kakek yang menyayangi ayah dengan teramat sangat
Kakek yang baik, yang mencintai keluarga kita dengan cinta yang tak mungkin dapat dibalas.
Wahai anakku…
Sebenarnya Almarhum kakekmu ingin sekali melihat kamu dilahirkan
Tapi takdir Tuhan menentukan lain
Kakekmu menghadap keharibaan Allah dua puluh enam hari sebelum engkau dilahirkan
Penyakit yang dideritanya sejak ayah masih seusia kamu tak sanggup lagi ditahannya
Beliaupun wafat dengan tenang
Anakku, jika engkau sudah besar nanti dan sudah bisa berdo’a
Maka jangan lupa untuk mendo’akan kakekmu
Juga untuk mendoakan nenek yang amat mencintai kita
Juga untuk mendo’akan kakek dan nenek dari pihak ibumu
Yang selalu merawatmu dengan kasih sayang ketika engkau masih kecil

Wahai Anakku…
Segudang harapan dari ayah dan ibumu mengiringi kelahiranmu
Harapan agar engkau menjadi anak soleh
Yang menjadi saksi di yaumil akhir nanti

Wahai Anakku…
Bunga Keagungan nan cerdas
Itulah arti harafiah namamu
Nama indah yang diberikan ibumu
Agar engkau mempunyai keindahan seperti bunga
Mempunya keagungan dan kecerdasan
Dalam perjalanan hidupmu sebagai amanah dan titipan
Yang diberikan Rabbmu yang telah menciptakan

Wahai putriku…
Engkau adalah muslimah
Engkau adalah wanita
Engkau adalah sebaik-baiknya perhiasan dunia
Jika engkau bisa menjadi anak yang sholihah


Wahai putriku…
Ketahuilah olehmu
Menjaga anak perempuan seperti menjaga mahkota dari kaca
Dia akan retak oleh guncangan sedikit saja
Maka kami berpesan untukmu sejak dini
Patuhilah Rabbmu dan Rasulmu
Karena merekalah sebaik-baiknya penjaga

Wahai putriku…
Ayah berpesan untuk kamu tentang ibumu
Patuhilah perintahnya dan jangan membantahnya
Sebab ridho Allah tergantung ridhonya
Dan surgapun terletak dibawah telapak kakinya
Ia yang mengandung kamu dengan susah payah selama sembilan bulan sepuluh hari
Dan melahirkan kamu dengan penuh kesakitan dan penderitaan
Jagalah ibumu ketika ayah tak ada disisinya
Panggilah Ia dengan selembut-lembutnya panggilan
Panggilah Ia dengan sebutan Ummi
Sebab itulah keinginnannya

Wahai putriku
Ayah berpesan untukmu tentang ayahmu
Patuhilah ayah jika ayah benar, dan tegurlah ayah jika ayah salah
Panggilah ayahmu ini dengan sebutan Abi
Agar ummi tidak merasa sendiri

Wahai putriku
Mulai saat ini dan detik ini
Engkau bisa memanggil ayahmu dengan sebutan Abi
Dan memanggil ibumu dengan sebutan Ummi
Bahagiakanlah kami dengan akhlakmu
Muliakanlah kami dengan tingkah lakumu

Wahai anakku, wahai putriku
Kami berjanji tidak akan menyia-nyiakan kamu
Tidak akan melupakan amanah ini
Do’a kan Abi dan Ummi agar tabah menjalani hidup ini
Bersama-sama mendidikmu dan adik-adikmu nanti
Agar keluarga kita menjadi sakinah mawaddah wa rohmah
Agar perahu kecil yang ayah kemudikan ini
Selamat sampai tujuan
Tidak tenggelam ditengah jalan
Tidak luruh dihantam ombak
Tidak lekang ditelan zaman
Tidak hancur oleh badai
Dan tidak musnah disapu gelombang…

Ahlan wa sahlan yaa putriku
Selamat datang dalam kehidupan ini…


Wassalamu’alaikum wr.wb.
Jakarta, 19 Mei 2001

Dari Abi dan Ummi yang menyayangimu.

-o0o-

Ketika puisi ini dibuat, saya baru saja kehilangan ayah saya, ayah yang selalu memberikan nasehat kepada saya bahkan sampai menentukan di rumah sakit mana anak saya harus dilahirkan. Beliaulah yang menyuruh saya mempersiapkan segala sesuatunya. Bagi anak saya, cerita tentang kakeknya membawa haru tersendiri, bagaimana indahnya jika mempunyai seorang kakek, sebab kini semua kakeknya telah tiada, juga ibu saya yg menyusul ayah saya dua tahun lalu. Yang masih ada hanya neneknya dari pihak ibu atau mertua saya, beliaulah kini yang menjadi pusat perhatian anak-anak saya jika bicara tentang lebaran atau liburan sekolah.

Puisi ini mengikat batin saya dengan anak-anak saya, menjadikan mereka sebagai seorang sahabat,sebagai teman diskusi, bahkan sebagai teman curhat. Empati yang saya bangun dalam puisi itu, ingin saya realisasikan dalam kehidupan sehari-hari dengan memohon izin Allah tentunya. Meski kadang sebagai orangtua, kita juga tidak mau mengalah, kita merasa bahwa mereka masih bau kencur dan tidak mengerti apa-apa. Kadang juga kita menginginkan mereka sesuai dengan maunya kita, kita ingin menguasai jiwa dan raga mereka untuk kita bentuk sesuai dengan keinginan kita, padahal seperti kata Kahlil gibran, “Anakmu bukan lah anakmu, engkau adalah busur dimana panah anak-anakmu dilepaskan, engkau dapat menguasai badannya, tetapi tidak jiwanya”. Mereka tidaklah berbeda dengan kita, masing-masing adalah anak pada zamannya sendiri, perbedaan mereka dengan kita adalah bahwa kita lebih dahulu diberikan kesempatan untuk hidup, sehingga kita lebih pandai dan lebih berpengalaman dari anak-anak kita.
Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar